Menurut Google, cara terampuh mengatasi rasa malu adalah menerima fakta bahwa semuanya sudah terjadi. Katanya sih, dengan begitu lebih mudah.
Aku rasa mesin pencari satu ini butuh revisi. Yang begini mana menjawab permasalahan. Dan seandainya aku melakukan saran itu, mungkin suatu hari aku bia saja melupakannya. Namun, bagaimana dengan sisi seberang? Aku nggak yakin Rico bakal lupa, dan kebodohanku itu bisa jadi alasan untuk menjatuhkanku ke depannya. Percuma saja kalau aku lupa sementara ujung-ujungnya diingatkan juga.
Semuanya terasa salah, dan alasan ‘nggak sengaja’ bukan opsi terbaik—sekalipun, yah, aku hanya membalas chat Rico begitu sebelum memutuskan untuk offline dan nggak menyentuh f*******: sama sekali hingga hari ini. Sempat terpikir untuk tutup akun juga, tapi yang begitu malah buat makin curiga, kan?
“Ngaku aja sih. Bilang belum move on. Who knows dia masih suka sama lo? Sebrengseknya dia, sebelas tahun bukan waktu sebentar, Von. Kalau dari awal pacaran kalian bikin anak, udah masuk SMP itu.”
Ide Abi lebih sampah lagi dari hasil pencarian Google. Masa iya aku harus mengaku stalking? Absolutely big no!
Siapa yang mengira tombol acungan jempol itu bisa membuat hidup berubah? Sewaktu masih work from home nggak begitu berasa sih, tapi hari ini mau masuk ke lobby saja aku seperti jadi ninja karbitan. Karena kalau sudah begini, bertatap muka dengan Rico sama seperti melompat ke jurang. Mau taruh di mana muka ini, duh!
“Kok lo masih di sini, Von?”
Aku menoleh dan menemukan Mas Erlan berdiri di pintu. “Bentar lagi rapat di bawah.”
“Bentar lagi, Mas. Gue mau ngirim ini dulu,” jawabku sambil menunjuk monitor. “Masih 15 menit lagi, kan?”
“Meeting pertama, heh. Jangan telat.”
Aku hanya memanggut-manggut sementara Mas Erlan melangkah pergi. Secara teknis sih, kick off meeting itu jadi kesan pertama juga dengan klien. Biasanya Mas Erlan bilang ‘meeting pencitraan’ dan memberi kesan baik merupakan sebuah kewajiban demi kelancaran project. Kali ini proyek BUMN lagi, dan lebih besar dari sebelumnya karena rencananya mereka membuat modul interaktif dalam bentuk web game dan audio visual. Aku belum terlalu tahu detailnya, tapi aku cukup tahu itu berarti ada sesuatu yang harus didesain.
Jangan-jangan kantor Rico terlibat juga? Aku harap tidak. Masih banyak perusahaan pengembang game selain di atas.
Selesai mengirim hasil pekerjaan, kuistirahatkan monitor dan beranjak, menggunakan tangga untuk turun. Lift masih ada di atas, dan setidaknya aku nggak pakai heels hari ini. Beruntung Converse ini masih muat.
Baru saja berniat turun, ada suara yang memanggil namaku.
“Oh, Vonna.”
Aku mendongak ke arah tangga, menemukan Rico di sana. Mendadak aku terdorong untuk langsung turun saja. Melihatnya saja bikin malu sendiri. And heck, senyumnya itu maksudnya untuk apa?
“Kakimu udah baikan?”
“Udah. Makasih udah bantuin waktu itu,” balasku cepat. Nggak mau berlama-lama, aku mengangkat tangan untuk pamit dan segera menuruni tangga. Di saat yang sama Rico malah mengikuti di belakangku. Padahal lantai ini dan dua lantai di bawah itu wilayah kantorku. Dia pikir ini tempat umum bisa dijelajahi sesuka hati?
Yah, terserah dia saja deh. Paling nanti tinggal bilang aja ke satpam.
