Profesor Rockstars memasuki kelas. Seketika semuanya terdiam. Profesor satu itu termasuk salah satu orang yang bisa menyebabkan siswa terkena sanksi. Beliau sangat disiplin, galak, dan juga pelit nilai. Saat beliau mengajar semua siswa harus memperhatikan dengan saksama. Tidak akan ada toleransi bagi yang tidak mematuhi aturannya. Semua siswa sama di mata profesor pujaan Madame Agatha itu. Tidak terkecuali Jen yang kerap membantu profesor terbebas dari madame supergalak itu. Sekali salah, sanksi hukumannya. Semua siswa segan dan malas berurusan dengannya.
"Selamat pagi anak-anak!"
"Selamat pagi, Profesor!"
"Bagus. Kalian sangat bersemangat."
Kemunafikan menghinggapi seluruh siswa. Semua berpura-pura manis selama pelajaran berlangsung, seolah pelajaran itu menyenangkan.
"Hari ini kita akan membahas tentang diksi. Ada yang tahu diksi itu apa?"
"Nggak tahuu!"
"Diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras pada penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan atau ide agar mendapatkan efek tertentu seperti yang diharapkan. Atau dengan kata lain pilihan kata dari pembicara atau penulis ketika menggambarkan cerita yang telah dibuat."
Semua siswa manggut-manggut, entah paham atau pura-pura paham. Dua jam pelajaran terasa begitu lama. Berharap ada mesin waktu yang akan membawa mereka ke masa depan. Berbagai contoh dan penjelasan tentang diksi rasanya sudah tidak bisa masuk ke telinga siswa. Beberapa mulai mengantuk, tetapi berusaha bertahan. Bukan karena berusaha menyimak pelajaran, melainkan tidak mau berurusan dengan Profesor Rockstars. Mengulang satu bab yang tertinggal berarti harus bersiap dengan setumpuk tugas yang akan membuat menderita. Semua siswa, malas jika mengerjakan tugas menyusun naskah hingga berjilid-jilid.
“Jenny, kamu mau bertanya?” tanya Profesor Rockstars sembari menatap gadis dari tadi tidak bisa diam.
“Tidak ada, Prof. Saya kebelet pipis,” sahut Jen kesal, dia tidak suka dipanggil Jenny. Semua langsung tertawa, kelas jadi riuh oleh tawa para siswa. Bram dan Zul langsung menoleh ke arah Jen penuh curiga. Mereka tahu itu hanya akal bulus Jen untuk melarikan diri dari pelajaran yang membosankan.
“Sana buruan, nanti ngompol lagi,” jawab Profesor makin membuat Jen kesal.
Jen langsung ngacir, sementara Profesor itu melanjutkan pelajarannya.
“Sebutkan diksi lain dari redup? Siapa yang mau jawab? Tadi sudah saya jelaskan!”
“Remang-remang,” cetus Hiro dengan logat Jepang.
“Temaram,” jawab Han Ji.
“Merencam,” jawab Zul.
“Lindap,” jawab Bram.
“Pudar,” cetus Dylan.
Sampai bel panjang berbunyi, Jen belum juga kembali dari toilet. Sementara siswa lain bisa bernapas lega karena penantian mereka akhirnya usai. Seluruh perhatian telah tercurah. Hanya berharap hati ini kembali terbebaskan dari rasa yang membelenggu. Ha-ha-ha. Autor lebay dulu ya.
"Jen ke mana, sih?" tanya Mei.
"Kurasa dia nyasar, kebiasaan tuh anak kalau pelajaran bahasa kabur," sahut Zul.
Pucuk dicinta ulam tiba, Jen muncul dengan wajah semringah.
"Jen ke kantin, yuk?" Zul dan Mei Hwa menghampiri Jen yang baru kembali dari toilet.
"Ayoklah. Rasanya laper habis dengerin Profesor Rockstars mengajar tadi."
"Sama!" kata Zul dan Mei Hwa kompak.
