Sivya kembali ke kosannya membuka laptop dan mengerjakan tugas kuliah. Sulit memang membagi tugas dia sebagai guru dan kewajiban dia sebagai seorang mahasiswa S2. Namun dengan tekad dan keinginan yang kuat mampu menyingkirkan rasa lelahnya.
Pukul sebelas malam Sivya masih berkutat dengan laptop dihadapannya. Dengan segelas kopi hangat yang menemani malam yang sunyi. Ia ingat perkataan Ibunya untuk tetap istirahat dengan cukup. Sivya pun menutup laptop dan membereskan kertas dan buku'buku yang berantakan. Melepas kacamata baca yang ia kenakan. Mencoba merebahkan tubuhnya pada kasur khas anak kos.
Dirinya bangkit dan membuka kotak yang berada di lemari paling bawah. Dibukanya kotak tersebut sehingga muncul sebuah buku album, satu buah kalung potongan hati, satu pulpen dan koin pecahan seratus rupiah tertata dengan rapi didalam kotak tersebut. Sivya mengambil barang barang tersebut dijejer di atas tempat tidurnya.
''Sihir apa yang lo kasih sampe gue ngga bisa lupain lo. Bahkan setelah hari itu,'' lirih Sivya.
Bulir-bulir air menetes dari pelupuk matanya. Tangisnya tidak bisa dibendung, seraya tetap memandangi benda mati didepannya. Sampai lelah ia menangis dan tak tidak lama ia terlelap dengan posisi masih tengkurap. Barang barang tadi yang menemani Sivya tidur dia atas kepalanya.
-
''Selamat pagi Pak,'' sapa sekretaris Ilyas dengan ramah.
''Selamat pagi Irani, ada berapa jadwal meeting saya hari ini?" tanya Ilyas.
''Jam sepuluh Bapak ada meeting dengan client dari Malaysia, dan jam dua Bapak juga ada meeting dengan perusahaan Callibia Corp,'' ucap Irani.
''Baik, lanjutkan pekerjaan kamu,'' ujar Ilyas.
''Baik Pak."
Irani adalah salah satu orang kepercayaan Pras dan Ilyas. Dia orang yang jujur dan pekerja keras. Beberapa kali Pras membujuk Ilyas untuk menikah dengan Irani namun bujukan itu ditolak mentah-mentah oleh Ilyas.
Alasannya karena Irani adalah teman semasa SMA namun berpisah karena Ilyas kuliah di Jakarta sedangkan Irani kuliah di Jogja. Semenjak saat itu Ilyas tidak bertemu dengan Irani lagi sampai ia diberi amanat ayahnya untuk melanjutkan sebagai pemimpin perusahaan tersebut.
Sikap mereka tidak lebih dari seorang karyawan dan bosnya. Walaupun mereka dulu pernah berteman tapi bagi Ilyas, pertemanan pria dan wanita pasti salah satu dari mereka akan menyimpan rasa suka. Dan itu membuat Ilyas tidak suka berteman dengan wanita.
-
''Selamat pagi anak anak, pelajaran pertama akan dimulai dan ibu akan mengabsen kalian terlebih dahulu,'' ucap Sivya yang sekarang berada di kelas XI Elektro 1.
''Ammar Fadillah.'' Sivya mulai mengabsen.
''Hadir Bu,'' ucap siswa yang duduk dibangku ketiga.
''Azahra Amelia,'' lanjut Sivya.
''Hadir Bu,'' jawab siswi cantik berkacamata yang duduk dibangku pertama dengan senyum yang mengembang. Sivya langsung berpikir, ini yang Abhi maksud.
''Pantes Abhi suka, anaknya manis, cantik,'' ucap Sivya dalam hati.
Setelah mengabsen satu persatu, Sivya memulai pelajaran seperti biasa. Sesekali ia memperhatikan Azahra, mencari cari potensi yang Azahra miliki. Azahra termasuk siswi yang aktif di kelas, tanpa Sivya menawarkan pertanyaan, Azahra langsung mengajukan pertanyaan.
''Bu, saya ijin bertanya,'' kata Azahra yang diangguki Sivya. ''Jika Hight Pass Filter meloloskan frekuensi tinggi apakah frekuensi rendah bisa lolos? Karena pada logika nya yang kecil bisa masuk kemana saja yang wadahnya lebih besar. Apakan frekuensi rendah tidak hanya di loloskan oleh Low Pass Filter saja?'' tanya Azahra panjang lebar. Sivya tersenyum, itu artinya Azahra maksud dengan apa yang ia sampaikan.
''Eumm siapa nama kamu tadi? Ibu akan menambah nilai plus bagi anak yang sering aktif bertanya,'' ucap Sivya.
''Azahra Amelia Bu, Ibu bisa panggil saya Ara,'' kata Ara.
''Ok Ara, Ibu akan jawab pertanyaan kamu. Jadi ....''
-
''Selamat siang Ibu guru cantik,'' ucap Abhi dengan senyum mengembang.
''Selamat siang juga Abhidzar Aqsa. Berhubung ada kamu, Ibu mau minta tolong boleh?" tanya Sivya seraya tersenyum.
''Apa pun itu kalo untuk Ibu pasti Abhi mau,'' ucap Abhi cengengesan.
''Udah kembali pulih kamu yah gak bengong kaya kemari lagi,'' ucap Sivya yang di cengiri Abhi.
''Ibu minta tolong, nanti pulang sekolah kamu ke ruang bengkel seperti biasa, dan ajak Ara juga,'' perintah Sivya.
''A ... ara maksud Ibu Ara kelas sebelah? Kan tadi Ibu habis ngajar disana kenapa gak sekalian aja Bu?'' tanya Abhi.
