Ilyas yang sudah rapi dengan pakaian kantornya berjalan ke lantai bawah menuju sebuah kamar. Kamar yang di tempati oleh Abhi keponakannya.
''Abhi bangun, udah siang. Kamu ngga mau berangkat sekolah? '' tanya Ilyas, namun Abhi hanya memperbaiki posisi tidurnya.
''Abhi bangun!!!'' bentak Ilyas yang mulai geram.
''5 menit lagi Om'' ucap Abhi yang masih setia menutup mata.
''Happy birthday kebo Sumatra .... Bangun hehhh dasar kebo!!'' kesal Ilyas
Ternyata hari ini adalah ulang tahun Abhi. Abhi sudah berumur 17 tahun saat ini. Yah, usianya hanya terpaut 10 tahun dengan Ilyas.
''Om ingat? '' tanya Abhi yang sudah bangun dengan posisi duduk menghadap Ilyas.
''Inget lah, udah mandi sono, telat baru tau rasa kamu," ucap Ilyas sambil mendorong tubuh Abhi.
-
''Pagi Om, Chellyn mana? '' tanya Abhi saat keluar dari kamarnya.
''Semalem di jemput sama Oma, katanya kangen sama Chellyn,'' ujar Ilyas. Abhi hanya menunduk.
''Kangen nya cuma sama Chellyn,'' bisik Abhi, namun masih di dengar Ilyas. Ilyas hanya tersenyum kecut dan memandang nanar Abi yang mulai memakan makanannya.
''Abhi, hari ini kamu jangan pakai motor lagi,'' ucap Ilyas tiba-tiba.
''Apa? Kan Abhi udah janji ngga pulang telat lagi, ngga ikut tawuran lagi," ujar Abhi memelas.
Memang dulu Abhi anak yang amat sangat nakal. Jarang masuk sekolah, ikut tawuran, dan kerjanya hanya nongkrong dengan teman-temannya.
Namun sekarang Abhi sudah kembali menjadi Abhi yang dulu sebelum di tinggal oleh Elisa, mamanya. Elisa meninggal saat Abi masih kelas 2 SMP. Saat itu Abhi memang berubah drastis.
Tapi dengan sabar Ilyas telah mengubah Abhi kembali. Abhi memang anak yang cerdas, bahkan ia pernah menjuarai lomba matematika tingkat SMP saat masih kelas 1 SMP.
Ilyas menaruh sesuatu diatas meja makan. Seketika Abhi yang sedang kesal melihat apa yang Ilyas letakan.
''Kenapa cuma dilihat?'' tanya Ilyas.
''Terus suruh ngapain?'' tanya Abhi balik.
''Kamu ga tau itu apa?'' tanya Ilyas.
''Kunci mobil, udah sana Om berangkat biar Abhi pesen ojol aja kalo Om ngga bolehin Abhi pake motor. Abhi ngga mau dianterin kaya anak TK,'' kesal Abhi sambil melangkahkan kakinya keluar.
''Mobil siapa nih? Baru liat, bagus lagi," batin Abhi.
''Kamu suka? '' tanya Ilyas tiba tiba.
''Bilang suka juga percuma bukan punya Abhi,'' ujar Abhi. Ilyas hanya terkekeh.
''Hahah, uni punya kamu dasar lemot. Udah di kode pake kunci mobil juga ga peka-peka," ucap Ilyas yang di sertai tawanya.
''Apa? Ini buat Abhi?" tanya Abhi senang. Ilyas hanya tersenyum dan mengangguk.
''Makasih Om, Abhi coba boleh?'' tanya Abhi.
''Coba sana sampe sekolah, nih kuncinya udah siang sono berangkat,'' ucap Ilyas sambil mendorong tubuh jakung Abhi. Abhi hanya terkekeh.
-
Ilyas masuk lagi kerumah hendak mengambil tas kerjanya. Namun ia terkejur melihat seseorang sudah berada di ruang tamu saat Ilyas baru turun dari kamarnya.
''Loh Papa, tumben pagi-pagi kesini. Chellyn masih sama mama? " tanya Ilyas.
''Kamu ambil mobil untuk siapa?'' tanyanya tanpa basa basi. Dia adalah Pras Irawan, ayah Ilyas.
''Buat cucu Papa, Abhi.'' Ilyas mengatakannya tanpa ragu.
Brakkk...
Pras memukul meja ruang tamu, hingga kaca yang melapisi nampak retak akibat pukulannya.
''Sudah berapa kali Papa bilang, dia bukan cucu Papa, dan dia juga bukan keponakan kamu. Dia cuma anak haram Ilyas!!'' bentak Pras dengan emosinya setelah menggebrak meja di ruang tamu.
''Maaf Pa, anak Kak Elisa adalah keponakan Ilyas, dan sudah Ilyas anggap sebagai anak Ilyas, dan sudah seharusnya Papa juga menganggap Abhi sebagai cucu Papa,'' ucap Ilyas mencoba menahan emosinya.
''Putriku tidak memiliki seorang anak, dia hanya lah anak dari orang yang merenggut kehormatan putriku satu-satunya. Dia yang telah merusak masa depan putriku, dia yang telah membunuh putriku. Dan anaknya tidak pantas di keluarga ini!!'' sarkas Pras penuh emosi.
''Pa, tapi Kak Elisa sayang dan menganggap Abhi sebagai putranya,'' bantah Ilyas.
''Cukup Ilyas, tadinya Papa kesini hendak membicarakan pernikahan keduamu, tapi sudahlah. Kamu mungkin akan terus mengurus anak haram itu dan melupakan kehidupan pribadimu,'' ucap Pras kecewa. Dan pergi meninggalkan Ilyas.
#Flashback on
Plakk....
