Hari ini Sivya disibukan dengan persiapan ujian untuk kelas dua belas yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Yang artinya sekarang Sivya sibuk mengurus Ujian Praktek Kejuruan atau biasa disingkat UPK.
Karena Sivya mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan, jadi terdapat Ujian Praktek bukan hanya Ujian Nasional saja seperti Sekolah Menengah Atas/Umum.
Ia baru ingat bahwa ibunya ingin bertemu siang ini. Namun ia hanyalah seorang guru yang tidak bisa ijin seenaknya apa lagi sedang diadakannya ujian praktek.
Sivya pun menelpon ibunya untuk bertemu nanti sore saja. Karena Sivya tau ibunya berada di rumah temannya. Maka Sivya pun tidak khawatir mengulur waktu bertemu ibunya karena ibunya pasti aman disana.
''Halo, Assalamualaikum Ibu,'' sapa Sivya saat ibunya mengangkat telpon.
''Waalaikumsalam, jadi kan nanti siang?'' tanya Nadia to the poin.
''Eum, sebenernya Vya sibuk Bu. Ibu gak apa-apa kan, kita ketemu nanti sore aja. Vya sibuk soalnya,'' jelas Sivya.
''Hmm, tapi kamu turuti permintaan Ibu kali ini aja. Setelah itu kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau,'' ucap Nadia.
''Apa?'' tanya Sivya penasaran.
''Nanti kalo ketemu, Assalamualaikum,'' jawab Nadia cuek. Lalu mematikan telpon sepihak.
''Dih, Waalaikumsalam. Kenapa sih, kan Ibu sendiri yang kesini ngga bilang-bilang. Malah ngambek sih,'' oceh Sivya pada dirinya sendiri.
-
Pukul 16.00 Sivya baru keluar dari sekolah setelah menyelesaikan tugasnya. Hari ini adalah hari rabu, sehingga Sivya tidak kuliah. Karena Sivya kuliah hanya di hari selasa dan kamis saja.
Sivya menunggu taxi didepan gerbang sekolah dan sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Tiba-tiba ada yang menghampirinya dengan menggunakan motor ninja warna hitam.
''Sore Bu Sivya, mau pulang bareng saya?'' tawar pak Nugraha, dia guru olahraga di sekolah tersebut.
''Sore. Tidak, terima kasih atas tawarannya, tapi saya bisa pulang sendiri pak,'' jawab Sivya formal.
''Tidak apa-apa Bu, lagian saya tidak sibuk kalo hanya mengantar Ibu saja,'' ujar Nugraha yang biasa dipanggil Pak Graha oleh siswa-siswinya.
''Tidak Pak, sebenarnya saya masih ada urusan. Itu ada taxi, saya duluan ya Pak, makasih tawarannya,'' ucap Sivya saat melihat taxi lewat dan masuk kedalam taxi.
Nugraha hanya memandangi mobil yang sudah jauh dari pandangannya. Sebenarnya Ia sudah suka dengan Sivya sejak Sivya masuk sebagai guru baru. Namun Sivya tetap menghindarinya.
-
Kini Sivya sampai di tempat Ibunya bilang. Ia pun mencari keberadaan Ibunya. Ternyata Nadia berada di meja paling pojok bersama Harri.
Sivya pun langsung menghampiri mereka. ''Assalamualaikum,'' salam Sivya sambil menyalami tangan ayah dan ibunya.
''Waalaikumsalam, akhirnya datang juga calon pengantin,'' ucap Nadia.
''Apa?!'' tanya Sivya tidak percaya sekaligus kaget.
''Apa?'' tanya Nadia dengan nada remeh. Sivya hanya memanyunkan bibirnya.
''Ehh sudah datang, maaf lama, Chellyn minta pipis tadi,'' ucap Lusi yang baru datang. ''Loh, nak Sivya toh. Gurunya Abhi kan?'' tanya Lusi tidak menyangka.
''Nyonya Lusiana, senang bertemu kembali,'' sapa Sivya formal sambil menyalami Lusi setelah mendapat kode dari Nadia yang di mengerti Sivya.
''Tante cantik,'' sapa Chellyn senang lalu memeluk Sivya.
''Hai sayang, apa kabar?'' tanya Sivya.
Sivya dan Chellyn pun larut dalam percakapan yang di bahas Chellyn sendiri. Sedangkan para ora tua saling berbisik.
''Nak Sivya anak mbak Nadia?'' tanya Lusi penasaran.
''Iya, lah kok bisa kenal?'' tanya Nadia balik.
''Dia guru di sekolah Abhi cucu saya, baik dia. Tuh liat mbak. Dia deket banget sama Chellyn '' ucap Lusi antusias.
''Bicarakan sekarang aja ya mbak?'' tanya Lusi pada Nadia. Nadia melirik Harri suaminya tanda meminta ijin. Harri hanya mengangguk.
Nadia bingung sendiri, bagaimana dia menyampaikan hal ini pada Sivya. Padahal Sivya akan selalu marah jika membahas hal tersebut. Nadia merasa tidak enak pada Lusi.
Sesekali Nadia melirik Harri agar Harri saja yang bicara terlebih dahulu. Harri menarik napas panjang dan.
''Vya, kami mau ngomong serius sama kamu,'' kata Harri setelah beberapa lama mengumpulkan niatnya.
''Iya?'' tanya Sivya cuek dan masih asik menyuapi Chellyn yang masih di pangkuannya. Sivya tidak mendengar percakapan Nadia dan Lusi. Karena mereka duduk bersebrangan. Sivya duduk disamping Ayahnya.
''Sivya!'' serkas Nadia pelan namun penuh penekanan. Sivya yang mengerti maksud ibunya pun langsung mendongkak.
