Hasil pencarian pertama yang keluar saat mencari tips menjadi profesional: be of a great character.
Jawaban yang kelewat subyektif sih, tapi cuma itu peganganku sekarang. Tetap bekerja seperti seharusnya sekalipun yang harus kuperhatikan adalah mantan sendiri.
Koreksi sedikit, penjelasan proyek dari mantan. Ngapain juga merhatiin dia kalau nggak ada alasan?
Berat untuk diakui, tapi satu dari sekian point plus yang Rico miliki adalah kemampuannya menjelaskan sesuatu. Pernah melihat pembicara di seminar yang kelihatan begitu karismatik dan penuh percaya diri bicara? Begitulah Rico tiap menjelaskan rencananya. He definetely knows what he’s talking about, and his smartass-kinda-look makes his persuasion stronger. Belum lagi ditambah kacamata yang malah membuat keseriusannya itu ….
Sekarang sisi hipokritku ini mulai bikin ulah. Aku ke sini bukan untuk mengomentari betapa kerennya penampilan dia.
Aku berusaha untuk fokus tiap kali Rico mengemukakan content planning yang sudah sempat k****a malam ini, tapi sebagian pikiranku begitu saja memberi ruang kosong untuk memikirkan pria ini dalam konteks berbeda.
To be exact, his messages last night.
Aku cukup bersyukur Rico memilih menghubungiku dengan cara kolot, dan beruntungnya SMS masih belum punya fitur supaya kita tahu penerima sudah membaca pesan kita atau belum. Dengan begitu, aku bisa menambah slot alasan kenapa nggak membalas.
“Kenapa nggak dibalas aja?” tanya Abi malam itu. “Dia nanya lho itu. Gue berasa simpanan tante-tante gegara foto doang.”
“Excuse me, lo lebih dekat dengan ajal daripada gue.”
“Lebih tua nggak ekuivalen dengan lebih cepat mati, please.”
Mau berargumen apa pun dengan Abi, percuma saja berharap menang. Jadi, aku memilih menghentikan debat out of topic itu. “Gue nggak balas karena, yah, nggak penting. Peduli sẹtan dia mau ngira gue selingkuh atau apa.”
“Nama gue jaga dikit kek,” protesnya. Namun setelahnya dia balik makan dan cuek, seakan-akan citra diri nggak lebih penting dari makanan.
Pada akhirnya, pesan Rico berakhir nggak kubalas. Sebenarnya gemas juga sih kalau dia berpikir aku main belakang. Kami putus bukan karena orang ketiga, tapi dia. Dan sebaiknya dia nggak nyari-nyari alasan untuk menyalahkanku.
“Menurut kalian gimana?” Pertanyaan itu menarikku kembali ke masa kini. Dan, ugh, tatapan dia juga. Aku lebih menegakkan posisi duduk, tak lupa memasang wajah serius. Pandangan kami berserobok dan dia bertanya, “Dari Creadivi gimana? Kalau ada yang kurang cocok atau punya usul lain, boleh bilang aja. Gimanapun, eksekusi konten banyak di kalian.”
Oke, dia nggak mengajukan pertanyaan itu khusus ke arahku. Kalau begitu bisa dong dia nggak melihat ke arahku terus?
“Sorry nih, gue pengin nanya.” Barulah ketika orang di sampingku mengangkat tangan dan bicara, tatapannya beralih. “Gue masih agak bingung kenapa kita harus buat konten duluan buat mereka dan bukan ditujuin langsung buat anak-anak?”
“Sama,” yabg lain ikur menyahut. “Nggak mending buat audience kita aja? Kan targetnya anak-anak.”
Rico memundurkan slide presentasinya dan memunculkan tabulasi berisi deretan konten pertama. “Pendekatan klasik kok ini. Target kita memang anak-anak, tapi kita juga perlu aware kalau mereka nggak sendiri. Nggak ada salahnya mengeluarkan sesuatu untuk jaminan ke depan.”
Aku manggut-manggut. Rico benar. Sekalipun sekarang game marak sekali di berbagai kalian, bahkan sampai anak TK sudah bisa mengoperasikannya, ada hal mendasar yang nggak boleh dilewatkan. Orangtua. Dikarenakan proyek ini mengusung tema pendidikan, orangtua perlu dilibatkan juga. Meyakinkan mereka merupakan PR pertama sebelum mempromosikan ini pada anak-anak.
“Saya bikin begini karena saya mau orangtua percaya dulu. Bahkan, lebih bagus kalau orangtua bisa mengenalkan ini ke anak mereka. Makanya dari timeline promosinya pun, nggak bisa kita barengin. Kontennya juga harus beda,” jelas Rico. “Tujuannya sama, mau nmemperkenalkan game ini. Cuma biar lebih efektif, kita bagi-bagi.”
