“Aku tidak menyangka kau setuju dengan sangat cepat. Ada apa denganmu? Kupikir kau sama sekali belum mempercayai Crystal sepenuhnya,” tanya Luke menyelidik.
“Ya, itu memang benar. Tapi, bagaimana jika gadis itu memang sungguh dalam kondisi tidak sehat? Jika kita memaksakannya, bukankah itu akan merepotkan semuanya? Aku tidak mau suatu saat dia tumbang dan tak sadarkan diri saat sedang syuting atau semacamnya.”
“Benar juga.” Luke menyetujui alasan Rayner. Mereka memang belum mendapatkan penjelasan akurat dari Alycia terkait kondisi Crystal yang sebenarnya. Namun, Alycia terus meyakinkan mereka bahwa Crystal benar-benar dalam kondisi kesehatan yang buruk. Alycia bahkan berjanji akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada aktrisnya itu di kemudian hari. Katanya, mereka sudah berencana untuk melakukan medical checkup yang entah benar atau tidak.
Tanpa Luke ketahui, diam-diam Rayner menghembuskan napas lega. Luke memang cukup pandai menyelidiki jika itu tentang tingkah laku Rayner. Untunglah kali ini Rayner sudah memprediksi apa yang akan Luke tanyakan padanya hingga ia sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan mendadak itu.
Sebenarnya, alasan Rayner menyetujui keinginan Crystal bukan semata-mata karena alasan yang baru saja disampaikannya. Setelah kejadian di ruang rias pemotretan siang tadi, Rayner merasa sedikit tidak nyaman dengan Crystal dan merasa khawatir gadis itu akan berkata macam-macam.
Ya, ini tentang dirinya yang baru saja dipergoki tersenyum ketika membalas pesan seseorang. Entah sekonyol apa dirinya saat itu, tapi Crystal menyadari ada sesuatu yang terjadi. Gadis itu kemudian menduga dengan tepat, seolah membuat skakmat hingga Rayner tak bisa berkutik.
“Kau punya kekasih sungguhan? Aku benar, kan?”
Bisikan Crystal itu seolah terus membayangi Rayner seharian ini. Rayner pikir, selama ini ia sudah cukup menutupi skandal hubungan percintaannya. Selain Luke si tukang menyelidik, tak ada lagi orang lain yang tahu. Membuat hubungan palsu dengan Crystal White pun sesungguhnya adalah salah satu upayanya untuk menutupi hal itu.
Tapi saat ini, gadis itu tahu rahasiaku. Ini bisa jadi berbahaya untukku. Rayner mengepalkan tangannya di atas lutut. Kini, ia merasa berada di bawah ancaman. Meskipun Crystal tidak mengatakannya secara langsung, tapi bukan tidak mungkin jika suatu hari nanti hal ini akan merepotkannya.
“Kau tidak perlu menjawab, dari tingkahmu saja aku tahu kalau tebakanku benar. Dan lagi, aku tidak bermaksud mengatakan ‘rahasia’-mu ini kepada orang lain, yah setidaknya untuk saat ini. Kau mengerti maksudku, kan?” Bisikan lirih Crystal, seolah terus menggema dalam kepala Rayner.
Selama dia mendapatkan keinginannya, kurasa semuanya akan aman. Untuk saat ini, yang paling penting adalah tidak membuat gadis itu merasa kesal, batin Rayner.
***
Crystal sama sekali tidak menyangka, Alycia akan mengizinkannya menyendiri di sebuah vila. Walaupun sempat terkejut dan terlihat keberatan, tapi Alycia pada akhirnya menyerah dengan mudah. Crystal tidak mencoba mencari tahu kenapa sikap sepupunya itu lebih melunak belakangan ini.
“Lakukanlah, sepertinya ide itu bagus juga untukmu. Dengan menyendiri di tempat yang tenang, kuharap rasa lelah yang kau rasakan itu bisa lebih cepat pulih.” Itulah yang dikatakan Alycia padanya. “Tapi, berjanjilah padaku, kau akan menjaga dirimu dengan baik. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku. Mengerti?”
Karena Alycia sudah memberi izin, Crystal pun tak keberatan menanggung janji itu. Toh janji itu berdampak untuk kebaikannya sendiri dan sepertinya bukan sesuatu yang sulit. Apa lagi, di desa biasanya difominasi oleh orang-orang tua. Mereka bahkan mungkin tidak mengenali siapa itu Crystal White. Kalaupun mengenalnya, mereka pasti tidak terlalu menaruh perhatian lebih padanya.
