Kata orang, SMA itu masa paling berkesan dan akan jadi waktu yang paling kita rindukan begitu beranjak dewasa. Guru sosiologiku dulu sampai bilang, “Kalian di sini cuma tiga tahun, dan Bapak harap nggak lebih. Manfaatin waktu sebaik-baiknya. Cari teman dan pacar sebanyak-banyaknya. Buat momen berharga kalian di sini.”
Kesannya kurang masuk akal, ya? Aku nggak akan protes di bagian cari banyak teman, tapi untuk pacar? Agaknya meragukan. Hanya saja kalau dipikir-pikir lagi sekarang, kurasa guruku itu ada benarnya.
Karena banyak pacar berarti banyak pengalaman. Banyak pembanding. Dan kemungkinan besar aku nggak perlu stuck sama satu orang.
Anehnya, orang-orang justru senang sama hubungan begitu—stuck bertahun-tahun dengan orang yang sama sampai sah di mata publik dan agama.
“Awet banget lo sama Rico, Von. Bentar lagi jadi deh tuh.” Begitu kata Riana, teman semejaku dulu sewaktu kami reunian, tepat 3 bulan sebelum aku dan Rico putus. “Nggak semua orang bisa pacaran selama kalian, atau ketemu soulmate-nya sejak SMA. You’re so lucky, girl!”
Kalau semua orang pacaran hampir 12 tahun kemudian ditinggal dengan kalimat kurang ajar dan kepercayaan diri lebih tinggi dari Burj Khalifa, bisa-bisa rumah sakit jiwa penuh. Yah, untungnya aku belum didaftarkan sebagai pasien. Harusnya malah si b******k itu yang ke sana.
Pernah menonton atau baca cerita berisi pria idaman, tapi ternyata dia juga tokoh antagonisnya? Kalau hidup ini cerita, aku yakin Rico antagonisnya. Karena nggak ada orang yang lebih jahat dari dia, setelah memberi kesan manis waktu pertama kali menghampiriku dengan kemeja batik khas tamatan kelasnya untuk menyatakan perasaan sehabis acara penamatan, dan sebelas tahun kemudian menganggap hanya dia pria yang mau denganku. Seakan-akan jadi pacarku lebih seperti menanggung utang.
Memangnya dia siapa? I can kiss, marry, and screw whoever I want. Sejak kapan hanya dia satu-satunya opsi dalam hidupku?
“Kali-kali lo lupa, ini monitornya masih baru. Jangan ditonjok kayak laptop elo, Von. Masih ada cicilan lain buat dibayar.”
Aku menoleh, mendapati Abimanyu, copy supervisor dari kantorku, sudah mendorong kursinya ke dekat meja kerjaku. Dia nongkrong di meja kosong samping kubikelku yang sejak bulan lalu seperti jadi tempatnya. Padahal copy writer punya ruangan sendiri. Kepalanya meneleng dengan bibir merapat—aku percaya itu sebagai tanda ingin direspons.
“Apa?” Aku membalas galak. “Nggak usah gangguin gue deh. Sana lo!”
“Lo ngerjain apa sih sampai muka sepet begitu?” Tatapannya beralih dariku ke monitor, melihat desainku untuk iklan EM, sebuah wedding organizer baru, menyewa jasa kami sebagai advertising agency. Aku nggak ada masalah dengan WO sih, tapi berurusan dengan hal-hal berbau pernikahan sering memancing perasaan-perasaan tak diundang.
Dulu, aku selalu penasaran bagaimana rasanya menyewa jasa tersebut, membahas ini-itu, pusing menjelang hari-hari pernikahan, dan merasakan debaran gila saat berjalan menuju altar.
Well, itu dulu. Sekarang, kalau saja bukan karena pekerjaan, aku nggak mau berurusan dengan WO mana pun.
“Mau nikah, Von?” tanya Abi tiba-tiba. “Kan ada CP-nya. Hubungin aja, jangan kayak orang susah.”
