Segala sesuatu punya penggantinya. Itu prinsip yang kuterapkan dalam hidup, termasuk ketika hubunganku dan Rico berakhir.
Jadi, sebenarnya wajar-wajar saja kalau dengan berakhirnya hubungan kami, posisi kosong itu sudah kembali terisi. Aku belum dapat orang yang pas sih, dan bukannya mau buru-buru, tapi setelah Rico mengusulkan double-bullshit-date ini, perasaanku sedikit campur aduk, seperti nggak terima dan nggak ikhlas.
Kesal, tapi di sisi lain fakta itu membuatku terusik. Aku yakin ini bukan karena aku masih punya rasa. Kalaupun masih, yang tersisa hanya kebencian dan penyesalan untuk diri sendiri. Rasanya aku kalah sama orang seperti dia. Apa semudah itu posisiku tergantikan?
“Kita mungkin mantan, tapi nggak ada salahnya kan kalau—”
Kalimat Rico berhenti begitu ketukan pintu terdengar. Perhatian kami teralih ke arah yang sama selagi dia lebih dulu merespons, “Siapa?”
Derit kecil terdengar, dan tak lama kepala Abi muncul dari sela pintu. “Maaf. Tadi saya tanya ke waiter, katanya ada Vonna di sini.”
Percayalah, belum pernah sesenang ini aku menyambut kedatangan lawan jenis, apalagi Abi. Segera aku meluruskan punggung, mengangkat tangan untuk mengisyaratkan kehadiranku. “Hai, Bi.”
“God help, Von. Gue nyariin lo malah di sini.” Abi geleng-geleng, perhatiannya teralih pada Rico. “Boleh masuk nggak?”
“Masuk aja, santai.” Rico tersenyum dan berjalan menjauh dari sofa. Begitu Abi masuk, dia mulai menjelaskan, “Tadi Vonna jatuh. Heels-nya patah, kakinya keseleo.”
“Di nikahan orang makanya jangan lomba lari, Von.” Abi mungkin mau melucu, sayangnya ini bukan waktu yang pas. Dia berjalan mendekat, memunguti patahan sepatuku. Sesaat kami sempat bertukar tatap, dan kusadari Abi seakan mencoba menunjuk Rico dengan gerakan matanya.
“Tabrakan sama waiter tadi,” kataku cepat. Aku bukan pembaca pikiran sih, hanya saja dari cara Abi melirikku, kupastikan ada hal aneh yang dia pikirkan tentangku dan keberadaan Rico sekarang, dan semua itu salah besar.
“Mau ke rumah sakit aja?” tawarnya.
Aku langsung menggangguk. “Lo yang antar dan temanin, kan?”
“Nggak mungkin juga gue tinggalin. Atau mau sama orang lain perginya—aw! Nggak usah nyubit sih!”
Aku berdecak sebal, menjauhkan tanganku karena Abi meringis begitu. Jangan sampai dia berpikir untuk menolak mengantarku karena ada Rico di sini. Speaking of the devil, entah mataku salah lihat atau bagaimana, sejak tadi dia diam. Dan karena suara Abi tadi, Rico jadi melempar tatapan ke arah kami dengan cara yang tak bisa kujelaskan.
Well, sebenarnya aku bisa mengartikannya. I’ve seen those eyes before. Aku mengenal sorot mata itu cukup baik untuk mengerti begitulah cara Rico mengekspresikan kekesalan. Yang tidak aku pahami justru kekesalannya itu. Memangnya dia kesal karena apa? Cemburu? Padahal dia sendiri bilang sudah punya penggantiku. Dan cemburu pada Abi? Mereka juga saling tahu kok. Rico beberapa kali bertemu Abi sewaktu menjemputku di kantor dulu.
Atau Rico lupa?
“Nggak mau makan dulu?” tanya Abi. Aku dengar sih, tapi kendati menjawab, sengaja aku menarik tangannya untuk mendekat dan menggenggamnya, sementara sekilas aku curi-curi pandang ke arah Rico. Ternyata matanya mengikuti gerakan tanganku.