“Memangnya kau akan pergi ke mana? Apa kau juga tidak akan memberitahuku tempatnya? Tah, tidak masalah, sih. Kau kan ingin sendirian.” Nada bicara Alycia seolah tidak peduli, tapi Crystal tahu gadis itu ingin diberitahu.
“Maaf, tapi aku tidak bisa. Jika kau kuberitahu, kau pasti akan terus mencari alasan untuk mendatangiku. Aku tahu sifatmu,” goda Crystal. “Tapi tenang saja, aku akan langsung memberikan lokasiku jika terjadi sesuatu. Ini janjiku. Oke?”
“Baiklah, kupegang kata-katamu.”
Crystal dan Alycia saling menautkan jari kelingking, pertanda keduanya sudah menyetujui kesepakatan yang baru saja mereka buat.
***
Crystal yang semula ingin langsung tidur setelah berbincang dengan Alycia, kini justru tidak merasa mengantuk sama sekali. Karena tidak juga terlelap setelah lama berguling-guling di ranjang, Crystal pun bangkit dan duduk di depan meja riasnya. Ia kemudian membuka mesin pencari di ponselnya, bermaksud mencari beberapa informasi di sana.
“Vila menenangkan” dan “desa kecil” adalah dua hal yang menjadi kata kunci pencariannya kali ini. Ya, Crystal mencoba mencari rekomendasi tempat yang sesuai dengan keinginannya. Sebuah vila pribadi di pedesaan yang bisa disewa untuk beberapa waktu. Pertimbangan desanya pun tak boleh sembarangan. Lokasinya tidak boleh menyulitkan, tapi cukup tenang untuk dirinya menenangkan diri.
“Aha! Ini bagus juga.”
Perhatian Crystal tertuju pada sebuah vila dengan bangunan yang terlihat sangat natural. Bangunan itu dibangun dengan unsur kayu yang dominan. Model rumahnya sederhana bahkan terkesan kuno dari luar. Namun, saat Crystal mencoba melihat interiornya, tempat itu ternyata cukup modern untuk sebuah vila pedesaan.
“Haruskah aku langsung melakukan pemesanan? Atau haruskah aku datang melihat-lihat terlebih dahulu?” Crystal berpikir sambil mengetuk-ngetuk meja. Setelah pertimbangan yang tidak terlalu lama, akhirnya gadis itu pun segera memutuskan. “Baiklah, akan lebih baik jika melihat-lihat lebih dulu. Mempertimbangkan apakah tempat itu benar-benar senyaman yang terlihat di internet atau tidak. Aku juga perlu mengenal pemilik dan pengurus tempat itu. Jika pemilik dan pengurusnya menyebalkan, maka habislah aku.”
Setelah puas melakukan pencarian secara virtual. Crystal pun bangkit, meregangkan tubuhnya sedikit lalu beranjak ke ruang penyimpanan kecil di sudut kamarnya. Ia terlihat sibuk mencari koper yang biasa ia gunakan saat harus bepergian jauh selama beberapa hari. Kali ini, ia memang tidak akan bepergian jauh. Namun, karena ia tidak akan kembali ke rumahnya untuk beberapa lama, maka Crystal pikir ia perlu koper yang cukup besar untuk menyimpan segala kebutuhannya nanti.
“Ayo, kita lakukan saja semampunya. Kau mungkin akan tiba-tiba merasa mengantuk. Jika benar, maka kita hentikan saja.” Crystal berbicara pada dirinya sendiri. Karena belum juga mengantuk, ia bermaksud mengepak beberapa pakaiannya sekarang juga. Namun, Crystal juga tidak ingin memaksakan diri untuk terus terjaga. Saat rasa kantuknya kembali datang nanti, ia akan menghentikan aktivitas berbenah ini dan melanjutkannya lagi esok hari.
“Jika diingat-ingat lagi, kapan ya terakhir kali aku bepergian tanpa Alycia? Oh, rasaya sudah lama sekali. Selama ini, tanpa sadar sepertinya aku terlalu bergantung pada Alycia dan Christopher. Apa kali ini aku akan benar-benar sendirian dan mengandalkan diri sendiri? Apa aku bisa melakukannya? Kenapa tiba-tiba aku merasa gugup?”
***
[bersambung]