“Maksud lo gue nikah sama siapa? Ayam jago?” Aku mendengus sebal.
Abi justru menyengir. “Minggu lalu kan diajakin Abang Ganteng dari divisi manajemen buat dating. Siapa tahu udah siap tahap serius, kan?”
Tanpa perlu bertanya, sudah jelas pertanyaan Abi ini hanya salah satu dari sekian caranya mengejekku. Dia salah satu orang yang tahu aku dan Rico putus, karena sehari setelah kejadian itu, aku sama sekali nggak betah kerja. Aku ingin diam di apartemen, membungkus diri dengan selimut, membiarkan diri menangis dan mengabsen sumpah serapah yang kuketahui selama 26 tahun hidup di muka bumi ini. Abi waktu itu minta izin supaya aku bisa pulang lebih cepat, mengantar dan membuatku menceritakan semuanya setelah dia bertanya, “Lo mau ngomong atau gue kerasin aja suara radionya?”
He’s a nice guy, I can tell. Sayangnya lebih banyak hal menjengkelkan dari tingkahnya, kayak sekarang.
Aku memutar mata malas. “Cepat amat main nikah aja. Itu nikah apa delivery service?”
Dan sebenarnya, aku dan Radit, si ‘Abang Ganteng’ yang Abi maksud sebelumnya, sama sekali nggak punya hubungan apa-apa. Kami sempat ke bioskop minggu lalu, tapi semuanya berakhir di situ. Penampilan Radit harus kuakui memang di atas rata-rata, sayangnya mulut manisnya itu sama sekali nggak cocok denganku.
“Siapa tahu lo mau nyusul Mira nikah,” tukas Abi, menyebut copy writer andalannya yang baru-baru ini mengajukan cuti nikah. “Gue sih selalu menerima semua undangan selagi ada makanannya.”
Kudorong kursinya menjauh, merapatkan posisiku ke meja dan kembali berkutat dengan keyboard dan monitor. “Mira nikah juga karena dipaksa orangtuanya, kan?”
“Itu gosip darimana lagi sih, Von?” Abi balik bertanya.
Aku mengendikkan bahu. “Banyak yang bilang begitu. Kan anak-anak lo tim rutin gosip.”
“Gue baru lihat pacarnya beberapa kali sih. Tapi masa iya dipaksa nikah hari gini?”
“Lagian kelihatan kali, tiap pacarnya jemput dia kelihatan nggak nyaman begitu.”
“Really?”
Aku memanggut singkat, menyimpan hasil pekerjaanku di Photoshop lebih dulu sebelum memutar kursi untuk menghadap Abi. “Mereka nggak ada pegangan tangan atau saling senyum. Cowoknya juga jutek banget. Mereka nikah juga paling karena ada masalah lain. Mungkin a la Siti Nurbaya, tekdung, atau… yah, apalah. Masalah di dunia kan banyak. Pilih deh tuh salah satu.”
“Von, otak lo tuh pakai bahan bakar apa sih? Pikirannya jauh banget.” Abi geleng-geleng. “Overthinking begitu bisa bikin susah hidup. Sekali-kali coba nikmatin aja.”
Aku mendengus, buru-buru menyanggah, “Ini namanya forecasting, Bi. Jaga-jaga kalau hal buruk terjadi. Better safe than sorry, kan? Nggak akan guna berharap hal baik-baik terus, nanti malah sakit hati kalau nggak jadi kenyataan.”
“Yang kayak lo mah malah kebanyakan sorry-nya nanti.” Dia menjitak kepalaku. Kendati minta maaf karena aku meringis, dengan mudahnya Abi justru berdiri, mendorong kursinya kembali ke mejanya. “Keluar aja yuk. Gue pengin bakso. Lo udah beres, kan?”