''Biar kamu bisa PDKT sama dia. Ibu kembali ke bengkel dulu,'' pamit Sivya, sedangkan Abi masih mematung.
''Udahlah, Ibu juga tau kalo kamu suka sama Ara,'' lanjut Sivya sambil berlalu.
Senyum Abhi mengembang kegirangan. Dia tak segan melompat lompat sambil berteriak. ''Yes, ada waktu buat deketin dia. Yes.. Yes.. Yes.. Yes..'' Teriak Abhi. Sivya yang melihat itu pun tertawa.
-
Abhi kembali ke rumahnya di waktu yang sudah petang. Memasuki rumah dengan mengendap-endap. Takut akan ada Ilyas yang akan menginterogasinya.
Namun usahanya dalam meredam suara sangat tidak baik. ilyas turun dari lantai atas dan langsung menghampiri Abhi.
''Dari mana kamu Abhi, jam segini baru pulang dan masih pake seragam sekolah?'' tanya Ilyas dengan nada menginterogasi.
''Sekolah Om, ada tugas dari guru,'' kata Abhi sambil berjalan menuju kamarnya.
''Jangan bohong Abhi.''
''Serius Om, Abhi belum bilang sama Om kemarin. Abhi ditunjuk buat ikut lomba robotika di Jogja bulan depan. Jadi ada semacam pelatihan lagi buat bekal Abhi saat lomba nanti. Dan dilakukan saat pulang sekolah, kemungkinan selama satu bulan Abhi bakal pulang telat terus. Abhi ngga bohong, Abhi bener udah berubah,'' ujar Abhi menjelaskan.
''Baik, Om pegang kata-kata kamu. Kalo kamu berani masuk ke dunia kamu dulu, Om ngga segan-segan melarang kamu sekolah dan menjabut semua aset yang Om beri,'' ujar Ilyas mengancam.
''Kalau pun Om mau, cabut semua aset yang om kasih, Abhi ikhlas. Toh ini semua punya Om, hak Om bukan hak Abhi. Abhi sadar kalo Abhi bukan anak kandung dari Kakak Om. Kalo sekolah Abhi juga bisa berusaha cari beasiswa,'' ucap Abhi.
''Bukan gitu maksud Om Abhi. Kamu anak Kak Elisa, kamu keponakan Om. Jangan bilang gitu lagi!''
''Makasih atas pengakuan Om kalo Abhi keponakan Om. Walaupun oma sama opa belum bisa memaafkan perbuatan Papa kandung Abhi,'' ucap Abhi lantas masuk kedalam kamarnya.
Abi memang sudah mengetahui kalau Elisa bukan Ibu kandungnya. Elisa memang hamil pada saat menikah dengan Ayah Abhi. Namun saat kandungan baru genap lima minggu, ada seorang perempuan datang membawa anak laki laki digendongannya.
Ia mengaku sebagai istri Ruksan, Ayah Abhi. Namun perempuan itu mengaku sudah tidak kuat dengan perilaku suaminya dan meminta cerai setelah mengetahui dia telah menikah lagi.
Abhi yang saat itu belum genap satu tahun pun ditinggal dan dirawat dengan baik oleh Elisa. Namun karena sikap suaminya yang terkadang lembut bagai sutra dan terkadang keras seperti batu, tak jarang juga Elisa mendapat k*******n darinya dan membuat Elisa keguguran. Dan keluarga pun tau kalau Elisa keguguran dan memintanya untuk pulang. Namun Elisa menolak karena ingin berbakti pada suaminya.
Elisa tau kalau suaminya dapat berubah suatu hari nanti. Namun kenyataannya, Elisa dibawa kerumah bordir dan dijadikannya seorang jalang. Elisa pun menyerah dan kembali pulang dan meminta cerai. Kata-kata manis yang diucapkan Ruksan tidak lagi mempan, Elisa tetap pada pendiriannya.
-
Ilyas keluar kamar dengan menggunakan kaos polos dan celama pendek. Terlihat lebih segar, mungkin dia baru selesai mandi.
Abhi duduk di meja makan dengan pakaian rapi. Tidak biasanya Abhi sudah rapi di hari minggu. Apalagi jam masih menunjukan pukul delapan lima belas.
''Kamu tumben udah rapi, biasanya kalo sekolah dibangunin aja susah,'' kata Ilyas yang baru turun dan menghampiri Abhi.
''Gini nih kalo punya Om jiwa tante-tante. Apa apa dikomentari, bangun susah komen, bagun cepet komen. Kalo gak bangun mungkin baru tau rasa karna gak ada makhluk setampan Abhi ini,'' oceh Abhi.
''Sembarangan orang tampan gini dibilang jiwa tante-tante,'' ucap Ilyas tak terima, Abhi hanya tertawa renyah sambil memakan nasi goreng dihadapannya.
''Abhi mau ke sekolah, biasa mau ada bimbingan buat persiapan bulan depan,'' ujar Abhi.
''Oh .... Pulang jam berapa? Nanti kalo pulang jemput Chellyn di rumah Oma yah,'' ucap Ilyas, Abhi berhenti memakan makanannya.
''Kenapa gak Om aja sih, kan Om juga dirumah,'' tolak Abhi.
''Kata siapa, orang Om mau keluar ntar jam sepuluh,'' ucap Ilyas berbohong.
Tindakannya kini berusaha agar orang tuanya menerima Abhi walau bukan darah keturunannya. Abhi ingin mereka memperlakukan Abhi seperti mereka memperlakukan Chellyn, putrinya.
''Nanti om yang bilang sama oma kalo kamu yang akan jemput Chellyn,'' ujar Ilyas.
''Hmm ....'' Abi hanya berdehem dan pamit untuk pergi.
TBC