Sivya duduk di depan cermin kamar hotel. Karena pernikahan akan dilaksanakan di hotel tersebut. Ia memandangi dirinya di pantulan kaca. Mengenakan gaun simpel berwarna putih dan biru langit. Serta tidak lupa karangan bunga yang ia bawa.
Kerudung syar'i menutup d**a, sangat pas nan anggun ia kenakan. Polesan yang tidak terlalu tebal, membuat wajahnya semakin bercahaya. Aura lembutnya munutupi sifat asli Sivya.
''Cantik sekali,'' puji seseorang di balik pintu.
''Ibu, Vya gugup.''
''Itu normal sayang, semua orang akan merasa gugup saat akan melangsungkan pernikahan,'' ucap Nadia dan menghampiri Sivya.
''Tapi Sivya bahkan belum pernah bertemu dengannya, bahkan Vya belum tau namanya.'' Sivya menunduk.
''Namanya Il-'' Belum sempat Nadia berucap sudah ada yang memotongnya.
''Vy, ini kakak,'' ucap seseorang lalu langsung menghampiri Sivya dan memeluknya sayang.
''Kamu beneran setuju menikah sama orang yang sudah mempunyai anak?'' tanya Andra.
''Iya kak, memang kenapa?'' tanya Sivya balik.
''Kalau dia masih mengingat mantan istrinya gimana, kalo dia nyakitin kamu gimana, bahkan kalian tidak pernah bertemu sekalipun, atau kalo kamu-'' Ucapan Andra berhenti. Itu adalah kalimat terpanjang yang Andra katakan di depan Sivya.
''Kak, Vya gak apa-apa. Lagi pula anaknya juga baik sama Vya,'' ucap Sivya.
''Jaga diri kamu baik-baik,'' ucap Andra lalu mencium puncak kepala Sivya.
-
Flashback on
''Kamu!'' Sivya terkejut.
''Kenapa, kamu terkejut?'' tanya pria tersebut dengan seringainya.
''Lima tahun lalu aku mengalami kecelakaan. Dan dengan terpaksa dokter mengoperasi wajah yang sejak lama kamu benci.''
''Walaupun sekarang kamu tau siapa aku, tetap saja aku akan mengijinkanmu menikah. Aku saudaramu kan?'' ucapnya lagi. Sivya mengangguk kepala tak bisa berbicara.
''Pergilah, sebelum aku berubah pikiran dan menyeretmu ke KUA!'' perintah pria itu.
''Jangan lakukan apa pun yang akan membuatku membencimu lagi,'' ucap Sivya saat sudah beberapa langkah menjauhi pria tersebut.
''Aku tidak,'' ucapnya pelan. ''Janji'' lanjutnya dengan seringai andalannya.
Setidaknya Sivya bisa bernapas dengan lega. Ia mendengar Alex tidak akan mengganggu hidupnya. Setelah terakhir kali mereka bertemu, Sivya sangat membenci pria itu. Karena Sivya sempat akan diperkosa, namun untung saja saat itu ada Andra kakaknya.
Setidaknya ia sudah mengakui kebenaran bahwa mereka satu darah.
Flashback off
-
Ilyas masih dikamarnya dulu, dirumah orang tuanya. Ia memandang dirinya di depan cermin. Untuk kedua kalinya ia memakai pakaian pengantin.
Dengan balutan tuxedo putih serta tidak lupa songkok yang ia kenakan. Tak lupa hiasan disaku kiri membuatnya semakin tampan.
Jujur, walaupun ini pernikahan kedua bagi Ilyas. Tapi ia lebih gugup dibanding pernikahan sebelumnya. Karena sebelumnya ia telah mengenal wanita yang akan ia nikahi. Sedangkan sekarang, ia bahkan belum pernah melihatnya.
''Papa,'' panggil Chellyn lalu menghampiri Ilyas yang masih setia didepan cermin.
''Kenapa sayang, Chellyn sudah lihat kan calon mama Chellyn?'' tppanya Ilyas. Sebenarnya ia penasaran pada wanita yang akan ia nikahi.
