“Aku kira yang ini sesuai dengan keinginanmu. Bagaimana? Apa kita akan ambil yang ini saja?”
Crystal tidak mendengar. Matanya menatap kosong ke cermin yang kini memantulkan bayangannya dalam balutan pakaian formal. Pakaian itu adalah setelan blazer berwarna putih. Blazer panjang dengan kerah berbentuk “V” yang cukup dalam dan pada bagian perut terdapat sebuah ikat pinggang yang manis untuk membantu menonjolkan bentuk tubuh indah Crystal. Pakaian ini sangat sesuai dengan keinginan Crystal yang tidak ingin mengenakan gaun untuk pesta nanti malam, tapi tetap ingin tampil formal tanpa kehilangan aura femininnya.
“Hey, kau tidak mendengarku, ya? Apa lagi yang kau pikirkan saat ini? Rayner?” Alycia yang tidak mendapat jawaban berinisiatif mengguncang sedikit bahu Crystal untuk mengembalikan kesadaran gadis itu.
“Kenapa kau sebut namanya? Membuatku kesal saja.” Crystal menjawab cepat. Tidak ingin Alycia membahas soal Rayner lebih jauh lagi, ia pun segera kembali dengan topik pembicaraan tentang pakaian yang sedang dikenakannya. “Kita ambil saja pakaian ini. Aku menyukainya.”
“Hah, kau ini. Memang itulah yang aku katakan tadi.” Alycia menghela napas, sebelum kemudian melanjutkan. “Ya sudah, kau ingin mengenakannya sekarang atau berganti pakaian lebih dulu? Aku akan membayar untuk pakaian itu. Kau jangan coba-coba pergi, ya!”
“Iya, memangnya aku akan pergi ke mana?” jawab Crystal ketus sambil menyibak tirai ruang ganti dengan gerakan kasar.
Sebenarnya, sebagai seorang aktris ternama, tak sulit bagi Crystal mendapatkan pakaian yang bagus dari desainer-desainer terbaik kenalannya. Mereka biasanya akan mengizinkan Crystal mengenakan pakaian karyanya secara percuma. Menjadikan Crystal sebagai kesempatan emas untuk beriklan dan berinvestasi, membuat pakaian mereka banyak dicari setelah Crystal mengenakannya di suatu acara.
Namun, Crystal tak selalu memanfaatkan keuntungan itu. Sesekali, ia ingin mengenakan pakaian dengan merek yang tidak terlalu dipandang tinggi, seperti hari ini. Bagi Crystal, pakaian bukanlah tentang merek dan reputasi, tapi tentang sebuah kenyamanan yang ditawarkan dan kesesuaian dengan suasana hati penggunanya.
Kebetulan, hari ini ia ingin mengenakan sesuatu yang sederhana, tanpa harus mengubah karakter femininnya. Beruntung butik pertama yang didatanginya ini memiliki pakaian yang sesuai dengan keinginannya, hingga ia tak harus lelah mencari-cari di tempat lain.
“Soal liburan itu ....” Crystal tiba-tiba teringat kembali tentang percakapannya dengan Alycia di restoran beberapa waktu lalu.
Crystal sempat berharap besar bahwa Alycia akan benar-benar mengabulkan keinginannya untuk hiatus dari dunia hiburan selama beberapa bulan. Ia pikir, mungkin sepupunya itu terpengaruh oleh kata-kata Kate sehingga merasa bersimpati, lalu memberikan apa yang ia inginkan.
“Jangan berlebihan! Aku hanya akan memberimu libur beberapa hari saja. Mencoba mengganti hari kontrak-kontrak penting dan membatalkan beberapa yang tidak akan memberikan dampak besar bagi dirimu. Kau tahu kan betapa sulitnya ini bagiku?” protes Alycia saat itu.
Yah, Crystal tentu saja memahami kesulitan yang dialami Alycia karena keinginannya. Karena itulah Crystal menahan diri untuk tidak bersikap keras kepala kali ini. Libur beberapa hari memang rasanya tidak akan cukup bagi jiwanya yang lelah. Namun, ia pikir itu sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Ia juga cukup senang dengan keputusan Alycia itu.
