Percayalah, hal dadakan yang enak itu hanya tahu bulat.
Tahu sendiri, kan, pada umumnya hal dadakan hanya mengganggu rencana awal dan membuat semuanya berantakan.
Menyadari ini sekarang telat banget, karena lebih susah menarik kata-kata daripada narik uang dari ATM. There’s no turning back. Kalimatku sudah didengar Rico, Sarah, juga Abi.
Ini benar-benar di luar rencanaku. Abi juga nggak tahu apa-apa. Kalau nanti dia menyanggah dan bilang ini hanya kebohongan bodohku, habis sudah semuanya.
“Belum selesai makan, kan?” tanya Abi. Dia menempati kursi di sampingku, dengan santai duduk dan tersenyum pada Rico dan Sarah. “Gue nggak ganggu kan ikut nimbrung sekarang?”
“Santai.” Rico menggeleng, ekspresinya langsung berubah ramah. “Kayaknya dulu gue pernah lihat elo di sini. Selain pas di nikahan kemarin, maksudnya.”
“Pas dulu lo sering jemput Vonna kayaknya.” Abi menimpali, nada bicaranya terdengar sedikit menggantung. “Sekarang supirnya ganti jadi gue.”
Seketika aku menoleh memandangi Abi, sementara dia hanya membalasku dengan cengiran jahil. Meski begitu, kakinya di bawah meja menyenggol heels-ku, seperti memberi isyarat yang sejujurnya aku sendiri nggak paham. Pilihanku sekarang hanya mengikuti Abi. Demi harga diri dan kebodohan dadakan tadi.
“Kamu sering ke sini, Ko?” tanya Sarah, dan Rico mengangguk. Alih-alih memandangi Sarah, matanya masih terarah padaku dan Abi. “Gue ketinggalan kabar banget. Congratulation, both of you. Udah berapa lama?”
“Thanks, Bro,” balas Abi, menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya kemudian “Belum ada setahunan sih, tapi Nyokap gue kayaknya demen banget sama dia.”
Bohongnya Abi ini jauh banget, astaga! Aku menahan diri untuk nggak bereaksi berlebihan. Mengikuti alur adalah pilihan terbaik saat ini.
Sebenarnya aku pernah bertemu Tante Onya beberapa bulan lalu, tapi sudah pasti nggak dikenalkan sebagai pacar. Malah ibunya Abi sendiri yang bilang, “Kalau cewek kayak kamu jadi pacar Abi betulan, Tante malah syok, sejak kapan dia belajar pakai pelet. Perasaan dari dulu game aja terus diurusin. Dikira hape bisa diajak nikah kali.”
Yah, kalau ngobrol sama ibunya, nyablaknya Abi nggak akan mengejutkan.
Tetap saja, ucapan tadi mengada-ada. Namun, melihat keterkejutan Rico yang kemudian dia sembunyikan dengan anggukan sok paham memberi kepuasan tersendiri untukku. Selama pacaran, Rico memang beberapa kali bertemu ibuku, tapi aku hanya pernah bertemu dengan neneknya. Jadi aku nggak tahu apa aku termasuk calon mantu yang disukai orangtuanya atau tidak. Dulu aku mengira orangtuanya sudah nggak ada, tapi kalau kata neneknya, orangtua Rico tinggalnya jauh dan masih hidup. Sayangnya Rico nggak pernah membahas apa pun soal itu.
Jangankan berharap mau lanjut ke jenjang serius, hal dasar seperti keluarganya saja aku nggak tahu. Lebih tepatnya, dia mungkin nggak mau aku tahu.
But, hey. Who cares anyway? Sudah berlalu juga kok. Aku harus mengingatkan diriku untuk mempertahankan kebodoamatan ini.
“Vonna memang gitu sih, unik.” Kurasakan Rico kembali menatapku.
“Can’t agree anymore.” Abi terbahak. “Untung aja Nyokap gue sama dia sebelas-dua belas.”
Aku nggak tahu apa persisnya, tapi dari ucapan Abi sebelumnya, mungkin dia mau berkomentar tentang jarak kami putus dan aku dapat pacar baru, malah sudah sampai bawa-bawa orangtua. Apa pun itu, dia nggak menyuarakannya, cuma diam dan manggut-manggut di tempat.
Beberapa saat kemudian pembicaraan sudah berubah ke topik lain, mulai dari pekerjaan Rico di sini dan Abi menjelaskan gedung ini seakan-akan dia kontraktornya. Dikarenakan kantor kami sama-sama terlibat dalam proyek, hal itu juga jadi bahasan. Dari empat orang dalam sesi makan bareng ini, akulah yang paling pasif. Sarah selalu tertawa—gayanya manis, harus kuakui— sementara aku memilih untuk diam, menghabiskan makanan dan sesekali menyahut kalau dibutuhkan, itu pun untuk merespons Abi.
