This whole week is a total disaster!
Aku betul-betul sebal begitu tahu Abi menyuruhku ‘berdandan’ karena tahu Rico ada di kantor. Berasa penting banget harus kelihatan berbeda supaya bisa menarik perhatian dia.
“Gue kira lo udah tahu,” kata Abi waktu aku mengomelinya. “Lumayan juga, kan? Pas banget lagi sama-sama merah bajunya. Jodoh kali, ya?”
Karena Abi sama sekali nggak merasa bersalah, selama seminggu ini aku sengaja nggak banyak bicara dengannya, hingga pagi ini, bertepatan dengan undangan pernikahan Mira, dia datang ke apartemenku dan bilang, “Sori deh, sori. Gue kan cuma bercanda aja. Udahan marahnya napa? Rasanya malah gue jadi mantan lo terus kemusuhan. Peace, damai, Slankers, oke? Mending berangkat ke nikahan Mira bareng gue.”
I should admit kemunculan Abi dengan kemeja batik membuatku agak nggak tega menyuruhnya pulang. Jadi aku mengiyakan. Lumayan juga ditawari tumpangan gratis di tengah macetnya Jakarta hari Minggu, dan dapat teman kondangan. Berdua lebih baik daripada datang sendirian. Paling-paling hanya memberi selamat lalu pulang.
Sebenarnya aku tidak sepenuhnya marah pada Abi, meskipun aku menyesal sudah pakai marsala jumpsuit itu dan jadi korban cengcengan Mbak Rima. Andai saja Mbak Rima tahu pria yang dia kira‘cocok’ denganku sebenarnya orang terakhir di muka bumi yang ingin kumasukkan lagi ke dalam hidupku.
“Kalian pasti bakal sering ketemu kok. Satu gedung ini,” kata Mbak Rima waktu itu. “Rico pas satu lantai di atas lo kok, Von.”
And that’s exactly what scared me the most.
Setelah satu tahun nggak bertemu, Rico tiba-tiba muncul, dan nggak tanggung-tanggung, dia berada satu gedung denganku, mengartikan kehadirannya di sekitarku ke depannya akan menjadi rutinitasku, dengan kemungkinan berpapasan bukan mustahil.
Definisi ‘sudah jatuh tertimpa tangga’ itu begini, ya?
“Von.” Suara Abi menarikku kembali ke masa kini. Dia mengulurkan tangan, membantuku naik ke panggung tempat mempelai. “Jangan ngelamun.”
Kusambut uluran tangannya, memilih untuk tidak menggubris dan tersenyum begitu menyalami Mira dan Saga, suaminya. “Selamat hidup baru, Mir. I’m happy for both of you.”
“Thank you for coming, Mas Abi, Mbak Vonna,” balas Mira. “Datangnya bareng, ya?”
“Gue jadi supir.” Abi pura-pura meringis. “Tapi lumayan kan, nggak jomlo banget jadinya.”
Karena satu divisi, kurasa bukan hal aneh kalau Mira akrab dengan Abi. Hanya saja begitu melihat Saga diam, aku langsung menggandeng tangan Abi. Mungkin aku sok tahu, tapi gestur begitu cukup familier untukku. Diamnya Saga persis seperti diamnya Rico kalau ….
Okay, Vonna. You need to stop.
“Well then, masih banyak yang mau nyalamin kalian,” ujarku sesopan mungkin dan menarik Abi turun dari panggung.
“Lo nggak sabar mau makan?” tukas Abi begitu kami sudah di bawah.
“Mereka baru nikah, jangan bikin kesan lo mau jadi orang ketiga dong.”
“Dih, kan gue ngobrol biasa aja.” Kelihatannya dia nggak mau salah. Aku hanya berucap ‘terserah’ sebelum merogoh ponsel, mengambil jepretan beberapa kali dan menggunggahnya ke i********: sebelum memasukkan ponsel kembali ke sling back.
“Anyway, Von. Jumat kemarin gue ketemu sama dia di lift.”
Dari cara Abi melihatku, bisa kutebak siapa yang dimaksud. Aku merotasi mata malas. “As if I care.”
