“Bagaimana hasilnya? Kita berhasil, kan? Dia setuju?”
Crystal yang kembali ke mobilnya lebih dulu, langsung memberondong Alycia dengan banyak pertanyaan. Gadis itu sepertinya sudah sangat tidak sabar mengetahui jawaban apa yang diberikan Rayner setelah berdiskusi dengan Alycia beberapa saat lalu.
“Haruskah kita bicarakan itu di sini? Mungkin lebih baik jika kita bicarakan nanti saja di rumah,” saran Alycia, seolah tidak peduli dengan rasa penasaran yang membuncah dalam diri sepupunya.
Crystal menggeleng, lalu menggenggam erat tangan Alycia. Gadis itu juga memberikan tatapan penuh harap andalannya. Tatapan yang membuat Alycia merasa tak berdaya dibuatnya dan berakhir mengalah. “Oke, oke, baiklah. Setidaknya biarkan mobil ini berjalan dulu. Christopher, kau bisa mulai mengemudi. Kita akan pulang sekarang.”
“Baik, Nona.” Setelah mendapatkan arahan dari Alycia, Christopher sang supir yang dapat dipercaya itu segera melajukan mobilnya dan fokus mengemudi. Sementara di kursi belakang, Crystal dan Alycia memulai percakapan mereka.
Beberapa saat lalu, Crystal memilih meninggalkan pesta lebih cepat dari seharusnya. Rayner yang sedari awal belum terlalu mempercayai kata-kata Crystal terus memberikan tatapan curiga padanya. Berbeda dengan Sutradara Iggy yang langsung memberi izin, bahkan mengantar Crystal hingga gadis itu masuk ke dalam mobilnya, memastikan bahwa aktis kesayangannya itu benar-benar aman.
Saat Crystal dan Sutradara Iggy beranjak ke mobil, Alycia menarik Rayner ke suatu tempat. Ia beralasan ingin membicarakan sesuatu dengan pria itu lebih dulu sebelum menyusul Crystal. Saat itulah Alycia menjalankan rencana yang telah dirancang Crystal sebelumnya.
“Aku melakukannya seperti yang kau minta. Memasang wajah cemas dan sedikit memelas. Tidak banyak yang aku katakan, tapi Rayner langsung mempercayai semua ucapanku.” Alycia mengangkat bahunya cepat. “Yah, aku sebenarnya agak khawatir, tapi ternyata ini lebih mudah dari dugaanku.”
Crystal mengangguk sambil mengusap dagunya. Tingkahnya terlihat seperti pria paruh baya dalam film-film detektif saat pria itu berhasil memecahkan sebuah kasus.
“Sudah kuduga. Rayner tidak semenyebalkan yang kita kira. Dia hanya bertingkah menyebalkan karena aku selalu masuk ke dalam jebakannya. Namun, saat aku bertingkah tidak peduli, dia mungkin merasa ini sudah tidak seru lagi.” Crystal kemudian mengalihkan pandangannya pada Alycia. Ia tersenyum bangga dan tanpa sadar menepuk keras punggung sepupunya itu. “Dan kerja bagus untukmu, Alycia!”
“Aduh, sakit. Apa yang kau lakukan?” Alycia meringis kesakitan. “Aku tahu kau sangat senang dengan hasil yang kita dapatkan, tapi apa harus sampai menyakitiku seperti ini? Ya ampun, energimu saat merasa senang itu mengerikan.”
Crystal tertawa keras, menganggap Alycia yang sedang kesakitan itu sangat lucu. “Oh, maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya merasa bangga padamu. Kurasa kau cocok juga debut menjadi aktris. Harus kuakui aktingmu hari ini luar biasa. Kau hebat sampai mampu meyakinkan Rayner bahwa aku benar-benar merasa tidak sehat.”
“Apa? Aku? Debut berakting? Jadi sepertimu? Tidak mungkin!” Alycia menyandarkan tubuhnya. “Aku senang dengan pekerjaanku saat ini ... mengatur semua jadwalmu. Walaupun kau membuat pekerjaanku terasa semakin sulit.”
“Ah, soal jadwal itu ... karena Rayner percaya aku sedang tidak sehat. Lalu, bagaimana? Dia membatalkannya atau ...?”
“Mana mungkin membatalkannya. Dia hanya setuju jika aku mengatur ulang dan jangan sampai berbenturan dengan jadwalnya saja. Itu juga bukan hal yang mudah, banyak pihak yang perlu aku hubungi untuk ini.” Alycia mengurut keningnya. Memikirkannya saja membuat kepalanya terasa berputar. Padahal, ia sama sekali belum memulai langkah apa pun.
“Hmm, Alycia, maaf dan terima kasih,” ujar Crystal tiba-tiba. “Maaf telah membuatmu repot dan terima kasih karena sudah memberiku waktu istirahat yang sangat berharga.”
“Tidak, jangan begitu. Kau terlalu cepat berterima kasih.” Alycia kembali menegakkan duduknya. “Oh iya, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu sedari tadi, tapi entah bagaimana aku selalu lupa.”
Crystal mengangkat alisnya tinggi. “Apa itu?”
“Jika kau mendapatkan liburan itu, memangnya apa yang ingin kau lakukan?”
***
“Kau setuju mengubah jadwal?”
Rayner mengangguk membenarkan. “Iya.”
