“Yah, pokoknya gitu. Ngerti nggak, Bi?”
Aku sudah bercerita panjang lebar soal kesialanku siang ini, bagaimana gemasnya melihat Rico sibuk memamerkan kebahagiaan bersama Sarah, kemudian dengan ekspresi sombongnya membahas ulang double date konyol waktu itu. Dan itulah yang menjadi pemancing kenapa aku berbohong dan menunjuk Abi karena terdesak.
Sementara aku berselonjor di sofa, Abi duduk di karpet, sibuk memakan carbonara buatanku tanpa melihat ke arahku sedikit pun. Kemeja lengan pendeknya sudah ditanggalkan, menyisakan kaus putih polos body fit, satu ikat rambutku digunakannya untuk mengikat rambutnya yang mulai panjang.
“Kelakuan lo itu, ya,” ocehku, tapi dia tetap diam.
Sudah bukan hal baru sih melihat Abi bersikap seperti berada di rumah sendiri. Padahal sebelumnya kami nggak begitu dekat. Begitu aku punya banyak waktu luang dengan orang lain karena dulu waktuku banyak dialokasikan bersama Rico, aku jadi sering bareng Abi, entah buat makan bareng, pulang bareng dan nonton tengah malam, atau sekadar berkunjung ke tempat satu sama lain ketika salah satu dari kami mau numpang makan atau punya makanan lebih dan nggak bisa dihabiskan sendiri.
“Lo bayangin deh gimana… Bi, ah! Serius! Berbusa nih mulut gue, lo malah sibuk nonton!” Kuangkat bantal sofa dan melempar punggung Abi, tapi tatapannya masih tertuju pada televisi.
“Gue dengar, elah,” balas Abi. “Tapi gue nggak paham.”
“Kan, elo sih! Masa gue kudu ngulang—”
“It’s not really like the usual you, Davonna.” Abi memotong ucapanku, kali ini menyerongkan tubuh. “Tindakan lo tuh antitesis dari ucapan lo semua.”
Aku mengernyit. “Hah? Maksudnya?”
“Kayak lo bilang minumnya kopi, tapi di dalam gelas lo teh.”
“Kenapa jadi ngopi ngeteh deh—”
“Gimana perasaan lo sama Rico sebenarnya?” tanya Abi. Pertanyaan itu sudah dia ajukan sebelumnya, dan aku baru mau protes ketika dia melanjutkan, “If you hate him that much, why care, then?”
“Siapa yang care?” balasku tak terima. Dari tadi aku menceritakan kekesalanku, bukan seberapa pedulinya aku pada Rico. “Lo nyimak nggak sih sebenarnya? Gue kan sebal banget sama dia!”
“Karena dia nanya status lo? Dia ngajak nge-date bareng? Atau karena lo nggak suka ada orang lain yang udah jadi gandengannya? Cemburu?”
Mendengar rentetan pertanyaan itu membuatku melongo. Mana dia jadi kelihatan sewot. Gemas, kutarik tisu dari meja, menyeka langsung sudut bibirnya dari krim. “For God sake, Bi, itu kesimpulan dari mana?”
Sepasang alis tebal Abi menukik. Rasanya justru aku yang salah di sini. Dia berbalik hingga kami benar-benar berhadapan denganku, meski aku jadi lebih tinggi karena duduk di sofa. “Pertama lo bilangnya nggak mau berurusan, tahunya sekarang malah ngomel kenapa dia punya pacar baru. Worst, lo sampai bohong ke dia. Kalau lo emang nggak peduli, lo nggak bakal sebegininya, kan? Harusnya lo cuek aja.”
Abi nih sebenarnya habis makan pasta dengan keju sekilo atau cabai, sih? Omongannya pedas banget. Aku sukses dibuat berpikir ulang.
“Ya, oke. Oke. Gue salah di situ,” akuku akhirnya. “Gue terlalu impulsif. Tapi, masa gue bilang ke dia itu cuma bohongan? Kan lo juga pakai ngarang-ngarang cerita!”
“Bagusnya sih bilang.”
