Menyadari bahwa malam kian larut dan sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Alycia membuat Crystal bergegas untuk kembali ke rumah. Dengan langkah tergesa dan napas yang terengah-engah, gadis itu berharap untuk segera sampai ke rumah sebelum Alycia sampai lebih dulu. Beruntung, lokasi Alycia makan malam bersama Luke jaraknya cukup jauh. Walaupun begitu, banyak hal yang harus Crystal lakukan sekembalinya ia nanti.
Setelah sampai, hal pertama yang dilakukan Crystal adalah merapikan alas kaki bekas pakainya. Ia benar-benar meletakkan benda itu pada posisinya semula, tidak bergeser sama sekali. Terlihat sama persis ketika terakhir kali ia melihatnya. Semua ini harus Crystal lakukan, sebab Alycia itu sangat teliti. Gadis itu bisa mengingat letak barang-barang di rumah dan menyadari jika ada barang yang bergeser meski hanya satu centimeter saja.
Setelah letak sandal yang baru digunakannya terlihat sempurna, Crystal lekas-lekas menuju kamarnya. Gadis itu melepas semua pakaian penyamarannya untuk diganti dengan piyama motif bunga miliknya. Tak lupa, Crystal juga melepaskan kepangan rambutnya, menyisir rambut cokelatnya untuk menghilangkan bekas ikatan, lalu menghapus riasan wajahnya hingga tak tersisa. Hal ini harus dilakukannya agar memberi kesan bahwa dirinya sudah bersiap untuk pergi tidur ketika Alycia tiba nanti.
“Oh, aku juga harus menyingkirkan semua barang bukti.”
Kepanikan membuat gerakan Crystal lebih gesit dari biasanya. Dengan gerakan cepat, Crystal segera memasukkan pakaian penyamarannya ke dalam sebuah koper kecil yang ia simpan di lemari pakaian. Crystal benar-benar tak terpikirkan tempat lain untuk semua barang-barang itu sekarang. Setidaknya, hanya di sanalah tempat teraman baginya di rumah ini karena Alycia cukup sungkan membuka lemari pakaian milik Crystal.
Saat sedang mengibaskan hoodie hitam yang baru dikenakannya, sesuatu seolah melompat dan terjatuh dari kantungnya. Benda itu terlihat sangat berkilau ketika Crystal membungkuk dan cahaya lampu kamarnya menyorotnya secara langsung. Karena terlalu panik dan takut ketahuan oleh Alycia, Crystal hampir saja melupakan kejadian aneh yang baru menimpanya di taman beberapa waktu lalu.
“Speculum magica ....” Crystal memungut benda berkilauan itu, lalu membolak-baliknya beberapa saat.
Crystal tidak memperhatikannya dengan jelas karena pencahayaan di taman sangat buruk. Namun kini, ia bisa melihat keindahan benda di tangannya dengan lebih jelas. Apa yang membuat benda bulat itu begitu berkilauan adalah karena adanya hiasan bebatuan alam warna-warni yang menghiasi sekelilingnya.
Ya, bentuk benda itu bulat, menyerupai compact powder yang selalu ada dalam tas tangannya. Dilihat bagaimana pun, rasanya tak ada sesuatu yang ajaib dari benda itu. Di mata Crystal, satu-satunya yang membuat benda itu terlihat istimewa hanyalah bentuknya yang cantik dan terlihat seperti barang mewah.
“Bagaimana mungkin benda ini dapat menyelesaikan masalahku?” Crystal tersenyum meremehkan. Teringat kembali akan apa yang dikatakan nenek misterius itu kepadanya.
Aura kengerian dan menakutkan dari nenek itu seolah hilang begitu saja ketika Crystal menerima benda itu dari sang nenek. Crystal yang semula ingin melarikan diri, tiba-tiba merasa tertarik dan ingin mendengar penjelasan lebih banyak tentang benda yang diberikan sang nenek untuknya ini.
Nenek misterius itu mengatakan bahwa benda di tangan Crystal disebut dengan Speculum Magica, bahasa latin yang berarti “Cermin Ajaib”. Katanya, cermin itu bisa mengubah sosok Crystal saat ini menjadi sosok lain yang diinginkannya hanya dengan sebuah mantra. Nenek itu bahkan memberikan tata cara bagaimana menggunakan cermin itu dengan benar juga tentang mantra yang harus ia ucapkan nantinya.
“Pandanglah cermin itu dan bayangkan sosok yang kau inginkan. Setelah itu, ucapkan matranya ... 'Speculum magica, aliquis mutare essem!' . Dan ... boom! Keajaiban itu akan mengubahmu.”
Saat diberitahu pertama kali, Crystal memang serius mendengarkan. Selain karena cerita nenek itu terdengar menarik, Crystal juga ingin bersikap sopan. Tentu saja Crystal tidak mempercayai kata-kata nenek itu begitu saja, tapi ia tetap menunjukkan antusiasnya mendengar penjelasan sang nenek sampai selesai.
"Dan seperti kisah Cinderella, sihir itu punya batas waktu. Dan jika kau memberitahu seseorang tentang sihir itu, maka kau akan menghilang selamanya." Nenek itu memperingatkan Crystal dengan tatapan tajam di akhir penjelasannya.