“Konten buat anak-anak bakal lebih fun dan luwes ketimbang buat orangtua.”
Rico melirikku. “Good point.”
Aku agak kaget karena ternyata aku mengucapkan isi kepalaku lebih kuat dari perkiraan, dan Rico menjawab, sampai-sampai tersenyum. Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.
Kali ini slide berganti lagi, memunculkan desain karakter mini yang kubuat kemarin. “Kemarin dari Creadivi saya udah terima desain maskot. Karena kebetulan dibuatnya karakter sekeluarga, dan saya kepikiran sama planning begini. Nggak perlu buat karakter baru.”
Awalnya klien yang minta maskotnya lebih baik nggak hanya satu. Antara punya banyak dana dan banyak mau. Aku nggak nyangka hal itu malah memberi Rico ide. Yah, nggak heran sih. Dari dulu dia bisa banget nemuin ide dari hal-hal random.
“Saya juga mau tanya.” Kali ini Kim, animator sekaligus teman sekantorku, yang angkat tangan. “Untuk konten audio visual buat yang orangtua gimana? Kita bikin animasi baru gitu?”
“Tayangannya bisa diambil dari cuplikan game aja.”
“Hasil record pas main game juga bisa.”
Eh?
Aku mengerjap cepat, menggumamkan maaf kecil karena bicara. Sebenarnya sudah angkat tangan sih, tapi nggak nyangka bakal bicara berbarengan kayak tadi.
“There you have it,” kata Rico. “Ide Davonna bisa jadi pilihan supaya nggak nambah kerjaan. Bisa pakai video dari yang ditayangin waktu meeting pertama, tapi jangan lupa sedikit diotak-atik.”
“Kalian nyambung ya kayaknya.” Cewek di sampingku berkomentar sambil cekikikan. “Atau kalian udah ngobrolin ini sebelumnya?”
Aku menoleh, tertawa kecil dan menggeleng. “Haha, kebetulan doang kok.”
Soalnya kebetulan juga di ruangan ini hanya aku yang sudah terbiasa dengan dia selama 11 tahun. Dan aku sudah cukup tahu, sekadar nyambung nggak cukup. Lagian ini kan soal pekerjaan. Bukan masalah nyambung atau kompaknya. Memang sudah sepantasnya bekerja sama, kan?
“Davonna.” Suara Rico mengalihkanku. “Bisa kamu jelasin konsep desain kamu?”
“Oh, sure.” Aku beranjak dari kursi untuk mendekati Rico—actually, proyektor—untuk mulai mempresentasikan hasil kerjaku kemarin.
Di sampingku dia tersenyum, dan sesaat aku merasa ada bisikan gaib dengan suaranya masuk ke telingaku, berkata, “Semangat, Hon. Pasti bisa kok.”
Kalau megang proyek besar, biasanya aku akan cerita pada Rico, dan kalimat itu yang biasanya kudengar, diikuti pelukan dan ciuman-ciuman kecil, atau kadang, saking gugupnya dia menenangkanku dengan membuatku hanya memikirkannya lewat you know, hot sleepless night. Mungkin habis ini dia bakal ….
Buru-buru kusingkirkan pemikiran itu, berfokus untuk mulai menjelaskan. Sumpah, aku harus mengenyahkan ingatanku soal malam-malam sialan itu.
Dear Heavenly Father. Tolong jangan terlalu susah ngasih cobaan permantanan ini.
*
Meski aku berhasil meminta Abi untuk mengikuti rencanaku, pada dasarnya dia tetap liar dan nggak bisa dikendalikan.
“Jangan tiba-tiba telepon gue buat jemput. Jadi supir cuma pencitraan depan Rico. Oke?”
Yah, bukannya aku mau diantar-jemput juga sih, karena percayalah, buat Abi nggak ada yang gratis, sekalipun bayarannya paling-paling makanan yang ada kejunya. Toh, aku juga punya kendaraan sendiri.
Namun ceritanya jelas berbeda kalau aku lagi sial. Oke, ralat. Sial level dua, lebih tepatnya.
Dikarenakan kantor Rico sudah punya tim marketing sendiri, tim Abi nganggur dan bekerja untuk pekerjaan yang berbeda. Hal itu menyebabkan cowok itu nggak ada di kantor. Bukannya aku bermaksud mencari sih, tapi ini urgent banget!
Kelancaran yang terjadi padaku seharian ini ternyata nggak memperbolehkanku untuk berpikir semuanya akan baik-baik saja dalam satu hari penuh. Lega karena nggak ada revisi—ini rare case—dan nggak perlu lembur, kesialanku tampaknya dialokasikan ke hal lain. Dan itu diterima mobilku.
Padahal pagi ini biasa saja, tapi begitu kupakai pulang dari kantor, mobilnya mulai ngadat. Baru beberapa puluh meter keluar dari kantor, mobilku tiba-tiba bersuara seperti mengisyaratkan keadaan sekaratnya sebelum benar-benar mati. Nggak jalan. Mogok.
