Kertas Surat Nikah itu terasa berat di telapak tangan Karla. Lebih berat dari batu, lebih dingin dari es. Huruf-huruf di atas kertas itu seolah menari-nari, mengejek kepolosannya pagi tadi.
"Ini nggak mungkin," gumam Karla, suaranya bergetar. Ia mencoba menyerahkan buku itu kembali kepada Adrian, tetapi pria itu tidak mau menerimanya. "Bapak pasti salah. Saya nggak pernah nikah. Saya cuma tanda tangan kertas magang!"
Adrian mengambil buku nikah itu dari tangan Karla yang gemetar, lalu meletakkannya di atas meja konsol di ruang tamu. Ia menatap wanita muda di depannya dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada kelelahan di sana, tapi juga ketegasan yang tidak bisa diganggu gugat.
"Dokumen itu sudah dicap notaris, Karla," kata Adrian pelan. Ia berjalan menuju sofa kulit dan duduk, lalu menunjuk kursi di hadapannya. "Duduklah. Kita perlu bicara dewasa."
Karla ragu, tapi kakinya menurut juga. Ia duduk di tepi kursi, punggungnya tegang, siap untuk lari kapan saja.
"Jelaskan," pinta Karla, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. "Kenapa nama saya bisa ada di buku nikah Bapak? Dan kenapa Bapak bilang ini sudah sah?"
Adrian menghela napas. Ia melonggarkan dasinya sedikit, sebuah gerakan jarang yang menunjukkan bahwa ia juga tidak sepenuhnya nyaman dengan situasi ini.
"Pagi tadi, asisten saya, Ryan, memberikan dokumen itu kepada kamu. Dia mengira kamu adalah kandidat yang dipilih oleh keluarga saya," jelas Adrian. Suaranya datar, seperti sedang mempresentasikan laporan keuangan. "Sementara kamu, mengira itu adalah kontrak magang. Hasilnya? Kita berdua terjebak dalam kesalahan yang sama."
"Tapi kenapa nggak dibatalin saja?" tanya Karla cepat. "Kan belum lama. Beberapa jam yang lalu."
Adrian menatapnya tajam. "Karena notaris sudah melaporkan ke catatan sipil. Secara sistem, kita sudah suami istri. Jika kita batalkan sekarang, akan ada investigasi. Skandal. Nama baik perusahaan saya akan hancur. Dan kamu..." Adrian berhenti sejenak, menatap mata Karla. "Kamu akan terkena imbasnya. Namamu akan tercatat sebagai wanita yang membatalkan pernikahan dengan CEO dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Kamu yakin ingin itu?"
Karla terdiam. Imajinasinya langsung melayang pada berita gosip, ibu yang akan khawatir, dan kemungkinan besar ia akan di-blacklist dari semua perusahaan besar.
"Lalu... apa solusi Bapak?" tanya Karla lemah.
"Kita jalani," jawab Adrian singkat.
"Apa?!" Karla hampir terloncat dari kursinya. "Jalani? Bapak gila? Saya nggak cinta sama Bapak! Bapak juga kelihatan nggak mau!"
"Justru karena itu," sahut Adrian tenang. "Kita tidak perlu cinta. Kita hanya perlu mempertahankan status ini sampai situasi keluarga saya stabil. Saya butuh waktu enam bulan sampai satu tahun untuk mengamankan posisi saya dari... gangguan internal."
Adrian berdiri, berjalan mendekati Karla lagi. Kali ini, ia tidak terlihat mengancam, hanya sangat serius.
"Selama itu, kamu akan tinggal di sini. Kamu tetap bisa magang di perusahaan saya, tapi tanpa mengetahui identitas saya sebagai bos langsung kamu. Di depan keluarga saya, kita adalah pasangan bahagia. Di depan karyawan, kita tidak punya hubungan khusus. Dan di antara kita..." Adrian menatap lurus ke mata Karla. "Tidak ada perasaan. Murni transaksi."
Karla menatap pria itu lama. Dingin. Logis. Tapi anehnya, ada kejujuran di sana. Adrian tidak mencoba merayunya. Ia hanya menawarkan jalan keluar yang paling tidak menyakitkan bagi keduanya.
