“Senang rasanya bisa mewawancaraimu, Crystal White. Aku yakin kehadiranmu dapat membuat rating acara ini semakin meningkat. Terima kasih.” James tertawa puas. Pembawa acara itu juga menjabat tangan Crystal dengan penuh semangat. Terlihat jelas pria itu sangat senang dan sangat berterima kasih.
“Oh, kau berlebihan, James. Acaramu itu sudah sangat baik tanpa aku. Bukankah acara ini baru saja mendapat penghargaan sebagai acara talkshow terpopuler? Justru aku yang seharusnya merasa terhormat sekarang.”
“Eh? Kau tahu tentang penghargaan itu? Wah, itu luar biasa. Seorang Crystal White yang sangat sibuk mengetahuinya. Aku merasa tersanjung.” James tersipu. Bagi pria itu, dipuji Crystal mungkin jauh lebih membanggakan daripada penghargaan yang baru diterimanya.
Crystal tertawa kecil. Diam-diam, ia merasa bersyukur telah mendengar soal penghargaan itu dari Kate. Awalnya, ia mendengar ocehan Kate hanya sekedar untuk mengalihkan emosi negatifnya saja. Namun, siapa sangka informasi yang ia dengarkan sambil lalu itu bisa membantunya berbasa-basi saat ini.
“Lalu, apa jadwalmu berikutnya? Wah, pasti sibuk sekali.”
“Itu ....”
Crystal tak bisa menjawab pertanyaan James kali ini. Pasalnya, sejak kejadian semalam, ia sedikit menghindari Alycia. Padahal, biasanya Alycia akan membacakan jadwal Crystal seharian penuh, entah pada malam hari sebelumnya atau pada pagi harinya.
“Ah, apa kau mau berganti pakaian lebih dulu sebelum meninggalkan tempat ini?” Entah dari mana, Alycia tahu-tahu sudah berada di belakangnya. “Oh, halo, Tuan Lambert. Terima kasih untuk wawancaranya hari ini. Kuharap Crystal tidak mengecewakanmu.” Tidak ingin bersikap tidak sopan, Alycia menyempatkan diri untuk menyapa James seperti apa yang sering dilakukan gadis itu pada rekan kerja Crystal lainnya.
“Apa yang kau katakan?” James tertawa sambil mengibaskan tangannya. “Aktrismu sama sekali tidak merepotkan. Justru aku yang sangat berterima kasih padanya.”
“Begitu, ya? Syukurlah.” Alycia membalas dengan sebuah senyuman ramah.
“Jadi aku benar, ya? Jadwal Nona Crystal White, sang aktris kesayangan banyak orang ini sangat padat?” tambah James.
“Tidak juga. Kami mungkin akan istirahat sebentar sebelum bersiap pergi ke acara pesta bersama Sutradara Iggy dan para staff film,” jawab Alycia.
“Eh? Pesta? Pesta penutupan itu, kan? Hari ini?” Mata Crystal membulat. Jelas terlihat gadis itu terkejut.
“Ya, begitulah. Sutradara Iggy baru mengabariku pagi ini setelah mengonfirmasi bahwa kau dan Rayner tidak ada kegiatan.”
“Aduh, lucu sekali sampai kau tidak tahu itu.” James lagi-lagi tertawa karena menganggap Crystal yang terkejut itu sangat lucu. “Pesta mendadak memang merepotkan, ya? Kurasa kau harus cepat mempersiapkan diri. Wanita butuh waktu lama untuk mencari pakaian yang tepat. Benarkan, Alycia?” James mengalihkan tatapannya pada Alycia.
“Oh, Anda benar sekali.” Alycia mengangguk setuju.
***
“Kenapa mendadak sekali? Benar-benar malam ini?” Crystal yang sudah selesai berganti pakaian itu menatap Alycia dengan mata bulatnya yang besar dengan tatapan tidak percaya.
“Yah, sebenarnya tidak terlalu mendadak, kan? Bukankah Sutradara Iggy juga sudah memberitahu semua orang kapan kemungkinan dirinya akan mengadakan acara pesta ini? Dan salah satu opsi-nya memang hari ini. Apa kau tidak ingat?” Alycia menjawab sambil lalu. Ia sama sekali tidak balas menatap lawan bicaranya karena terlalu sibuk membenahi barang-barang Crystal agar tidak ada yang tertinggal di ruang rias studio TV itu. Akan sangat merepotkan tentunya jika ia harus kembali mengambilnya lagi nanti jika benar-benar ada yang terlupakan.
“Y-ya, itu memang benar, sih.” Crystal kini mengalihkan tatapan tajamnya dari Alycia. “Tapi, apa benar Sutradara Iggy baru memberi kabar tadi pagi? Jika benar, kenapa kau tidak memberitahuku segera?”