“HAH? KOK—”
“Malah lebih bagus kalau lo bahagia sendiri, kan?” Abi menambahkan. “Lo sendiri yang bilang nggak butuh dia. Setahun ini juga toh lo fine aja tanpa pacaran.”
Yah, aku memang baik-baik saja setelah putus, terlepas dari urusan hati yang berantakan karena terlalu sering dipakai. Pada dasarnya aku punya tempat tinggal dan kendaraan sendiri, jadi kehilangan tukang antar jemput dan teman makan bukan hal yang membuat hidupku berubah total, sekalipun perginya sosok yang sudah menemaniku dalam waktu lama memang meninggalkan satu ruang kosong.
Namun, aku nggak pernah merasakan ada urgensi untuk mengisi bagian yang kosong itu. Belum ada yang cocok. Terlalu lama pikiranku terbiasa membiarkan Rico mengisinya, mungkin itu juga sebabnya dia berani menganggap tempat itu dikhususkan untuknya. Aku nggak mau dicap sebagai wanita yang nggak bisa hidup tanpa lawan jenis, tapi aku nggak mau membiarkan orang lain berpikir aku nggak layak untuk orang lain, seakan-akan aku yang paling membutuhkan di sini sementara dia bebas memilih siapa pun, dan memilihku merupakan bentuk kebaikan hatinya.
Belum bukan berarti nggak ada, kan? Buktinya selama setahun terakhir aku masih berhubungan dengan beberapa cowok, walaupun, yah, ujung-ujungnya belum ada yang bisa diajak ke tahap lanjut.
“Gue nggak mau ngasih kesempatan buat dia menjatuhkan gue lagi, Bi. Nggak,” ujarku. “Lo sendiri tahu kan dia putusin gue karena apa? Kalau dia tahu gue cuma bodoh, not to mention bohongnya nggak mikir dulu, apalagi lah yang bakal dia bilang ke gue. Makin gede kali kepalanya itu.”
“Menurut lo dia bakal begitu?” tanya Abi.
“Ya menurut ngana dia bakal ngapain lagi?” Aku balik bertanya, kesal.
“Kan pacar lo, harusnya lo yang tahu dong dia bakal ngapain aja.” Abi mengedikkan bahu cepat kemudian duduk di sampingku. “Lagian pas makan siang tadi, kelihatannya dia masih sering merhatiin elo.”
Aku mendelik. “Merhatiin buat nyari-nyari kesalahan sih iya.”
“Coba deh lo stop mikir kejauhan, Von,” timpalnya kemudian berdecak, dahiku disentil. “Kalian nyaris mau 12 tahun, kan? Itu bukan hubungan sebentar yang bisa dibuang gitu aja. Siapa bilang mantan nggak punya kesempatan? Lo cuma denial aja kali.”
Waktu itu aku memang cerita pada Abi tentang kalimat-kalimat yang Rico lemparkan padaku, juga hubunganku yang lebih seperti menjaga gawang tanpa menyambut bola. Namun semua ini bukan hanya soal aku yang tersinggung juga kesombongan Rico yang setinggi langit.
Percuma saja kalau Abi berharap ada sesuatu yang bisa kubangun lagi dengan Rico.
Apa juga yang harus kuharapkan dari Rico? Dia sudah cukup membuatku tersinggung dan menjatuhkan harga diriku, dan aku sama sekali nggak berniat mengulang hal yang sama.
“Gue nggak mau dan nggak akan balikan sama dia,” tukasku tegas. “Not gonna read the same book twice.”
“Jadi lo maunya gimana?” Nada suara Abi terdengar lebih rendah, tatapannya datar, tapi aku merasa dia mencoba menunjukkan penolakan di sini. Kalau itu yang mau dia bilang, aku heran kenapa dia belum mengatakannya. “Tetap ngaku-ngaku jadi pacar gue, gitu?”
Ngaku-ngaku, katanya. Benar sih, tapi penekanan kata-kata itu membuatku dongkol.