“Baiklah, hari ini aku tidak akan biarkan Rayner merusak kebahagiaanku.” Crystal tersenyum lebar pada dirinya sendiri yang terpantul di cermin.
“Benarkah? Bisakah kau melakukannya?” Tirai ruang ganti di belakangnya tiba-tiba tersibak. Crystal tersentak, segera menutupi bagian tubuhnya yang masih terekspos.
“Ada apa denganmu? Aku belum selesai. Cepat tutup kembali!” Crystal membulatkan matanya ketika mengetahui bahwa yang melakukannya adalah Alycia. Wanita itu ternyata kembali lebih cepat dari dugaannya. “Kau sudah membayarnya? Cepat sekali.”
Alycia mengangkat bahunya. “Apa yang sulit dari itu? Kau hanya perlu menggesek kartu dan selesai,” jawabnya dengan setengah tidak peduli. “Kau tahu apa yang sulit bagiku saat ini?” tanya Alycia tiba-tiba.
“Apa? Merombak jadwalku itu?” tebak Crystal. “Aku tidak akan banyak protes tentang itu. Jika memang harus membayar kompensasi karena membatalkan kontrak, aku akan menerimanya.”
Alycia menggeleng cepat. “Tidak, tidak, bukan itu. Yah, tidak semuanya salah. Ini memang tentang merombak jadwalmu, tapi masalah terbesarnya bukan tentang kompensasi.”
Crystal yang sudah selesai mengenakan pakaian lamanya, kemudian memutar tubuhnya. Kini posisi berdirinya menjadi berhadapan dengan Alycia. Dengan posisi seperti ini, Alycia dapat melihat bagaimana kening Crystal berkerut.
“Bukan kompensasi? Lalu, apa masalahnya?” tanya Crystal ingin tahu.
“Ini tentang ...” Alycia terlihat ragu, hingga berakhir menggantungkan kalimatnya. “Aduh, aku takut kau marah jika menyebut nama itu.”
“Kalau begitu kau tidak perlu menyebutnya. Ini tentang si pria menyebalkan itu, kan?” Crystal melipat tangan di depan dadanya. Ia juga tak ingin menyebut nama Rayner. Jadi, ia lebih memilih menyebut nama julukan yang ia berikan untuk pria yang saat ini berada dalam urutan teratas orang paling dibencinya itu.
“Ya, dia itu masalahnya.” Alycia membenarkan. “Bagaimana ya? Ada beberapa pekerjaan di mana kalian seharusnya tampil bersama. Kurasa akan sulit mengatur ulang jadwal itu. Sampai saat ini, aku masih belum menemukan jalan keluar dari masalah ini. Kau yang paling memahami betapa menyebalkannya pria itu, kan? Aku yakin dia tidak akan semudah itu mengikuti keinginan kita.”
Crystal mengangguk mendengarkan. Alycia memang benar. Rayner senang sekali membuat Crystal merasa kesal dan marah. Pria itu tidak pernah terlihat menyesal telah mengganggu Crystal. Justru sepertinya, Rayner sangat menikmati bagaimana ia menekan dan membuat Crystal tidak nyaman. Membuat Crystal kesal, jelas telah menjadi hiburan baru bagi pria itu. Crystal baru menyadarinya sekarang.
“Ah, kau tidak perlu khawatir, Alycia.” Crystal menepuk bahu Alycia sambil tersenyum. “Aku tidak begitu yakin, tapi sepertinya aku tahu bagaimana cara untuk mengatasi masalah ini. Kau juga harus berpartisipasi sedikit untuk ini.”
“Bagaimana?” Alycia terlihat penasaran. “Jangan coba lakukan hal aneh, ya!” tambahnya cemas.
***
“Wah, wah, ini dia kekasih cantikku sudah tiba. Maaf ya, aku tidak menjemputmu dan berangkat ke pesta ini bersama.”
Seperti dugaan Crystal, Rayner langsung menghampiri dan merangkul bahunya. Di mata orang lain, Rayner mungkin terlihat benar-benar seperti seorang kekasih yang amat mencintainya. Namun, di mata Crystal, tingkahnya itu tak lebih dari seorang pria tak sopan yang hobi menyentuh wanita tanpa permisi.