“Aduh, kenapa kau setuju begitu saja? Itu kan tidak sesederhana yang kau pikirkan.”
“Maaf, kau jadi repot gara-gara aku.”
Rayner menatap Luke yang sedang mengacak-acak rambutnya dan tampak frustrasi itu dengan penuh penyesalan. Ia benar-benar merasa bersalah karena harus merepotkan manajernya itu untuk mengatur ulang jadwal sesuai kesepakatan yang telah dibuatnya dengan Crystal dan Alycia.
“Kau tahu apa yang membuatku sangat kesal? Ini bukan tentang kesulitan yang akan aku hadapi, tapi sikapmu ini. Kenapa kau tidak mendiskusikannya terlebih dahulu denganku?” Luke berkacak pinggang. Pria itu juga menendang-nendang lantai dengan kesal.
“Iya, aku juga minta maaf tentang itu.” Rayner yang biasanya bertingkah arogan, kini tidak berniat bersikeras membela diri. Ia mengakui bahwa itu memang kesalahannya. Kini semuanya telah terjadi. Hanya permintaan maafnya lah yang mungkin mampu membuat suasana antara dirinya dan Luke tidak terlalu panas.
“Yah, apa boleh buat. Karena kau sudah terlanjur menyepakatinya dan kondisi Crystal memang terlihat tidak baik, aku sepertinya tidak punya pilihan.” Setelah satu tarikan napas dalam, akhirnya Luke mencoba menerima situasinya. Jika bukan karena kondisi Crystal, ia mungkin tak akan memaafkan sikap Rayner yang seenaknya ini.
“Untuk saat ini, aku benar-benar minta maaf padamu.” Rayner yang masih merasa bersalah, mencoba mengulangi permintaan maafnya. “Sebenarnya, awalnya aku tidak percaya. Tapi kau lihat sendiri bagaimana gadis itu pamit lebih dulu, kan? Dia juga bertingkah tidak seperti biasanya denganku. Sikapnya sangat manis seolah ia tidak ingin membuang-buang energinya. Alycia juga. Dia sampai memohon padaku demi gadis itu.”
“Iya, aku memaafkanmu dan aku mengerti,” jawab Luke yang sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. “Tapi, tidakkah kau penasaran? Sebenarnya, Crystal White itu kenapa? Apa hanya sekedar kelelahan atau dia memang menderita penyakit tertentu? Yah, sebenarnya aku ikut merasa khawatir. Apa Alycia mengatakan sesuatu padamu?”
Rayner menggeleng. “Tidak. Tapi karena kau bertanya seperti itu, sekarang aku jadi ikut penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi pada Crystal?”
***
Crystal memandang taburan bintang yang menghiasi langit malam dari balkon kamarnya. Karena hampir lewat tengah malam, suasananya sangat sunyi dan terasa sedikit romantis. Jika saat ini ia sedang berperan dalam sebuah drama atau film romantis, pasti akan muncul sosok pria tampan yang perlahan memeluknya dari belakang. Berbagi kehangatan di tengah udara malam yag dingin. Namun, saat ini ia sedang berada di dunia nyata, bukan dalam drama atau film. Sosok pria yang memeluknya tak akan pernah ada. Kini, hanya ada dirinya seorang diri di sana.
Sesungguhnya, Crystal bukanlah tipe gadis yang gemar memikirkan hal romantis. Ia juga benci angin malam yang menurut mendiang ibunya hanya akan membawa dampak buruk bagi kesehatannya. Ia hampir tidak pernah membuka balkon kamarnya jika waktu sudah melewati pukul 9 malam. Namun, berbeda dengan malam ini. Entah mengapa ia tidak bisa tidur hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dan menyadari bahwa langit malam itu sangat indah dan menenangkan.
Memangnya apa yang ingin kau lakukan?
Crystal kembali teringat oleh pertanyaan Alycia yang belum dijawabnya itu. Ya, ini tentang liburan berharga yang diinginkannya dan Alycia sedang mengusahakan untuk mewujudkannya. Sampai dalam perjalanan pulang tadi, ia terlalu senang atas apa yang akan didapatkannya, hingga ia sama sekali tidak berpikir apa yang akan dilakukannya jika liburan itu benar-benar terealisasikan.
“Jika kau memang hanya ingin ketenangan, tak ada tempat yang tepat selain di rumah. Kau akan terhindar dari serbuan penggemar atau orang-orang dari media massa. Berkeliaran di luar bukan pilihan yang tepat untuk selebriti sepertimu.”
Ya, Crystal sangat setuju dengan apa yang diucapkan Alycia. Rumah memang tempat yang paling aman dan tepat untuknya menenangkan diri. Selama ini pun begitu. Ia selalu memilih untuk tinggal di rumah seharian jika mendapatkan waktu libur. Kali ini seharusnya juga begitu.
Namun, Crystal bukan hanya menginginkan ketenangan. Ia perlu sesuatu yang bisa sedikit mengalihkan perhatian dan tekanan yang ditanggungnya. Ia ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang aman dan menenangkan. Tempat yang tidak terlalu jauh, tapi sosok Crystal White sang selebriti tak akan mudah dikenali di tempat itu. Namun, apakah benar-benar ada tempat yang seperti itu?
“Apa aku benar-benar tidak dapat pergi ke mana pun saat ini? Jika itu benar, maka pasti akan sangat membosankan.” Crystal menatap jauh ke langit malam.
***
[bersambung]