''Iya Pah, dia baik banget sama Ellyn. Dia yang nolongin Ellyn waktu itu. Telus dia cantik, makanya Ellyn manggilnya tante cantik. Tapi sekalang Ellyn boleh panggil tante cantik mama kan pah?'' tanya Chellyn dengan cadel.
''Iya sayang,'' jawab Ilyas.
''Ilyas ayo kita berangkat,'' ucap Pras tiba-tiba bersama Abhi di belakangnya. Pras juga telah menerima Abhi. Bahkan Abhi harus tinggal dengan mereka agar kejadian yang dulu tidak terulang. Namun Ilyas menolaknya. Jika memang kejadian itu terulang, berarti wanita itu tidak pantas untuk Ilyas dan patut Ilyas syukuri.
Ilyas pun keluar dari kamarnya diikuti Pras dan Abhi. Chellyn sudah lari mendahului untuk masuk ke mobil terlebih dahulu. Lusi yang baru datang langsung menggandeng putra semata wayangnya tersebut.
''Jangan gugup, Mamah yakin kamu pasti suka. Tenang, Abhi akan tetap tinggal sama kamu,'' ucap Lusi. Ilyas mengangguk.
Mobil pun berlalu dari pekarangan rumah mewah itu. Dan berjalan meyusuri jalanan yang tidak terlalu padat.
-
Entah kenapa Ilyas dua kali lipat merasa gugup saat akan mengucap ijab qobul. Padalah lima tahun lalu ia pernah di posisi ini. Dan ia tidak melihat wanita itu, wanita yang dengan rela menikah demi putri kecilnya.
Penghulu tersebut mengatakan bahwa ijab qobul akan segera dilaksanakan. Namun tetap saja wanita yang ia nantikan belum duduk disampingnya seperti dulu saat ia menikah.
''Saya nikahkan engkau Ilyas Firmansyah bin Pras Hermawan dengan anak saya Sivya Alinka Pramadipta dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan logam mulia seberat 15 gram dibayar tunai,'' ucap Harri lantang.
''Saya terima nikahnya Sivya Alinka Pramadipta binti Harriawan Pramadipta dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!'' jawabnya tak kalah lantang.
Seperti memecahkan bisul rasanya, lega. Pernikahannya yang pertama tidak membuatnya se-lega ini. Entahlah.
Ilyas semacam berpikir setelah mengucap nama perempuan yang telah menjadi istrinya sekarang. Seakan pernah mendengar nama itu, namun entah dimana ia lupa.
Pemikiran buruk berputar-putar di kepalanya. Mengingat nama yang sama, namun entah dengan orang yang sama ataukah tidak.
Acara masih berlanjut, namun Ilyas masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai akhirnya penghulu memerintahkan untuk memanggil mempelai wanitanya.
Perlahan seorang wanita turun dari atas tangga, dengan mengenakan gaun putih biru yang sangat indah ia kenakan walau sederhana. Melihatnya berjalan dengan anggun, Ilyas tidak yakin kalau itu Sivya yang ia kenal.
Sekarang mereka duduk berhadapan di depan penghulu dan keluarga masing-masing, serta sedikit tamu sekedar kerabat jauh. Mereka hanya dibatasi sebuah bantal yang diatasnya sudah dihias sedemikian rupa dengan cincin diatasnya.
Penghulu mengarahkan untuk memakaikan cincin secara bergantian. Ilyas pun meraih tangan Sivya. Sungguh, Sivya sama gugupnya dengan Ilyas. Karena telapak tangannya sangat dingin dan berkeringat.
Lalu setelah selesai, ia mengulurkan tanganku agar dipasangkan cincin. Namun, Sivya tidak menerima uluran tangan Ilyas. Seketika ia kesal. Namun bisa dimaklumi karena mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
Sivya baru menerima uluran tangan Ilyas saat ibunya mengusap lembut lengannya. Sivya menundukkan kepalanya hingga Ilyas semakin penasaran dengan wajahnya.
