Crystal tersenyum puas ketika memeriksa jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 14.30. Itu artinya, ia dan Rayner telah menyelesaikan sesi pemotretan lebih awal tiga puluh menit dari waktu yang seharusnya.
“Untungnya pekerjaan seperti ini adalah keahliannya. Aku memang harus mengakui, dia hebat menjadi model foto.”
Walaupun Crystal kerap melabeli Rayner sebagai aktor dengan kemampuan akting terburuk, tapi Crystal tidak menampik kalau Rayner lebih baik darinya jika itu tentang menjadi model foto.
Ini pertama kalinya bagi Crystal menjalani sebuah pemotretan majalah bersama pria itu. Saat lampu dan kamera menyala, ekspresi dan gerak tubuh Rayner seketika berubah. Ia terlihat sangat fokus dan serius. Ekspresi yang tidak pernah Crystal lihat saat mereka menjalani syuting film bersama. Aura Rayner benar-benar terasa berbeda di sini.
“Yah, seharusnya aku tidak perlu kaget begini, kan? Ini hanya lah satu bukti bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan sangat adil. Kau diberi kekurangan di satu bidang, tapi kau memiliki kelebihan di bidang lainnya,” gumam Crystal pada dirinya sendiri.
“Apa yang kau gumamkan? Kau tidak sedang merapalkan sebuah kutukan untukku, kan?” Alycia yang baru kembali dari toilet itu bertanya menyelidik.
“Ya, kau benar. Aku memang baru saja merapalkan kutukan untukmu. Bagaimana kau tahu? Apa kau seorang cenayang?” Daripada mengelak membela diri, Crystal justru memakan umpan Alycia dan balas menggoda sepupunya itu.
“Hey, kau ini!” Alycia membulatkan matanya, menunjukkan wajah tak senang untuk beberapa saat, sebelum kemudian tertawa. “Ah, sudahlah.”
Crystal ikut tertawa. Ia tak hanya senang karena sudah menggoda Alycia, tapi juga karena teringat bahwa mulai detik itu, ia sudah mendapatkan hari istirahatnya, meskipun Alycia sama sekali belum memberitahu secara jelas berapa banyak waktu libur yang akan ia dapatkan.
“Jadi, berapa lama yang aku dapatkan? Kau sudah mencoba berdiskusi dengan Luke untuk itu, bukan? Bagaimana hasilnya?” Crystal mendekati Alycia sambil melompat-lompat kecil. Ia juga mengguncang-guncang kedua tangan Alycia karena terlalu bersemangat.
“Aduh, Crystal, tenanglah. Karena kalian menyelesaikan pemotretan dengan sangat cepat, sebenarnya kami belum benar-benar selesai berdiskusi. Dan lagi, aku sudah bilang kan kalau jangan terlalu berharap banyak.” Alycia merasa sedikit cemas menyampaikan hasil diskusinya dengan Luke yang belum selesai itu. Ia takut Crystal akan kecewa karena gadis itu tidak mendapatkan hari libur sebanyak yang ia inginkan.
“Ayolah, Alycia. Aku sudah paham tentang itu. Meskipun hanya libur satu hari, aku akan menerimanya dengan hati gembira. Jadi, bagaimana? Beritahu aku.” Crystal terus berusaha meyakinkan sepupunya itu.
Alycia menghela napas dengan keras. Ia melakukannya bukan hanya untuk melepaskan kecemasan, tapi juga untuk mengambil waktu sejenak sebelum memulai penjelasannya.
“Seperti kataku tadi, aku dan Luke belum selesai berdiskusi. Namun, hasil sementara, aku sudah berhasil mengosongkan jadwalmu setidaknya untuk empat hari ke depan.”
“Empat hari?” Crystal mengulang dengan nada bertanya. Ia ingin mengonfirmasi sekali lagi, kalau-kalau telinganya menangkap kata yang keliru.
“Iya, empat hari, tak sampai seminggu. Kenapa? Sudah kubilang, kau pasti kecewa, kan?” sesal Alycia.
Namun, tak seperti dugaan Alycia. Crystal justru mengembangkan senyum lebar di wajahnya. “Kecewa apanya? Itu memang terdengar sangat sedikit jika dibandingkan dengan keinginanku di awal. Tapi, karena aku tahu ini sulit, entah kenapa empat hari terdengar sangat banyak sekarang.”
“Begitukah? Itu bagus kalau memang kau pikir seperti itu.” Alycia melepaskan genggaman tangan Crystal. Ia kemudian meraih tas tangannya dan bersiap untuk pergi. “Ya sudah, sekarang saatnya kau kembali ke rumah bersama Christopher. Aku akan ikut Luke dan Rayner ke lokasi pekerjaan Rayner berikutnya. Kami akan melanjutkan diskusi yang belum tuntas tadi.”
“Kau akan pergi sendiri? Naik taksi?”
“Tidak, aku akan menumpang mobil mereka. Dengan begitu, kau bisa langsung pulang bersama Christopher dan memulai waktu liburmu yang menyenangkan.” Alycia terus berjalan di depan, sementara Crystal mengikutinya. “Oh, iya, satu hal lagi. Langsung pulang ke rumah, jangan mampir ke tempat lain tanpa aku. Mengerti?” tegasnya.
“Iya, aku mengerti. Lagi pula, kenapa sih aku harus selalu bersamamu jika ingin pergi ke suatu tempat?” Crystal menggerutu. “Jika seperti ini, liburan nanti aku benar-benar hanya akan terkurung di rumah, kan?”