“Oh, tidak apa-apa, sayang. Aku tahu kau sibuk hari ini.” Crystal tersenyum lebar, menatap langsung mata Rayner. Tak hanya itu, jemari gadis itu juga menyentuh lembut pipi Rayner. Semua yang Crystal lakukan, sontak membuat semua orang bersorak melihat kemesraan yang Crystal tunjukkan.
Berbeda dengan reaksi orang-orang di sekitarnya, Rayner justru tercengang. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa respons yang didapatnya dari Crystal akan seperti ini. Ia pikir, Crystal akan cemberut dan marah seperti biasanya.
“Hmm? Ada apa? Apa ada yang salah di wajahku? Kenapa kau menatapku seperti itu?” Crystal memegangi kedua pipinya, berpura-pura tidak tahu bahwa Rayner pasti sangat terkejut dan tidak siap dengan responsnya saat ini.
“Kurasa dia jadi seperti itu karena terpesona dengan kecantikan kekasihnya.” Sutradara Iggy tahu-tahu sudah berada di samping Crystal. “Hari ini pun pakaianmu memesona meskipun sedikit berbeda.” Pria itu menunduk memberi hormat untuk aktrisnya itu.
“Oh, benarkah? Anda bisa saja.” Crystal tersipu-sipu mendengar pujian itu. “Mengenai sikapku kemarin, aku sungguh minta maaf.”
“Kemarin? Oh, soal itu? Aku tidak menganggap itu sebuah masalah, kok,” jawab Sutradara Iggy dengan santai seperti biasanya. “Aku justru mencemaskan keadaanmu. Kau terlihat tidak terlalu baik kemarin, apa sekarang sudah tidak apa-apa? Katakan saja jika memang kau merasa tidak enak badan.”
“Benar, aku sudah mengatakannya, tapi Crystal tetap ingin pergi.” Alycia dengan cepat menyela. Ia juga memasang raut wajah cemas.
“Oh, itu tidak baik. Kau tidak seharusnya memaksakan diri seperti itu.” Sutradara Iggy menasihati. “Rayner, bawa dia duduk di tempat yang nyaman. Kekasihmu ini sedang tidak terlalu baik, kenapa kau biarkan dia berdiri lama di sini?”
Rayner yang masih terkejut dengan sikap Crystal hanya bisa bicara tergagap karena tidak siap. Pria itu pada akhirnya hanya mengikuti apa yang diperintahkan Sutradara Iggy dengan patuh. Membawa Crystal duduk di tempat yang nyaman dan membawakan segelas minuman segar untuk gadis itu.
“Aktingmu bagus sekali. Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?” bisik Rayner, setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikan mereka. Semua orang, kini terlarut pada suasana pesta dan terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing.
“Kau terlambat ribuan langkah. Apa kau baru menyadari betapa baiknya kemampuan aktingku?” Crystal mulai menyesap isi gelasnya. “Asal kau tahu saja, aku tidak punya maksud apa pun. Aku hanya lelah berperang denganmu. Jadi, kita akhiri saja. Aku akan dengan profesional menjalani kontrak itu. Mulai saat ini, aku akan lebih serius menjadi kekasihmu.” Crystal tersenyum sambil mengedipkan mata dengan genit.
“Oke, aku mengerti sekarang. Lalu, tentang kondisi kesehatanmu itu. Kau juga berakting, kan? Kau tidak benar-benar merasa tidak sehat, kan?” Rayner menatap Crystal lekat-lekat, tak ingin terlewat sedikit pun perubahan raut wajah gadis yang pintar berakting itu.
“Kau pikir aku berbohong tentang itu? Kejam sekali.” Crystal menggeleng sambil berdecih pelan. “Kau dengar sendiri betapa cemasnya Alycia, bukan? Kau mungkin bisa tidak mempercayai ucapanku. Tapi bagaimana dengan Alycia? Menurutmu dia akan berakting seperti itu?”
Rayner tidak menjawab. Pria itu melirik pada sosok Alycia yang sedang duduk di sudut ruangan. Alycia terlihat duduk tenang di sudut ruangan yang temaram. Namun, Rayner masih bisa melihat sorot mata Alycia yang menatap ke arah Crystal dengan cemas.
***
[bersambung]