Sivya terburu-buru menghampiri gerbang sekolah. Sekolah sudah selesai 20 menit yang lalu. Hari ini Sivya janji akan pergi dengan Lusi memilih gaun untuk pernikahannya yang 10 hari lagi. Karena jika pernikahan kurang dari 7 hari, Sivya akan di pingit. Alias tidak boleh keluar rumah.
Pada awalnya Sivya menolak untuk di pingit. Namun demi kebaikannya dan karena memang itu adat jadi Sivya menurut saja.
Sivya sedang menunggu mobil jemputan suruhan Lusiana di depan gerbang. Namun lagi-lagi ada seseorang yang menawarkan tumpangan padanya.
''Sore Bu, mau saya antar?'' tawarnya sopan.
''Sore, maaf saya akan dijemput supir, Pak. Terima kasih,'' tolak Sivya halus.
''Tidak masalah. Oh iya, kalo boleh tau Bu Sivya mau nikah?''
''Iya, 10 hari lagi. Dua hari lagi saya akan mengambil cuti '' ucap Sivya, lawan bicaranya hanya manggut-manggut tanda mengerti.
''Pak Graha tidak pulang?'' tanya Sivya, terkesan mengusir secara halus. Pasalnya Graha menyukai Sivya dan sempat membuat candaan akan menikahinya dulu. Namun Sivya hanya menganggap itu hanyalah lelucon belaka. Hal itu yang membuat Sivya risih berada di dekatnya.
''Nanti, kalo saya sudah pastikan bahwa Ibu dijemput dengan aman,'' ucap Graha dengan tatapan yang tidak ingin Sivya lihat.
Tin..Tin..
''Itu jemputan saya pak, makasih sekali lagi atas tawarannya.'' Sivya lalu menaiki mobil dan berlalu menyapu jalanan.
Graha memandang jauh mobil yang ditumpangi Sivya dengan tatapan yang tidak bisa dejelaskan.
''Dulu pernah terluka, tidak saat ini,'' ucap Graha dengan menunjukan smirknya. Lalu berlalu menggunakan motornya.
-
''Hi sayang, akhirnya,'' ucap Lusi yang sudah berada disana bersama orang tua Sivya.
''Maaf tante, Vya telat,'' ucapnya menyesal.
''Ngga apa-apa sayang, yuk masuk pilih gaun impian kamu. Kamu pilih dua gaun ya sayang. Gaun pertama untuk akad, dan gaun kedua untuk resepsi,'' ucap Lusi antusias.
''Mari nona, saya antar. Saya bisa carikan model gaun apapun yang anda mau,'' ucap wanita yang diketahui Sivya pemilik butik tersebut. Usianya tidak jauh diatas Sivya, masih terlihat cantik.
''Boleh saya lihat yang itu?'' tanya Sivya.
''Tentu saja nona, di coba saja biar tau pas atau tidak di badan nona,'' ucap wanita tersebut yang bernama Agatha tersebut.
Sivya pun masuk kedalam ruang ganti dan mengganti pakaian nya dengan gaun yang ia pilih.
''Ibu, tante,'' panggil Sivya membuat kedua wanita paruh baya terkagum.
''Cantiknya.''
''Cantik sekali.''
Ucap Nadia dan Lusi hampir berbarengan. Harri baru saja masuk setelah menerima telpon dari Pras calon besannya pun langsung menghampiri Sivya.
''Anak siapa ini Subahanallah,'' decak Harri kagum.
''Sayang apa ini tidak terlalu sederhana. Maksud tante, ini kan pernikahan pertama dan semoga terakhir kamu. Apa kamu tidak ingin yang lebih dari ini?'' tanya Lusi.
''Vya suka yang ini tan, kalo kurang bagus Sivya bisa cari yang lain,'' ucap Sivya.
''Ngga sayang, apa pun yang kamu pakai kamu selalu terlihat cantik,'' puji Lusi.
