'Jangan sampai uang membeli kehormatan'
'Tak punya uang tak masalah, tapi jangan sampai tak punya hati'
*****
Matahari masih malu menampakan sinarnya. Sivya bangun setelah menyelesaikan tugasnya sebagai muslim. Ia bergegas keluar untuk sekedar memasak karena sekarang ia pindah di apartemen milik Lusi.
Sivya memang lahir di keluarga kelas menengah. Ayahnya hanya pegawai bank. Ibunya hanya penjahit rumahan yang tidak seberapa penghasilannya.
Sekarang Ayahnya telah pensiun, dan Ibunya tidak lagi menjahit karena penglihatannya yang mulai berkurang. Untuk mengisi waktu mereka memiliki toko pemberian Andra anak sulung mereka.
Walaupun mereka hidup pas-pasan, namun mereka memiliki prinsip. 'Kita dihargai bukan karna uang, tetapi karna hati. Kalian boleh tidak punya uang, tapi jangan sampai tidak punya hati' itu prinsip Nadia, Ibu mereka.
'Pendidikan bukan hanya dicapai dengan uang, tetapi dengan tekad dan kemampuan'. Dan benar saja, Sivya dan Andra kakaknya tidak mengeluarkan uang untuk pendidikannya. Mereka selalu mendapat beasiswa karena kepandaiannya.
Andra bahkan mendapat beasiswa S2 di Jepang, dan setelah lulus ia di beri kepercayaan untuk memegang kekuasaan di salah satu perusahaan Informasi dan Komunikasi terbesar di Indonesia.
Sivya tak se-cerdas Andra. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Sivya pintar. Ia memilih menjadi guru karena prinsipnya sendiri. 'Jangan sampai uang membeli kehormatan'.
Menurut Sivya dengan ia menjadi guru, ia akan dihormati. Bukan karena uang, tapi karena jasanya. Ia bahkan sudah mengajar tanpa dibayar se-peserpun saat masih kuliah. Sivya mendatangi lingkungan kumuh di daerah Jakarta beserta teman-teman kuliahnya untuk mengajar disana. Tapi hanya sampai empat tahun saja, karena lingkungan tersebut telah digusur oleh pemerintah.
-
Sivya masuk ke dapur untuk mencari apapun yang bisa dimasak. Namun nihil, tidak ada apapun disana. Karena kemarin setelah mereka makan lalu langsung pergi ke rumah Lusi dan makan malam disana. Dan langsung menempati apartemen tersebut.
Awalnya Sivya menolak, namun karena permintaan Lusi dengan alasan yang membuat Sivya tidak bisa menolak permintaan tersebut.
Alasannya setelah mereka menikah, dia akan pindah ke rumah suaminya. Dan ibunya tidak akan selamanya tinggal di Semarang. Dan apartemen itu hanya untuk sementara, dan akhirnya Sivya setuju.
''Lagi ngapain Vy?'' tanya Nadia yang baru keluar dari kamar.
''Nyari makan Bu, gak ada makanan apa?'' tanya Sivya balik.
''Udah kamu pesen aja, apa susahnya sih,'' ucap Nadia, Sivya hanya nyengir lalu pergi ke kamarnya.
Nadia duduk di ruang keluarga sambil menonton acara pagi. Terkadang ia berpikir bahwa kepribadian anaknya tertukar.
Andra memiliki sifat lembut, penurut, tidak banyak bicara, murah senyum tpi jarang tertawa lepas dan tertutup. Sedangkan Sivya memiliki sifat keras kepala, banyak bicara, periang, terbuka kepada siapapun dan ceroboh sangat. Namun itu dulu sebelum ia memutuskan untuk berhijab. Namun keras kepala nya masih saja sampai sekarang.
''Bu, Sivya udah pesen. Bentar lagi pasti dateng,'' ucap Sivya sambil menghampiri ibunya. Dan Nadia hanya berdehem.
''Ayah mana?'' tanya Sivya.
''Tidur lagi paling, kemarin kan mau istirahat gak enak mau tidur juga gak nyenyak dirumah orang,'' jelas Nadia.
''Ini juga rumah orang,'' ucap Sivya.
''Ini kan apartemen,'' jawab Nadia.
''Cebong juga tau, au ah lagi males gak mau debat,'' Kesal Sivya, ibunya hanya mengulum senyum.
Sivya dan ibunya memiliki sifat yang sama. Sedangkan Andra memiliki sifat seperti ayahnya yang tenang.
Jika Ibunya berulah ataupun membuat candaan di rumah. Andra hanya mengiyakan tidak seperti Sivya yang dengan senang hati membuat candaan kecil menjadi seisi rumah penuh dengan tawa akibat candaan maupun lelucon dari mereka.
Sekitar setengah jam, makanan pun sampai.
