Walaupun sering kali Crystal merasa ingin pergi ke luar dengan bebas tanpa dikenali orang lain, tapi ia tak pernah terpikir akan melakukan hal ini di dunia nyata. Ia memang pernah menyamar sebelumnya, tapi itu hanyalah salah satu adegan dalam drama yang ia perankan.
“Apa aku akan benar-benar pergi ke luar dengan dandanan seperti ini?” Crystal menatap pantulan dirinya dengan perasaan ragu.
Cermin di hadapannya itu kini memantulkan bayangan seorang gadis dengan hoodie berwarna hitam dan celana jeans kebesaran. Gadis itu juga mengenakan kacamata dengan lensa besar yang menutupi tulang pipinya.
Tak hanya itu, Crystal menyempurnakan pula penyamarannya dengan tatanan rambut kepang dua. Ia juga menyapukan sedikit make-up yang membuat warna kulit wajahnya menjadi lebih gelap. Crystal pun menggambar beberapa bintik hitam di wajahnya, hingga ia terlihat seperti gadis culun yang tidak pandai merawat diri.
“Dengan semua ini, tidak akan ada yang mengenaliku, kan?” Crystal bertanya pada dirinya sendiri sekali lagi, sebelum kemudian mengepalkan tangannya untuk membulatkan tekad. “Ya! Aku siap! Waktuku tak banyak.”
Dengan langkah pasti, Crystal pun segera beranjak meninggalkan rumahnya. Ia sadar bahwa waktunya tidak banyak hingga Alycia kembali nanti. Jika sepupunya itu tahu apa yang sedang dilakukannya saat ini, tentu Alycia akan sangat marah kepadanya karena sudah melanggar janji untuk tetap di rumah.
Crystal sebenarnya tidak memiliki rencana apa pun saat ini. Ia sama sekali tidak memiliki tujuan yang jelas. Hanya satu hal yang pasti. Gadis itu pergi keluar adalah untuk mencari makanan sebagai menu makan malamnya.
“Haruskah aku menggunakan mobilku?” Crystal terdiam beberapa saat di depan mobilnya, berpikir apakah ia harus mengendarai benda itu atau tidak. “Tidak, tidak! Bahaya kalau ada yang menyadari bahwa itu adalah mobilku.” Crystal menggeleng keras, kemudian memilih untuk berjalan kaki saja.
Oleh sebab pergi tanpa kendaraan dan hanya memiliki sedikit waktu, Crystal pun memutuskan untuk pergi ke restoran cepat saji terdekat. Ia memesan sebuah menu paket berisi cheese burger, kentang goreng dan segelas besar minuman bersoda. Makanan-makanan yang selama ini paling dihindarinya, apa lagi sebagai menu makan malam. Namun, ia membuat pengecualian untuk malam ini.
“Aku akan membayarnya dengan berolahraga keras esok hari,” gumam Crystal, lalu memberikan gigitan besar pada burger-nya.
Malam itu, suasana restoran cepat saji yang didatanginya tidak terlalu ramai. Selain Crystal, ada beberapa kelompok remaja yang berkumpul di sana. Dari usianya, sepertinya mereka adalah siswa sekolah menengah atas di dekat lingkungan rumahnya.
“Mengerjakan tugas atau sekedar berkumpul?” Crystal mengamati diam-diam. Apa pun yang sedang dilakukan anak-anak itu, ia merasa sedikit iri. Ya, Crystal sudah menjadi aktris di usia belia, membuatnya tidak memiliki banyak teman, apa lagi sampai bermain dan berkumpul bersama seperti anak-anak itu. “Pasti menyenangkan, ya?”
Puas mengamati anak-anak remaja itu, Crystal yang duduk dekat jendela mulai mengamati hal lain. Pandangan gadis yang baru saja menyelesaikan cheese burger-nya itu beralih memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar.
