Motivasi awalku bergabung di advertising agency awalnya karena sepupuku, Angga, bilang jam kerjanya cukup fleksibel, nggak jauh berbeda dengan perusahaan yang bergelut dalam dunia kreatif.
Sebagai salah satu dari sekian banyak manusia yang nggak biasa bangun sebelum matahari terbit, itu pilihan menggiurkan. Cari uang boleh saja, tapi kebahagiaan dan kenyamanan diri harus dipertimbangkan. Percuma uang banyak kalau ujung-ujungnya stres juga.
Oleh karena itu aku masih betah sampai sekarang bekerja di bidang ini. Sekalipun kalau mau jujur, bekerja di dunia kreatif itu sering mengasah kesabaran, apalagi saat berhadapan dengan klien dengan berbagai varian rasa. Dari santai sampai bawel setengah mampus pasti ada. Berhubung tadi malam aku begadang marathon drama Korea sampai pukul 2 subuh, aku nggak perlu kesetanan bangun pagi dan siap-siap ngantor.
Yah, aku memang nggak, tapi kelihatannya hari ini Abi yang kesetanan. Begitu bangun pukul sembilan pagi, ponselku sudah dipenuhi missed call, tapi anehnya dia hanya mengirim w******p berisi: Lo ngantor jamber?
Hanya satu chat saja, nggak lebih. Pertanyaannya juga nggak banget. Tumben-tumbenan Abi sok nanya jam kerjaku. Harus banget kali pakai menelepon sebanyak ini.
Aku balik mengirim pesan, mengabari Abi kalau aku baru bangun dan sedang bersiap-siap. Setelah selesai mandi dan memeriksa ponsel lagi, balasan dari Abi sudah kuterima, dan lagi-lagi dengan pertanyaan random.
Abimanyu Bimantara
Mood lo bagus ga?
If not, I better not tell
Gw baru tau pas td ngantor sih
Davonna Geraldine
Mood gue bakal jelek kalo lo bikin kepo begini
Apaan sih
Penting banget missed call ampe 5 kali?
Kangen lo sama gue? :)
Abimanyu Bimantara
Iya syg kangen banget :*
Puas lo
Davonna Geraldine
Pengin gue banting hp bacanya
Jijique
Abimanyu Bimantara
Lo yg mulai ya
Serius nih
Lo milih petasan apa bom?
Davonna Geraldine
Is that supposed to be a question?
Abimanyu Bimantara
Pusing amat lah anjir
Lo liat sendiri dah
Gw cuman mau blg you better prepare
Yg cantik von
Siapa tau balik lagi hahaha
Davonna Geraldine
Jadi apa? Pak Tarno?
Anw gue tiap hari pasti cantik, tx
Abimanyu Bimantara
Iya aja dah
Tapi serius nih
Lo ga dikabarin samsek?
Davonna Geraldine
Hah? Dikabarin apaan?
Anehnya Abi nggak membalas lagi. Malas menunggu, kuletakkan ponsel ke kasur dan kembali melanjutkan kegiatan dandanku. Sejujurnya aku nggak mau menanggapi pesan Abi berlebihan, tapi begitu dia bilang aku sebaiknya bersiap-siap, aku jadi terpancing untuk mengganti sedikit caraku berdandan ke kantor.
Aku nggak begitu mengerti maksudnya ‘nggak dikabarin’ itu. Mungkin klien baru, ada rapat dadakan, atau kegiatan urgent lainnya. Mas Erlan, bosku, memang master dari banyak hal dadakan. Yah, kurasa ini juga kesempatan bagus mencoba marsala off-the-shoulder jumpsuit yang kubeli tahun lalu, tapi sama sekali belum kupakai hingga sekarang. Biasanya aku mengenakan jins atau rok pensil ke kantor, kebanyakan kupadukan dengan blazer atau cardigan.