Kupercepat langkah untuk menuruni tangga, tapi sebelum menuruni anak tangga terakhir, sepatuku seperti licin sekali. Tubuhku miring dan sesaat kukira aku akan mendaratkan b****g di lantai jika saja tidak ada yang menahanku di belakang.
“Hati-hati, Von. Kasihan kakimu kalau patah lagi.”
“Kamu mau ngapain ke sini?” tanyaku sambil buru-buru menarik diri. Tolong dong, dunia, jangan buat aku makin malu. Harga diri belum ada layanan refill.
Rico memandangiku bingung. “Disuruh ke sini, anak-anak yang lain udah duluan. Ruang meeting CreaDivi di lantai ini, kan?”
Iya sih, tapi memangnya kenapa?
Wait, maksudnya dia diminta datang ke …
“Buat proyek web game itu?” tanyaku lagi. Dalam hati aku berdoa aku salah, sayangnya yang ada Rico mengangguk, matanya melebar sesaat sebelum senyum—yang sialnya masih manis itu—terukir.
“Kamu juga, Von? Kita satu proyek dong?” Dia tertawa. “Dari dulu kita ketemuan selalu di luar urusan kantor. Sekarang kesampaian juga kerja bareng.”
Astaga! Bekerjasama dengan mantan bukan sesuatu yang membahagiakan. Kenapa dia kelihatan bahagia begini sih?
“Hehe, iya juga.” Aku tertawa kikuk. “Ya udah yuk. Nanti telat.”
Tanpa menunggu, aku mengambil langkah dan pergi lebih dulu menuju ruang rapat, sekalipun daripada masuk ke sini, aku lebih ingin keluar dari jendela dan melupakan fakta kalau menghindari Rico semakin mustahil.
*
Melarikan diri dari masalah memang tidak akan membantu, tapi setidaknya curhat bisa meringankan beban hati. Walaupun aku yakin Abi pasti bakal menertawaiku setelah aku cerita semua—dia nggak ikut rapat karena keluar hari ini—menyimpan semua ini sendirian bisa membuatku gila.
Berlebihan, ya? Well, it’s actually not. Lagian, coba beritahu aku cara supaya tetap waras kalau nyatanya aku dan Rico ditempatkan untuk tugas yang sama. Rico memegang bagian promosi dengan statusnya sebagai social media manager, dan aku… yah, mengikuti arahannya.
“Mohon kerjasamanya, ya, Von. Karena udah saling kenal, I’m sure this gonna be easy.”
Easy my ass, you bastard! Bisa-bisanya dia bilang begitu sambil tersenyum seusai rapat dibubarkan. Rapatnya memang sudah selesai, tapi itu berarti aku sudah harus mulai berinteraksi dan masuk mode profesional, padahal yang ingin kulakukan adalah berada jauh-jauh dari pria itu.
“Vonna!”
Aku menoleh karena dipanggil, mendapati Abi berjalan ke meja yang kutempati. Dia hanya mengenakan kaus putih Hard Rock Cafe dan jaket tersampir di pundak. Begitu sampai, dia malah meletakkan jaketnya di atas kepalaku.
“Apa sih, Bi!” protesku. Dia malah sibuk mengeluarkan ponsel dan kunci motor di meja.
“Baru banget nyampe nih,” katanya. Dia menoleh padaku dan Tupperware di depanku, kemudian tersenyum. “Aduh, Mami. Makasih banyak. Beneran dibawain ternyata. Carbonara, kan?”
Aku berdecak tapi mengangguk. Abi ini memang penolong paling pamrih. Karena mengantar dan menemaniku ke dokter minggu lalu, dia minta dibayar dengan carbonara extra cheese.
“Bentar deh, ya. Gue mau ke toilet dulu,” kata Abi. Kurasa itu menjelaskan kenapa dia buru-buru.
“Buru. Habis ini gue mau cerita.”
“Soal mantan lagi nih?”