''Oh iya, inikan pilihan untuk akad. Terus mana pilihan kamu untuk malam resepsinya?'' tanya Nadia saat melihat Lusi sudah berkaca kaca, mungkin ia ingat mendiang putrinya.
Pemilihan gaun pun berlanjut hingga petang. Lusi memilih langsung pulang setelah mengantar Harri dan Nadia. Sedangkan Sivya mampir ke toko buku untuk keperluan kuliahnya.
-
21.50
Sivya keluar dari toko buku. Itu lah Sivya, dia selalu lupa waktu jika sudah berada di antara buku-buku. Kecintaannya pada buku dari kecil membuat ia betah di perpustakaan ataupun hanya menciumi buku baru di toko buku saat ia masih kecil dulu.
Ia celingak-celinguk mencari taxi yang lewat. Namun nihil, setelah 10 menit ia berdiri tidak ada taxi yang lewat jalanan itu sepi. Hanya beberapa kendaraan yang lewat. Bahkan toko buku tadi sudah tutup. Ponselnya kehabisan batre sehingga ia susah untuk sekedar memesan ojek online.
Sreeekkk...
''Eummmmm!!!'' Sivya berontak setelah seseorang menarik badannya dan membekap mulutnya.
''Diam!!'' bentak orang tersebut. Lalu membawa Sivya ke g**g kecil yang diapit cafe dan toko buku tadi.
''Lepas!!'' bentak Sivya.
''Tidak, dulu aku pernah melepasmu dan aku menyesal. Sekarang aku tidak akan membiarkanmu jatuh ke pelukan orang lain lagi Sivya Alinka Pramadipta!'' bentaknya sambil menekan tubuh Sivya ke tembok.
Sivya kaget, pasalnya ia menyingkat namanya tanpa menambahkan embel-embel Pramadipta di belakangnya.
''Siapa kamu! Kenapa kamu tau nama belakang saya?!'' tanya Sivya yang masih meronta.
''Jangan pura-pura lupa sayang, atau aku akan mengingatkanmu lagi,'' ancamnya sambil mengeluarkan pisau lalu mengarahkannya pada pipi Sivya.
Sivya tidak terlalu takut, karena sebenarnya ia tau. Walau tidak pasti. Tapi hanya keluarganya yang tau identitas asli Sivya.
''Apa mau kamu?'' tanya Sivya yang mulai tenang.
''Kamu,'' jawab orang tersebut sambil menyorotkan senter ke wajah Sivya. Tangannya tidak lagi menekan Sivya ke tembok.
''Alex tolong, kita satu darah. Kita tidak mungkin menjadi satu. Itu dilarang Lex,'' ucap Sivya tanpa takut sedikitpun. Walaupun Sivya tidak melihat wajahnya, namun ia tau siapa orang yang ada dihadapannya itu.
''Persetan dengan hubungan darah, aku tidak peduli! Yang aku tau, aku hanya mencintai seorang wanita!!'' bentak pria yang bernama Alex tersebut sambil memukul tembok.
''Cintamu salah Lex, cobalah untuk menerima ini,'' bujuk Sivya.
''Apa karena dulu aku jelek, hitam dan lebih pendek dari kamu. Ayo lah Sivya, setelah kamu melihat aku yang sekarang, aku pastikan kamu akan setuju,'' ucapnya kini lembut.
''Cukup Alex, lupakan aku. Kita saudara.''
''Jika dari kecil kamu tinggal di keluarga Pramadipta, maka aku akan menganggap kamu sebagai saudara. Namun apa? Ayahmu dengan sombongnya keluar dari keluarga Pramadipta!'' geramnya dengan amarah.
''Cukup Alex, dalam silsilah keluarga aku lah yang lebih tua. Walau umur kamu 2 tahun di atasku. Jadi besikap sopanlah!'' Amarah Sivya tidak bisa dikendalikan.
''Baik, semoga kamu bahagia dengan pria yang akan menikah denganmu,'' ucap Alex, Sivya sempat tidak percaya.
''Tapi kamu harus tau wajah baru ku Sivya.'' Sivya pun memutar badannya, dan...
''Kamu?''