“Aduh, konyol sekali!” Crystal tertawa, menyimpan cermin itu ke dalam laci meja riasnya, lalu berjalan ke ranjang. Gadis itu merebahkan dirinya di bawah selimut, menatap langit-langit kamarnya sambil melamun. “Tapi, jika semua yang dikatakan nenek itu memang benar, sosok seperti apa yang aku inginkan?”
***
Alycia pikir, ia mungkin akan mendapati suasana gelap gulita ketika sampai di rumah. Gadis itu mengira bahwa Crystal sudah terlelap dan terbuai dalam alam mimpinya saat ini. Namun, lampu ruang tamu dan kamar Crystal yang terlihat menyala dari luar cukup menunjukkan bahwa sang pemilik masih terjaga.
“Apa dia sengaja menungguku karena terlalu penasaran dengan hasilnya?” gumam Alycia yang masih berdiri di depan pintu. “Syukurlah aku membawa kabar baik.”
Walaupun jelas bahwa Crystal memang ada di dalam, tapi Alycia tahu bahwa Crystal selalu mengunci pintu semua pintu dan jendela. Ini merupakan salah satu prosedur keamanan yang telah mereka sepakati. Yaitu, jangan biarkan ada celah untuk seorang pun bisa menerobos rumah itu. Apa lagi jika salah satu dari mereka harus tinggal di rumah seorang diri.
Alycia merogoh tas untuk mencari kunci miliknya. Ia memang bisa mengetuk pintu dan memanggil Crystal untuk membuka kuncinya. Namun, kali ini ia ingin memberikan kejutan kecil untuk sepupunya itu. Dengan begitu, Crystal mungkin akan sedikit terhibur.
“Hey! Sudah malam, loh! Kau sepertinya menikmati sekali acara makan malam itu, ya?”
“Astaga!”
Alycia melompat terkejut sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. Padahal ia berencana mengejutkan Crystal, tapi siapa sangka sepupunya itu justru sudah berdiri di balik pintu dengan tangan terlipat. Crystal juga mengentakkan sebelah kakinya dan memasang wajah kesal, persis seperti seorrang ibu yang marah mengetahui anak gadisnya pulang terlambat dan melewati jam malamnya.
“Ya, ampun. Apa yang kau lakukan di depan pintu seperti ini. Aduh, aku terkejut sekali.” Alycia mengomel. Ia juga masih berusaha mengatur detak jantungnya hingga normal kembali. “Kau sendiri, kenapa belum tidur? Bukankah ini sudah larut?”
“Aku? Tentu saja menunggumu,” jawab Crystal tanpa ragu. “Menurutmu, apa aku bisa tidur dengan rasa penasaran ini?”
“Sudah kuduga.” Alycia menjawab sambil lalu. Gadis itu berjalan ke sofa, meletakkan tas dan mantelnya, kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air.
“Jadi, bagaimana hasilnya? Apa kesepakatan yang telah kau buat dengan si pria menyebalkan itu dan manajernya?” tanya Crystal penasaran, seolah tak membiarkan Alycia untuk sekedar duduk mengatur napasnya.
Alycia tidak langsung menjawab. Gadis itu terlebih dahulu meneguk isi gelasnya sampai habis, sebelum kemudian mulai bicara. “Aku berhasil memenangkan negosiasi. Mereka setuju memberimu waktu istirahat yang lebih banyak.”
“Oh, benarkah? Itu artinya aku bisa pergi ke luar negeri atau semacamnya, kan?” Crystal terlihat sangat antusias.
“Apa? Tidak!” Alycia menggeleng cepat. “Mereka setuju memberimu waktu istirahat lebih banyak. Tapi bukan berarti semua perjanjian kerja yang melibatkanmu dan Rayner dibatalkan.”
“Lalu, bagaimana?” Crystal menelengkan kepalanya. Menatap Alycia dengan dahi berkerut.
“Tentu saja mengganti hari. Jadwalmu kupindahkan semua di akhir pekan. Jadi, kau bisa berlibur di hari lain.”
Ujung bibir Crystal terangkat tinggi. “Wow! Itu sangat bagus! Terima kasih Alycia.” Crystal tak bisa menahan diri. Gadis itu memeluk erat Alycia hingga ia kesulitan bernapas.
“Iya, iya, aku tahu kau senang, tapi tolong lepaskan! Aku tak bisa bernapas. Apa kau ingin membunuhku?” Alycia menepuk keras punggung Crystal agar gadis itu segera melepaskannya.
“Maaf.” Seolah tanpa rasa bersalah, Crystal malah terkekeh. “Tapi, Alycia, bisakah aku meminta satu hal lain padamu?”
“Aduh, apa lagi?”
“Bolehkah aku pergi menyewa vila di pedesaan selama masa liburanku? Kau tahu, kan, tinggal di rumah saja akan sangat membosankan,” pinta Crystal dengan tatapan memohon andalannya.
“Boleh saja. Jika bukan ke luar negeri, tak masalah.” Alycia dengan cepat setuju. “Baiklah, kita akan pergi dan aku akan mencarikan vila yang paling aman untukmu.”
“Tunggu! Tidak, Alycia! Biarkan aku pergi ... sendirian.”
“Apa? Sendirian?” Alycia membulatkan matanya.
***
[bersambung]