I wonder what he means by that kind of act.
“Vonna.” Suara Abi membuatku beralih, mendapati pria itu sudah mengangkat alisnya, sekali lagi geleng-geleng, dan mulutnya mengucapkan, “Benar-benar deh lo,” tanpa kata. Namun dia sama sekali tidak menarik tangannya dari genggamanku.
“Makannya nanti aja deh. Mau pulang aja,” kataku. “Gendong, ya.”
Abi meringis, dan sebenarnya aku juga geli sendiri bertingkah begini. Seumur-umur kalau bisa jalan sendiri, akan kuusahakan bergerak sendiri. Tapi aku yakin Abi bisa mengerti setelah kuceritakan keanehan Rico ini. Sekalipun nggak peduli, diamnya dia masih jadi pusat perhatianku.
Dia kenapa sih?
“I guess I can leave now.” Akhirnya Rico bersuara. Bedanya, begitu aku menoleh, senyum sopan sudah terukir di wajahnya. Sorot matanya mendadak ramah. “Kalian mau langsung pulang?”
“Kayaknya gitu,” balas Abi sambil menunjukku. “Kasihan juga dia. Mending ke dokter aja biar langsung diobatin.”
“Semoga nggak parah.” Rico melirikku, tapi sama sekali nggak mengatakan apa pun padaku, lantas berbalik dan mengangkat tangan. “Nanti gue minta petugas buat tutup lagi ruangannya setelah kalian pergi. Hati-hati di jalan. Vonna mending digendong sih daripada dipapah.”
Dan begitu saja, Rico langsung beranjak, meninggalkanku dan Abi sendirian.
“Lo ngapain sih?” Abi langsung berceloteh, berbalik menghadapku sambil bersedekap. “Udah berduaan sama Rico terus tiba-tiba grepe gue. I’m not into threesome.”
“Mulut lo, ya! Cuma megang tangan doang juga!” Tentu saja aku membela diri. Kalau nggak keseleo, ingin sekali kulayangkan kaki ini untuk Abi dan omongan asalnya itu.
“Terus kenapa lo bisa sama dia?” tanya Abi lagi.
“Dia bantu gue pas jatuh.” Suka nggak suka, yang satu itu harus kuakui. “Lagian lo sih. Kenapa sih tiap lo nggak ada gue sial terus? Kesel banget!”
“Yakin kesel? Momen mantan ketemu begini tuh—”
“Lo kalau mau berimajinasi jangan sama hidup gue dong, Bi,” potongku. Nggak tahan, kulempar tasku, yang sayangnya bukan menyakiti, malah dia tangkap sebegitu gampangnya.
“Iya dah, Nyai. Ampun.” Abi mencangklongkan tasku di pundak mengambil heels-ku dengan tangan kirinya. “Tapi lo baik-baik aja, kan?”
Secara fisik, sudah pasti tidak. Aku kesulitan sekarang. Dan kalau ditanya secara psikis pun, aku nggak yakin kalau aku baik-baik saja. Sebagian diriku masih terusik mengingat Rico dan fakta baru yang dia pamerkan.
“Rico udah punya pacar,” kataku. “I better have one too.”
“Urusin kaki lo dulu. Percuma punya pacar tapi jalan aja susah.” Abi memutar mata malas kemudian merogoh saku dan melempar kunci mobil padaku. “Gue gendong tapi sembuh nanti lo ngutang carbonara seminggu buat gue. No debat.”
Si k*****t!
*
Sakit bukan berarti libur. Itu salah satu pengertian ‘kerja fleksibel’menurut CreaDivi.
Aku bersyukur sih karena cedera di kakiku bukan hal besar, sekalipun tetap membuatku repot dan berdasarkan saran dokter, beberapa heels favoritku harus disingkirkan dari rak, sementara beberapa hari ini aku harus memakai compression warp.
Beruntungnya Mar Erlan nggak mengharuskan aku ke kantor, tapi bukan berarti aku bebas berpangku kaki—it hard with this condition, though—pada pekerjaanku. Nyatanya, aku dapat project baru untuk desain poster promosi salah satu provider swasta.
