''Ibu sudahlah! Aku akan memilih sendiri jika aku ingin,'' ucap wanita dengan wajah lesu mengungkapkan amarahnya.
''Sampai kapan? Sampai rambutmu beruban? Ibu ingin cucu darimu,'' ucap wanita paruh baya dengan memelas membujuk anak perempuannya.
''Ibu maaf, tapi Sivya belum ingin menikah. Jadi tolong mengertilah,'' ujap Sivya dengan pelan yang sudah menyesal telah membentak ibunya.
Begitulah Sivya, enggan untuk membahas soal pernikahannya. Walau usia sudah cukup matang untuk membina bahtera rumah tangga. Di usianya yang menginjak 27 tahun, ia sudah malas berhubungan dengan lelaki yang kurang serius dengan hubungan.
Berkali-kali Ibunya membujuk dia untuk dijodohkan dengan pria pilihan Ibunya atau memang ada pria yang dengan sendirinya melamar Sivya
Dan tidak segan pula untuk ia menolak. Tolakan dari Sivya membuat orang tua si pria tidak terima dengan membuat perkataan yang membuat luka dihati. Dengan mengatakan bahwa Sivya akan menjadi perawan tua, ada yang mengatakan bahwa Sivya tidak normal.
-
Dengan segala kalimat yang membuatnya terpojokkan, membuat Sivya muak dengan keadaan. Sudah lama dirinya ingin mencoba menenangkan diri, tanpa ada kata menikah yang menganggu pikiran.
Profesinya sebagai guru mungkin bisa ia manfaatkan. Dengan alasan klasik tentang dipindah tugaskan ke kota lain pun menjadi pilihan. Walau jauh dari orang tua tak pernah ia lakukan.
Sikap kekanak-kanakannya yang membuatnya sulit untuk mendapatkan izin pergi jauh dari orang tuanya. Memiliki emosi yang sering tak terkendali.
Namun tekadnya sudah bulat untuk menjauhi kata menikah dalam hidupnya. Termasuk untuk pergi jauh demi kemandirian untuk kebaikannya. Atau mungkin untuk menyembuhkan luka lama.
Sivya berbicara dengan ibunya. ''Ibu, Sivya akan kerja ditempat lain, Sivya akan pindah tugas di semarang. Ibu bisa ijinkan Sivya? '' ucapnya sedikit berbohong. Karna memang ia bukan dipindah tugaskan, tetapi karena keinginannya sendiri untuk resign dan pindah ke Semarang.
''Kenapa? Apa tidak ada guru lain untuk ke Semarang?'' ucap ibunya yang masih marah.
''Ibu bukan begitu, Sivya juga ingin melanjutkan S2 di Semarang selama 2 tahun. Bolehkan?'' ujarnya memelas.
Sivya sebelumnya mengajar di SMK Negeri Jakarta, sebagai guru teknik. Melalui bidangnya, Sivya sering dianggap kuat dan semacamnya. Karena bidang yang ia geluti lebih banyak diminati oleh pria. Namun tidak bagi Sivya yang jatuh cinta dengan ilmu elektro yang ia kenali sejak putih abu-abu dulu.
''Kamu harus memilih jodoh kamu terlebih dahulu,'' ujar Nadia, ibu Sivya.
Sontak Sivya membulatkan matanya lebar-lebar. Menikah adalah suatu hal yang sulit baginya. Bahkan untuk mendengarnya saja sudah malas, apa lagi melakukan.
Sebenarnya Nadia tidak pernah melarang jika anaknya berpendidikan tinggi. Hanya saja ia menyayangkan, jika seorang perempuan yang seperti Sivya hanya mengejar karir dan enggan untuk memulai sebuah hubungan.
''Ibu, ayolah jangan mulai lagi,'' ucapnya memelas.
''Sudahlah Bu, biarkan dia mengejar mimpinya itu,'' ucap ayah Sivya.
''Tapi setelah kamu lulus S2 dan mendapatkan title yang kamu mau, kamu tidak boleh menolak untuk menikah Vya,'' ucap ayahnya.
Sivya memutar bola matanya malas. Sampai kapan kata pernikahan itu akan menghantuinya. Namun apa boleh buat, setidaknya ayahnya telah menyetujui keputusan yang ia buat.
