“Hah! Aku bosan!” Crystal melempar pengendali jarak jauh televisinya ke atas meja kaca, membuat suasana rumahnya yang sunyi mendadak ramai dengan suara benturan keras benda tersebut.
Saat ini, Crystal yang berada di rumah seorang diri memilih untuk menonton film untuk menghibur diri. Gadis yang senang menonton film animasi bertema putri kerajaan itu awalnya memang merasa terhibur. Namun, ketika film kedua baru diputar setengah jalan, Crystal sudah merasa bosan.
“Pukul berapa sekarang? Kenapa Alycia belum kembali?” Crystal melirik jam dinding di ruang tamunya. Benda itu menunjukkan pukul 18.10. Seharusnya, Alycia sudah kembali setidaknya setengah jam yang lalu. Jika benar sesuai janji, katanya Alycia akan pulang setelah membeli makanan untuk mereka makan malam bersama. Ya, itulah yang Alycia katakan saat mereka berpisah di tempat parkir tadi.
“Jangan-jangan dia menghubungiku tapi aku tidak dengar.” Crystal mulai bangkit dari sofa. Gadis itu kemudian mengingat-ingat di mana terakhir kali ia meletakkan ponselnya. “Oh, sepertinya aku belum mengeluarkan benda itu dari tas tanganku. Apa masih di sana, ya?” tebaknya.
Dengan langkah sedikit terburu-buru, Crystal segera menuju kamar tidurnya, di mana ia menyimpan tas tangan yang dibawanya. Tas tangan berwarna putih gading itu ia letakkan di atas meja riasnya. Segera saja Crystal memeriksa tas kecil bermerek hadiah salah satu teman desainernya itu untuk menemukan ponselnya.
“Aha! Benar masih ada di sini.” Crystal langsung mengetuk layarnya, tapi benda itu tidak mau menyala. “Apa ini kehabisan daya? Aduh, di mana pengisi dayanya?” Crystal menoleh ke sana ke mari, lalu menemukan pengisi daya miliknya tergeletak berantakan di atas ranjang. Tadi pagi, ia memang belum sempat merapikan benda itu karena Alycia memintanya untuk segera beranjak untuk menuju tempat pemotretan.
Dengan cekatan, Crystal menghubungkan pengisi daya itu ke ponselnya. Ia mencoba menyalakan benda itu segera, tapi tidak berhasil. Sepertinya, baterai ponselnya benar-benar terkuras habis tanpa ia sadari hingga butuh waktu beberapa saat untuk bisa menyalakannya lagi.
Sambil menunggu baterai ponselnya terisi lebih banyak, Crystal memilih untuk meninggalkannya. Gadis itu kemudian menuju ke dapur, memilih gelas favoritnya, membuka lemari pendingin, lalu mengeluarkan sekotak besar jus jeruk kemasan.
“Ah, segarnya!” Setelah menuangkan jus jeruk hingga setengah bagian gelas, Crystal dengan segera meneguk isinya. Merasa sangat haus, gadis itu sampai meneguk habis isi gelasnya dalam sekali tarikan napas.
“Apa Alycia menyimpan makanan ringan? Aduh, kenapa aku sudah merasa lapar?” Crystal mengusap perutnya yang baru saja bergemuruh. Karena terlalu fokus menonton, selama hampir dua setengah jam, ia sama sekali tidak makan atau minum sesuatu. Pantaslah jika sekarang ia merasa sangat lapar.
Setelah mengembalikan kemasan jus jeruk ke dalam lemari pendingin, Crystal kemudian membuka satu persatu pintu kabinet dapur. Sebenarnya, Crystal yang tidak suka memasak itu hampir tidak pernah menggunakan dapur kecuali untuk membuat kopi atau roti panggang. Oleh sebab itu, ia sama sekali tidak tahu di mana Alycia menyimpan bahan-bahan makanan dan camilan yang sedang diincarnya.
“Ketemu kau! Oh, aku tidak akan menahan diri hari ini.”
Setelah pencarian singkat, Crystal akhirnya menemukan sekantong keripik kentang kesukaannya. Meskipun camilan ini adalah favoritnya, tapi ia tidak terlalu sering menikmatinya. Ya, tentu saja karena camilan dapat membuat berat badannya bertambah dan akan merusak penampilannya di depan kamera. Namun, hari ini berbeda. Ia akan sedikit lebih longgar pada dirinya sendiri untuk menikmati camilannya.
Crystal duduk di meja makan. Menikmati keripik kentangnya satu demi satu di tengah kesunyian. Suasana seperti itu membuatnya kembali teringat akan percakapannya bersama Christoper saat dalam perjalanan pulang.
“Kau bisa pergi berlibur bersama keluargaku besok. Grace pasti akan sangat senang bertemu denganmu lagi setelah sekian lama,” ajak Christopher saat itu.
Meskipun tawaran itu terkesan menggiurkan bagi Crystal, tapi ia memilih untuk menolaknya dengan alasan bahwa ia ingin istirahat di rumah saja. Padahal sebenarnya, Crystal hanya tak mau mengganggu waktu berkualitas keluarga kecil Christoper. Mendapatkan waktu libur seperti ini juga pastinya sangat berharga bagi pria itu.
“Dia benar-benar pria yang baik.” Crystal tersenyum sambil terus menikmati keripik kentangnya.
***
“Apa yang dilakukan gadis itu sekarang? Kenapa ponselnya tidak aktif? Jangan-jangan dia melanggar janjinya dan pergi ke luar.”