''Bu, kapan Ibu kenal sama tante Lusi?'' tanya Sivya sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
''Sejak SMP sampai menikah kita sudah saling kenal,'' jawab Nadia.
''Tapi kan dia orang kaya, ko mau punya teman kaya Ibu,'' ucap Sivya berhenti mengunyah.
''Sembarangan!'' kesal Nadia sambil melempar sendok plastik dari pesanan tadi. Sivya hanya terkekeh.
''Kenapa dia baik banget sama Ibu dan Ayah?'' tanya Sivya lagi.
''Ibumu dulu menyelamatkan tante Lusi setelah mengetahui ia hamil diluar nikah. Tante Lusi sempat ingin bunuh diri, setelah itu Ibumu membantu untuk mengatakan pada orang tua Lusi dan si pria itu,'' jelas Harri.
''Tapi waktu itu agak sulit memang membujuk pria itu, karena dia anak orang kaya. Dan kamu harus tau, dulu tante Lusi tidak se-kaya sekarang. Akhirnya ada pria yang mau menikahinya, dia tidak kaya namun hatinya besar. Akhirnya mereka menikah, beberapa bulan kemudian kita menikah,'' ucap Nadia sambil melirik Harri.
''Namun saat melahirkan, anaknya tidak bisa diselamatkan. Tapi tiga tahun kemudian mereka memiliki putri. Setelah beberapa tahun kita tidak pernah bertukar kabar, kita mendapat kabar bahwa mereka sudah pindah entah kemana. Dan kita di pertemukan sekarang,'' jelas Harri.
''Sebenernya tante Lusi temennya Ayah atau Ibu?'' tanya Sivya.
''Ayah kenal Ibu mu sama tante Lusi saat kita kuliah, walaupun ibumu tidak kuliah, dia berjualan buku di dekat kampus, lebih tepatnya dia bekerja disana. Karena dulu Ayah sama tante Lusi satu jurusan dan waktu itu Ayah mau beli buku dan akhirnya ketemu Ibumu,'' jelas Harri.
''Harusnya dulu Ayah sama tente Lusi aja,'' ucap Sivya yang dibalas tatapan maut Nadia.
''Ulululu becanda, udah mau nerkam aja Ibu,'' ucap Sivya tertawa.
Sivya memang sudah menerima perjodohan tersebut. Bukan karena materi tapi karena ia berniat melupakan masa lalunya.
Sudah cukup lima belas tahun Sivya menyimpan satu nama di hatinya. Namun tidak ada kepastian. Dua belas tahun menyimpan luka yang diberikan oleh orang yang menempati hatinya.
Itu bukan perkara mudah untuk Sivya melupakan segalanya. Namun sekarang ia akan berusaha melupakan dia.
-
Ilyas masih bergelung selimut saat telponnya berdering. Ia baru saja tidur satu jam yang lalu. Karena sekarang ia berada di Paris untuk urusan pekerjaan. Karena waktu indonesia lebih cepat lima jam, maka sekarang pukul Satu dini hari karena di Indonesia pukul enam pagi.
''Ilyas kamu setuju kan?'' tanya seseorang di sebrang sana.
''Kalau mama sama Chellyn setuju, Ilyas juga setuju,'' ucap Ilyas lesu masih mengumpulkan nyawanya.
''Baik kalau begitu, kapan kamu pulang?'' tanya Lusi.
''Dua minggu lagi Ilyas pulang. Oh iya kata papa, pernikahannya harus segera dilaksanakan setelah Ilyas pulang. Karena Ilyas mau ke Prancis lagi setelah itu,'' ucap Ilyas.
''Masa pengantin baru ditinggal sih?''
''Ilyas cuma sekitar sepuluh hari ke Perancis mah, ini gak bisa diwakilkan ke papa,'' jelas Ilyas.
''Tapi kamu datang kan pas pernikahan?'' tanya Lusi
''Kan yang mau nikah Ilyas, ya pasti datang lah mah," ucap Ilyas. Lusi merutuki kebodohannya.
''Mah, Ilyas minta jangan ada resepsi yah. Inikan pernikahan kedua Ilyas,'' ucap Ilyas.
''Tapi ini pernikahan pertama Sivya, tapi dia maunya yang sederhana ko, tenang aja. Dia udah cantik gak neko-neko pula, duh idaman banget.''
''Sivya? Emm Yaudah terserah mama, Ilyas masih mau tidur. Mama Iupa? Disini baru pukul 1,'' ucap Ilyas.
''Iya-iya mama lupa. Udah sana tidur,'' ucapnya lalu menutup telpon.
Ilyas tidak langsung menutup mata. Ia masih memikirkan nama yang ibunya sebut tadi.
''Sivya, sepertinya ngga asing dengan nama itu.'' Iylas bermonolog.
''Tapi di mana?'' tanyanya pada diri sendiri sambil berpikir. ''Udah lah." Lalu kembali ke alam mimpi.