Aku mau membalas, tapi Abi sudah beranjak lebih dulu setelah bilang, “Pesanin gue jus dong! Nanti gue ganti duitnya!”
Mau nggak mau aku berdiri, berjalan kedai jus yang tak jauh dari mejaku sekaligus memesan makan siangku. Pesananku yang datang lebih dulu. Namun semakin lama menunggu, Abi belum juga kembali.
Dia bilang mau ke kamar mandi, tapi sudah 15 menit lebih kok belum balik-balik? Dia nggak disuruh sikat WC di sana, kan?
Malas menunggu, aku memilih makan lebih dulu. Aku ke sini untuk mengisi perut, bukannya menunggu orang yang sepertinya sibuk mempraktikan jurus ninja di saat-saat begini.
Waktu makanku awalnya tenang-tenang saja, tapi belum juga habis, ada suara mengganggu terdengar.
“Vonna, sendirian nih di kantin?”
Suaranya nggak asing. Dari tadi di ruang rapat suara ini terus yang …
Gosh, please don’t! Ini Abi nggak mau datang apa? Masa aku ditinggal sendiri begini!
Aku mendongak, mendapati Rico sudah ada di dekat mejaku. Berbeda dengan saat bertemu sewaktu meeting, kali ini dia mengenakan kacamata, lengan kemeja sudah digulung sampai ke siku, dan rambut slicked back-nya agak berantakan. Kelihatannya habis mengerjakan sesuatu yang berantakan, tapi ganteng dan manisnya nggak berkurang.
Okay, Von. Stop those kudos. Percuma manis kalau aslinya minus.
“Kosong, kan?” tanya Rico lagi. Ada 3 kursi kosong di mejaku, dan seharusnya aku nggak sendirian di sini.
Buat kamu nggak ada tempat. Itu yang tadinya ingin kuucapkan, tapi aku mengangguk. Rico tersenyum, menarik kursi di hadapanku kemudian duduk. Aku balik tersenyum seikhlasnya—cuma nol koma sekian detik kalau mau dihitung—sebelum kembali memasang raut datar.
“Seafood? Masih kayak biasa, ya?” komentarnya. Aku hanya mengiyakan singkat, menahan diri untuk nggak misuh-misuh.
Agak takjub juga dia masih ingat sih. Kalau kencan, aku lebih suka memesan ikan, udang, pokoknya makanan laut, sementara Rico biasanya memesan daging. Dia nggak begitu suka sayur, jadi aku bakal bawel dan menyuruhnya memakan sayur yang kupesan, dan dia akan menghabiskan udang yang nggak bisa kumakan semuanya. Enak sih, tapi aku agak-agak sensitif sama udang. Kadang kalau alergiku kambuh karena makan kebanyakan, Rico sibuk mencari air kelapa.
“Kamu tuh, ya, Hon. Kenapa sih nggak bilang aja biar nggak usah pakai udang?” Dia suka protes begitu, kemudian aku akan membalas dengan alasan yang sama: Memangnya aku siapa sampai bisa buat special request di restoran umum?
“Kan ada kamu juga yang bakal bantuin aku makan udang.”
Spontan aku melihat piringku. Ada beberapa potong udang. Kalau saja kami masih pacaran sekarang, mungkin ….
Rico kelihatannya mau bicara lagi, tapi suara lain memanggil namanya, dan aku ikut-ikut berbalik. Seorang wanita berjalan mendekat dengan blazer hitam dan dress garis-garis hitam putih. Senyumnya begitu lebar, sampai melambaikan tangan.
“Lagi duduk sama teman kamu?” sapanya kemudian beralih menatapku. “Aku ikut duduk di sini boleh nggak?”
Meja yang aku duduki ini punya magnet untuk menarik orang-orang yang nggak diinginkan? Tapi, lagi-lagi, aku hanya bisa memberi respons default: mengangguk dan tersenyum. Anehnya, wanita ini tidak asing. Bukan berarti kami pernah ketemu sih, hanya saja aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat.
