Sudah tiga bulan Sivya meninggalkan rumah orang tuanya untuk belajar hidup mandiri. Orang tuanya sangat merindukan Sivya. Karena Sivya tidak pernah jauh dari orang tuanya, apa lagi ibunya. Sivya termasuk anak yang sangat bergantung pada ibunya. Sikap manjanya masih seperti anak usia 5 tahun walau sekarang usianya hampir kepala tiga.
Apa pun yang ia kerjakan pasti membutuhkan bantuan ibunya. Walaupun ia mampu untuk melakukannya sendiri namun ada yang kurang jika Sivya tidak mengganggu ibunya untuk membantunya.
Hari ini Harri dan Nadia, orang tua Sivya akan menemui anak bungsunya itu. Namun sengaja tidak memberitahukan dulu jika mereka akan menemui Sivya. Semacam kejutan begitu.
''Terus kita kemana ini Yah, Ibu bingung Sivya tinggal dimana,'' ucap Nadia ibu Sivya.
''Siapa yang suruh ngga bilang sama Vya dulu kalo kita mau kesini,'' jawab Harri.
''Mau beri kejutan anak ko malah disalahin!'' decak Nadia sambik berjalan menyusuri trotoar tanpa tujuan. Harri hanya menggelengkan kepala.
Tidd..
Perempuan paruh baya keluar dari mobil dengan anggunnya. Menghampiri Nadia yang sedang marah.
''Mbak Nadia,'' sapa wanita itu.
''Lusi? Ya ampun kamu ternyata,'' ucap Nadia dan memeluk wanita yang ia panggil Lusi itu.
''Mba apa kabar, udah lama kita gak ketemu,'' ucapnya sambil menggoyangkan tubuh di pelukannya.
''Ekhemm.'' Harri berdehem.
''Eh itu suamiku, kamu masih ingat?'' tanya Nadia.
''Masih lah mbak, mari mampir ke rumah saya. Mumpung lagi di Semarang."
-
Mereka pergi kerumah Lusi yang tak lain adalah Lusiana, ibu dari Ilyas. Mereka memasuki rumah ber cat putih dan biru langit.
''Oma ....'' Chellyn berlari menghampiri Lusi yang baru saja keluar dari mobil bersama Harri dan Nadia.
''Cucumu, Lus?'' tanya Harri.
''Iya mas, mari masuk.'' Lusi mempersilahkan mereka lalu diikuti Harri dan Nadia.
-
''Suamimu mana Lus? Yang ada saya jadi batu mendengarkan ocehan kalian.'' Harri merasa bosan dengan percakapan antar teman lama itu.
''Mas Pras lagi pergi ke luar negeri sama Ilyas, anak saya,'' jawab Lusi.
''Benar-benar jadi batu ini,'' ucap Harri, Nadia dan Lusi hanya tertawa.
''Mbak Nadia sama mas Harri mau kemana sebenarnya?'' tanya Lusi.
''Mau beri kejutan sama bontot, tapi gak tau mau kemana gak tau alamatnya,'' ucap Nadia.
''Walah mbak ini,'' kata Lusi terkekeh.''Oh iya mbak, sampai lupa. Ini cucu kedua saya,'' ucapnya sambil memeluk Chellyn yang berada disampingnya. Dia benar-benar sudah mengakui Abhi sebagai cucunya.
''Anak pertamanya Cewek ya gitu, punya cucu duluan padahal lebih tua aku,'' ucap Nadia.
''Nama kamu siapa sayang, sini sama kakek,'' ucap Harri kepada Chellyn.
''Nama aku Ellyn kek.'' Pertanyaan itu langsung dijawab Chellyn.
Obrolan itu berlanjut hingga petang. Bahkan Abhi sudah pulang dan memperkenalkan diri pada Nadia dan Harri.
Nadia dan Harri mengetahui tentang Elisa anak pertama Lusi. Karena mereka juga mengenal Elisa saat masih di Jakarta dulu.
Namun saat Ilyas berusia lima tahun mereka pindah ke Semarang. Walau saat Ilyas SMP dia ikut pamannya ke Jakarta agar Ilyas tidak mengingat Elisa terus.
-
Sivya duduk di teras tempat ia kos. Sambil menikmati teh hangat dan beberapa cemilan dapat mengobati rasa rindu kepada kakaknya.
Karena Sivya selalu duduk di teras bersama Andra, kakaknya. Sekedar bergurau sambik menikmati sejuknya malam yang menyapu disetiap lekuk wajah. Ini benar-benar membuat Sivya terhanyut suasana malam yang sejuk. Sampai sesuatu membuyarkan kenangan indah bersama Kakaknya.
Derttt... Derttt...
''Halo Assalamualaikum Ibu,'' sapa Sivya.
''Waalaikumsalam Vya, Ibu di Semarang sekarang. Kamu tinggal dimana, biar Ibu sama Ayah kesana,'' ucap Nadia santai.
''Hah, Bu ngga usah bercanda malam-malam yah. Mending Ibu cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, tidur. Vya tau Ibu kangen tapi jangan ngada-ngada ah, ini udah jam sebelas Bu,'' ujar Sivya tidak percaya.
''Kamu ini, udah cepetan mana alamat kamu Ibu mau kesana sama Ayah,'' ucap Nadia kesal.
''Beneran?'' Sivya masih tidak percaya.
''Cepet Vya!'' geram Nadia.
''Ih Ibu, kan Vya tinggal di kos putri masa Ayah juga mau tinggal disini sih. Ibu ngga bilang sama Vya dulu sih. Kalo udah gini Ibu mau tidur dimana coba.'' Cerocos Sivya.
''Bentar'' Ucap Nadia, hening sesaat. ''Yaudah Ibu nginep di rumah temen lama Ibu. Tapi besok siang kita bertemu di tempat makan deket sekolah kamu ngajar. Dan kamu harus nurut sama permintaan Ibu karena kamu gak bilang dari awal kalo kamu ngekos bukan ngontrak!'' geram Nadia.
''Lah kan Ibu yang salah ngga bi—''
''Assalamualaikum.'' Nadia memutus sambungan telpon sebelum Sivya melanjutkan bicaranya. Karena kalau diladenin pasti nyampe pagi perdebatan Ibu dan anak itu.
''Waalaikumsalam. Kapan dia punya temen disini.'' Sivya bermonolog.