Dilihat sekilas, rasio orang yang berlalu-lalang ini cukup seimbang, sebagian wanita dan sebagian pria. Lingkungan rumahnya memang terkenal dihuni oleh banyak penduduk usia produktif. Tak heran jika saat ini Crystal melihat para wanita dan pria yang mengenakan pakaian formal sambil menenteng tas kerja. Wajah mereka juga terlihat lelah. Saat jam seperti ini, mereka sepertinya baru pulang dari kantor masing-masing, mendambakan untuk cepat sampai di rumah dan beristirahat.
“Eh? Apakah mereka sepasang kekasih?” Di antara banyaknya wanita dan pria berpakaian formal, pandangan Crystal menangkap sesuatu yang berbeda. Di sana terlihat sepasang muda-mudi yang berjalan sambil bergandengan tangan. Sesekali, keduanya juga saling bertukar pandang sambil tersenyum. Di tangan si gadis yang tidak digenggam oleh si pria, ada sebuah buket bunga ukuran sedang. Crystal jadi menebak-nebak, apa sebenarnya yang baru saja terjadi di antara pasangan ini. “Apa sebuah pernyataan cinta? Perayaan hari spesial? Atau ... lamaran?”
***
Crystal tak menyangka ia akan menghabiskan seluruh makanannya dalam waktu singkat. Kecepatan makannya yang meningkat itu mungkin terpengaruh oleh perutnya yang terlanjur kelaparan atau justru karena selama ini ia sering menahan diri untuk tidak memakan makanan cepat saji seperti tadi.
Apa pun alasannya, yang jelas Crystal masih punya banyak waktu sebelum Alycia kembali. Ia juga merasa lebih aman sekarang karena tak ada seorang pun yang mengenali dirinya sebagai Crystal White, sang selebriti. Itu artinya, penyamaran sederhananya ini cukup berhasil.
Setelah berpikir sejenak ke mana ia akan melangkah pergi, akhirnya Crystal memutuskan untuk pergi ke taman kecil di dekat sana. Memang rasanya tidak lazim pergi ke taman itu di malam hari seperti ini. Namun, orang lain mungkin akan menganggapnya sebagai gadis yang sedang menyendiri karena patah hati atau gagal mendapatkan pekerjaan baru.
“Sebentar saja, lalu pulang,” gumam Crystal seraya memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.
Hanya perlu waktu kurang dari lima menit, Crystal sudah sampai di taman tujuannya. Saat Crystal sampai, ada seorang gadis lain yang sedang duduk di salah satu bangku taman. Gadis itu tertunduk sambil terisak. Di sampingnya, terdapat tumpukan tisu bekas pakai yang jumlahnya lumayan. Ketika menyadari kehadiran Crystal, gadis itu segera bergegas memunguti bangkit, membenahi sampahnya, lalu pergi.
“Oh, oh, aku benar, kan? Taman ini memang tempat sempurna untuk menghilangkan kegundahan hati. Gadis itu pasti habis menangis.” Crystal mengangkat bahunya, lalu duduk di bangku taman yang letaknya berseberangan dengan gadis tadi.
Crystal menengadah, memandangi langit malam yang sayangnya hari ini tidak berbintang. Langit malam ini hanya dihiasi bulan purnama. Sesekali, bulan cantik itu tertutup awan hingga menimbulkan kesan mistis yang aneh bagi Crystal di tengah kesunyian tempat itu.
Apa harus terus begini? Apa tak ada jalan lain bagiku selain menjalani kehidupanku ini? Tak adakah tempat bagiku untuk merasakan kehidupan yang sebenarnya meski hanya sejenak saja? Crystal merenung seraya memejamkan mata.
Embusan angin sepoi-sepoi, tiba-tiba berubah menjadi angin yang kencang. Crystal seketika membuka matanya lebar, ia juga menegakkan tubuhnya karena terkejut.
“Ke mana kau akan bersembunyi?”
Belum sempat rasa terkejutnya akan angin kencang itu menghilang, Crystal kembali dikejutkan dengan sebuah suara parau seorang nenek yang entah sejak kapan duduk di sampingnya. Crystal pikir, ia mungkin terlalu asyik merenung hingga tak menyadari kehadiran nenek asing itu.
Tapi, apakah dia bicara padaku?
