Sivya mengenakan gaun berwarna pink. Make up yang sedikit tebal dari yang Ilyas lihat sore tadi. Balutan gaun yang mengembang di bagian bawahnya. Hiasan kepala yang hanya ditutupi jilbab dan bahkota serta veil panjang dengan warna senada membuatnya terkesan simpel namun mewah.
Dengan buket bunga di tangannya. Heyna yang sengaja digambar di bagian punggung tangan dan telapak tangan.
Entah sejak kapan Ilyas selalu memperhatikannya. Mungkin ia mulai tertarik? Tidak, Ilyas pikir mereka menikah hanya demi Chellyn.
Terkadang Ilyas memperhatikannya dari samping. Sesekali ia menarik napas. Kasian, dia pasti lelah, pikir Ilyas. Setelah seharian penuh melakukan perawatan agar terlihat sempurna saat pernikahan. Benar, memang sempurna. Pikiran kagum selalu mengganggu Ilyas.
Acara selesai pukul 11 malam. Ilyas melihat jelas lelah dari wajah Sivya. Entah mulai kapan ia mengkhawatirkan Sivya. Bibir Sivya pucat walau dibalut lipstik, serta matanya sayu.
''Kalian bisa pulang ke rumah Ilyas yang yang sekarang rumah Sivya juga. Kalian pasti lelah. Oh iya, Abhi dan Chellyn akan menginap di rumah mama dulu,'' ucap Lusi. Ilyas dan Sivya hanya mengangguk.
''Sebenarnya Papa mau ngasih hadiah buat kalian honeymonn, tapi karena Ilyas besok malam harus pergi lagi, jadi mungkin ditunda,'' ucap Pras.
''Nak, kamu baik baik ya. Jangan ceroboh, turuti apa pun yang suamimu bilang, kecuali kalau dia salah. Kamu ingatkan baik-baik. Sekarang kamu tinggal sama suami kamu, kebiasaan dirumah tinggalkan. Yang biasanya pekerjaan rumah butuh bantuan ibu, sekarang Vya lakukan sendiri yah.'' Nadia menasehati serta memeluk erat tubuh putrinya itu.
''Jadi istri yang baik. Kamu sudah berhasil jadi putri terbaik. Sekarang Ayah sudah tidak bertanggung jawab atas dosa yang kamu perbuat. Peran ayah sudah selesai untuk menanggung dosa kamu,'' ucapan Harri mungkin sedikit pedas bagi Ilyas, tapi memang benarkan seorang putri akan lepas dari tangung jawab yang ayah ketika sudah menikah. Ilyas sedikit terharu karena mengingat ia juga memiliki seorang putri.
''Ilyas, jaga Vya dengan baik,'' ucap Harri pada Ilyas. Sorot matanya seakan memohon. Ilyas pun menyanggupi apapun yang orang tua Sivya katakan.
''Ya sudah, sekarang kalian pulang dan istirahat,'' ucap Pras. Ilyas dan Sivya pun menyalami orang tua dan mertua masing-masing.
Ilyas sempat tidak tega melihat Sivya menangis dalam diamnya. Sedari tadi menang Sivya tidak bicara apapun. Dia hanya mengangguk saja.
Hening.
Itulah kondisi mobil Ilyas saat ini. Hanya ada mereka berdua. Diam. Entah ada lem atau apa di bibir mereka, hingga tidak ada yang mau membuka suara.
Sivya selalu melihat ke arah jendela. Suasana diluar sedang gerimis, mungkin dia suka sehingga tidak berpaling sedikitpun, menurut Ilyas.
''Vya, sudah sampai.''
''...'' hening.
''Vya?'' panggilnya lagi. Namun tidak ada sautan. Tatapannya kosong.
Ilyad pun turun dan membukakan pintu untuk Sivya. Sivya sempat terkejut setelah jendela kaca yang sedari tadi menjadi objeknya terbuka. Dalam hati Ilyas terkikik melihat wajah kaget Sivya. Manis.
''Sudah sampai,'' ucap Ilyas. Namun bukannya menjawab dengan kata, Sivya hanya menjawabnya dengan anggukan.
''Biarkan, nanti biar Satpam yang membawanya,'' ucap Ilyas saat melihat Sivya menuju bagasi mobil mengambil barangnya.
Lalu Ilyas masuk kerumah diikuti Sivya. Mereka masuk ke kamar yang sama. Ilyas akan tetap tidur dengan Sivya walaupun meraka menikah bukan karena cinta. Kalau pun Sivya menolak, Ilyas sudah berpikir akan tidur di sofa. Tapi masih di kamar yang sama.
''Aku akan mandi dulu. Kamu bisa membuka gaunmu disini. Jangan lupa tutup dan kunci pintunya. Setalah aku selesai terserah kamu mau mandi atau tidak,'' ucapku panjang namun lagi lagi hanya anggukan yang terima.