Ini sebabnya aku menelepon Abi, karena selain bisa jadi teman curhat dan pembantai kulkas, dia lebih bisa diandalkan untuk urusan begini daripada aku. Aku punya alasan untuk meneleponnya. Sayangnya, nomornya justru nggak bisa dihubungi. Dari w******p, terakhir kali dia online dua jam lalu.
Melihat kap mobilku berasap, aku buru-buru keluar. Nggak bisa menghubungi Abi, opsi yang tersedia sekarang hanya menelepon tempat service. Sayangnya, jawaban yang kudapat hanya, “Paling kami kirim derek, Bu. Jam kerjanya sudah habis dari jam lima tadi.”
God help!
Akhirnya aku mengiyakan, terpaksa menunggu di dekat halte bus. Sengaja kusumbat telinga dengan earphone untuk mendistraksi diri dari sekeliling. Duduk sendirian di sini rasanya menyedihkan sekali. Seperti tiap kendaraan yang lalu lalang tengah melihat ke arahku, dan sekalipun aku nggak bisa mendengar suara mereka, kepalaku bisa menerka. Mungkin salah satu dari mereka akan mengasihaniku, mengiraku habis putus cinta dan ditinggal di jalanan, atau, yah… nggak ada yang bagus.
Sekali lagi aku mencoba menelepon Abi, tapi tetap saja nggak masuk. Dia ke mana sih? Konoha?
Merasa nggak membuahkan hasil, aku akhirnya diam. Kufokuskan perhatian pada suara Josh Groban—gosh, suara dan lagunya sukses buat aku lebih tenang—dan memandangi sepatuku. Aku masih menikmati momen kalem ini sebelum ada suara aneh.
Klakson.
“Vonna!”
Kulepas earphone-ku begitu menyadari pengendara itu berhenti di depanku. Begitu mengangkat kaca helm, barulah bisa kukenali siapa orang itu. Dan aku menyesal.
“Belum pulang?” tanya Rico. Ya, dia kan lihat sendiri aku di sini. Dan halte bus jelas-jelas bukan rumahku.
Kutanggapi basa-basinya itu setengah hati. “Lagi nunggu derek.”
“Derek?”
“Mobil mogok.” Aku menunjuk mobilku dengan dagu. Yang ada dia malah meminggirkan motornya, turun dan menghampiriku tanpa melepas helm.
“Mogok karena mesin?” tanyanya. Aku mengedikkan pundak.
“Kamu kan tahu aku payah banget kalau urusan—”
Wait, wait. Kalimat itu terdengar super salah. Kenapa kesannya aku main berasumsi kalau pria ini akan ingat sesuatu tentangku?
“Aku nggak ngerti,” koreksiku buru-buru. “Jadi nelepon bengkel aja.”
“Mau dicek dulu nggak?” tawar Rico. Sebelum aku sempat membalas, dia sudah berjalan mendekati mobilku, dan mau nggak mau aku ikut beranjak dan menyusulnya.
Aku nggak tahu apa mengerti mesin-mesin kendaraan ini sudah mengalir dalam darah para kaum Adam, tapi selain Abi, aku tahu Rico juga bisa. Yah, 11 tahun berkencan, bukan sekali dua kali motor dan mobilnya mogok. Dan seingatku, belum pernah sekalipun dia menelepon bengkel kecuali jadwal service rutin.
“Sampai berasap gini, Von.” Rico sempat terbatuk sebelum membuka kap mobil, melangkah mundur dan memandanginya dari jauh. Dia kemudian menggunakan ponselnya dan menyalakan flashlight. “Terakhir kamu service kapan?”
“Ng… bulan lalu kayaknya. Bulan ini belum.”
Entah bagaimana caranya informasi itu membantu, aku juga nggak paham. Dan sebelum Rico sempat membedah lebih lanjut mobilk karena sudah ada derek yang datang dan berhenti. Dua orang pria dengan seragam berlogo sama dengan mobilku keluar dan mendekat. Setelah mengobrol singkat, akhirnya mobilku dibawa pergi dan aku diminta ke bengkel besok. Berarti opsi besok kalau bukan ojol, minta tolong Abi. Kira-kira urusannya dengan Konoha sudah selesai belum?
Setelah dereknya pergi, aku berniat untuk memesan kendaraan pulang. Namun sepersekon kemudian, kusadari motor Rico masih ada, yang berarti pemiliknya juga belum pulang.
“Biar aku antar.” Aku mengangkat alis, tapi alih-alih merespons, dia justru melanjutkan, “Kamu masih tinggal di Setiabudhi, kan?”
Duh, ini harus banget jawab?