''Ok siap Yah, Sivya akan mengejar cita l-cita Sivya dulu,'' ucapnya menyeringai tanpa dosa.
''Ayah selalu saja memanjakan putri Ayah!" kesal Nadia.
''Hanya kali ini, setelah lulus aku akan mencarikan pengantin pria untuk nya dan lepas lah sudah tanggung jawab Ayah,'' ucap ayahnya yang membuat Sivya berkaca-kaca. Bagaimana tidak, seorang Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan nya.
-
Pria dengan jas navy keluar dari kantor dan pergi mengendarai mobil mewah berwarna putih miliknya. Melaju membelah jalanan kota Semarang.
Ilyas Firmansyah, pengusaha muda dengan tampang yang cukup membuat para kaum hawa enggan mengedipkan mata ketika bertemu dengannya. Tubuh atletis yang membuatnya semakin tampan.
Dirumah besar dengan dua lantai, bernuansa putih berdiri kokoh. Dengan taman di depan yang menyejukan siapa saja yang melihatnya. Suara gemercik air di tengah-tengah halaman membuat suasana menjadi tenang.
Ilyas masuk dan langsung menuju lantai dua. ''Hai sayang, kenapa lagi, sakit? Sini-sini peluk dulu,'' ucap Ilyas setelah menemui seseorang di kamar tersebut.
''Papa pulang cepet hali ini?''
Tidak, ternyata bukan seseorang, melainkan gadis kecil.
''Iya sayang, kan putri kecil Papa sakit makanya Papa pulang,'' ucap Ilyas
''Ellyn ga sakit ko Pa, cuma pusing,'' ucap gadis kecil tersebut.
Lantas Ilyas berbaring di samping gadis kecilnya. Berada di kamar bernuansa kuda poni yang memenuhi setiap sudut kamar. Dari boneka, gambar dinding, hingga gantungan kunci.
Diusapnya kepala gadis kecil yang tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu. Membuat Ilyas terenyuh sesaat. Bukan kematian yang membuatnya jauh dari ibunya, namun karena perceraian penyebabnya.
"Pa?" panggil Chellyn.
"Ya, sayang." Ilyas semakin mendekatkan tubuhnya pada Chellyn.
"Kenapa Ellyn ngga punya mama?"
Seketika Ilyas membeku untuk sesaat. Tak ada jawaban yang mampu membuat gadis empat tahun untuk mengerti. Mengerti akan keadaan status orang tuanya yang tak lagi dapat bersama.
"Ellyn tidur aja yah, nanti kalo udah gede pasti Ellyn tau sendiri."
Ilyas memilih menyudahi pertanyaan tanpa jawaban kepastian. Takut akan kecewa yang dirasakan putrinya, Ilyas sering berkata bahwa ibunya telah bersama tuhan. Walau tidak benar adanya.
-
Sivya bersama dengan Andra, kakaknya. Serta Anita, kakak iparnya, mengantar untuk kepergian Sivya menimba ilmu serta melarikan diri dari kata memojokkan, menikah.
Andra adalah kakak tunggal bagi Sivya. Yang tak beda jauh dengan kedua orang tua Sivya yang memaksanya untuk segera menikah. Namun bedanya Andra tetap mendukung pilihan Sivya untuk terus belajar. Selama tidak mengetahui alasan dibaliknya.
Menunggu kereta datang, membuat Sivya seakan berat meninggalkan keluarga yang tidak pernah ia tinggkan. Walau ada kenangan yang ingin ia lupakan dalam kota tempat tinggalnya.
Kereta yang ditunggu pun datang, dan saatnya Sivya memulai hidup mandiri serta berusaha lebih untuk kenangan yang ia punya, walau tidak semua.
"Kak, Vya pamit." Sivya mencium punggung tangan Andra dan Anita.
Kasih sayang sebagai seorang abang dari adik perempuannya, seakan tidak diminta memeluk erat sang adik. Walau bibir menyucap silahkan pergi, tapi hati berkata jangan pergi adikku.
Sesaat membuat Sivya goyah akan keputusannya, namun tekadnya lebih kuat untuk mandiri. Mungkin tak pantas jika perempuan berusia 27 tahun masih membicarakan soal mandiri. Tapi memang kenyataannya seperti itu, bagaimana lagi.
TBC>