“Masih bertanya kenapa? Tentu saja karena kau seorang Crystal White.”
***
“Tidak kah kau lelah bekerja bersamaku?” Crystal bertanya seraya menatap keluar jendela.
“Kau bertanya padaku, Nona?” Christopher yang terkejut karena diberi pertanyaan tiba-tiba itu sibuk mengalihkan pandangannya bergantian antara kaca depan mobil dan spion tengah. Pria paruh baya itu juga terlihat kebingungan, karena tatapan mata Crystal menatap ke arah lain dan bukan padanya. Ia pikir, mungkin Crystal hanya sedang berbicara sendiri sambil melamun.
“Tentu saja padamu. Saat ini kan tidak ada Alycia. Aku juga belum kehilangan akal hingga berbicara sendirian.” Kali ini tatapan mata Crystal beralih pada Christopher. Gadis itu juga menegakkan duduknya hingga sedikit condong ke depan, siap mendengarkan jawaban Christopher yang berada di kursi pengemudi. “Apa kau lelah bekerja bersamaku?” Crystal mengulang kembali pertanyaannya.
“Sejujurnya, tentu saja terkadang aku merasa lelah. Bukankah itu perasaan yang wajar bagi seorang manusia jika sudah bekerja keras?” Christopher menjeda kata-katanya sejenak untuk memutar kemudinya di persimpangan, kemudian kembali melanjutkan. “Tapi, itu bukan karena dirimu, Nona. Aku lelah karena aku seorang manusia yang normal saja. Mungkin saat aku merasa sangat kelelahan, kondisi kesehatanku memang sedang menurun atau malamnya aku kurang beristirahat. Ya, lelah yang seperti itu.”
“Tapi, bisa saja kan tubuhmu kelelahan karena aku? Karena pekerjaanku yang seolah tanpa henti. Di akhir pekan, saat para pekerja mendapatkan waktu istirahatnya, jadwalku justru lebih padat. Itu membuatmu harus bekerja dan selalu siap siaga. Itulah maksudku.”
“Ah, itu, ya? Aku tidak pernah berpikir seperti itu, Nona. Aku sudah bekerja denganmu sejak mendiang Nyonya White masih menjadi manajermu, kan? Maaf, ini mungkin terdengar tidak sopan, tapi ... aku sudah menganggapmu seperti keponakanku sendiri.”
Crystal diam-diam tersenyum. Entah mengapa, kata-kata Christopher membuat perasaannya hangat. Ia sama sekali tidak merasa bahwa ungkapan pria itu adalah sesuatu yang tidak sopan.
“Benarkah kau menganggapku begitu? Kalau begitu, bisakah aku mulai memanggilmu paman?”
“Eh? Tidak perlu sampai seperti itu, Nona.” Christopher yang biasanya bersikap tenang, kini terlihat salah tingkah.
“Tapi, aku tidak keberatan, kok. Lagi pula, kau kan memang lebih tua dariku.” Crystal terkekeh. “Tenang saja, aku hanya bercanda.”
Christopher mengembuskan napas lega. Crystal tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi ia tahu Christoper tersenyum sekarang. Gadis itu tiba-tiba merasa sangat beruntung memiliki orang-orang baik di sekitarnya. Ia memang saat ini tidak memiliki ayah, ibu ataupun saudara kandung. Tapi kehadiran Alycia, Christoper dan Kate, tak ubahnya seperti keluarga kecil baginya.
“Christoper, bukankah kau sudah lama tidak berlibur bersama istri dan putrimu?” tanya Crystal tiba-tiba.
“Iya, karena sibuk bekerja, aku belum sempat untuk hal-hal seperti itu,” aku Christoper. “Aku sedikit merasa bersalah, karena putriku pernah memintaku mengajaknya ke taman hiburan.”
"Kalau begitu, pergilah dengannya ke taman hiburan besok. Grace kecil itu pasti akan sangat senang," saran Crystal.
“Apa? Kenapa? Lalu, bagaimana denganmu, Nona? Siapa yang akan mengemudi untukmu? Apa Nona Alycia?” Christoper terlihat sangat terkejut.
“Ah, benar juga. Alycia pasti belum memberitahukannya padamu.” Crystal menepuk tangannya keras. “Sebenarnya, Alycia sudah mengosongkan jadwalku setidaknya untuk empat hari ke depan. Itu artinya, kau bisa mendapatkan waktu libur lebih panjang dan jangan khawatirkan aku karena aku pun akan menikmati waktu liburanku.” Crystal menjelaskan.
“Kau akan berlibur? Apa kau akan pergi ke suatu tempat juga?”
Pertanyaan Christoper membuat Crystal meringis pelan. “Sayangnya tidak. Aku mungkin akan terkurung di rumah saja. Menurut Alycia, akan gawat jika aku berkeliaran di luar, lalu ada penggemar atau orang lain yang akan mengenaliku.”
“Tapi, bukankah ada cara seperti itu? Yang seperti dalam film. Aduh, bagaimana ya cara menyebutnya?” Christopher mencoba mengingat sekaligus mengatur kata-katanya. “Aha! Menyamar. Bukankah kau bisa berdandan dan berpakaian seperti orang lain, Nona? Dengan begitu, mungkin tidak akan ada yang mengenalimu jika berpapasan di jalan.”
***
[bersambung]