“Nggak care tapi malah main petak umpet semingguan ini.” Dia meledek sementara matanya menyipit ke arahku. “Harusnya santai aja, udah bukan apa-apa ini. Udah move on kan, lo?”
Ingin rasanya aku menyumpal mulut Abi dengan sling back di pundakku. Hanya saja kalau dipikir-pikir, dia ada benarnya. Setelah pertemuan di lobby, sebisa mungkin aku menghindari tempat-tempat ramai di kantor untuk meminimalisir kemungkinan kami akan bertemu. Aku nggak butuh sapaan basa-basi atau pujian ‘you look nice’ darinya. Nggak ada urgensi yang mengharuskanku berkomunikasi dengannya dalam bentuk apa pun.
Dan dari mana pula logika menghindar sama dengan gagal move on? Nggak masuk akal banget!
“Gue bukan menghindar,” kataku, mencoba menjelaskan. Abi langsung mengernyit, jadi aku melanjutkan, “Gue hanya nggak mau buang-buang waktu dan tenaga buat orang yang nggak gue suka.
“Sebenci itu lo sama Rico?” tanya Abi lagi.
“Is that even a question?” balasku sebal. Padahal dia sendiri sudah tahu alasan aku dan Rico putus. Dia tahu kronologinya.
“Maksud gue sekarang, Von.” Abi menambahkan, lebih dulu mengedarkan pandangan ke sekeliling sebelum matanya kembali mengarah padaku. “Kalian putusnya udah setahun lalu. Kebencian lo itu malah terkesan lo gagal move on.”
Sumpah, ya, aku nggak suka Abi yang begini. He is my best friend for a reason. Sekalipun menyebalkan dan jahil, dia orang paling terpercaya untuk dimintai saran. Namun di saat-saat tertentu, ucapannya bisa membuatku meragukan diri sendiri.
But, still, ini bukan karena aku gagal move on. We might get healed, but the scar stays.
Coba saja bayangkan sendiri. Sebelas tahun lebih berasa cuma jaga gawang. Nggak ada bola datang. Boro-boro bola, orangnya nendang pun nggak. Sudah begitu dengan congkaknya orang itu justru bilang kalau bukan karena dia memilih kita jadi keeper, nggak akan ada yang mau.
Manusia kayak begitu apa nggak mending disepak sampai Antartika?
“Mending lo makan deh daripada ngoceh begitu,” kataku sambil ikut mengedarkan pandangan ke area prasmanan. “Sekalian ambilin gue batagor. Kayaknya enak.”
“Bisa banget lo nyuruhnya.” Abi berdecak.
“Anggap aja permintaan maaf, Bi. So do me a favor.”
“Perhitungan banget anjir.”
Sengaja aku tak acuh pada protesan Abi, karena sekalipun dia mengomel begitu, pada akhirnya dia menurut dan menyuruhku menunggu dan mencarikan kursi untuknya. Kami punya tugas masing-masing.
Terlepas dari gosip soal ketidakcocokan Mira dan suaminya, harus kuakui pestanya besar sekali. Kebanyakan orang-orang di sini juga terlihat asing, kemungkinan besar tamu undangannya dari pihak mempelai pria. Dulu Mira sendiri bilang padaku lingkup pertemanannya hanya ada di kantor saja.
Bukannya benci pernikahan mewah, tapi berdasarkan informasi yang kucari dulu, merancang pernikahan nggak jauh beda dengan gambling. Weird, I know, tapi kenyataannya kesulitan hidup nggak berhenti hanya setelah kita mengadakan pernikahan. Di samping perayaan, ada agenda tersembunyi untuk mengumpulkan ‘amplop’ dan diharapkan bisa mengganti pengeluaran mulai dari katering, sewa gedung, dan banyak lagi.
Menurutku acara kecil saja cukup. Tinggal mengundang orang yang sebaiknya diundang, menyewa gedung seadanya, kemudian memikirkan kehidupan setelah pernikahan. Because the real new struggle starts after the wedding day.