"Boleh gabung?" tanya Bram.
"Tentu saja, Bram. Let's go."
"Jangan tinggalin aku, Beib!" seru Dylan sambil mengandeng tangan Mei Hwa.
Tangan Bram sudah ingin terulur menggapai tangan Jen, saat Bryan muncul di depan pintu. Bryan berbeda kelas dengan Jen karena dia mengikuti program khusus. Siswa yang mengikuti program khusus berada di kelas khusus pula.
"You with me!" seru Bryan lebih seperti perintah. Lalu menggandeng Jen mendahului yang lainnnya. Jen hanya bisa menurut dan mengikuti Bryan. Bram kesal dan mengepalkan jemari tangannya diam-diam, sementara Zul menahan perih di dadanya. Entah kenapa, setiap melihat Bryan, perasaan cinta Zul semakin tumbuh subur di hatinya. Mungkin itu yang namanya mencintai tanpa harus memiliki atau cinta bertepuk sebelah tangan.
"Kita juga bisa bergandengan tangan," ucap Bram sambil menggandeng tangan Zul. Zul tertawa meski hatinya menangis. Bram selalu menjadi sahabat yang baik selama ini. Begitu pun Jen. Hanya saja Jen tidak tahu perasaan Zul ke Bryan. Zul merasa bersalah, tetapi tak bisa menahan gejolak yang ada di hatinya. Cinta kadang datang tidak mengenal waktu dan tempat.
Di kantin Jen hanya memesan jus tomat kesukannya. Bryan memilih avocado smoothies.
"Kamu nggak makan?"
"Gue nggak laper, Bri."
Diaduknya jus tomat berputar sebanyak sepuluh kali seperti biasanya.
"Kenapa harus diaduk begitu, kamu seperti kurang kerjaan. Mengaduk jus saja harus sepuluh kali."
"Menurut gue itu akan membuat minuman ini lebih merasa dihargai karena kita memperlakukan dia dengan baik sebelum meminumnya. Sehingga rasanya semakin enak."
"Itu teori dari mana?" Bryan tergelak. Dan menyentil hidung Jen dengan gemas. Itu yang Bryan suka dari Jen. Jen itu selalu memiliki sesuatu yang bisa membuatnya tertawa.
"Aww! Itu teori gue sendiri."
Jen dan Bryan tampak bahagia. Mereka tertawa bersama. Tanpa ada beban di hati mereka. Sementara Bram dan Zul pura-pura bahagia dan bercanda seperti biasanya. Lara itu tersamar dalam sikap yang seolah-olah ceria, tetapi hati sebenarnya terluka. Sungguh perasaan yang menyiksa bagi Zul dan Bram. Seberapa keras mereka berusaha, Bryan dan Jen adalah pasangan yang sudah dijodohkan dari kecil. Hampir mustahil memisahkan mereka. Bryan memiliki segalanya dan Jen juga bukan gadis biasa. Jen selalu tulus dan apa adanya.
Hari itu adalah hari yang panjang. Masih ada kelas Madame Chiki setelah istirahat. Jen suka dengan kelas seni dari Madame Chiki. Minggu yang lalu Jen dapat nilai verry good saat tugas menggambar balok yang diarsir. Juga nilai A+ untuk tugas membuat pot dari tanah liat. Kalian harus tahu potnya memang biasa saja tapi cara membuatnya harus sama seperti di film ghost miliknya Patrick Swayze dan Demi Moore. Jen ingat ia membuatnya bersama Bram.
"Bon apres midi Class!"
"Siang, Madame!"
"Comment alles vous?"
"Bien."
Madame Chiki suka sekali menggunakan bahasa Perancis saat mengajar, ia wanita yang cantik dengan rambut keriting sebahu dan baju yang fashionable sangat enak dipandang mata. Cocok sekali sebagai guru seni.
