''Dah sayang,'' ucap Sivya melambaikan tangannya kepada Chellyn.
Dia kembali masuk ke kosannya. Dia berfikir sejenak, kenapa dia merasa telah mengenal Chellyn. Matanya, hidungnya, bibirnya, dan caranya bicara membuat Sivya mengingat seseorang.
Seseorang yang telah mengisi hatinya. Seseorang yang telah melukainya. Seseorang yang telah mengisi hatinya selama bertahun tahun.
Nama yang telah lama terukir di hati Sivya. Penghuni satu-satunya dihatinya. Seseorang yang membuatnya tidak lupa akan senyumnya yang manis, perilaku konyolnya, dan perkataan menyakitkan yang pernah ia dengar dari mulut itu.
Sivya ingin melupakannnya, namun hatinya menolak. Nama yang sudah bersemayam di hati enggan untuk pergi. Sivya menolak banyak hati demi hati yang tidak tau hatinya untuk siapa.
''Matanya, hidungnya, bibirnya mirip sekali. Siapa dia, apa hubungannya dengan dia. Kenapa setiap aku menatap matanya, seperti tatapan yang dulu aku lihat?'' Sivya bermonolog.
''Apa mungkin.. Ah tidak. Lupakan,'' cegah Sivya pada pemikirannya sendiri dan menyibukan diri dengan membuka laptop yang sekarang menjadi temannya setiap saat.
-
''Hi sayang, kenapa baru pulang. Kata oma kalian pulang sejak tadi siang?'' tanya Ilyas.
''Eumm, tadi kita jalan-jalan dulu om,'' ucap Abhi takut Ilyas marah.
''Tadi Ellyn ketemu sama tante cantik Pa. Iya kan kak?'' tanya Chellyn pada Abhi, Abhi hanya mengangguk.
''Benarkah?'' tanya Ilyas pada Chellyn.
''Iya Pa. Tante itu cantik sekali, dia pake jilbab. Dia baik Pa, bahkan sangat baik. Dia bilang kalo Ellyn anaknya tante cantik. Emang iya Pa?'' tanya Chellyn. ilyas melongo.
''Apa sekarang dia pakai jilbab?'' tanya Ilyas monolog.
''Abhi, kamu kenal wanita yang Chellyn maksud?'' tanya Ilyas pada Abhi meyakinkan bahwa dugaanya salah.
''Yah, kenal. Dia guru baru di sekolah Abhi,'' ucap Abhi .
''Eumm im maaf, tadi hampir saja Abhi lalai menjaga Chellyn,'' ucap Abhi perlahan.
''Maksud kamu?''
Abhi pun menceritakan apa yang baru saja terjadi. Abhi tau dari Sivya saat menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan Chellyn.
Ilyas tersentak mendengan cerita Abhi. ''Bagaimana kalau wanita itu tidak ada, bagaimana keadaan anak ku setelah itu,'' Batin Ilyas monolog.
Abhi sangat takut jika Ilyas marah namun itu tidak terjadi. Abhi melihat Ilyas mematung membayangkan apa bila hal buruk terjadi pada putrinya.
''Maaf om,'' ucapan Abhi membuyarkan lamunan Ilyas.
''Yang terpenting Chellyn sekarang tidak apa-apa'' ujar Ilyas.
''Sampaikan terima kasih om sama guru kamu besok,'' titah Ilyas yang diangguki Abhi.
-
Seperti hari-hari biasanya, Sivya pergi ke sekolah untuk mengajar. Tak terasa telah genap satu bulan ia mengajar di sana.
Mengabdikan jasanya sebagai seorang guru. Mengajar siswa-siswi yang sudah lama ia impikan. Namun impiannya bukan hanya siswa dan siswi saja. Namun Sivya ingin mengajar mahasiswa.
Dari kecil Sivya ingin menjadi seorang guru. Dan impiannya tercapai. Sekarang ia ingin mengejar impiannya lagi untuk menjadi seorang dosen.
Ia bahkan membayangkan, dia sedang mengajar di depan mahasiswa, menyampaikan materi. Khayalan itu bukan hanya sekedar khayalan. Karena Sivya akan mengejar agar khayalan tersebut menjadi kenyataan.
''Pagi Bu,'' sapa Abhi didepan Sivya membuat Sivya sadar dari lamunannya.