Awalnya aku masih enggan menjawab, tapi setelah melihat bus sejak tadi nggak lewat, dan jalanan makin lama makin macet, akhirnya aku mengangguk. “Masih.”
Cuma diantar pulang, kan? Nggak akan ada masalah. Ini saatnya aku membuktikan kalau aku sudah move on. Yang seperti ini hanya hal kecil.
“Ya udah, aku antar aja,” kata Rico. “Daripada kamu nunggu.”
“Emang ada helm?” tanyaku.
“Selalu ada di bagasi.” Mungkin mataku lagi agak seliwer karena cahaya kendaraan yang lewat, sampai-sampai ada senyum samar yang kutangkap dari wajah Rico. Dia berjalan mendekati motor, tapi aku masih bisa mendengar suaranya bertanya, “Udah makan?”
“Eh?”
“Udah makan?” Rico mengulang, masih memasang tampang sabar. Aku dengar pertanyaannya, dan reaksi tadi sebetulnya hanya untuk memastikan kalau aku nggak salah dengar dia baru saja mengajakku makan. At least, kedengarannya begitu.
Aku menggeleng, tapi supaya nggak membuang waktu, aku langsung menjawab, “Nanti aja makan di rumah. Lagi pengin masak.”
Rico kemudian menyodorkan helmnya padaku. “Jadi langsung pulang aja?”
Dengan penuh keyakinan aku mengangguk, menerima uluran helmnya dan memakainya cepat, kemudian naik di belakang. Sengaja kuatur jarak di antara kami supaya nggak terlalu mepet.
“Udah, Von?”
“Udah.” Aku melirik spion, melihat Rico sudah memusatkan perhatian ke jalan. Namun, ada hal lain yang kusadari begitu melihat pantulan diri sendiri.
Tunggu sebentar. Ini kan helm punyaku. Pantas saja rasanya pas banget. Aku biasanya memakai ini kalau kami kencan pakai motor, dibeli langsung menyesuaikan ukuran kepalaku.
But, hey, that’s not the problem. Bukan itu yang mau kubahas, melainkan ….
Kok masih dia bawa-bawa di bagasi motornya?
Kenapa juga aku harus peduli?
Tapi, serius deh, kenapa dia masih menyimpan ini?
Aku menggeleng, berpegangan pada belakang motor supaya jarak di antara kami tidak terpangkas. Selama perjalanan, helm konyol ini mendadak memenuhi kepalaku. Dia yang nggak berniat membeli helm baru atau gimana? Barang memang nggak ada statusnya sih, tapi masa iya dia tetap menyimpan ini? Belum lagi kalau diingat-ingat, tadi Rico bilang ‘selalu’, kan?
Otakku mendadak disesaki berbagai pertanyaan yang nggak penting sama sekali, hingga bayanganku mendadak buyar begitu sesuatu mengenai wajahku dari atas. Spontan aku mendongak dan mendapati lebih banyak air jatuh.
“Ugh, hujan,” teriak Rico, setengah mengomel. “Aku ngebut, gakpapa? Nggak bawa jas hujan nih!”
“Gakpapa!”
Laju motor semakin cepat, seakan-akan pengemudi di depanku ini berusaha membalap kecepatan hujan yang mulai bertambah banyak. Peganganku mengerat, dan untungnya dalam beberapa menit kami sudah masuk ke kawasan apartemen.
“Masuk ke parkiran dulu aja, Ko! Ini hujannya makin gede!” seruku dari belakang. Rico nggak membalas, tapi motornya langsung melaju ke area basemen tanpa perlu diarahkan. Di saat yang sama, suara hujan berubah bising, mengisyaratkan daerah luar pasti makin ganas.
Rico memberhentikan motor di dekat pintu masuk ke lift. Aku langsung turun, membuka helm. Rambutku pendek, tapi ujung-ujungnya yang nggak tertutup helm jadi ikutan basah. Bajuku pun sama.
“Thank you, Ko,” ujarku sambil mengembalikan helm. Dia hanya mengangguk, kelihatannya lebih sibuk memikirkan keadaan di luar ketimbang membalasku.
“Hujan gede,” aku menambahkan. “Kamu gimana?”
“Ng ….” Rico malah bergumam nggak jelas. Sesaat, mata kami berpandangan, dan aku terpikir untuk melakukan sesuatu. Hujan begini sebenarnya bukan masalah besar. Apartemenku selalu terbuka untuk pria ini. Dulu.
Sekarang bukan dulu. Kami sudah berbeda. Selain nggak mau, aku juga nggak yakin membiarkan mantan masuk ke tempatku merupakan tindakan yang tepat.
Tapi kalau hujan begini, kasihan juga sih. Gosh! Ribet banget sih!
Pada akhirnya, aku menghela napas. Anggap saja ini balas budi sedikit. Paling nggak aku masih tahu diri. “Masuk dulu aja. Semoga hujannya nggak lama.” []