Lusiana masih terbaring lemah diatas brankar. Ilyas tidur dengan keadaan duduk menyender pada sofa. Tangannya melipat di depan d**a dan kepala mengahadap keatas.
Lusiana kasihan melihat anaknya seperti kurang perhatian dari seorang istri. Entah makannya teratur atau tidak. Entah tidurnya cukup atau tidak. Itu hanya bisa dijawab oleh Ilyas.
Rambut tipis yang ada pada wajahnya menggambarkan kedewasaan. Walau sebenarnya itu tanda bahwa Ilyas kurang perhatian.
Tidak ada yang mengurusnya. Biasanya Ilyas selalu di ingatkan Elisa untuk merawat wajahnya, atau pun dulu saat hubungannya dengan istrinya masih baik-baik saja. Lusiana pun tahu. Tapi sekarang tidak ada seorang pun yang merawatnya.
Lusiana takut jika ia kembali membujuk Ilyas untuk menikah, Ilyas akan kembali marah padanya.
Ilyas menggeliat dalam tidurnya. Ia membuka mata perlahan sebelum sepenuhnya sadar. Ilyas melihat ibunya setia memandangi dirinya yang sedang terlelap tadi.
''Jam berapa sekarang?'' tanya Ilyas sambil mencari jamnya yang sebelumnya ia lepas.
''Baru jam empat sore Ilyas, memangnya kamu mau kemana?'' tanya Lusiana.
''Ngga, cuma mau ngecek Abhi sudah pulang atau belum,'' jawab Ilyas sambil mengetik sesuatu di ponsel nya.
''Kenapa kamu tidak meminta dia kesini saja,'' kata Lusiana yang membuat mata Ilyas beralih menatap Lusiana.
''Maksud Mama, Abhi?'' yanya Ilyas tidak percaya.
''Menurut kamu?''
''Eumm.. Iya, dia sudah pulang. Ilyas akan suruh dia kesini sama Chellyn juga,'' ucap Ilyas masih tidak percaya.
-
Abhi berjalan menyusuri koridor rumah sakit mengunjungi Lusiana karena permintaan Ilyas. Abhi masih tidak percaya jika sebenarnya Lusiana lah yang menyuruh Abhi datang. Abhi takut bahwa ia akan benar-benar diusir dari rumah Ilyas.
Abhi sudah berada di depan pintu ruangan yang diberitahukan oleh Ilyas tadi. Namun kakinya sulit untuk melangkan. Mengingat perlakuan Lusiana sebelumnya.
Ceklek...
Abhi memberanikan diri untuk masuk bersama Chellyn digendongannya.
''Oma,'' sapa Chellyn, lalu segera turun dari gendongan Abhi dan berlalu di pelukan Lusiana.
Abhi terlihat kikuk dihadapan Lusiana. Sampai akhirnya Lusiana membuka suara.
''Abhi, maafin oma yah,'' ucap Lusiana sambil merentangkan tangan nya menyambut tangan Abhi.
''Hah?'' kaget Abhi tidak percaya.
''Maafin oma selalu bersikap tidak adil sama kamu, maafin oma juga selalu bersikap kasar sama kamu dan selalu menyalahkan kamu,'' ucap Lusiana diselingi tangisnya.
Abhi masih pada tempatnya, ia masih terkejut dengan perubahan sikap Lusiana padanya. Ilyas menyikut lengan Abhi agar menyambut tangan Lusiana yang masih terantang.
''Oma gak salah dimata Abhi,'' ucap Abhi sambil menyambut tangan Lusiana.
''Kamu mau maafin oma?'' tanya Lusiana terharu lalu diangguki Abhi. Ilyas hanya tersenyum bahagia.
-
Minggu sudah berlalu, dan hari ini adalah hari perlombaan Abhi di Jogja. Lusiana dan Chellyn hadir di acara yang dihadiri sekolah-sekolah negeri yang ikut dalam kompetisi tersebut.
Ilyas tidak ikut, karena ia sedang ikut ke luar negeri dengan Pras, ayahnya. Untuk satu bulan kedepan ia akan tinggal disana untuk keperluan bisnis.
-
Sivya berjalan dengan cepat, lebih tepatnya berlari kecil. Karena ia terlambat untuk mendampingi siswanya ikut lomba.
Bukk...
''Astagfirullah, maaf bu saya buru buru. Maaf sekali, saya tidak sengaja,'' kata Sivya merasa bersalah sambil menyatukan telapak tangannya.
''Iya tidak masalah, pergilah katanya sedang buru-buru,'' ucap ibu paruh baya yang tidak sengaja ditabrak oleh Sivya.
-
Singkat cerita, perlombaan sudah selesai dan pemenang lomba berasal dari SMK Negeri 1 Jakarta tempat dimana Sivya dulu mengajar. Dan yang menjadi juara dua adalah SMK Darma Utama tempat Sivya sekarang mengajar.
Ya, Abhi dan Ara berhasil mendapatkan juara walau hanya juara dua. Namun sudah membuat sekolah bangga dengan prestasi yang ia raih.
''Oma,'' panggil Abhi sambil melambaikan tangannya dan menunjukan pin kemenangan yang ia raih.
''Abhi kamu berhasil buat Oma bangga,'' ucap Lusiana antusias.
''Tapi Abhi cuma bisa sampai di juara dua dan tidak bisa melanjutkan ke tingkat nasional apa lagi ketingkat internasional,'' ujar Abhi sedih.
''Tidak masalah, kamu sudah berusaha sebaik mungkin.'' Lusiana menyemangati.
''Tapi ini semua tidak akan tercapai kalau tidak ada guru Abhi yang dengan telaten mengajari Abhi dan teman Abhi,'' kata Abhi merendah.
''Teman apa teman?'' tanya Lusiana melirik Ara yang disamping Abhi sambil tersenyum ramah.
''Cuma temen Oma,'' ucap Ara kikuk. Lusiana tertawa pelan.
''Oh iya dimana guru yang mendampingi kamu tadi?'' tanya Lusiana.
''Mari saya antar Oma,'' ucap Ara segera.
''Oma?'' tanya Lusiana dengan nada mengejek. ''Lihat Abhi, baru Oma goda sedikit aja mukanya langsung merah.'' kata Lusiana terkekeh melihat wajah Ara yang memerah. Abhi hanya tersenyum melihat Ara.
-
''Bu, ini ada yang mau bertemu sama Ibu,'' ucap Ara kepada Sivya di ruangan yang disediakan untuk guru pembimbing.
''Iya? Oh Ibu yang tadi. Maaf tadi saya–'' Belum selesai Sivya berbicara sudah di potong oleh Lusiana.
''Kan saya sudah bilang, tidak masalah nak. Kamu tidak sengaja. Oh iya kamu gurunya Abhi?'' tanya Lusiana.
''Eumm iya, saya gurunya Abhi Bu. Hei anak cantik, pernah liat kamu,'' ucap Sivya ramah dan tersenyum saat melihat Chellyn di belakang Lusiana.
''Tante cantik,'' sapa Chellyn sambil berlalu kepelukan Sivya.
''Loh udah kenal toh?'' tanya Lusiana.
''Tante cantik pelnah nolongin Ellyn dulu oma,'' ucap Chellyn cadel.
''Oh yah, jadi aku sangat berterima kasih. Karnamu aku tidak kehilangan cucuku,'' ucap Lusiana.
''Apa maksud anda nyonya, aku hanya.. eum melakukan tugasku sebagai menusia, bukan?''
''Hati mu mulia nak,'' ucap Lusiana sambil memegang pipi Sivya.
TBC>