Crystal menoleh ke segala arah, memastikan bahwa tidak ada orang lain selain dirinya dan nenek misterius yang mengenakan mantel hitam panjang bertudung lusuh itu. Bekas tambalan bahkan terlihat di beberapa bagian mantelnya.
Apa dia gelandangan?
Crystal masih memperhatikan nenek itu dengan tatapan bingung. Dengan penerangan lampu taman yang sangat minim, Crystal tidak bisa melihat wajah nenek itu dengan jelas. Ia hanya bisa melihat bagaimana sang nenek duduk menunduk dengan punggung yang bungkuk.
“Maaf?” Setelah asyik mengamati dan memastikan bahwa nenek itu memang benar berbicara padanya, Crystal akhirnya bersuara untuk meminta sang nenek mengulangi kata-katanya.
“Kau itu ingin pergi dan bersembunyi, kan? Kau sudah lelah dengan kehidupanmu saat ini. Semuanya terasa palsu bagimu. Kau ingin kehidupan yang nyata. Kau ingin hidup sesuai apa yang hatimu inginkan.”
Kali ini, sang nenek misterius itu menoleh ke arahnya, membuat Crystal tersentak dan menggeser duduknya untuk menjauh. Ia bukan hanya karena nenek misterius itu telah berhasil membaca seluruh isi kepalanya, tapi juga karena rupa sang nenek dan tatapan tajam yang diberikannya terasa sangat menakutkan.
Si-siapa dia? Dan bagaimana dia bisa tahu segala yang kupikirkan saat ini? Crystal membelalak, sikapnya siaga. Meskipun tatapan sang nenek benar-benar membuatnya tidak nyaman, tapi entah mengapa Crystal tidak bisa memalingkan wajahnya. Ia bahkan merasa tak bisa bergerak dan sulit bernapas.
“Jangan takut. Aku tidak bermaksud melakukan hal buruk padamu.” Seolah mengetahui ketakutan yang dirasakan Crystal, nenek itu berusaha menenangkannya.
“Ta-tapi, b-bagaimana kau tahu?” ucap Crystal terbata-bata.
“Maksudmu, bagaimana aku bisa mengetahui segalanya?” Nenek itu tertawa. Tawanya melengking dan tak kalah menakutkan dari rupa wajahnya. “Kurasa kau tidak perlu tahu bagaimana aku tahu, gadis muda. Dengan pertanyaanmu itu, apa artinya semua yang kukatakan memang benar? Kau ingin kehidupan yang nyata. Kehidupan layaknya orang normal. Kau ingin kehidupan yang tenang, tanpa perlu mengkhawatirkan tatapan orang lain kepadamu. Aku benar, kan?”
Nenek itu tersenyum, matanya masih menatap lurus mata Crystal, seolah ia sedang berusaha menyelami seluruh isi kepala dan hati Crystal yang kini terlihat gemetar ketakutan oleh semua perkataannya.
“Kau tidak perlu menjawab, aku sudah tahu jawabannya. Oleh sebab itu, saat ini aku ingin menawarkan sebuah bantuan untukmu.” Nenek itu menggenggam tangan Crystal dengan lembut, untuk meredakan rasa takutnya. Setelah tangan Crystal berhenti gemetar, sang nenek merogoh sesuatu dari balik mantel panjangnya. Mengeluarkan sebuah benda bulat yang tampak berkilauan ketika disinari cahaya redup bulan purnama yang sebelumnya tertutup awan.
“Benda ini mampu memberi sedikit bantuan.” Nenek itu menyerahkan benda bulat berkilauan dari sakunya pada Crystal. Sebuah benda yang sangat cantik dan siapa pun tak akan pernah menduga bahwa benda itu adalah milik seorang nenek tua berwajah menyeramkan dengan jubah mantel kumalnya.
“Ce-cermin?” Crystal membolak-balik cermin di tangannya, lalu menatap sang nenek dengan tatapan bertanya-tanya.
Nenek itu kembali tersenyum aneh. Crystal kembali dibuat merinding oleh sosoknya.
“Kau tahu? Benda yang ada di tanganmu itu adalah ... speculum magica.”
***
[bersambung]