“Aku sudah mencoba mengaturnya semalaman. Beruntung aku memang tidak banyak menerima tawaran pekerjaan yang harus kau lakukan setelah proses syuting film berakhir.” Alycia berbicara pada Crystal, tapi pandangan dan jarinya terfokus pada layar komputer genggam andalannya. “Jika ini berjalan lancar, maka kau bisa mendapatkan waktu liburanmu setelah acara pemotretan ini berakhir.”
“Wah, kau benar-benar akan mendapatkan liburanmu, Nona White? Aku ikut senang.” Kate yang sedang menata rambut panjang Crystal menjadi model bergelombang itu terlihat sangat bersemangat. Gadis itu bahkan sampai melompat kegirangan seolah liburan itu ditujukan untuknya.
“Ya, Alycia yang ‘dingin’ itu akhirnya bersimpati padaku. Katanya, dia berubah pikiran setelah bicara denganmu kemarin.” Crystal tersenyum manis pada Kate. “Wah, haruskah aku mentraktirmu sebagai ucapan terima kasihku, Kate?”
“Tunggu, tunggu, kenapa kau menyebutku ‘dingin’ setelah semua yang telah kulakukan untukmu?” protes Alycia.
Tawa Crystal dan Kate meledak menyadari wajah kesal Alycia. Meskipun selalu bersikap tegas dan memiliki pembawaan serius, sesungguhnya Alycia memiliki hati yang hangat dan terkadang menunjukkan sisi menggemaskan seperti gadis lain pada umumnya. Seperti yang Alycia tunjukkan saat ini. Pipinya yang menggembung saat kesal tidak jauh berbeda dengan apa yang sering ditunjukkan oleh Crystal.
“Selama bekerja sama dengan kalian, aku selalu merasakan perasaan yang berbeda. Tidak seperti bekerja pada aktris lain. Hubungan kekeluargaan yang kuat antara Nona White dan Nona Alycia membuatku merasa lebih nyaman,” puji Kate tiba-tiba, membuat suasana di antara mereka seketika berubah menjadi lebih emosional.
“Aduh, aduh, kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?” Crystal meraih sebelah tangan Kate. “Kalau kau menyukai ikatan antara aku dan Alycia, maka bergabunglah dengan kami.”
“Eh? Apa maksudnya?” Kate menatap Crystal dan Alycia bergantian. Kedua orang itu tersenyum aneh padanya, dan Kate sama sekali tidak tahu apa arti senyuman itu.
“Maksud Crystal, kau bisa jadi adik kecil kami. Usiamu kan paling muda. Dengan merasa memiliki saudara perempuan yang lebih muda, mungkin Crystal akan mengurangi sedikit sifat manjanya,” ujar Alycia sambil menepuk bahu Kate. “Bagaimana? Adik kecil?”
“Ba-bagaimana bisa seperti itu?” Kate yang polos sepertinya benar-benar menganggap serius ucapan mereka. Crystal jadi tak tahan untuk mencubit gemas kedua pipi Kate.
“Hmm, kau ini lucu sekali. Sampai kapan kau akan selalu mempercayai semua lelucon kami.” Crystal tertawa. “Tapi, aku tidak keberatan jika kau jadi adik kecilku.”
“Aduh, aku terjebak ya? Memalukan sekali.” Kate menutup wajahnya yang kemerahan dengan kedua tangan. Sementara Crystal dan Alycia saling bertukar senyum.
Setelah obrolan ringan itu, Kate segera mengembalikan fokusnya bekerja. Menata rambut Crystal adalah sentuhan terakhir yang harus dilakukannya untuk membuat penampilan Crystal semakin sempurna. Dengan begitu, Crystal pun kini benar-benar siap menjalani sesi pemotretan untuk sampul sebuah majalah bersama Rayner.
“Omong-omong, aku harus menemui Luke untuk membahas perombakan jadwal. Kira-kira di mana ya pria itu sekarang?” tanya Alycia, sambil menjulurkan kepala di sela pintu untuk melihat ke lorong.
“Kurasa Tuan Luke ada di kamar rias Tuan Rayner Davis. Tempatnya tepat di samping ruangan ini. Aku tahu itu karena sebelumnya aku berpapasan dengan penata rias mereka,” sahut Kate sambil berpikir-pikir. “Dan kurasa kau bisa mengunjungi mereka sekarang. Aku yakin Tuan Davis juga sudah siap untuk pemotretan.”
“Ah, begitu ya? Kalau begitu aku akan menemuinya sekarang.”
Alycia baru akan bersiap meninggalkan ruangan, saat Crystal dengan cepat bangkit dan bergegas menghampirinya.
“Tunggu! Biarkan aku ikut. Aku ingin bertemu dengan Rayner.”
