Malam itu berlalu dengan gelisah bagi Karla. Ia tidur di kamar tamu yang luasnya melebihi seluruh rumah kosnya, namun tidak sedikitpun merasa nyaman. Selimut sutra yang menutupi tubuhnya terasa asing, begitu pula bantal empuk di bawah kepalanya. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Surat Nikah itu muncul kembali, mengganggu tidurnya.
Pagi harinya, Karla bangun lebih awal. Matahari baru saja menyinari ujung jendela ketika ia turun ke ruang makan. Ia berharap semua kejadian semalam hanya mimpi buruk. Mungkin ia akan bangun di kosannya, dan hari ini adalah hari pertama magang yang normal.
Namun, realita menantinya di meja makan. Jauh dari ekspektasinya.
Adrian sudah duduk di sana, mengenakan kemeja putih lengan panjang yang disetrika licin. Di depannya ada secangkir kopi hitam dan sebuah folder dokumen berwarna cokelat tebal. Ia tidak sedang makan, hanya menatap layar tabletnya sesekali sambil menyeruput kopi.
"Selamat pagi," sapa Adrian tanpa menoleh. Suaranya berat, khas pagi hari.
"Pagi," jawab Karla ragu. Ia menarik kursi di seberang Adrian, menjaga jarak aman. "Pak... eh, Adrian. Apakah semua semalam... beneran terjadi?"
Adrian meletakkan tabletnya. Ia mendorong folder cokelat itu meluncur di atas meja kayu mahoni, berhenti tepat di depan Karla.
"Buka," perintahnya singkat.
Karla menatap folder itu. Ada label kecil di sampulnya: *PERJANJIAN PERNIKAHAN & KERAHASIAAN*. Jantungnya berdegup lebih kencang. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka folder itu.
Halaman pertama adalah identitas mereka. Halaman kedua adalah pasal-pasal. Karla membaca cepat, matanya menyipit mencoba mencerna bahasa hukum yang rumit.
*Pasal 1: Pihak Kedua (Karla Anindya) setuju menikah dengan Pihak Pertama (Adrian Nathaniel Wijaya)...*
*Pasal 5: Status pernikahan sah secara hukum negara...*
*Pasal 10: Denda pelanggaran kontrak...*
Jari Karla berhenti di Pasal 10. Napasnya tercekat.
"Denda..." bisik Karla. "Lima puluh... miliar rupiah?"
Adrian mengangguk pelan. "Jika salah satu pihak membatalkan pernikahan sepihak sebelum waktu yang ditentukan, atau membocorkan rahasia pernikahan ini ke publik sebelum waktunya, maka pihak tersebut wajib membayar denda sebesar lima puluh miliar rupiah."
Karla mendongak, wajahnya pucat pasi. "Ini nggak masuk akal! Saya benar-benar nggak tahu soal ini waktu tanda tangan! Saya kira ini kontrak magang!"
"Di atas dokumen itu ada materai, Karla. Ada cap notaris. Dan ada tanda tanganmu," kata Adrian tenang, meski matanya menatap tajam. "Secara hukum, ketidaktahuan bukanlah alasan untuk membatalkan kontrak. Kamu dianggap sudah membaca dan menyetujui semuanya."
"Tapi ini jebakan!" Karla berdiri tiba-tiba, kursinya tergeser berbunyi kasar. "Saya nggak punya uang sebanyak itu! Seumur hidup saya kerja juga nggak akan cukup buat bayar denda ini!"
Adrian ikut berdiri. Ia tidak terlihat marah, hanya sangat kontroll. "Itu kenapa saya bilang kita harus menjalaninya. Bukan karena saya ingin memaksamu, tapi karena kita sama-sama terjebak. Kalau kamu pergi sekarang, keluarga saya akan menuntut kamu. Mereka akan menghancurkan hidup kamu demi menjaga nama baik perusahaan."
Karla mundur selangkah. Rasa panik mulai menguasai akal sehatnya. Ia tidak bisa menerima ini. Ini terlalu besar. Terlalu berat.
"Saya nggak peduli," kata Karla, suaranya mulai naik. "Saya nggak mau hidup bohong-bohongan. Saya mau pulang."