Sebuah tangan mendarat di pipi mulus seorang gadis yang masih memakai seragam SMA. Dengan tangis ia memegangi pipinya yang panas akibat tamparan tadi.
''Siapa pecundang itu!! Katakan!!'' bentak seseorang dengan amarah yang memuncak.
''P ... pa, di ... dia'' ucap gadis itu tergagap gemetaran.
''Katakan Elisa, kamu berani mempermalukan nama keluarga kita, kamu harus mempertanggung jawabkannya. Katakan siapa laki laki b***t itu. Apa kah pacar kamu?'' tanya seorang wanita paruh baya yang mencoba menenankan Elisa, putrinya.
''Bu ... bukan Ma, dia ti ... tidak se ...seperti itu,'' ucap Elisa tergagap yang masih menangis sesenggukan.
''Lalu siapa Elisa, kamu harus jujur sama Papa,'' ucapnya dengan nada rendah namun masih sedikit emosi terlihat dari wajahnya yang memerah.
''Di ... dia Ruksan, pria yang sudah lama mengejarku Pa hiks ... di ... dia telah merenggut ... hikss'' tangisnya pecah sebelum ia melanjutkan perkataannya. Lusiana, ibunda Elisa kini mendekap erat putrinya yang lemah kedalam pelukan hangat seorang ibu.
Satu bulan kemudia setelah Elisa menerima surat kelulusan dari sekolah. Keluarganya mengadakan pernikahan secara diam-diam. Hanya dihadiri kedua keluarga mempelai pria dan wanita.
Sebagai pengusaha terkenal, Pras Irawan berusaha menutupi fakta dari media. Dan mengatakan bahwa putri sulungnya melanjutkan kuliah di luar negeri.
Ilyas kecil hanya memandangi mobil yang telah menjauh dari pandangannya. Membawa Kakak perempuan satu-satunya. Tak ada tawa lagi di keluarga ini.
Tiga bulan telah berlalu, Elisa kembali dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Banyak bekas luka pada tubuhnya. Luka memar terdapat di bagian wajah dan lengannya. Elisa tidak datang sendirian. Dia bersama anak kecil berusia 1 tahun di gendongannya.
''Elisa kamu kenapa sayang?'' tanya Lusi cemas.
''Ma, Elisa gak kuat hidup sama Mas Ruksan Ma hiks,'' ujar Elisa tidak bisa menyembunyikan tangisnya.
''Apa aku bilang, dia tidak bisa menjaga putriku. Elisa, sekarang kamu harus bercerai dengan Ruksan!!'' bentak Pras penuh emosi.
''Tapi Elis, siapa dia. Kamu baru menikah tiga bulan lalu. Dan kemana anak yang ada dikandungan kamu?'' tanya Lusi.
''Dia anak dari Mas Ruksan Ma, tapi Elis sayang sama dia. Jangan pisahkan kami Ma,'' ucap Elisa memelas. ''Kalo ini, Elisa keguguran Ma," lanjut Elisa sambil meremas lembut perutnya yang rata.
''Tidak masalah, asal kamu tidak boleh kembali kesini setelah kamu bercerai. Papa akan belikan kamu rumah. Kamu boleh kembali kesini jika kamu memutuskan membuang anak b******n itu. Keputusan Papa sudah bulat Elisa, kamu yang menentukan,'' final keputusan Pras dengan tegas dan dingin.
Dia memang membiasakan anak anaknya untuk disiplin dan terima resiko apapun yang ia berikan. Ia hanya ingin anaknya menjadi pribadi yang kuat.
''Elis akan besarkan dia sendirian Pa,'' ucap Elisa dengan tangis.
-
Ilyas kecil keluar dari dalam kamarnya, yang sedari tadi menguping pembicaraan kedua orang tuanya yang tidak ia pahami.
Ilyas menghampiri Elisa, dan memeluk erat kakaknya itu.
''Kakak mau kemana lagi? Kita baru ketemu setelah sekian lama. Ilyas pengin cerita banyak sama Kakak,'' ucap Ilyas yang masih berusia 11 tahun saat itu.
''Ilyas biarkan Kakak kamu pergi, dia sudah besar, sudah berani mengambil keputusan sendiri," ucap Pras yang masih dengan sikap dinginnya.
-
Saat pernikahan Ilyas, Elisa datang dengan membawa anak yang dulu ia bawa. Sekarang sudah berusia 12 tahun. Dia adalah Abizar Aqsa. Namun kedatangannya justru di tolak mentah-mentah oleh Pras.
Keduanya diusir keluar dari rumah besar yang dulu ia tempati. Rumah orang tua yang kini menjadi asing baginya.
Elisa di pindah kerumah Ilyas atas kemauan Ilyas sendiri. Inilah penyebab rumah tangga Ilyas berantakan. Karena istri Ilyas tidak suka dengan Elisa sedangkan Ilyas tidak suka jika Kakaknnya terasingi apa lagi tersakiti.
Ilyas lebih memilih Elisa dibanding keutuhan rumah tangganya. Chellyn yang berusia 8 bulan kala itu dirawat oleh Elisa.
Setelah empat bulan Elisa meninggal dunia akibat penyakit HIV yang di deritanya. Elisa dipaksa bekerja sebagai PSK oleh mantan suaminya sendiri dulu.
Orang tua Elisa menyesal telah mengusir anak perempuan satu satu nya. Bahkan sampai meninggal dunia. Namun tetap saja mereka menganggap Abhi tidak ada.
Sejak saat itu Ilyas tinggal bersama putri dan keponakannya. Dia memilih tidak menikah karena takut calon istrinya tidak bisa menerima keadaannya sebagai duda dan mengurus anak yang bukan darah dari keluarganya.
#Flashback off