Alycia mengetuk-ngetuk layar ponselnya dengan agresif. Saat ini, perasaannya bercampur aduk antara kesal dan cemas. Ia kesal karena di saat ia harus mengabarkan sesuatu seperti ini Crystal justru sulit dihubungi. Namun, di sisi lain ia pun merasa cemas memikirkan apa yang terjadi pada sepupunya itu. Apa lagi saat ini Crystal sedang tidak bersamanya dan sendirian.
“Ada apa? Apa Crystal tidak bisa dihubungi?” Suara seorang pria terdengar di balik punggungnya. Ya, itu suara Luke. Pria itu sepertinya khawatir karena Alycia pergi terlalu lama.
“Iya. Ponselnya tidak aktif, aku jadi cemas. Apa sebaiknya aku pulang saja, ya?” Alycia seolah meminta pendapat Luke. Padahal sebenarnya, pertanyaan itu ia tujukan bagi dirinya yang kini sedang merasa bimbang.
“Ah, sepertinya kau terlalu berlebihan. Crystal mungkin saat ini sedang beristirahat karena kelelahan.” Luke mencoba menenangkan. “Sebelum memutuskan untuk pulang, ada baiknya kau menghubungi sopir itu untuk memastikan. Siapa namanya? Chris ...?”
“Ah! Christoper! Kau benar.” Tanpa buang waktu, Alycia segera mencari kontak Christoper, lalu menghubungi pria itu. Christoper pria yang jujur, Alycia tentu bisa mempercayai semua ucapannya.
Tidak perlu waktu lama bagi Alycia mendapatkan jawaban. Christoper yang cekatan itu segera mengangkat panggilan teleponnya dan menjawab pertanyaan Alycia dengan sangat jelas dan lengkap.
“Aku sudah mengantarnya pulang ke rumah dengan selamat dan aman. Aku juga menunggu sebentar di halaman hingga beberapa saat, memastikan Nona White tetap di rumah. Aku melihat televisi di ruang tamu juga menyala. Sepertinya, Nona White menonton film atau sesuatu. Jika saat ini ia sulit dihubungi, mungkin ia tertidur di sofa.”
Alycia mengangguk mendengarkan penjelasan panjang Christopher. Gadis itu bisa membayangkan dengan jelas kata-kata Christopher, seolah ia melihat semua kejadian itu dengan matanya sendiri. Crystal memang senang menonton film di ruang tamu sambil berbaring di sofa. Tertidur di sofa bukanlah hal yang baru bagi sepupunya itu.
“Baiklah, Chris. Terima kasih banyak.” Alycia mengembuskan napas lega, lalu memutuskan sambungan teleponnya. Setidaknya, ia tahu sekarang kalau Crystal benar-benar pulang ke rumah.
“Aman, kan?” Luke ternyata menunggu di sana selama Alycia menelepon.
“Ya, dia di rumah. Dan seperti dugaanmu, mungkin gadis itu memang ketiduran.” Alycia mengangkat bahunya pelan.
“Kirimkan saja pesan singkat untuk Crystal bahwa kau akan pulang terlambat dan akan makan malam bersama kami. Dengan begitu, Crystal tidak akan mencemaskanmu saat dia terbangun nanti,” saran Luke.
***
Setelah menghabiskan sebungkus keripik kentang, Crystal segera kembali ke kamarnya. Pandangannya segera tertuju pada ponselnya yang sedang di isi daya di atas nakas samping tempat tidurnya. Setelah memastikan bahwa daya ponselnya sudah sedikit terisi, Crystal pun menekan tombol “power” dan menunggu beberapa saat hingga benda itu menyala sempurna.
“Oh, dia benar-benar meneleponku berkali-kali. Apa ada sesuatu yang salah?”
Jejeran notifikasi panggilan tak terjawab dari Alycia membuat Crystal dilanda kepanikan. Ia takut terjadi suatu hal yang buruk pada sepupunya itu, hingga melanggar janjinya untuk pulang sebelum makan malam. Alycia bukanlah seseorang yang mudah melanggar janji seperti ini. Oleh sebab itu, Crystal merasa sepertinya ada sesuatu yang salah sekarang.
"Aku mencoba menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif. Jadi aku mengirim pesan ini sebagai gantinya. Crystal, maaf, sepertinya aku akan makan malam bersama Luke dan Rayner. Kami sebenarnya tidak merencanakan ini, tapi saat ingin meminta maaf pada salah satu produser acara untuk mengganti jadwal kalian, produser itu justru mengajak kami makan malam bersama. Jika kau lapar, pesan saja makanan, jangan menungguku dan kelaparan. Oke?"
Crystal menghela napas lega seraya mengelus dadanya. Kecepatan degup jantungnya belum sepenuhnya kembali, tapi ketegangan sesaat yang ia rasakan sudah berkurang setelah membaca pesan dari Alycia itu.
“Aduh, kupikir ada hal yang mengkhawatirkan terjadi padanya.”
Crystal duduk di tepi ranjang, masih memegangi ponselnya yang belum selesai diisi daya. Gadis itu kemudian mengetikkan pesan balasan untuk Alycia, berkata bahwa sepupunya itu tidak perlu khawatir tentang dirinya.
“Kalau begitu, Alycia mungkin akan pulang larut malam. Nah, sekarang apa yang harus kupesan untuk makan malam?” Crystal berpikir-pikir. Bukannya menu makanan yang muncul di kepalanya, ia justru terpikirkan hal lain. Sebuah ide gila yang sempat diusulkan oleh Christopher. “Bukankah ini kesempatanku untuk membuktikan apakah ide itu bisa benar-benar bekerja?” gumamnya.
***
[bersambung]