Aku menoleh ke jendela. Sejak siang tadi hujan, dan sekarang belum reda, malah makin deras. Dulu, di saat-saat hujan gede begini, biasanya akan ada chat masuk ke ponselku mendekati jam pulang yang isinya: Di sana hujan gak, Hon? Aku otw jemput ya.
Hujan memang menyebalkan, tapi kehadiran Rico selalu membuatku tenang. Di apartemennya, selalu ada mi instan berbagai varian siap masak. He is that guy who got money but prefer junk foods instead. Padahal dia juga lumayan jago masak. Sudah berkali-kali aku mengomel supaya dia memilih makanan lebih sehat, tapi selain menggunakan alasan ‘ngapain ribet-ribet’, dia justru menjebakku lebih mencintai mi dan memamerkan trik untuk membuat mi jadi lebih enak dengan perasan jeruk nipis dan potongan cabai rawit. Ternyata enak.
God help! Ngapain aku pakai ingat-ingat Rico hanya karena hujan?
“Nanti gue antar pulang deh. Lagi bawa mobil,” kata Abi lagi, seakan-akan dia tahu aku tengah mengingat-ingat di lokerku masih ada payung atau tidak. “Tapi janji sama gue jangan sampai lo overthinking terus nuduh abangnya bikin bakso pakai boraks.”
Aku hanya mengiyakan, malas mendengar ucapan hiperbolisnya, berdiri dan ikut keluar kantor. Nggak mungkin aku berpikir separah itu sih, kecuali ada isu-isu yang membuatku harus mempertimbangkan abang bakso mana yang lebih aman. Sejauh ini kantin di bawah baik-baik saja.
Abi pernah bilang aku punya tendensi overthinking—he actually said shinkansen thinker. Tahu soal kereta tercepat di Jepang? Abi bilang cara berpikirku mirip kendaraan itu. Terlalu cepat. Tapi, aku memilih menyebut kebiasaanku ini sebagai pertahanan diri, metode pencegahan cerdas.
Ada pepatah mengatakan: “Orang pintar belajar dari sejarah, dan orang bodoh belajar dari pengalaman.”
Aku sebenarnya bukan orang pintar. I made mistake by loving the wrong person and wasting my 11 years. Sungguh, aku juga nggak berniat untuk jatuh ke lubang yang sama. Dan pelajaran pertama yang harus kulakukan adalah keluar dari kubangan perasaan sialan itu.
Satu tahun sudah berlalu. Satu tahun aku menetap dengan status sendiriku.
It’s not that bad being a single woman, sayangnya kepalaku dengan kurang ajarnya masih terus menggemakan kalimat Rico. Aku nggak akan cocok dengan siapa pun. Nggak ada pria lain mau bisa mengurusku.
“Bi,” panggilku. Si pemilik nama menoleh dan membalas dengan gumaman. “Gue nggak aneh, kan? Cowok pasti ada yang naksir gue kan, ya? Pasti ada yang cocok sama gue selain Rico, kan?”
Abi justru mengangkat alis, sok mengamatiku kemudian berkata, “Coba nanti kita tanya abang baksonya, Von. Siapa tahu dia mau jadi pacar lo.”
“Yang cantik kayak gue dapatnya minimal anak sultan gitu kek.”
“Ngarep banget lo dapatnya sultan. Emang mereka mau?”
“Awas karma,” balasku sebal. “Naksir gue baru tahu rasa!”
Abi malah mengacak rambutku. “Kalau gue naksir lo, masa iya gue pakai pengumuman? Gue diam-diam dong biar surprise nanti.”
Spontan aku meninju lengannya. “Dasar gendheng!” Sementara dia cekikikan dan melangkah lebih dulu.
Yah, lagi pula sudah pasti Abi hanya bercanda. Dan sejujurnya, aku sudah nggak mau lagi percaya dengan kejutan-kejutan.
I don’t need a surprise. I need a goddamn commitment. Karena aku nggak mau menjalani hubungan tanpa tujuan dan membuang-buang waktuku seperti yang kulakukan sebelumnya. []