Sejujurnya, sikap temanku ini menakjubkan. Ini sama sekali di luar rencanaku. Dulu Abi anak teater atau semacamnya kali, ya? Atau mungkin cita-cita masa kecilnya jadi aktor tapi nggak kesampaian karena sibuk main game dan lebih sering ngomentarin tulisan copy writer lain.
“Udah, kan, Von? Balik yuk,” kata Abi akhirnya. Dia menengok arloji. “Bentar lagi masuk. Erlan bilang mau ngumpul tadi.”
Terlepas benar atau nggaknya, aku menyambut ide untuk pergi dengan sukacita. Jalan keluar datang tanpa diminta. “Ayo.”
“Rico, San, kami duluan.” Abi pamit. Sengaja aku menggandengnya. I don’t know, just kinda like it. Apalagi melihat Rico. Dia pikir hanya dia doang yang bisa menggandeng dan digandeng orang lain? Aku juga bisa.
“Duluan, ya,” aku menimpali, sebisa mungkin mengulas senyum manis.
“Thank you for having us,” balas Rico. Haha. Us, katanya. So they really are a couple, huh. “Kapan-kapan lunch bareng lagi bisa lah, ya?”
You wish! Mending aku makan di balik gerobak nasi goreng Bang Saleh saja daripada bareng dia. Nutrisi di makananku bisa-bisa terbuang percuma karena pikiranku nggak baik.
Aku benar, kan? Segala sesuatu dimulai dari pikiran. Dan Rico dipastikan nggak bagus untuk pikiranku.
“Segedung ini, pasti sering ketemu. Lo sama Vonna juga kan ada kerjaan bareng.” Abi terkekeh dan tersenyum padaku. Sudah pasti mau mengejek sih. “Cabut dulu, ya.”
Aku dan Abi pergi lebih dulu, masih bergandengan sampai kami ada di depan lift. Bohong kalau aku bilang nggak sadar sama beberapa perhatian yang tertuju ke arah kami sewaktu pergi dari kantin. Ini pertama kalinya aku dan Abi sebegininya. Kalau makan berdua sih nggak akan cukup dihitung jari.
“Von,” tegur Abi. “Udah.”
Aku menghela napas pasrah kemudian melepas gandengan kami. Lupakan Abi yang senyum-senyum dan membanggakanku di meja tadi, karena kali ini aku bersama Abi yang kukenal dari dulu. Kerutan di dahinya seakan pertanda level protesnya.
“Lo sih ninggalin gue sih tadi,” omelku.
“Gue nggak bawa otak lo, for your information,” sindirnya.
Mengalah, aku pun pasrah. “Nanti gue cerita deh. Tapi jangan bilang-bilang Rico, oke?”
Abi mencebik sambil geleng-geleng. “Lo kalau udah sama mantan lo itu jadi b**o, ya?”
Aku tidak sempat menjawab karena lift lebih dulu berdenting dan pintu terbuka. Dan sekalipun ingin menyanggah, sebenarnya Abi benar.
Semua yang berkaitan dengan Rico mendegradasi kemampuan otakku.
*
Hari ini otakku sepertinya dicobai habis-habisan.
Sebelum menjalankan tugas bersama pihak luar, Mas Erlan lebih dulu mengarahkan kami juga hal-hal yang ingin dia kerjakan. Katanya sih, supaya kita nggak asal manut aja begitu bekerja dengan orang lain. Oleh sebab itu setelah rapat, kami mengerjakan desain lebih dulu dan menyesuaikan hasil atas permintaan klien.
“Lebih enak diskusi setelah udah ada yang bisa didiskusiin.”
Masuk akal juga. Apalagi kantorku yang memegang urusan desain. Karena masuk di tim promoting, tugasku lebih seperti menyiapkan contoh-contoh bahan promosi ke depannya.
Di saat-saat seperti inilah jam kerja fleksibel itu punya sisi nggak enak. Karena hal itu nggak hanya berlaku pada jam ngantor, melainkan jam pulang. Nyatanya pekerjaanku baru selesai pukul tujuh—tolong dicatat bukan selesai full, aku baru selesai membuat desain kasar dua karakter untuk maskot. Syukurnya, desainku langsung disetujui Mas Erlan untuk diperlihatkan pada Rico lewat email. Ogah juga ketemu langsung. Nggak mendesak ini.
Masalah pekerjaan hari ini selesai lebih cepat ketimbang perkiraanku. Mungkin karena timeline dan pembagian kerja belum sepenuhnya fix. Sialnya, aku nggak bisa pulang langsung. Karena kejadian di kantin tadi, Abi bilang aku harus cerita semuanya dan membayarnya dengan carbonara buatanku. Modus doang pasti. Dia mau ke apartemenku buat makan. Karena dia masih sibuk dengan urusannya, dia memintaku menunggu dan memberikan white Toblerone yang dia simpan di mejanya sebagai camilanku.