Orang pertama yang menyarankanku memakai jumpsuit sebenarnya Rico, sewaktu aku mewarnai rambutku ke salon kemudian lewat di beberapa butik, dan Rico menunjuk jumpsuit merah dan bilang, “Kalau kamu pakai baju itu kayaknya bakal lucu deh, Von.”
“Lucu?”
“I prefer to use ‘sexy’, sih.” Dia tersenyum tengil. “Belum pernah ngelihat kamu pakai baju kayak gitu deh kayaknya. Nggak suka?”
Aku menggeleng. “Bukan nggak suka sih, akunya nggak punya. Adanya overall jeans, biasa kupakai kuliah dulu lho. Lebih enak pakai jins juga kalau ke kantor. Jumpsuit kan ribet kalau mau ke toilet.”
Rico hanya manggut-manggut waktu itu. Hanya saja beberapa minggu kemudian saat ulang tahunku, baju itu jadi hadiah. Aku nggak tahu apa dia pengin banget aku pakai jumpsuit atau memang menurutnya aku benar-benar cocok mengenakan itu, tapi harus kuakui, aku menyukainya. Dia beberapa kali membelikan beragam jumpsuit untukku, dan dua di antaranya serasi dengan kemeja dan jas yang kuberikan sebagai hadiah untuknya.
Back then, jumpsuit is my favorite dating clothes. Seakan-akan model baju satu itu punya keistimewaan sendiri, padahal mau pakai baju apa pun, Rico akan selalu bilang, “You look nice with that, Hon.”
Sekarang itu jadi model baju paling jarang kupakai. Sempat terpikir untuk membuang semua pemberiannya, tapi sayang juga. Barang sama sekali nggak punya status, kan? Aku nggak punya baju bertuliskan nama dia atau semacamnya. Hati boleh patah, tapi otak nggak boleh pecah.
Ugh! Penting banget ini harus pakai mengingat Rico? Lagi pula yang kupakai sekarang hasil kantongku sendiri.
Puas dengan penampilanku yang agak berbeda hari ini, aku langsung ke kantor. Nggak butuh waktu lama dari daerah Setiabudhi ke Rasuna Said—satu keuntunganku karena apartemenku dekat dengan kantor, menjadi sasaran empuk untuk kemalasan. Aku baru sampai di parkiran ketika Abi menelepon lagi.
“Apa?” kataku langsung tanpa basa-basi.
“Udah di mana lo?”
“Parkiran.”
“Tungguin di lobby. Gue turun.” Aku sempat mendengar bunyi grasak-grusuk di ujung sana sebelum sambungan telepon berakhir. Aku yang aneh atau Abi lagi kesambet hari ini?
Karena nggak sempat mengiyakan atau menolak, aku pun keluar dari mobil dan berjalan masuk ke area lobby. Gedung ini ditempati beberapa kantor, dan kantorku menyewa lantai 7 sampai 9. Selain lantai 1 yang digunakan untuk umum juga coworking space gratis, di sini juga ada perusahaan digital writing platform, redaksi penerbit, kantor cabang bang swasta, juga perusahaan gaming yang menyewa gedung ini sejak lima bulan lalu. Setidaknya aku kenal 2 sampai 3 orang dari masing-masing kantor. Nggak sulit saling mengenal orang lain karena berada di satu gedung begini.
Tahun lalu Ale, salah satu bankir di sini pernah mengajakku dinner di restoran gastronomy di Kemang, tapi kutolak karena nggak enak. Aku tahu tempat begitu harus reservasi, dan jelas-jelas mengajak seorang wanita ke sana menyiratkan agenda tersembunyi selain ‘makan bareng teman’.
Harusnya kuterima saja ajakannya. Mungkin setelah kenal lebih lanjut si bankir cukup baik dan pilihan tepat untuk dijadikan sandaran.
Penyesalan selalu di belakang, ya?
“Eh, Tuan Putri baru datang nih.” Seseorang yang duduk di sofa menyapaku. Ternyata Mbak Rima, karyawan dari perusahaan gaming. Kami saling kenal karena sering bertemu di lift, dan dia tepat satu lantai di atas tempatku kerja.