''Iya, Ibu. Emang mau ngomong apa?'' tanya Sivya. Nadia memajukan dagunya menunjuk Harri. Sivya pun mengikuti.
''Jadi begini Vya, Ayah sama Ibu dan juga tante Lusi akan membahas pernikahan kamu,'' ucap Harri dengan tenang.
Benar saja, mata Sivya langsung memerah. Namun Sivya menahan emosinya karena ada Lusi dan Chellyn yang masih berada di pangkuannya.
''Yah, sebelum Vya berangkat kesini kita sudah membahas hal ini dan Ayah setuju. Tapi sekarang—'' Ucapan Sivya menggantung dan beralih menatap Ibunya.
''Benar, tapi Ibu sama Ayah berubah pikiran. Mengingat usia kamu yang sudah hampir kepala tiga. Dan kamu itu berpendidikan jadi kamu tau kalau hamil di usia 30an itu tidak baik. Dan Ibu tidak mau itu terjadi sama kamu. Sekarang Ibu mohon, kamu menikah sayang. Ibu sudah cocok dengan pilihan Ibu sekarang,'' ucap Nadia pelan. Terdapat keseriusan dimatanya.
''Maaf, Ayah mengingkari janji Ayah dulu. Tapi ini demi kebaikan kamu. Sampai kapan kamu berlarut dalam kenangan masa lalu. Sudah Ayah katakan berulang kali. Buang semua ke—'' ucap Harri terpotong.
''Maaf Ayah, tolong jangan bahas itu.'' Sivya menunduk.
''Tolong nak, kali ini aja kamu penuhi permintaan orang tua kamu,'' ucap Nadia dengan tatapan memohon.
Sivya membuang napasnya kasar. ''Siapa pria yang Ibu pilih?'' tanya Sivya.
Nadia tersenyum tanda Sivya akan menyetujuinya. Lusi menukar tempat duduk dengan Harri dan menggenggam tangan Sivya.
''Sebenarnya tante tidak enak sama kamu. Karena yang akan dijodohkan dengan kamu sudah menyandang status duda anak satu. Sedangkan kamu belum pernah menikah,'' ucap Lusi tidak enak.
Flashback on
''Ibunya mana Lus?'' tanya Harri mengenai Chellyn. Lusi tersenyum dan menceritakan apa adanya.
''Jadi anak kamu belum menikah lagi?'' tanya Nadia.
''Belum mbak, dia kemarin sudah setuju. Tapi bukan hanya mencari istri, tapi dia juga mencari ibu untuk Chellyn. Saya juga masih mencari yang sreg gitu mbak,'' jelas Lusi.
''Anakku juga belum nikah Lus, susah bujuk dia nikah,'' ucap Nadia lesu. ''Apa kita coba jodohkan mereka ya Lus,'' ujar Nadia semangat.
''Tapi anak saya kan duda mbak, apa mau anak mbak sama anak saya?'' tanya Lusi ragu.
''Nanti gampang jelasin baik-baik. Dia suka anak kecil, mungkin kalo tau anaknya semanis ini dia mau,'' ucap Nadia antusias.
''Ayah gak yakin dia mau Bu. Apa lagi sebelum dia berangkat ayah udah janji kalau Vya nikahnya setelah studynya selesai,'' ujar Harri.
''Tapi yah, itu dua tahun lagi. Sedangkan Vya usianya sudah 27. Nanti yang ada Vya menikah usia 29. Lah gak mungkin dia nikah langsung hamil dan melahirkan. Paling tidak setahun pun kalo cepet dia baru melahirkan. Usia 30an kan gak baik buat melahirkan yah,'' Jelas Nadia.
Harri sempat menimbang nimbang keputusan itu. Apa yang dikatakan istrinya itu benar.
''Ya sudah nanti besok kita ketemu dengan Vya sama-sama,'' ucap Harri. Nadia dan Lusi tersenyum bahagia.
Flashback off
Sivya diam saat Lusi mengatakan bahwa yang akan menikah dengannya adalah seorang duda. Dia takut kalau calon suaminya itu tua, keriput, botak, perut buncit. Sivya langsung bergidik ngeri. Terus dia punya anak yang usianya tidak jauh dibawah Sivya. Dan mereka tidak rela mempunyai Sivya sebagai Ibu tiri mereka. Mebayangkannya sudah membuat Sivya merinding.
Bukannya Sivya memandang dari fisik. Tetapi Sivya juga tidak munafik jika menginginkan suami yang sempurna walaupun tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tetapi paling tidak usianya tidak jauh dengan usianya.
Seolah Nadia tau apa yang dipikirkan Sivya langsung menepuk pundak kanan Sivya.
''Mikirin apa, anaknya baru empat tahun tahun. Usia calonnya juga sama kaya kamu. Cuma beda bulan lahir saja,'' jelas Nadia.
''Dia papa Chellyn nak. Kamu mau kan perjodohan ini?'' tanya Lusi.
''Apa dia juga mau, tante?'' tanya Sivya ragu. Karena saat Sivya memanggil Lusi dengan menggunakan nyonya Nadia langsung mengucapkan 'tante' tanpa mengeluarkan suara.
''Syarat yang diberikan cuma agar calon istrinya bisa dekat dengan Chellyn. Dan tante lihat kamu akrab dengan Chellyn padahal kalian baru beberapa kali bertemu. Dan kamu juga sempat menyelamatkan Chellyn waktu itu,'' ucap Lusi.
Sivya hanya mengangguk pasrah. Mungkin orang tuanya benar, dan Sivya harus membuang masa lalu itu. Dan Sivya harus melanjutkan hidup sebagai seorang istri dan mungkin seorang ibu juga sekaligus.
TBC>