Siapa juga yang mau ngemilin cokelat sambil menunggu di lobby? Tapi, tentu saja, cokelatnya tetap kuterima, hitung-hitung bisa dijadikan jadi pemanis untuk dimakan di mobil atau di apartemen nanti.
Jadi sambil menunggu Abi, aku diam di lobby dan berkutat dengan tabletku, iseng mencari-cari referensi poster di Pinterest, sekaligus mengumpulkan colour palette yang menurutku lucu-lucu. Pinterest memang bukan sumber gambar untuk diolah karena tiap gambar punya hak cipta sekalipun bisa diakses oleh publik, tapi koleksi-koleksi di dalamnya lumayan untuk dijadikan inspirasi. Sengaja kusimpan beberapa sebagai opsi, karena percayalah, permintaan klien itu bisa lebih ajaib dari sulap mana pun, dan bisa lebih banyak dari slot yang diberikan jin dalam botol.
Aku masih menggeser-geser layar ketika ada suara terdengar. “Lho, Von, belum pulang?”
Aku menoleh, dan lagi-lagi menyesal sekaligus… nggak, bukan kaget. Hannya agak heran. Sekarang kan sudah pukul tujuh lewat. CreaDivi, kantorku, merupakan penghuni malam sejati di gedung ini, dan lain biasanya sudah pada pulang. Harusnya Rico juga begitu, bukannya muncul di sini dengan jaket kulit, ransel, dan helm full-face hitam berada di tangannya.
Itu helm kesayangan yang biasa dia pakai kalau naik motor. Ternyata masih mulus sampai sekarang.
“Lembur?” tanya Rico lagi.
Sulit untuk menahan diri nggak bereaksi berlebihan, tapi aku berhasil membalas dengan gelengan. “Nggak sih.”
Rico hanya bergumam, sama sekali nggak mendekat. Lagi pula ngapain juga di nyamperin aku? As if aku bersedia meluangkan waktu dan ngobrol-ngobrol cantik dengannya.
“Nggak bareng Sarah?” tanyaku cuek tanpa mengalihkan perhatian.
“Dia pulang duluan,” balas Rico. “Tadi aku masih ngurusin dokumen-dokumen buat pindah juga. Kasihan kalau dia kemalaman nunggu.”
Aku hanya ber-oh ria. Nggak peduli juga sebenarnya, hanya cari topik basa-basi. Aku memang nggak suka kehadirannya, tapi ketimbang memusuhi terang-terangan, ada cara lain untuk membalas. Kill your enemy with smiles.
“Kamu gimana?” Rico balik bertanya. “Kok sendiri doang?”
“Nungguin Abi,” sahutku enteng. “Dia masih ada urusan.”
Sebenarnya bukan karena dia janji mengantarku pulang, karena hari ini aku pun bawa mobil. Tapi kami pulang bareng karena aku harus menjelaskan tindakanku tadi siang. Dan aku rasa sebaiknya aku bilang pada Abi as soon as possible. Kalau sudah begini, aku nggak bisa menarik ucapanku. Paling tidak kami bisa berdiskusi soal Rico.
“Anyway, aku udah kirim content planning ke email kamu,” katanya. “Siapa tahu mau lihat duluan biar besok bisa langsung diskusi bareng.”
Aku belum memeriksa email sih, jadi aku mengangguk saja. “Sip. Thank you. Nanti aku cek.”
Kemudian hening. Aku berusaha mengabaikan kehadirannya sementara di luar hujan terdengar. Sebenarnya sudah dari tadi sih, tapi kelihatannya sudah makin deras. Karena lobby berada dekat pintu masuk, dinginnya masuk sampai ke sini. Kucari remote AC di meja pojok untuk menaikkan suhunya.
“Vonna.”
Aku menoleh. “Kenapa?”
Kendati menjawab, Rico justru memandangiku lebih dulu, berjalan mendekat dan berdiri di hadapanku. Aku mengernyit karena dia hanya diam, seakan-akan matanya baru saja jadi scanner yang memindaiku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Kenapa? Baru nyadar kalau aku masih cantik sekalipun sudah putus dengannya?
Oke, oke. Isi kepalaku menggelikan sekarang.
“Mending kamu minta jaket ke pacarmu.” kata Rico akhirnya. “Bakal dingin banget di luar. Badan kamu nanti merah-merah lagi. Sekarang masih hari Senin, besok masih ngantor, kan?”
“Ma-masih.” Padahal suhu ruangan sudah dinaikkan, kok rasanya kepalaku membeku, ya?
“Ya sudah. See you tomorrow then.” Dengan mudahnya dia pamit, meninggalkanku yang masih diam di tempat, mendadak merasa bodoh hanya karena fakta bahwa dia masih ingat kalau aku alergi dingin.
Dia mendatangiku nggak hanya untuk bilang itu, kan? Kurang kerjaan banget! []