Ini hari kiamat bagi para siswa. Profesor Kaminari Kyo akan mengambil nilai untuk pelajaran musik. Para siswa harus memainkan alat musik dengan lagu yang semua ditentukan oleh Profesor Kyo. Profesor satu itu agak aneh. Dia selalu melakukan sesuatu diluar perkiraan siswa. Satu-satunya siswi yang sering jadi incarannya adalah Jen. Entah kenapa Jen selalu dapat nilai jelek di pelajaran musik, padahal selera musik Jen bagus. Permainan musiknya pun di atas rata-rata. Namun, tetap saja ada yang salah di mata profesor aneh itu. Bagaimana tidak aneh, gaya busananya saja ketinggalan zaman, belum lagi rambut abu-abunya plus kacamata tebal yang dia pakai. Sangat jauh dari kata trendy. Biasanya guru musik itu trendy dan menarik, bukan menyeramkan seperti Profesor Kaminari itu.
Jen berjalan putus asa, ia merasa ini sama saja dengan bersiap-siap kena sanksi. Meskipun ia paham tentang musik, ia tidak begitu menyukainya. Tepatnya, tidak menyukai guru musiknya. Jadi pasti ada saja yang dicela nantinya. Berbeda dengan Dylan dan Mei Hwa, bagi mereka itu hal yang menyenangkan dan tidak sulit karena mereka memang suka bermain musik.
"Jen!" panggil Mei Hwa terus berlari. "Buruan kita hampir terlambat."
Ruangan musik yang terletak di sudut bangunan sekolah, tidak jauh lagi. Hanya butuh tiga menit mereka sudah sampai di sana, tentu saja dengan berlari.
"Iya, ini juga lagi berusaha lari!" Jen mencoba berlari sejajar dengan Mei Hwa. "Gimana kalau kita bolos saja, yuk!"
Mei Hwa langsung berhenti. "Gila lu!"
Melihat Mei Hwa sewot Jen tertawa.
"Bercanda, Mei. Limit denda gue juga udah habis. Ayuk buruan!" teriak Jen menyalip Mei berlari mendahuluinya.
Di depan ruangan musik mereka berhenti sejenak. Setelah mengatur napas sebentar Mei Hwa dan Jen bersiap untuk masuk. Jen bahkan berdoa lebih dulu. Mei sampai tergelak melihatnya. "Dasar lebay!"
Mei Hwa membuka pintu, mereka masuk diam-diam diiringi suara alunan piano yang menyeruak di seluruh ruangan. Chopin, Etude op.10 no.4, batin Jen.
"Jen, Hwa sini, " panggil Zul berbisik. Jen dan Mei Hwa duduk di samping Zul diam-diam, bergabung dengan teman lainnya. Berhadap Profesor itu tjdak memperhatikan mereka karena sedang asyik bermain musik. Gayanya bermain musik sangat khas dan penuh penghayatan. Mata profesor itu selalu tertutup setiap bermain musik. Entah menikmati atau sengaja pamer kalau dia sangat mahir. Bunyi tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan saat Profesor Kyo memainkan nada terakhir chopin, Etude op.10 no.4. Laki-laki dengan rambut warna abu-abu dan berkacamata tebal itu memutar badannya dan menyapa seluruh siswa dengan gaya keren menurutnya.
"Konichiwa," sapanya hangat.
"Konichiwa, Kyo-sensei," balas semua siswa, kecuali Jen.
Jen hanya duduk dengan gelisah. Ia muak dengan gaya profesor satu itu yang selalu lebay menurutnya. Profesor Kyo langsung menyadari ada yang tidak beres dengan Jen. Matanya selalu awas untuk memperhatikan setiap gerakan dan bahasa tubuh gadis itu.
"Na, Jen-chan, do shita no? Kamu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa Kyo-sensei."
Ada ketakutan di mata Jen. Kenapa selalu gue, batinnya.
"Maju dan mainkan pianonya!"
Jen mengangguk. Kini ketakutan Jen jadi kenyataan. Jen duduk di depan piano dengan gugup sambil melemaskan jarinya. Gadis itu menghela napas dan menguatkan hati untuk bermain piano sebaik mungkin. Alunan piano yang dimainkan Jen menggema sampai ke seluruh sudut ruangan. Seluruh siswa melongo. Kagum dengan kelincahan jemari Jen saat menari-nari di atas tuts. Benar-benar luar biasa.