Tapi jangankan merancang pernikahan, belum tentu Rico memikirkan hal itu.
Dari salah satu drama tontonanku, ada teori soal durasi hubungan kelipatan tiga. Di tiga tahun pertama, hubungan masih fase manis-manisnya. Di tahun ke enam, bad things happen, seakan hal-hal buruk yang disimpan pasangan mulai terendus. Masuk ke tahun ke sembilan, things is getting worse, dengan berbagai varian cekcok. Dan hubunganku, sehari sebelum merayakan 12 tahun kami, berakhir. Aku nggak tahu apa harus bersyukur waktu itu aku masih di tahap pacaran, bukan lebih serius lagi. Apa kabar keluarga dan anak-anak nanti?
Pikiranku mungkin terlalu jauh. Aku salah mengharapkan hal begitu pada Rico. Sayang sekali butuh bertahun-tahun untuk menyadari semua ini. You can’t marry a man who doesn’t even want to get married.
Menghela napas dalam, kusingkirkan pikiran itu. Mau direnungkan selama apa pun tidak akan ada perubahan. It is what it is. Rico is a dὶck and I was a dumb for loving and putting my expectation high.
Begini malah buang-buang waktu saja kan—
Bruk!
Belum juga sampai di kursi yang disediakan, sesuatu menabrakku dari belakang, membuatku terhuyung. Kakiku seakan kehilangan keseimbangan dan aku bisa mendengar sesuatu seperti patah sementara nyeri bukan main menyerangku dan aku terjatuh bersamaan dengan bunyi sesuatu pecah.
Sakit. Hanya itu yang berputar di kepalaku. Spontan aku membungkuk dan menyentuh pergelangan kaki kiriku. Ada batangan panjang merah patah tak jauh dari kakiku, sementara di sampingku berserak kepingan-kepingan gelas kaca. Ujung dress-ku terasa basah, meski kelihatannya baik-baik saja karena berwarna hitam.
“Aduh, Mbak. Maaf!” Seorang pramusaji wanita mendekatiku. Namun di saat bersamaan suara lain terdengar, kali ini memanggil namaku.
“Vonna!”
Teriakan itu membuatku menoleh, dan seorang pria berjas abu-abu berlari mendekat. Aku terbelalak begitu melihat wajahnya dari dekat.
Rico.
“Ka-kamu ngapain di sini?” Bahkan, aku nggak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Gimana bisa dia muncul di saat-saat terburuk seperti ini?
Dia langsung berjongkok, membuka jas dan menyampirkannya pada tubuhku. “Heels kamu sampai patah gitu.”
Ini memalukan, sungguh! Beberapa orang di sekitar melemparkan pandangan ke arahku, membuatku menunduk. Aku ingin berdiri dan segera beranjak, tapi baru menggerakkan kaki sedikit, tulangku seperti ditusuk.
“Kamu bisa berdiri?” tanya Rico lagi. Mau tak mau aku menggeleng.
“Aduh, Mbak. Maaf banget. Maaf.” Pramusaji di samping Rico terus-terusan membungkuk dan minta maaf. Kesal sih, hanya saja marah tampaknya bukan opsi bagus saat ini.
“Saya boleh minta es batu nggak, Mbak?” Rico kali ini bicara pada si pramusaji. “Kakinya terkilir kayaknya. Kalau bisa saja minta sama kain buat kompres. Ada nggak?”
“Biar saya carikan, Pak.”
“Dibawa ke belakang aja bisa?”
Eh, ke belakang? Ke mana?
“Boleh, Pak. Nanti saya bawa ke belakang.” Begitu Rico mengangguk, pramusaji itu berlari pergi seusai memunguti pecahan gelas.
“Kita ke belakang, ya, Von. Daripada di sini dilihatin orang.”
“Mau ke mana? Aku lagi nungguin—”
Belum juga selesai bicara, Rico sudah mengangkat tubuhku lebih dulu. Dan satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah menyembunyikan wajah daripada menghafal siapa saja yang menjadikan kami pusat perhatian saat ini. []