Karla berbalik, berjalan cepat menuju pintu depan. Tas ranselnya sudah ia siapkan semalam, siap untuk dibawa kapan saja. Ia harus keluar dari rumah ini. Harus kembali ke kehidupan normalnya yang sederhana.
Tangannya sudah meraih gagang pintu ketika sebuah tubuh tinggi besar menghalangi jalannya.
Adrian berdiri di sana, tangannya bertumpu pada pintu, mengunci jalan keluar Karla. Ia tidak menyentuh Karla, hanya memblokir aksesnya dengan postur tubuhnya yang kekar.
"Lepaskan," kata Karla, menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. "Saya mohon, Pak. Lepaskan saya."
Adrian menatap wanita di depannya. Ada ketakutan di mata Karla yang membuatnya sedikit merasa tidak enak. Tapi ia tahu, jika ia membiarkan Karla pergi sekarang, semuanya akan hancur.
"Saya tidak bisa," kata Adrian lembut, namun tegas. "Kalau kamu keluar dari pintu itu, saya akan kehilangan segalanya. Dan kamu... kamu akan dikejar oleh orang-orang yang jauh lebih berbahaya daripada saya."
"Saya nggak mau tahu!" Karla mencoba menerobos, tapi Adrian tetap diam di tempatnya seperti tembok beton. "Biarkan saya lewat!"
"Karla," panggil Adrian. Suaranya rendah, memaksa Karla untuk mendengarnya. "Dengarkan saya. Saya tidak akan menyakiti kamu. Saya tidak akan menyentuh kamu tanpa izin. Saya hanya butuh waktu satu tahun. Setelah itu, saya yang akan urus perceraian kita. Tanpa denda. Tanpa masalah."
Karla menatap pria itu. Air mata mulai menetes di pipinya. Ia merasa seperti burung yang masuk ke dalam sangkar emas. Indah, tapi terkurung.
"Kenapa saya?" tanya Karla lirih. "Kenapa harus saya yang kena imbasnya?"
Adrian terdiam sejenak. Ada kilatan sesuatu di matanya, sesuatu yang mirip penyesalan, tapi cepat sekali hilang tertutup topeng dinginnya.
"Karena takdir sedang tidak berpihak pada kita," jawab Adrian akhirnya. Ia menurunkan tangannya dari pintu, memberi jalan pada Karla. Tapi ia tidak mundur. "Kamu bebas bergerak di dalam rumah ini. Tapi jangan mencoba keluar dari gerbang utama tanpa izin saya. Demi kebaikan kamu sendiri."
Karla menatap pintu yang sudah terbuka, lalu menatap Adrian. Kakinya berat untuk melangkah. Ia tahu, jika ia keluar sekarang, masalah yang lebih besar menantinya di luar sana.
Perlahan, Karla mundur. Ia melepaskan gagang pintu itu. Bahunya turun, menandakan kekalahan.
"Saya butuh kopi," kata Karla lemah, suaranya serak.
Adrian mengangguk. Ia menyingkir dari hadapan Karla, memberi ruang. "Ada di dapur. Silakan."
Karla berjalan menuju dapur dengan langkah gontai. Ia merasa tubuhnya lemas. Di belakangnya, Adrian menghela napas panjang. Pria itu memijat pelipisnya, seolah menahan sakit kepala yang hebat.
Ia berhasil menahan Karla. Tapi ia tahu, ini baru awal. Menahan fisik seseorang itu mudah. Menahan hati seseorang agar tidak membenci... itu jauh lebih sulit.
Adrian menatap folder dokumen di meja makan. Tanda tangan Karla di sana terlihat jelas. Indah, tapi kini menjadi rantai yang mengikat mereka berdua.
"Maafkan saya, Karla," bisik Adrian pada diri sendiri, suara yang terlalu pelan untuk didengar oleh siapa pun. "Tapi saat ini, saya tidak punya pilihan lain."
Di dapur, Karla menatap cermin di dinding. Matanya sedikit bengkak. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menyegarkan kembali pikirannya.
"Oke," gumamnya pada bayangan di cermin. "Satu tahun. Cuma satu tahun. Setelah itu, aku bebas."
Ia menarik napas panjang, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tapi di sudut hatinya, ada rasa takut yang masih mengganjal. Takut bahwa satu tahun itu akan mengubah segalanya. Termasuk dirinya.