Sivya tersentak. ''Kamu membuat jantung Ibu berhenti sejenak Abhi,'' ucap Sivya memegangi dadanya dan mengatur napasnya.
''Hehe maaf Bu. Abhi cuma mau menyampaikan terima kasih sama Ibu dari papa Chellyn,'' kata Abhi.
''Tidak masalah, sudah seharusnya kita saling menolong bukan,'' ujar Sivya yang disenyumi Abhi.
''Oh iya Abhi, baru satu minggu kamu ikut les tambahan untuk lomba nanti. Kamu masih punya waktu tiga minggu lagi, kamu harus banyak belajar,'' ujar Sivya serius.
''Siap Bu,'' ucap Abhi.
-
Lusiana masuk kerumah Ilyas dengan amarah yang meledak. Ia langsung menghampiri Abhi di ruang keluarga bersama Chellyn.
''Jauhi cucuku, kamu membuatnya hampir celaka!!'' Kemarahan Lusiana menggema sampai ke kamar Ilyas.
Ilyas langsung turun dan mendapati Abhi yang sedang dimarahi habis-habisan oleh Lusiana.
''Keluar kamu dari rumah anak saya. Keberadaan kamu hanya membuat pandangan buruk. Tidak seharusnya kamu disini!!''
Chellyn ketakutan dan naik keatas menghampiri Ilyas dan memeluknya.Abhi hanya diam seribu bahasa. Dia menunduk, meneteskan air mata. Segitu bencinya Lusiana pada Abhi.
''Kamu sudah merenggut nyawa putriku dan kamu juga berusaha merenggut nyawa cucuku iya?! Hah?! Jawab anak banjingan!!'' geram Lusiana.
Sungguh kata-kata yang sangat tidak ingin di dengar oleh Abhi. Masa lalu ayahnya hanyalah masa lalu yang memang harus dilupakan.
Plaakk ....
''Cukup Ma!'' bentak Ilyas.
''Kamu sudah cukup membelanya Ilyas, sekarang aku akan mengusirnya!!'' Amarah Lusiana semakin meledak.
''Apa yang Mama maksud? Apakah Ayah Abhi yang telah merenggut nyawa Kak Elisa? Apa Mama lupa. Kak Elisa meninggal sebelas tahun setelah mereka bercerai. Ya, memang Kak Elisa mengidap HIV yang disebabkan mantan suaminya. Tapi apa Mama sadar, Mama bahkan menolaknya. Mama enggan menerima Kak Elisa dan mementingkan reputasi Mama sebagai istri pengusaha kaya."
"Mama kehilangan hak untuk dipanggil sebagai seorang ibu. Mama membiarkan Papa mengusir Kakak dari rumah karena keputusannya. Peran orang tua bukan hanya memarahi saat anaknya salah, tapi meluruskan dan mendukung pilihan anaknya yang dianggap benar. Bukan malah ikut menghakimi.”
“Apa Mama tau keadaan Kakak sebelum aku pindah kesini? Apa Mama tau? Dia sangat kurus, wajah cantiknya berubah menjadi keriput, telapak yang lembut berubah menjadi kasar akibat berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri dan anaknya. Apakan Mama mencari ataupun mengingatnya sejenak?” Lusi menunduk.
“Tidak, Mama bahkan mengusir Kakak saat hadir di pernikahanku. Ibu macam apa anda nyonya Pras? Dan dengan menutupi kesalahanmu kau dengan mudah menyalahkan anak yang bahkan hadir saat anakmu sekarat. Dia memegang tangannya erat. Apa kau hadir disaat-saat terakhir anakmu? Tidak, kau pergi dengan urusan pribadimu yang tidak ada habisnya. Dan jangan pernah salahkan Abhi atas meninggalnya Kak Elisa.''
Lusiana hanya menangis, mencoba mencerna setiap kata yang Ilyas ucapkan padanya. Apakah dirinya tidak pantas disebut ibu? Dia mencaci maki Ibu Chellyn saat pergi meninggalkan anaknya yang masih berusia delapan bulan. Tapi ia lupa, ia telah mengusir darah dagingnya sendiri. Apa bedanya dia dengan ibu kandung Chellyn.
Setelah itu Lusiana pergi meninggalkan rumah Ilyas tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
TBC