Sivya mulai dengan aktivitas barunya menjadi seorang mahasiswa dan sebagai guru. Dia adalah wanita yang gigih dan tekun, ia akan mengejar impiannya itu.
Tanpa lelah ia menyusuri koridor sekolah barunya mengajar. Memperkenalkannya sebagai guru baru di sana. Sebagai sekolah SMK yang mayoritas siswa laki laki, ia sering mendapat godaan dari siswa barunya.
''Selamat pagi dan Assalamualaikum semua,'' sapa Sivya pada salah satu kelas ia mengajar hari ini.
''Waalaikumsalam bu,'' jawab siswa kelas XI Elektro 2.
''Sebelumnya ada yang sudah mengenal saya? Atau pernah melihat saya mungkin? Hemm,'' tanya Sivya membuka sebelum memperkenalkan diri untuk mencoba lebih akrab.
''Sudah bu, di mimpi saya semalam,'' ucap siswa yang duduk di bangku paling belakang. Mendadak kelas ricuh dengan suara gemuruh siswa.
''Hemm lucu, tapi belum bisa membuat saya tertawa,'' ujar Sivya dingin.
''Siapa nama kamu?'' tanya Sivya pada siswa tadi.
Siswa itu pun lantas berdiri dan pemperkenalkan diri namun dengan posisi masih di tempat yang sama.
''Ekhem, perkenalkan nama saya Abhidzar Aqsa, Ibu bisa panggil saya Abhi,'' ucap siswa yang bernama Abhi tersebut.
''Baik, Abhi ....'' Belum selesai Sivya bicara sudah dicegat oleh Abhi.
''Ok Umi.'' Sontak membuat seisi ruang kelas tertawa tak terkecuali Sivya yang sedari tadi menahan senyum dari siswa siswi barunya.
''Sudah-sudah, saya belum memperkenalkan diri saya kepada kalian. Saya Sivya Alinka, guru baru disini dan sekaligus wali kelas baru kalian. Mungkin sebelumnya kalian sudah tau, kalau pak Hendro wali kelas kalian yang dulu telah pindah. Dan saya harap kalian nyaman dengan saya, dan tolong jangan sungkan untuk bercanda dengan saya, karena saya lebih suka cara mengajar yang tidak terlalu terpaku pada materi yang dibahas. Itu membuat saya pusing. Asal tidak kelewat batas, mengerti?''
Sivya memperkenalkan diri seraya memberi tahu cara mengajarnya. Para siswa manggut-manggut tanda mengerti.
''Mau langsung ke materi?'' tanya Sivya.
''Ngobrol aja dulu Bu, kan kita baru kenal Ibu,'' ucap Abhi seraya menaik turunkan alisnya. Sivya hanya melotot pada Abhi tanda memperingati.
''Bilang aja bosan sama pelajaran,'' ucap salah satu siswi dari banyaknya siswa laki-laki.
''Nah itu lo tau,'' ucap Abhi menyeringai tanpa dosa. Sivya hanya tersenyum.
-
Ilyas masuk kerumahnya dengan keadaan lesu, terkejut melihat pria yang sedang bermain dengan putrinya. Tanpa basa basi Ilyas langsung menghampiri mereka yang sedang asik menonton kartun.
''Ada bintang jatuh? Meteor? Atau ...'' ucap Ilyas sambil menatap keatas seperti mencari sesuatu yang jatuh dari atap.
''Om ... Ish,'' kesal pria tadi.
''Hahaha lagian kamu kena sawan dimana jam segini pulang?'' tanya Ilyas meledek.
''Pulang telat dimarahin, pulang malam dimarahin, enggak pulang apa lagi, ehhh ini pulang cepet malah dikatain,'' kesal Abhi.
''Iya iya, enggak om katain. Sering-sering deh pulang cepet biar Chellyn ada temenya,'' ucap Ilyas tersenyum tipis.
''Jadiin Abhi baby siter Elyn aja Om kalo gitu, kan lumayan Abhi gak usah sekolah. Tapi jangan deh, kan ada bu guru cantik di sekolah,'' ucap Abhi dengan cengiran kudanya.
''Apa-apaan kamu, sekolah yang bener biar om bangga gitu punya keponakan kaya kamu. Jangan bolos lagi, kamu itu sebenernya pinter tapi males,'' ujar Ilyas.
''Iya Om, bawelnya udah kaya mama aja,'' ucap Abhi dan membuat raut wajah Ilyas berubah.
''Maaf ..." ujar Abhi menyesal.
''Ga papa, kamu temenin Chellyn main dulu. Om mau mandi," pamit Ilyas dan langsung pergi ke atas dan diangguki Abhi.
-
''Kak, apa kabar. Abhi udah gede loh, kak. Dia ingat betul kakak kaya apa,'' ucap Ilyas memandang figura yang ada dikamarnya.
Figura tersebut terdapat foto lama, seorang pengantin perempuan sedang menjewer telinga pria yang baru beranjak remaja di sampingnya. Terdapat senyum yang mengembang di bibir mereka, sangat bahagia.
Bulir-bulir air mata memenuhi pipi dan jatuh diatas figura yang ia pegang. Ilyas duduk disamping tempat tidurnya sambil memandangi foto seseorang yang ia panggil dengan sebutan kakak.
Perkataan Abhi yang membuatnya ingat seseorang yang telah lama meninggal. Seseorang yang sudah lama dirindukan oleh seorang adik untuk kakaknya.
Seorang kakak yang merangkap sebagai peran ibu sangat dirindukan Ilyas. Perempuan penyabar yang pernah ia temui selain ibunya. Elisa, kakak Ilyas.
Kerinduannya membuat setetes air mata yang membasahi pipi. Rindu kepada orang yang telah tiada seakan terobati saat eluh mata menetes.
Diusapnya figura foto, dengan membayangkan seorang wanita yang telah lama ingin ditemuinya. Berbagi luka bersama, tertawa bersama hingga menangis bersama untuk menyembuhkan luka masing-masing.
Jika waktu bisa di putar, mungkin Ilyas tidak akan pernah membiarkan kakaknya menikah. Maka tidak akan ada yang menyakiti Elisa, kakaknya.
-
''Kenapa menangis? Anak laki laki gak boleh nangis entar jelek ngga ada yang mau." Elisa
''Kenapa Kakak pergi?'' tanya Ilyas sambil terus menangis.
''Hei, Kakak sudah menikah dan harus ikut suami Kakak. Nanti kalo kamu udah besar kamu juga akan bawa istri kamu kerumah,'' ucap Elisa yang membuat Ilyas semakin mengeratkan pelukannya.
Ilyas yang kala itu masih kanak-kanak, tidak mengerti apa yang terjadi pada kakak perempuannya. Secara terang-terangan dibawa oleh lelaki asing dengan gaun pengantin. Jika itu memang pernikahan, kenapa hanya keluarga yang hadir, tidak seperti yang sering Ilyas lihat di televisi.
-
Ilyas tersadar dari lamunannya. Mencoba untuk ikhlas tentang apa yang telah terjadi.
TBC>