“Yah, emang lo ada rencana yang lebih baik?” tanyaku sambil berbalik, mencari ponsel yang kuletakkan di dekat lengan sofa. “Kalau pun ngaku, gimana caranya biar ….”
Melihat ada nomor asing di notifikasi, aku diam, berkutat dengan ponselku lebih dulu. Hari gini masih lewat SMS? Biasanya yang begini hanya Oma, dan terakhir kali juga Oma sudah menghubungiku lewat video call w******p.
Nomor siapa ini?
Unknown Number
Hey, Von
Hope nomor kamu masih sama. Ini Rico
Sarah sent me this, dari IG pacarmu
Km pacaran sama Abi dr kpn sebenernya?
Kubaca ulang deretan pesan itu, berulang-ulang sampai aku sadar bukan mataku yang salah. Nomornya berbeda. Aku masih hafal nomor lama Rico, dan nomor itu sudah kumasukkan ke daftar blacklist, termasuk akun-akun social media-nya yang lain. Mengingat kejadian f*******: tempo hari, aku nggak berniat meng-unblock.
Tolong dicatat, ya, aku begitu bukan karena belum move on—dan sebenarnya aku juga nggak paham kenapa orang menyimpulkan blokir-blokiran dengan mantan itu pertanda kita susah pindah hati—tapi inilah caraku untuk menenangkan diri.
Kalau bukan aku yang memblokirnya lebih dulu, mungkin dia yang akan melakukannya. Ini hanya soal siapa yang pertama memulai. Aku juga nggak menyangka suatu saat kami akan bertemu dan berinteraksi lagi.
Apa dia masih hafal nomorku juga? Atau dia dapat dari orang lain? Tapi memangnya dia mau tanya ke siapa?
Lagi pula, apa-apaan ini? Baru pertama kali menghubungi saja sudah membahas statusku. Kalau begini harusnya kalimat Abi soal ‘why care’ bukan ditujukan padaku, tapi pada Rico. Jelas-jelas dia memijak ranah milik orang lain.
“Napa dah lo?” tanya Abi. Aku hanya menyodorkan ponselku sebagai jawaban.
Tanpa memegang ponsel, Abi mendekatkan wajahnya ke layar, membaca tanpa berkomentar—bahkan atas fakta kalau Sarah kemungkinan besar stalking akun i********:-nya. Aku hanya mendengar gumaman singkat sebelum dia kembali meluruskan punggung, dan kami bertukar pandangan sejenak.
Banyak sekali acara yang kudatangi bersama Abi, baik undangan pernikahan, pertunangan, atau acara dari klien. Menghadiri berbagai event berdua bukan lagi hal baru, tapi baru kali ini ada yang menganggap aku dan Abi punya hubungan khusus hanya karena kami berfoto berdua dengan sama-sama memakai batik merah. Dari screenshot yang Rico kirim, fotonya Abi upload tahun lalu, tepatnya dua bulan sebelum hubunganku kandas.
Oh, oh! Tunggu dulu. Jangan bilang Rico tanya begitu karena berpikir aku dan Abi sudah mulai berhubungan bahkan sebelum kami putus?
“Itu foto kita pas ke acara ulang tahun perusahaan klien, kan?” tanya Abi. “Gue udah lama banget nggak buka IG. Sarah nemu dari mana tuh?”
Alih-alih menjawab, aku menepuk pundak Abi dan mengangguk yakin. Aku dapat ide bagus. “Bi, asli. Lo harus jadi pacar gue. Seenggaknya di depan Rico. I’ll be in your debt.”
Abi justru menyipit, lantas menggeleng-geleng. “Really, Von, sebenarnya lo ini maunya apa?”
Kalau ditanya sekarang, aku nggak tahu. Isi pikiranku terlalu acak. Namun yang aku yakini, semua ini nggak bisa dibiarkan begitu saja. Dan bisa jadi, ini juga kesempatanku. Aku bisa membalas.
Jadi tanpa ragu aku membalas, “Bakal gue buktiin kalau penilaian dia buat gue sejak awal salah total. So, please. Help me out. Biar setelah ini gue bisa puas dan masa bodo sama dia.” []