Kening Alycia berkerut. Wanita itu menatap Crystal dengan tatapan keheranan, karena ini pertama kalinya Crystal yang biasanya menghindari Rayner sebelum pekerjaannya dimulai, justru ingin menemui pria itu.
“Hah? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa kau ingin menemuinya?” Alycia tak bisa menahan kata-katanya. Ia hampir lupa kalau di sana ada Kate yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Rayner dan Crystal.
“Ya aku hanya ingin bertemu kekasihku. Apa salahnya? Bukankah itu bisa membuatku jadi lebih bersemangat bekerja?” Crystal mengalihkan pandangannya pada Kate, seraya mengajukan pertanyaan. “Aku benarkan, Kate?”
***
Sebuah ketukan pintu yang lembut bergema di ruang rias yang cukup luas itu. Luke dan seorang penata rias Rayner kompak menoleh ke arah pintu, sementara Rayner tampak tidak peduli. Pria itu tidak terlihat penasaran sama sekali dan justru sibuk mengetik sebuah pesan yang entah untuk siapa di ponselnya sambil tersenyum konyol.
“Tunggu sebentar.” Luke menjawab ketukan pintu itu, lalu melirik ke arah Rayner. Pria itu kemudian mendesah panjang saat mendapati aktris yang ia jaga privasinya ini justru tidak terlalu peduli. Karena tidak memberi respons, Luke pun menyimpulkan bahwa Rayner tidak masalah dengan kehadiran tamu yang mengetuk pintu ruang rias mereka sekarang..
Luke memutar kenop pintu, lalu menarik daun pintu perlahan. Ia mencoba untuk tidak membuka pintu itu secara keseluruhan dan mengintip terlebih dahulu, memastikan bahwa tamu tak diundangnya ini tak akan membawa masalah untuk aktrisnya.
“Ah!” Luke berseru keras saat mendapati sosok yang berdiri di balik pintu itu adalah Alycia. Saat ia membuka pintu lebih lebar lagi, saat itulah ia juga bisa melihat sosok Crystal White yang melambaikan tangan dengan ceria ke arahnya.
“Hai, Luke. Apa Rayner sudah selesai? Sedang apa dia sekarang?” Crystal menerobos masuk tanpa menunggu Luke mempersilakannya. Alycia yang baru pertama kali mendapati sikap Crystal seperti ini hanya bisa ikut terpaku bersama Luke di depan pintu.
“Ah, maaf. Ayo, silakan masuk.” Luke yang lebih dulu mendapatkan kesadarannya segera menyilakan Alycia yang masih berdiri mematung di sana untuk masuk.
“O-oh, ya, terima kasih,” jawab Alycia canggung. “Sebenarnya, aku ke sini karena ingin meminta maaf. Kau pasti sudah dengar tentang kondisi kesehatan Crystal yang sedang kurang baik dan tentang perubahan jadwalnya dari Rayner. Semua itu pasti merepotkanmu, ya? Aku benar-benar minta maaf.”
Luke sebenarnya masih sedikit merasa kesal tentang itu, tapi melihat penyesalan Alycia, Luke memilih untuk menerima permintaan maaf wanita itu. “Tidak apa-apa, pekerjaan kita sama. Kau juga pasti mengalami kesulitan yang sama, bukan?”
Alycia mengangguk, sebelum melanjutkan, “Dan karena itulah aku ke sini untuk membicarakannya denganmu. Kemarin, aku hanya bicara dengan Rayner dan kupikir tidak sopan sekali jika aku tidak bicara secara langsung denganmu. Selain karena ingin meminta maaf dengan benar, aku juga ingin bertanya, apakah kau mau meluangkan waktu mengatur ulang jadwal mereka denganku?”
Alycia sesungguhnya merasa cemas meminta hal ini pada Luke. Ia takut kalau-kalau Luke merasa tidak nyaman dan menolak ajakannya mentah-mentah. Namun, ada senyuman yang mengembang di wajah pria itu tak lama kemudian. “Itu ide yang bagus. Kupikir juga begitu. Kita bisa menyelaraskan jadwal Crystal dan Rayner dengan duduk bersama.” Luke justru terlihat sangat bersemangat. “Mereka akan mulai pemotretan sebentar lagi. Kurasa itu waktu yang tepat bagi kita mendiskusikan ini sambil menunggu. Bagaimana menurutmu?”
***
Sementara Alycia berbicara dengan Luke, Crystal memilih untuk menghampiri sosok pria yang sedang tersenyum konyol di depan meja rias. Crystal tak tahu pasti apa yang membuat Rayner tersenyum seperti itu pada ponselnya. Pria itu sekilas seperti sedang menonton sebuah video lucu. Namun, jika benar begitu, aneh juga kalau tidak ada suara yang keluar dari benda dalam genggamannya itu.