''Sekarang nak Sivya, cium tangan suami kamu. Dan nak Ilyas mencium kening istrinya,'' perintah penghulu.
Sivya pun meraih tangan Ilyas dan dikecupnya punggung tangan Ilyas. Ia merasa ada desiran hebat dalam dirinya. Setelah itu Ilyas sedikit maju dan mencium keningnya. Detak jantungnya semakin tidak terkontrol.
Suara dari masing-masing keluarga terdengar riuh. Namun Sivya masih saja tenang walau Ilyas tau, Sivya sama gugupnya tadi. Ilyas semakin penasaran dibuatnya.
''Mama,'' panggil Chellyn tiba-tiba yang dari tadi berlindung di dekapan kakaknya.
Ilyas melihat Sivya tersenyum. Seketika jantungnya berdebar melihat senyum Sivya yang dinilainya sangat manis. Apalagi saat melihat putrinya memanggil sebutan yang sudah lama putrinya nantikan.
Sivya mencoba menenangkan Chellyn saat melihatnya mulai terisak. Ilyas semakin dibuat kagum dengan Sivya.
''Chellyn sayang, mama kamu mau siap-siap lagi buat resepsi nanti malam. Kamu sama oma dulu yah,'' bujuk Lusi. Chellyn mengangguk dan mencium sekilas pipi Sivya.
Entah kenapa perasaan aneh kembali muncul saat Ilyas melihat wajah Sivya dengan jelas. Gerakan bibir saat berbicara membuatnya terpesona sesaat. Ilyas hanyut dalam manik mata yang tak tertutup kontak lensa.
Ilyas merasa tidak asing dengan wajah Sivya. Ilyas sangat ingin menanyakan hal yang ingin ia katakan sejak tadi.
''Dor!'' Ilyas tersentak lalu melotot pada pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Abhi, hanya dia yang berani seperti itu kepada Ilyas.
''Tenang, baru pukul tiga sore. Malamnya bakal lama, mending om tidur dulu. Jangan mikir macem macem, resepsi aja belum,'' ucapan Abhi membuatnya gelagapan. Abhi terkikik geli merasa menang Ilyas tidak membalas ejekannya.
Setelah itu Nadia membawa Sivya ke kamar. Mungkin akan mempersiapkan resepsi nanti malam.
''Hai, saya Andra,'' ucap Andra.
''Iya?'' ucap Ilyas kikuk karena asing dengan wajahnya.
''Saya kakaknya Sivya,'' ucapnya dingin.
''Iya kak, saya sudah tau.'' Sebenarnya ia sedikit risih karena sikap dinginnya itu.
''Saya hanya berpesan satu, jangan sampai Sivya mengeluarkan air mata kesedihan. Jika aku mengetahui itu, aku akan langsung membawa Sivya pergi darimu dan juga putrimu.'' Tatapannya tajam, Ilyas melihat dengan jika itu kasih sayang seorang saudara laki-laki pada saudara perempuannya agar tidak ada yang menyakiti. Ilyas tau perasaan itu, ia tidak marah saat Andra memandang tajam padanya. Itu wajar dilakukan seorang kakak.
''Saya berjanji kak,'' ucapnya mantap.
''Jangan terlalu kasar seperti itu. Ilyas, dia sebenarnya baik. Cuman ya seperti itu kalau sama orang baru. Kenalkan saya Anita, kakak ipar Sivya,'' ucap wanita yang dari tadi berdiri disamping Andra. Ilyas pun menyambut uluran tangannya.
Mereka pun permisi meninggalkan Ilyas sendiri. "Ck, pengantin pria yang malang," decaknya dalam hati.
''Kamu tidak mau istirahat Ilyas? Ayo Ayah antar,'' ucap Harri ramah.
Ilyas pun mensejajarkan langkahnya. Harri menasihati selayaknya seorang ayah perempuan pada menantunya untuk menjaga putri yang sedari kecil ia jaga dengan baik. Seperti pada umumnya.
Ilyas tereyuh, karena ja juga memiliki putri. Suatu saat nanti putrinya pun akan pergi ke rumah suaminya.
TBC>