Wanita itu tanpa ba-bi-bu langsung berterima kasih dan duduk di samping Rico. “Kenalin, Von, ini Sarah. Konsultan dari tempatku kerja dulu, pindah bareng aku ke sini. Beda divisi sih.”
Sarah, katanya? Maksudnya yang… di foto f*******: itu?
“Kenalin, Sar, ini Vonna.” Rico kini memperkenalkanku. “Temanku. Kami satu almamater dari SMP.”
Teman, ya? Haha. Nggak mau bilang kalau aku mantan kamu yang akhirnya tahu betapa payahnya seorang Enrico Chandrakeswari sebagai pria?
Semua protes itu kubungkam. Aku menunduk sopan. “Hai, Sarah.”
“Aku nggak tahu Rico udah ada kenal orang di sini,” celetuk Sarah. Pandangannya lantas terarah pada Rico. “Kamu banyak banget kenalannya, Ric. Di mana-mana kayaknya ada.”
“Nggak juga sih, kebetulan aja di sini memang ada Vonna.,” balas Rico. Rasanya aku mau memutar mata sekaligus jungkir balik. Kebetulan, katanya. Alasan klasik banget.
Aku memilih untuk cepat-cepat menghabiskan makananku saja. Meja yang sebelumnya kududuki sekarang berubah menjadi aku yang salah tempat. Sarah justru lebih banyak mengobrol dengan Rico, senyumnya selalu on—nggak pegal apa, ya, narik bibir begitu terus?—bahkan beberapa kali menyikut atau menepuk lengan Rico.
Setelah diperhatikan, aku baru sadar. Sarah sengaja ke sini biar bisa bareng Rico. Dan lagi Rico welcome banget, sama sekali nggak protes dipegang-pegang begitu. Padahal biasanya dia resek kalau dipegang-pegang begitu sama orang lain. Dulu waktu di kampus—kami masuk di universitas yang sama, Rico jurusan manajemen sementara aku masuk desain produk—dia sempat membuat temanku waktu ospek menangis karena modus sok megang-megang lengannya.
Apa Rico nggak masalah sekarang karena dia dan Sarah punya hubungan khusus, ya? Yah, di foto saja dekat begitu. Kurasa dia benar-benar sudah dapat sasaran lain ternyata. Dan kalau mereka mau memberikanku tontonan begini, sumpah, aku nggak butuh!
Sebisa mungkin aku nggak memedulikan mereka. Makananku sudah habis, dan begitu aku mau menyeruput jus alpukatku, Rico menatapku. Mata kami berserobok beberapa saat, dan buru-buru aku melempar pandangan ke arah lain. Tatapannya itu menghisap fokusku.
“Anyway, Von, how’s the double date?”
Aku nggak berkedip beberapa saat. Bisa-bisa dia bertanya semudah itu. Bahkan Sarah yang ada di sampingnya saja kaget. Dagunya meninggi, dan sesaat ide untuk menusuk dagu itu dengan garpu bekas makanku terasa begitu menggoda.
Kamu salah tempat kalau mau sombong, Rico. Salah besar.
“Jadi?” Dia melanjutkan. “Atau mungkin kamu nggak bisa karena—”
“Bisa kok,” kataku cepat. “Aku tanyain pacarku.”
Rico kaget, tapi percayalah, aku sendiri bahkan kaget dengan ucapanku sendiri, karena pria di depanku ini tiba-tiba menautkan alisnya, kelihatan nggak suka. “Oh, ya? Bagus dong. Bisa kapan nih?”
Mampus! Mampus! Aku… aku nggak punya pacar. Masa aku harus bilang pacaran sama ayam jago?
“Von! Sori, tadi gue tiba-tiba dipanggil Erlan.”
Begitu melihat Abi berjalan mendekat sambil membawa nampan makanan, aku langsung menunjuknya dan menoleh pada Rico.
“Ini pacarku.” []