“Tangan kamu masih bisa digerakin, kan?” Begitu Mas Erlan melayangkan pertanyaan itu, aku tahu libur hanyalah mimpi.
Sebenarnya, aku bukannya keberatan. Hukum ‘nggak gerak, nggak makan’ selalu berlaku. Namun, sudah pasti suasana bekerja di kantor dan dan di rumah beda, dan tingkat kefokusan terpengaruh. Tempat nyaman seringkali membuat kita terlena, dan sekalipun sadar, yang ada diri sendiri justru kehilangan kendali dan melakukan hal yang sebetulnya bisa dilakukan nanti, atau bahkan tidak penting sama sekali.
Buktinya saja, saat ini aku membuka browser dengan dua tab berbeda. Satunya untuk menjelajah Unsplash, dan satunya lagi membuka profil f*******: seorang Enrico Chandrakeswari. Ini satu-satunya akun yang bisa kulihat secara bebas. Linked In juga sih, tapi nggak ada apa-apa di sana.
Pernah merasa tubuh mengkhianati otak? Itu persisnya yang kurasakan sekarang. Aku tahu ini salah dan sama sekali nggak akan menguntungkanku dalam sisi apa pun, tapi semakin melihat profilnya, tanganku terus menggeser mouse untuk menjelajah lebih dalam.
Harusnya aku membuka sahabat biru-hitamku, Photoshop, bukannya pengkhianat biru berlogo satu abjad yang membuatku kecanduan sekaligus kesal di saat bersamaan.
Setahun lalu, semuanya baik-baik saja. Semua akun social media Rico masuk ke blocked list-ku yang bersih. Itu tepatnya yang kulakukan pertama kali setelah kami putus.
Harusnya tetap begitu. Inginnya tetap begitunya. Tadinya tetap begitu.
But look at me know.
Dulu, apa pun socmed-nya, aktivitas Rico nggak banyak. Kalau dulu, paling-paling dia hanya posting foto event kantor, pemandangan kalau kami libur dan jalan bareng—please note, yang dia foto itu alamnya, bukan aku dan dia—dan sisanya hanya hasil tag dari teman-temannya.
Sekarang pun begitu. Aku nggak banyak menemukan postingan dari Rico, tapi ada satu yang kutemukan, unggahannya setahun lalu. Dari tanggalnya sih, kurang lebih beberapa minggu setelah kami putus. Sebulanan ada kali, ya?
Sebenarnya nggak penting juga sih.
Atau, itu yang ingin aku camkan dalam kepala sebelum melihat fotonya lebih jelas. Ternyata foto yang sama diunggah orang lain juga dengan pose yang berbeda. Jika unggahan Rico hanya dua orang yang berdiri duduk bersebelahan dengan baju kantor rapi, foto kedua memampangkan dirinya digandeng wanita lain, menjadikan posisi mereka lebih dekat dan mesra. Wanita itu bahkan tersenyum lebar.
Sarah Putri Atmaja tagged Enrico Chandrakeswari in a photo
Knowing this man was a blessing indeed. — Feeling Blessed
Kenapa caption-nya begini? Blessing? Kok kesannya kayak ….
Berkali-kali kugeser kursor, bolak-balik membaca dan akhirnya membuka akun wanita itu. Akunnya dibuat public, dan aku menemukan foto terbarunya tiga hari lalu. Nggak butuh waktu lama untuk sadar itu foto yang diambil di pernikahan Mira.
Namun bukan itu bagian mengejutkannya. Karena di sana, ada Rico yang lagi-lagi digandeng si penggunggah foto.
Ini apa-apaan sih?
Baru mau membuka kolom komentar, perhatianku teralih pada ponselku. Ada video call masuk dari Abi. Penampilanku sebenarnya kurang oke, hanya kaus putih bergambar Mickey Mouse dan celana piama, rambut dijepit seadanya, dan kacamata kotak. Untuk apa repot-repot rapi sementara menggerakkan kaki juga susah? Lagi pula, ini Abi. Not a problem.
