Setelah lebih dari satu minggu, Lusiana tidak pernah berkunjung atau sekedar menanyakan kabar. Ia sedang memikirkan apa perkataan anak bungsunya itu benar atau tidak.
Entah kenapa ia merasa bersalah setelah kejadian belasan tahun lalu yang sekarang menjadi betah berputar-putar di pikiran Lusiana.
Kasih sayang seorang ibu telah dikalahkan oleh jiwa sosialita dan gengsi tingkat tinggi yang dimilikinya. Menurutnya dengan melahirkan seorang anak itu sudah cukup bagi seorang ibu.
Ternyata ia salah, anaknya butuh dukungan, perhatian, kasih sayang yang melimpah dari orang tuanya. Bukan dari harta bendanya.
Semua perkataan Ilyas adalah benar. Dan masih teringat betul perkataan Ilyas di telinganya. Bagaimana anak bungsunya tersebut membentaknya. Ilyas tidak salah, ia hanya ingin orang tuanya sadar akan sesuatu yang selama ini orang tuanya lakukan.
''Aku sudah kehilangan anak perempuanku. Aku tidak mau anak laki-lakiku pergi meninggalkan ku juga,'' ujar Lusiana sambil terisak melihat foto lama saat Elisa berusia delapan tahun sedang memangku bayi yang usianya belum genap lima bulan. Dan kedua orang tua yang berada disampingnya.
Dalam foto tersebut, terlihat jelas wajah mereka yang bahagia.
Dulu ayah Ilyas hanyalah karyawan kantor biasa. Namun karena usahanya, ia mendapat hak perusahaan oleh sang pemilik. Karena sang pemilik perusahaan tidak memiliki keturunan. Itu sebabnya perusahaan tersebut dialih namakan menjadi milik Pras. Dan benar saja, kerja kerasnya membuat perusahaan tersebut semakin berkembang hingga saat ini.
Namun sayang, seolah terbuai oleh kekayaan harta duniawi. Mereka menjadikan uang sebagai dewa. Hingga Ilyas kecil tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua. Hanya sikap keras dan disiplin yang ia pelajari dari sang ayah. Manjaan dari ibunya yang memberinya apa pun tanpa bertanya terlebih dahulu.
Namun untungnya, Ilyas memiliki kakaknya yang selalu memberinya nasihat mana yang benar mana yang salah. Karena Elisa tumbuh saat orang tuanya belum sesukses setelah Ilyas lahir.
Lusiana semakin terisak, betapa bodohnya ia telah menyianyiakan harta paling berharga yang dimilikinya. Bukan uang, namun anak. Anak yang selama ini ia manjakan dengan harta bukan dengan kasih sayang.
-
Ilyas duduk bersimpuh menghadap makam bertuliskan Elisa Aninditha Irawan tersebut. Makam tersebut terlihat bersih dan terawat. Bahkan tak sehelai rumput pun yang tumbuh diatasnya. Hanya bunga warna warni dan bunga mawar merah yang bersender pada nisan tersebut.
Elisa menyukai mawar merah, sehingga Ilyas selalu membawakan mawar merah setiap kali ia berkunjung. Sekedar bercerita atau meluapkan rasa sesak untuk mengurangi rasa beban di hati. Ilyas selalu menyempatkan dirinya berkunjung ke makam kakaknya tersebut.
Setiap ia berkunjung pasti meneteskan air mata. Sungguh, ia masih mengingat senyuman indah kakaknya yang selalu terukir manis. Walau ia tau, jika kakaknya disini ia pasti akan mengejeknya.
Air mata Ilyas jatuh semakin deras ketika ia mengingat sesuatu.
''Kak, Ilyas salah. Ilyas udah marah sama Mama. Aku ngga rela kalo Mama terus-terusan salahin Abhi.''
''Kakak ngga jawab pertanyaan aku. Kakak marah aku marahin Mamah? Kakak ingin aku minta maaf?'' Ilyas bermonolog. Namun dirinya merasa bahwa sekarang ia sedang berbicara langsung dengan kakaknya.
''Ok. Aku bakal minta maaf sama Mamah.'' Ilyas mengusap air matanya.
''Kakak belum jawab, apa masih kurang?''
Merasa pernyataannya belum dijawab Ilyas pun bingung apa yang kakaknya inginkan.
''Ok, aku bakal minta maaf dan menuruti apa yang Mamah mau.'' Ilyas diam sejenak, dan menghembuskan napasnya.
''Termasuk pernikahan kedua ku,'' ucap Ilyas merendahkan suaranya.