"Ok, Class, pelajaran untuk hari ini adalah seni menghias diri. Kecantikan dari luar juga penting untuk mendukung kecantikan dari dalam. Setiap individu sesungguhnya memiliki kecantikan yang luar biasa. Hanya saja kita tidak pandai menghias diri dan bingung menentukan riasan mana yang cocok untuk kita. Kita cenderung mengikuti tren yang belum tentu cocok dengan kita. Hal inilah yang sering jadi masalah untuk remaja seusia kalian."
"Any question?"
"Madame, apa laki-laki juga harus berhias seperti oppa korea?" tanya Dylan sambil melirik Han Ji. Yang dilirik langsung melotot. Mereka seperti bersaing mendapatkan Mei.
"Tentu saja, karena berhias itu bukan berarti ber-make-up tebal tapi lebih ke makna merawat diri dengan benar." Madame Chiki menjelaskan dengan setiud
Han Ji mencibir ke arah Dylan.
"Han Ji adalah contoh merawat diri yang baik. Kalian bisa bertanya padanya, tetapi ingat setiap individu punya karakter sendiri."
Dari deretan paling belakang Han Ji tertawa. Selama ini Dylan selalu meledeknya dan mengatakan kalau Han Ji seperti banci, tetapi Han Ji tidak pernah marah. Gayanya tetap cute seperti biasanya dan itu makin membuat Dylan kesal.
Setelah pelajaran Madame Chiki selesai penghuni kelas junior langsung berkumpul di Prince room untuk kepoin cream perawatan Han Ji yang asli dari korea dan super komplit. Pantas saja selama ini muka Han Ji begitu halus dan lembut tanpa ada jerawat satu pun.
Jen, Mei Hwa, dan Zul memilih pergi ke perpustakaan sementara para cowok sibuk di ruangan Han Ji. Karena Zul yang hobi mencari bacaan yang berhubungan dengan basket lama memilih buku, Jen memutuskan untuk pulang dulu. Sementara Mei Hwa menemani Zul.
Jen menuruni beberapa anak tangga untuk mengambil buku di lokernya saat matanya menangkap seseorang yang pernah dia kenal juga ada di sana. Itu cowok yang di minimarket, batin Jen.
"Hi."
"Hi."
Cowok itu menoleh kaget.
"Sedang apa?" tanya Jen.
"Ehm, aku mau buka loker, tetapi sepertinya lupa sandinya."
"Boleh kubantu?"
"Seriously? Kamu bisa?"
"He-he-he. You will see this."
Dengan sedikit trik yang di ajarkan Profesor Thomzgonez Jen berhasil membuka loker.
"Thanks ... Jen, kan, nama kamu?" kata cowok misterius itu sangat senang. Mukanya terlihat sangat gembira. Lalu dia mengambil beberapa buku dan sebuah kotak berwarna merah.
"Iya. Nama kamu siapa?"
"Aku, Josh."
"Kamu dari kelas mana?"
"Sorry, Jen, aku buru-buru. Sometime we meet again." Dalam sekejap Josh menghilang. Sebelum Jen sempat menjawab.
"Jen. Ngapain kamu berdiri di situ?" tanya Bram heran.
"Tadi aku bantuin Josh buka lokernya."
"Josh? Josh siapa?"
"Entahlah. Mungkin kelas senior," jawab Jen asal.
"Denger, ya, Jen. Jangan suka ngobrol dengan orang yang nggak kamu kenal."
Bram sepertinya sangat khawatir. Jen hanya garuk-garuk kepala bingung, kenapa Bram seperhatian itu padanya.
"Iya. Gue tahu, tapi firasat gue mengatakan Josh itu baik. Hanya sedikit aneh mungkin."
Bram tersenyum, dia tahu Jen memang baik pada siapa pun. Tidak salah Bram selama ini mengaguminya. Jen memang pantas dicintai, batin Bram. Andai saja Bryan tidak ada, pasti Jen akan dekat denganku. Bram hanya berharap suatu saat akan ada kesempatan buatnya mendapatkan cinta tulus gadis itu.
TBC