Langsung kugeser tombol hijau di layar, menyandarkan ponsel di monitor sementara Abi dengan kaus putih berlapis kemeja flanel merah kotak-kotak terlihat.
“Putri udah bangun? Rapi banget, ya.” sapanya. Hanya dia saja yang pertama kali menyapa sudah pakai ejekan.
Aku memutar mata malas. “Berisik.”
“Ini di samping gue ada Mas Erlan sama yang lain lho, Von. Nggak mau rapi-rapi dulu?”
“Hah? Serius? Lo ngapain nelepon gue kalau sama—”
“Nggaklah, anjir. Berantakannya lo eksklusif.” Suara cekikikannya terdengar. Sumpah, ya, kalau saja dia di dekatku sekarang, atau kalau saja telepon sekarang bisa mengantarkan benda padat, ingin sekali kututup mulutnya itu.
Kupandangi jam di ujung bawah monitor. Sudah pukul empat lewat. Pantas saja Abi sampai menelepon.
“Kaki lo gimana? Udah mendingan?” tanyanya usai berhenti tertawa.
Meski masih malas, aku bergumam mengiyakan. “Sekarang lebih enakan dipakai jalan.”
“Cepat sembuh deh. Lo ada kerjaan baru nanti. Proyek gede.”
Aku manggut-manggut. Mas Erlan juga sudah bilang sewaktu menyerahkan pekerjaanku sekarang. Katanya ada proposal baru masuk, tapi nggak ada informasi lebih lanjut. Mau project apa pun, aku pasti kena imbas. Kadang bingung mau bersyukur uang dan bonus lancar atau protes karena seringkali tugasnya terlalu banyak. Belum kalau Mas Erlan merasa ini itu nggak sesuai.
“Lo lagi ngapain sekarang, Von?” Abi bertanya lagi. “Nggak stalking mantan, kan?”
Berniat marah, aku jadi diam. Abi ini kerja sambilan jadi orang pintar atau gimana sih?
Aku mengacak poni sedikit dan menggerang. “Bi, kesal banget gue. Rico kayaknya betulan punya pacar deh.”
“You’ve told me that before—eh, bentar. Lo betulan stalking dia?” Pada dasarnya, Abi matanya hanya segaris, tapi dengan nada bicaranya barusan, aku berasa benar-benar dipelototi langsung. Dia geleng-geleng. “Von, Von. Kelakuan begini tapi bilangnya udah move on? Bullshit sekali.”
“Y-ya, kan gue kepo, Bi. Pas banget ini nemu dia dekat sama orang nggak lama setelah putus.” Hanya mengatakannya saja membuatku panas. Bisa-bisanya Rico begitu. “Kayaknya dia pacarnya deh.”
“Terus lo cemburu?”
“Nggak gitu, Bi. Duh! Jauh-jauhin deh itu,” decakku kesal. Kumajukan wajahku agar bisa lebih dekat dengan layar. “Nih, ya. Lo tahu kan gue sama Rico putusnya gimana? Masa iya habis dia ngomong begitu, nggak lama dia denkat sama orang, terus dia—eh, aduh, duh! Bentar, jatuh.”
Terlalu semangat bicara, ponselku sampai miring dan tertelungkup. Aku baru mau membenarkan posisinya ketika menemukan boks kecil di monitor dengan tanda merah penggoda. Masalahnya, nama yang terpampang sama sekali nggak menggoda.
Enrico Chandrakeswari
Km udh unblock akunku ya?
Thank you :)
Lg nyari apa sampe ngelike fotoku tahun lalu?
Sesaat aku mengernyit, lantas menutup chat box Rico untuk kembali ke laman sebelumnya. Dan begitu kembali, barulah kulihat ada tombol biru di sana dengan tulisan ‘You and 113 others’ di sampingnya.
“Von, kenapa?”
“Bi, cara ngeles nggak sengaja nge-like foto orang gimana ya—”
Abi malah tertawa, jadi kumatikan video call tersebut. Kepalaku pecah! []