“Hey, kenapa kau tersenyum seperti orang bodoh? Kau sedang menonton video lucu, ya? Apa itu? Aku jadi penasaran.”
Kedatangan Crystal sepertinya tidak disadari oleh Rayner. Hal itu terlihat jelas dari gerak tubuh Rayner yang melompat terkejut dari duduknya dan hampir menjatuhkan ponsel di tangannya. Rayner jelas terlalu sibuk dengan ponselnya, hingga tidak menyadari bahwa sudah ada dua gadis tambahan yang berada di dalam ruang riasnya.
“Crystal ... apa yang kau lakukan di ruanganku?” Belum sempat Crystal menjawab pertanyaan itu, pandangan Rayner sudah menyapu ke sudut lain ruangan. Saat itulah ia menyaksikan Luke dan Alycia yang sedang membicarakan sesuatu. “Ah, mungkin kah Alycia sedang membahas perubahan jadwal itu dengan Luke?” gumam Rayner yang ternyata terdengar oleh Crystal.
“Ya, Alycia memang datang menemui Luke untuk itu,” sambar Crystal.
“Lalu, kau? Untuk apa kau ada di sini?” Rayner mengubah raut wajahnya. Ia menatap Crystal seolah gadis itu baru saja merusak kesenangannya. Ekspresi yang ditunjukkan Rayner tergolong langka di mata Crystal. Sebab, selama ini Raynerlah yang lebih sering mengganggunya hingga membuat dirinya merasa tidak nyaman. Namun kali ini, situasinya justru berbalik. Rayner tampak sangat terganggu dan tidak senang dengan kehadiran Crystal di dekatnya.
“Kenapa kau seperti ini? Aku kan sedang mengunjungi kekasihku sebelum pemotretan yang melelahkan itu dimulai. Bukankah kau seharusnya merasa senang karena kekasihmu ini ternyata sangat perhatian.” Crystal mengedipkan matanya dengan genit, bermaksud menggoda, tapi tentu saja ini adalah bagian dari sandiwaranya.
“Aku tahu kau sedang berusaha yang terbaik untuk kontrak itu, tapi ini berlebihan.” Rayner melirik ke arah penata riasnya, memberi isyarat dengan matanya agar wanita itu meninggalkan ruangan. Rayner pasti tak ingin wanita itu mendengar obrolan mereka lebih banyak.
Berbeda dengan hubungan Crystal dan Kate yang sangat dekat, hubungan Rayner dengan penata rias itu tampak benar-benar profesional sebagai rekan kerja saja. Crystal juga menduga, Rayner sepertinya tidak selalu menggunakan jasa penata rias yang sama seperti dirinya.
“Baiklah, aku permisi.” Meskipun diperintahkan keluar ruangan dengan cara yang sedikit tidak sopan, wanita itu tetap patuh. Karena ekspresi wajahnya yang datar, Crystal tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan wanita itu. Namun, Crystal merasa wanita itu memiliki pembawaan yang baik, terlihat dari cara berpamitannya yang sangat sopan.
“Crystal, dengar, walaupun aku sudah menyetujui soal perubahan jadwal itu, sejujurnya aku belum mempercayainya seratus persen.” Rayner melipat kedua tangannya, lalu memilih berdiri bersandar karena kursi yang ia duduki sebelumnya kini diambil alih oleh Crystal. “Maksudku tentang kondisi kesehatanmu itu. Katakan padaku yang sebenarnya, kau menyimpan rahasia, kan? Untuk apa ini semua?”
“Oh, kenapa kau begitu yakin?” Crystal tersenyum meledek. “Bukankah saat ini kau yang menyimpan rahasia?”
“Apa? Kau melantur, ya?” Rayner balas tersenyum miring.
“Tidak, kok,” jawab Crystal penuh percaya diri. “Saat aku bertanya tentang video apa yang kau tonton hingga membuatmu tersenyum konyol seperti itu, sebenarnya aku hanya bercanda. Ekspresi itu memperlihatkan dengan jelas bahwa kau sedang membaca pesan dari seseorang yang membuat hatimu berbunga-bunga. Aku benar, kan?”
Rayner tidak menjawab, tapi ekspresi wajahnya yang terlihat angkuh sebelumnya kini telah berganti. Pria itu terlihat gugup dan tegang. Crystal tidak perlu jawaban, perubahan ekspresi itu sudah cukup menjawab pertanyaannya.
“Jadi, siapa dia? Kau punya kekasih lain selain aku, kan? Kekasih yang sebenarnya.” Crystal mengedipkan sebelah matanya.
***
[bersambung]