Aku tertawa sementara mendekat dan duduk di sampingnya. “Ngapain di sini, Mbak?”
“Nunggu orang.” balasnya. “Hari ini gue cabut.”
“Resign? Serius?”
“Si kecil susah ditinggal sendiri. Jadi gue mau jaga sekalian bantuin nyokap ngurus katering.”
Kalau nggak salah Mbak Rima ini single parent, waktu awal berkenalan dia cerita punya bayi berusia 6 bulan. Aku pernah ditunjukkan foto si kecil, and she was so cute. Habis gimana, ya. Bayi itu bikin aku soft banget.
“Kita nggak bisa makan siang bareng dong, Mbak?” candaku. “Pelanggan Pak Soleh ngurang satu nih. Mending lo kerja di tempat gue biar jadwalnya enak.”
“Kantor lo mana butuh social media manager,” kelakar Mbak Rima sambil memainkan alis. Profesi satu itu nggak asing buatku. Itu pekerjaan Rico, dan sekalipun terdengar kekinian dan terkesan asyik—managing social media sounds cool and easy, right?—nyatanya tugas yang dikerjakan bisa lebih banyak dari pekerjaan kantoran biasa.
Seingatku, dulu Rico sering lembur kalau kantornya punya event besar dan berbagai promosi harus direncanakan dari jauh-jauh hari. Nggak jarang ketika aku mampir ke tempatnya, dia sibuk dengan laptop dan tumpukan kertas berisi diagram grafis dan berbagai perhitungan yang nggak begitu kupahami. Kalau tugas Mbak Rimas begitu, kasihan dedek bayinya sih.
“Nanti ajak pengganti gue makan aja,” Mbak Rima menambahkan. “Siapa tahu cocok. Yang gantiin gue laki nih.”
Meski baru saling kenal, seperti kebanyakan wanita pada umumnya, aku dan Mbak Rima sering makan dan nyambung dalam beberapa obrolan—bahasa lainnya, bergosip. Mbak Rima sempat salah kira kalau aku dan Abi pacaran. Aku langsung mengoreksi dan bilang aku masih sendiri. Karenanya beberapa kali aku diceritakan soal pria-pria lajang di tempatnya.
Sudah dikenalkan banyak pria begitu, nyatanya nggak ada kecocokan hingga sekarang.
Mbak Rima menepuk pundakku. “Kalau nggak salah tim marketing ada project buat dikasih ke kalian. Mungkin nanti kalian ketemu.”
“Orangnya gimana, Mbak? Ganteng nggak?”
“Bu Rima—eh, Vonna?”
Spontan aku berbalik begitu mendengar namaku dipanggil. Hanya saja begitu menangkap sosok di belakang, mendadak aku menyesal.
Nggak butuh melihat lebih lama untuk kenal siapa orang ini. Terlalu familier.
Karena nyatanya, dari semua wajah yang kuingat, Enrico Chandrakeswari yang paling melekat dalam kepalaku.
“Lho, Rico udah kenal Vonna?” Mbak Rima berdiri. Aku bisa mendengar suaranya, hanya saja pikiranku terlempar jauh. “Nih, Von. Dia nih pengganti gue.”
Aku hanya bisa diam, mengedip pun tidak, sementara pria di hadapanku ini menyunggingkan senyum, kedua alisnya ikut melengkung. Kusadari kemejanya berwarna senada dengan jumpsuit yang kukenakan.
“Hai, Von.” sapanya. “You look nice, anyway.”
Otakku tersumbat, nggak tahu apa yang harus kukatakan. Rasanya aku mendengar sirine bahaya bergaung keras di telinga, sementara Mbak Rima manggut-manggut sebelum jarinya menunjukku dan Rico bersamaan.
“Baju kalian cocok gini. Apa tanda-tanda, ya?”
Tolong dong, apa dunia nggak punya cara lain untuk menjahiliku? []