Tok tok tok!
Profesor Kyo memukul meja dengan keras menggunakan penggaris kayu. Jen langsung menghentikan permainannya. Kenapa lagi nih orang, batin Jen.
"Permainan macam apa itu?" tanya Profesor Kyo, nada bicaranya sinis. "Kamu terlalu kasar menekan tuts-nya. Banyak nada yang tidak sesuai ketukan."
"Tapi--"
"Musik itu harus dimainkan dengan penuh perasaan!" Suara Profesor Kyo meninggi. "Jika tidak, maka pesan dari musik tersebut tidak tersampaikan dengan baik kepada semua orang yang mendengarnya."
Jen tertunduk. Saat ini Jen kesal sekali dan ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya pada orang yang menurutnya sok tahu itu. Dasar sok tahu!
"Ulangi!"
Jen mengangguk terpaksa dan mulai memainkan piano itu. Semua menikmati, tetapi profesor itu selalu menyuruhnya mengulang dan mengulang lagi.
Tok tok tok!
Jen mulai emosi. Ini sudah kelima kali ia mengulang permainan musiknya. Apalagi yang salah darinya.
"Sudah saya putuskan, Jen harus mengikuti kelas musik tambahan setiap hari Sabtu malam di ruangan saya di master room!"
Apa? Kelas musik tambahan? Sabtu malam? Di ruangan profesor Kyo?
Bagi Jen, itu terdengar seperti bencana, tetapi Jen tidak bisa berbuat apa-apa karena protes berarti menambah hukuman.
"Baiklah," ujar profesor Kyo pada seluruh siswa. "Kelas dibubarkan! Sampe jumpa minggu depan."
Jen kesal. Sudah susah payah dia memainkan piano, tetapi hanya dapat celaan. Harus ikut kelas tambahan pula. Gue rasa orang ini hanya ingin cari gara-gara dengan gue, batin Jen. Jen mungkin tidak begitu pandai bermain musik, tetapi kan selera musiknya lumayan bagus. Berbagai koleksi lagu klasik, modern, maupun lagu yang sedang hit memenuhi lemari besar di sudut ruangannya.
***
Sabtu malam Jen sudah ada di depan ruangan Profesor Kyo di master room. Bagaimana pun Jen harus rela mengikuti kelas tambahan dengan profesor penyuka film animasi ini. Sudah terbayang di benak Jen, pasti ruangan orang itu sangat jorok. Hobinya saja nempelin upil di buku atau baju siswanya diam-diam. Jen bergidik ngeri. Setelah memastikan tidak ada upil yang menempel di tombol-tombol yang ada di pintu, Jen menekan tombol yang mode tamu, bel di ruangan profesor itu berbunyi. Profesor Kyo menekan remote dan pintu terbuka. Alunan lagu kiss the rain mengalun lembut di ruangan yang sangat rapi dan bergaya klasik modern. Jen masuk dan menatap takjub ruangan yang sangat jauh dari ekspektasinya. Seorang pria dengan rambut hitam agak bergelombang, berpakaian keren dan wajah lumayan tampan, berdiri dengan gaya yang sangat elegan. Ini profesor sableng itu? Jadi selama ini dia memakai rambut palsu dan menipu semua orang dengan penampilannya yang terlihat sangat ketinggalan jaman?? Kini, di hadapan Jen dia menjelma menjadi seorang pria yang mungkin jadi dambaan para wanita. Jen langsung mengenalinya dari sorot mata yang sama setiap menatap Jen. Ada kilatan aneh di sana. Profesor itu tersenyum, seolah merasa paling tampan.
"Kenapa melongo? Heran, ya, aku tampan!"
Sial. Narsis juga ni orang, batin Jen.
"Nggak juga!" jawab Jen ketus.
Bodo amat dapat sanksi. Males harus bermanis-manis dengan orang satu ini! teriak Jen dalam hati.
"Silakan duduk! Atau mau berdiri di sana sampai dua jam ke depan."
"Dua jam?"
"Iya. Mau, protes? Cuma kamu siswa yang hobinya protes."