"Kalau saya menolak?" tanya Karla terakhir kali.
"Silakan," jawab Adrian. "Tapi saya tidak akan menahan kamu. Hanya saja, konsekuensinya saya sudah jelaskan. Dan satu lagi..." Adrian mengambil dompet dari saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu hitam, lalu menyodorkannya pada Karla. "Ini untuk kebutuhan kamu. Anggap ini... uang saku istri."
Karla menatap kartu itu. Ia tidak menerimanya.
"Saya nggak butuh uang Bapak," kata Karla tegas, meski perutnya keroncongan sedikit karena belum makan sejak siang. "Saya cuma butuh klarifikasi. Dan... saya butuh jaminan bahwa Ibu saya nggak akan tahu soal ini."
Wajah Adrian sedikit melunak. "Ibu kamu aman. Saya sudah pastikan privasi keluarga kamu terjaga. Tapi sebagai gantinya, kamu harus ikuti aturan rumah ini."
Adrian mengambil remote kontrol, lalu menyalakan layar televisi besar di dinding. Tidak ada gambar, hanya layar biru yang memantulkan wajah mereka berdua.
"Aturan nomor satu," ucap Adrian. "Kamar saya di lantai dua, ujung kiri. Kamar kamu di ujung kanan. Jangan masuk ke kamar saya kecuali darurat."
"Nomor dua," lanjut Adrian. "Jangan bawa teman ke rumah, terutama teman pria."
"Nomor tiga," Adrian menatap Karla dalam-dalam. "Jangan jatuh cinta pada saya. Karena saya tidak bisa membalasnya."
Udara di ruangan itu terasa membeku. Kalimat terakhir itu terdengar kejam, tapi Karla tahu itu perlu. Batas yang jelas agar tidak ada yang terluka nanti.
"Oke," kata Karla akhirnya. Ia berdiri, mengangkat dagunya. "Saya setuju. Tapi ada syarat saya juga."
Adrian mengangkat alis, tertarik. "Syarat?"
"Satu tahun," kata Karla. "Setelah satu tahun, kita cerai. Tanpa drama. Dan saya tetap magang sampai selesai, apapun yang terjadi."
Adrian mengulurkan tangannya. Tangan itu besar, bersih, dan terawat.
"Deal," kata Adrian.
Karla menatap tangan itu sejenak, lalu menjabatnya. Sentuhan kulit mereka singkat, tapi ada aliran listrik aneh yang menyambar cepat sebelum keduanya segera melepaskan genggaman.
"Baik," kata Adrian, mundur selangkah. "Ryan akan membawakan barang-barang kamu ke kamar. Istirahatlah. Besok kamu harus bangun pagi untuk kerja."
Adrian berbalik, berjalan menuju tangga. Namun sebelum ia naik, ia berhenti dan menoleh sedikit.
"Oh, dan Karla," panggilnya.
"Ya?"
"Jangan panggil saya Bapak lagi. Mulai besok, panggil saya Adrian. Di depan orang lain... panggil saya 'Sayang'."
Karla terbatuk kaget. "Sa-sayang?!"
Adrian tidak menunggu jawaban. Ia langsung naik tangga, meninggalkan Karla yang berdiri mematung di ruang tamu yang luas itu.
Jantung Karla berdegup kencang. Bukan karena cinta, tapi karena panik.
"Sayang?" bisiknya pada diri sendiri, mencoba mengucapkan kata itu. Rasanya aneh. Sangat aneh.
Di luar, hujan semakin deras. Di dalam rumah mewah itu, dua orang asing resmi menjadi suami istri. Terikat oleh hukum, dipisahkan oleh aturan, dan dipertemukan oleh sebuah kesalahan yang mungkin... bukan sepenuhnya kebetulan.
Karla menatap buku nikah di atas meja sekali lagi. Lalu ia mengambil tas ranselnya, mengikuti arah yang ditunjukkan Ryan menuju kamar tamu yang sekarang menjadi kamarnya.
Ini akan menjadi satu tahun terpanjang dalam hidupnya.