Berendam di air hangat membuatnya nyaman. Ya, berendam di tengah malam. Tubuhnya serasa remuk setelah baru saja pulang langsung di suguhi acara pernikahan dan besok malam ia akan pergi lagi.
Entah sudah berapa lama Ilyas disana.
"Apa mungkin dia masih kesulitan membuka gaunnya seperti di cerita cerita romantis, lalu si pria membukakan resleting dan terjadilan perkembangbiakan?" batin Ilyas kotor.
Ilyas keluar kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap karena tadi sudah membawa saat masuk kamar mandi. Ia lihat Sivya duduk di sofa dekat dengan jendela. Dia sudah mengganti pakaiannya.
Setelah Sivya menghapus make upnyaya, Ilyas semakin yakin kalau dia Sivya yang pernah Ilyas kenal. Pantas saja dia terlihat dingin.
''Kenapa belum tidur?'' tanya Ilyas. Lalu ia malah membaringkan tubuhnya di sofa.
''Jangan tidur disana, tidur disini bersamaku. Aku juga tidak mau tidur di sofa. Tenang saja kamu bisa percaya sama aku.'' Lalu dia menghampiriku dan berbaring. Aku pun sama.
Ilyas tidak bisa tidur karena merasakan pergerakan Sivya. Sepertinya dia tidak bisa tidur. Sivya yang Ilyas kenal tidak bisa tidur tanpa bantal guling. Mungkin bisa Ilyas coba, apa benar dia Sivya yang Ilyas kenal atau bukan.
Ilyas pun beranjak pergi ke kamar tamu mengambil bantal guling disana. Lalu ia menyerahkan pada Sivya. Sivya terkejut saat Ilyas memberikan guling tanpa berkata satu kata pun.
Benar saja, Ilyas tidak lagi merasakan pergerakannya. Mungkin dia sudah tidur. Berarti memang benar dia Sivya yang Ilyas kenal. Pantas saja sikapnya dingin. Dia pasti masih marah setelah kejadian beberapa tahun lalu.
-
Matahari belum menampakan sinarnya, namun Ilyas melihat bidadari berdiri disamping ranjang sambil melipat mukena. Oh ya tuhan cantik sekali, pikirnya. Ia melihat Ilyas menatapnya, dan langsung salah tingkah dan pergi ke kamar mandi.
Pukul 9 Ilyas keluar kamar. Ia mencari Sivya, di dapur, ruang tamu, ruang keluarga tapi tidak ada. Akhirnya ia pergi ke kolam renang belakang. Dia disana.
''Kenapa tidak bilang?'' tanya Ilyas yang membuat Sivya terkejut. Tatapan matanya seakan bertanya apa maksudnya.
''Kamu Sivya teman ku dulu kan?'' tanya Ilyas yakin. Dia masih diam.
''Maaf.'' Entah apa yang membuat Ilyas mengucapkan kata itu, tapi menurutnya itu yang harus ia ucapkan.
''Sarapan sudah siap, anda bisa sarapan terlebih dahulu,'' ucapnya. Ternyata ia tidak kehilangan suaranya. Tapi bicaranya formal, tidak seperti dulu. Pikir Ilyas.
Ilyas pun mengekor dibelakangnya. Seperti anak anjing yang mengikuti majikannya.
Sivya duduk di depan Ilyas. Mereka makan bersama tanpa ada suara. Ternyata Sivya menunggu Ilyas, tapi dia tidak tega untuk membangunkannya atau mungkin tidak sudi. Setelah selesai Sivya merapikan bekas makan mereka.
''Biar bi imah aja yang beresin, aku mau ngomong penting,'' ucap Ilyas serius, Sivya hanya mengangguk dan mengikuti Ilyas.
''Maaf, perkataanku dulu sangat menyakitimu dulu,'' ucapku Ilyas saat sampai di kamar.
''Papa tadi kesini, katanya anda disuruh menyelesaikan berkas yang tertumpuk di meja anda,'' jawab Sivya mengalihkan pembicaraan.
''Segitu bencinya kamu Vy? Aku sudah minta maaf. Tolong bersikaplah seperti saat pertama kita bertemu.'' Sivya hanya diam.
''Ok, teman?'' ujar Ilyas menjulurkan tangan. Seperti yang dilakukan Sivya dulu.
Sama sekali tidak Sivya hiraukan. Ia hanya memutar bola matanya malas.
''Vy, bisa kita seperti dulu lagi? Aku mohon. Bersikap lah seperti dulu.'' Ilyas memohon. Ilyas sangat menyesal atas perbuatannya dulu sampai Sivya sangat marah bahkan setelah belasan tahun lamanya. Ilyas melihat mata Sivya berkaca-kaca.
''Apa itu tidak seperti m******t ludah anda sendiri tuan Ilyas Firmansyah calon pemegang kekuasaan Henderson Group. Ah ralat, pemegang kekuasaan Henderson Group.'' Perkataan Sivya seketika membuat mulut Ilyas terkunci rapat, tidak mampu lagi untuk berdebat. Setelah itu Sivya memilih untuk pergi.