Tak disangka, ternyata ucapan terakhir Ilyas membawa angin yang menyapu lembut wajah Ilyas. Ilyas pun menerima sapuan angin yang tersebut sambil tersenyum puas.
''Terima kasih Kak, kau menang membujukku lagi,'' ucap Ilyas masih memejamkan mata menikmati sapuan lembut angin yang menyapu wajahnya.
-
Ilyas memang bermimpi bahwa Elisa menyuruh Ilyas menikah kembali untuk kebaikan Chellyn. Itu sebabnya Ilyas mengerti saat tidak ada jawaban dari kakaknya saat di makam tadi.
Ilyas bingung siapa gadis yang akan ia nikahi. Walaupun ia pria idaman para gadis namun ia tetap bingung. Karena ia bukan hanya mencari istri, namun juga mencari ibu bagi putrinya.
Tringggg....
''Halo,'' sapa Ilyas parau karena membuyarkan lamunannya.
''...''
''Apa? Baik saya akan kesana.'' Ilyas pun lalu buru buru keluar dan pergi mengendarai mobilnya.
-
Ilyas berlari melewati koridor rumah sakit dan tidak memperdulikan orang yang ada di depannya. Pikiran aneh selalu berkeliaran di benaknya. Dia mencari nomor kamar yang diberitahukan oleh receptionist tadi.
Ilyas masuk keruangan yang diberitahukan tadi dengan tergesa gesa karena rasa khawatir berlebih yang diakibatkan oleh pikirannya sendiri.
''Ilyas hati hati.'' Suara lemah tersebut dari seseorang yang berbaring lemah di atas brankar rumah sakit.
''Mamah gak kenapa-kenapa kan?'' tanya Ilyas yang masih mengatur napasnya karena disepanjang koridor rumah sakit dia berlari.
''Mama ngga apa-apa. Kamu masih marah sama Mamah?'' tanyanya yang kini memegang pipi kiri Ilyas.
Tatapannya sendu, terdapat air mata yang tersimpan di pelupuk matanya yang sebentar lagi akan mengalir dari tempat persembunyiannya.
''Ngga Mah, malah Ilyas mau minta maaf waktu itu Ilyas marahin mama.'' Ilyas menggelengkan kepalanya sambil memegang erat tangan Lusiana yang kini masih di pipi Ilyas.
''Kamu ngga salah, Ilyas. Justru mama lah yang salah. Mamah pengen minta maaf sama kakak kamu, mamah telah berperilaku tidak adil sama dia.'' kini air mata Lusiana tidak dapat dibendung lagi.
''Ngga mah, kakak ngga ada dendam sama mama. Kakak sekarang udah bahagia disana.''
''Kenapa kamu tau Ilyas?''
''Kakak sering datang saat pikiranku sedang kacau, dan dia selalu tersenyum bahagia. Itu sebabnya aku menyimpulkan kalau dia bahagia disana,'' Jelas Ilyas.
''Benarkah? Apa wajahnya masih cantik? Mama kangen sama Elis,'' ucapnya kini dengan derai air mata tak terbendung.
''Dia masih cantik mah, senyumnya masih manis, matanya pun masih mirip sama mama,'' ucap Ilyas yang kini juga menangis bahagia membayangkan kakaknya.
''Benarkah? Aku bahkan lupa tatapannya, aku lupa senyumnya. Ilyas mama rindu kehangatan yang kakak mu berikan. Terakhir mama peluk Elisa saat dia menikah. Bahkan mamah tidak merasakan penderitaan yang dia rasakan.'' Lusiana teringat perlakuannya dulu yang membuat dirinya pusing.
''Mah, mama istirahat dulu biar Ilyas panggil dokternya. Ilyas yakin kakak pasti maafin mamah. Sekarang mamah pikirkan kesehatan mamah dulu yah,'' bujuk Ilyas.
Setelah itu Ilyas memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Lusiana. Ilyas tetap didalam ruangan melihat dokter tersebut bekerja.
''Sebenarnya mama saya sakit apa dok?'' tanya Ilyas setelah melihat dokter tersebut mengalungkan stetoskop ke lehernya.
''Dia hanya kelelahan, tensinya turun. Itu disebabkan karena kurang tidur dan banyak pikiran. Sebaiknya anda harus memperhatikan lebih ibu anda. Jangan beri ia banyak pikiran jika ingin tensi nya kembali normal. Dan anda juga tau kalo nyonya Lusiana memiliki riwayat jantung,'' jelas dokter tersebut.
''Iya dok saya tahu. Terima kasih,'' ucap Ilyas.
''Baik saya permisi dulu.''