Jen terdiam dan segera duduk dengan manis di tempat yang sudah profesor itu tunjuk. Profesor Kyo memainkan sebuah lagu dengan piano yang ada di ruangannya. Unbreak my heart-nya Tony Broxton mengalun sangat indah. Profesor Kyo tampak sangat menghayati permainan pianonya, matanya terpejam saat menekan barisan tuts itu, tubuhnya bergerak mengikuti irama lagu. Lalu lagu berganti dengan You are the reason-nya Calum scott. Profesor Kyo memberi isyarat pada Jen sambil menunjuk mic warna gold yang ada di atas meja. Lalu mereka berduet menyanyikan lagu tersebut. Suara mereka berdua adalah perpaduan yang pas. Selesai bernyanyi, Jen kembali duduk. Tidak ada tugas yang harus Jen kerjakan selain menyanyi. Jen mulai heran dan tak mengerti. Hanya begini saja kelas tambahannya. Gue rasa ni orang sudah gila, batin Jen.
"Terima kasih, Jen. Kamu sudah menemani saya," ucap profesor yang kini tampan itu dengan tulus. "Kamu boleh pergi sekarang."
Tanpa bicara Jen langsung beranjak meninggalkan ruangan itu. Saat Jen mulai beranjak, dia masih sempat mendengar alunan lagu Bailamos milik Enrique Iglesias bergema. Mungkin saja Profesor Kyo sedang menari salsa sendirian. Hari yang sangat aneh. Ada apa dengan profesor satu itu. Apa pun itu setidaknya gue tidak kena masalah, batin Jen.
"Sudah selesai?" Suara Bram mengagetkan Jen yang baru keluar dari ruangan Profesor Kyo.
"Kamu di sini?"
"Aku khawatir karena profesor itu sedikit aneh. Sepertinya dia hanya mengincarmu."
"Iya, sih. Aku baik-baik saja. Thanks, ya, sudah perhatian."
Bram tersenyum sambil mengacak rambut Jen. "Kita ke kafe, yuk. Sudah lama kita bertiga nggak ke sana. Nanti aku telepon Zul supaya menyusul."
"Let's go."
Saat mereka menuruni tangga, mereka berpapasan dengan Julia, siswa kelas senior yang menatap sinis. Entah kenapa, setiap bertemu Jen tatapan matanya seperti tidak suka.
Di dalam ruangannya, Profesor Kyo mengamati melalui kamera CCTV. "Dasar Bram anak sialan. Mau cari gara-gara denganku rupanya." Senyum licik menghias wajahnya. Lalu pintu terbuka dan Julia masuk dengan wajah marah.
"Jadi begini kelakuan kamu. Kenapa kamu malah bermain-main dengan anak kecil itu. Fokus dong, Prof!" teriak Julia kesal.
"Jen maksud kamu?"
"Iya. Siapa lagi!"
"Kamu terlalu serius. Nikmati saja semua ini dengan santai. Semua pasti akan beres," jawab Profesor Kyo tenang. Julia menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Kesal dengan sikap profesor satu itu. Sementara Profesor Kyo meninggalkan Julia sendirian, masuk ke kamar dan menguncinya.
Profesor itu tersenyum penuh arti. Hanya dia saja yang tahu apa yang sedang terjadi. Persekongkolan jahat kadang membuatnya muak. Rasanya dia ingin hidup normal dan jauh dari hiruk pikuk ambisi. Namun, dia tidak bisa mengabaikan uang. Dia mengajar di Soeltan High School karena gajinya lumayan fantastis, ketimbang harus repot-repot melakukan pekerjaan kotor.
Profesor Kaminari seorang yang orang cerdas. Keahliannya bermain musik tidak perlu diragukan lagi. Dia juga mantan inteligen yang sering jadi rebutan pelaku kejahatan. Dunia hitam dan putih baginya adalah dua sisi yang menghasilkan perpaduan misterius. Ya, dia memilih berada di zona abu-abu. Di mana kejahatan dan kebaikan bisa berjalan selaras.
Lagi-lagi profesor itu tersenyum. Ada sesuatu yang membuatnya gembira akhir-akhir ini, tetapi dia hanya ingin menikmatinya sendiri.
Julia kesal karena tidak dipedulikan. Padahal gadis itu datang karena ada hal penting yang harus disampaikan. Baiklah, kalau kamu punya rencana, aku pun juga punya prioritas, batin Julia.
Julia keluar dari ruangan profesor itu setelah meningkalkan pesan singkat.
Di dalam kamarnya, lagi-lagi profesor itu tersenyum.