Alycia yang sudah selesai dengan kesibukannya mulai memberi perhatian penuh pada Crystal. Saat itu, Crystal sedang memasang wajah cemberut dengan kedua pipi yang menggembung seperti anak kecil. Gadis itu juga menendang-nendang lantai dengan kesal. Melihatnya, Alycia hanya bisa tersenyum menahan tawa yang nyaris meledak karena tingkah menggemaskan sepupunya itu.
“Apa kau baru bertanya kenapa aku tidak segera memberitahumu? Kau bahkan memasang wajah masam seperti itu sekarang seolah ini kesalahanku. Coba pikirkan lagi, memangnya siapa yang sejak pagi menjaga jarak denganku? Itu kau, kan?” serang Alycia yang seolah tak mau disalahkan.
“A-aku ... itu, kan ... seharusnya .... Ah, sudahlah!” Crystal yang menyadari kesalahannya tak mampu berkata-kata lebih banyak dan memilih menyerah.
Alycia dengan cepat membalik tubuhnya. Selain karena tidak ingin Crystal melihat senyum kemenangannya, ia juga tidak mau terus berdebat dengan Crystal. Lagi pula, ada hal yang lebih mendesak untuk mereka lakukan sekarang. Ya, ini tentang pakaian apa yang harus dikenakan Crystal untuk pesta penutupan nanti malam.
“Ayo, cepat! Kita tak punya banyak waktu.” Alycia yang saat ini sibuk menjinjing barang bawaan di kedua tangannya memberi isyarat dengan gerakan kepala pada Crystal, meminta gadis itu untuk berjalan lebih dulu meninggalkan ruangan.
“Apa?” Crystal yang sedang melamunkan sesuatu, tiba-tiba tersentak dan terlihat kebingungan.
“Hey, kita harus pergi dan memilih pakaian untukmu. Memangnya kau ingin di sini selamanya? Ayo, cepat bergerak, sekarang!”
“Oh, ya, ya. Kau benar.” Fokus Crystal yang sudah kembali membuatnya segera bergegas. Namun, baru beberapa langkah, gadis itu kembali berhenti. “Tapi, sebelum pergi ke butik untuk memilih pakaian, bisakah kita mampir ke suatu tempat terlebih dahulu?” tanyanya dengan wajah serius.
“Suatu tempat? Kau mau pergi ke mana?” Alycia mengangkat alisnya.
“Restoran. Aku lapar,” jawab Crystal sambil memegang perutnya. “Kau tidak ingin membuat aktrismu mati kelaparan, kan?”
***
Crystal mendorong piringnya yang sudah bersih tanpa sisa itu dengan satu gerakan cepat. Gadis itu kemudian menyandarkan punggung sambil mengelus perutnya yang terlihat sedikit membuncit karena kekenyangan.
Alycia menggeleng kecil melihat tingkah laku Crystal. Untungnya, ia sudah memilih ruangan VIP di restoran Italia itu demi menjaga privasi Crystal. Di ruangan ini, Crystal benar-benar bisa bertingkah sesuka hatinya dan bebas menjadi dirinya sendiri tanpa harus khawatir dengan tatapan pengunjung restoran lainnya.
“Pastanya enak sekali.” Crystal tersenyum, berkomentar sambil mengacungkan ibu jarinya. “Cita rasa pasta mereka hari ini sepertinya lebih baik dari biasanya.”
“Benarkah?” Alycia yang baru selesai dengan menu risotto pilihannya tidak lupa membersihkan sudut bibirnya dengan sapu tangan. “Cita rasanya yang lebih baik atau memang kau terlanjur kelaparan?”
Crystal mengangkat bahunya cepat. Gadis itu sendiri tidak tahu jawaban mana yang pasti. Mungkin benar rasa makanannya terasa lebih enak karena dirinya sudah sangat lapar. Namun, mungkin pula restoran ini memang sudah memperbaiki dan berinovasi dengan resep yang mereka biasa gunakan.
Sementara Crystal masih menikmati perasaan puas karena menu makan siangnya yang menakjubkan itu, Alycia terlihat sibuk mengoperasikan komputer genggamnya. Pemandangan seperti ini sesungguhnya bukan suatu hal yang baru bagi Crystal karena dalam komputer genggam itulah Alycia mencatat semua jadwal Crystal. Tak hanya soal jadwal, surat elektronik tawaran pekerjaan pun biasanya masuk ke dalam akun email yang sudah disambungkan pada benda itu.
“Selain pesta Sutradara Iggy, apa ada hal lain yang harus kukerjakan hari ini?” Crystal berusaha memecah keheningan dengan membuka percakapan tentang jadwal pekerjaannya. Percakapan yang seharusnya mereka diskusikan pagi tadi.
Alycia menggeleng. Tatapannya fokus pada layar komputer genggam itu sementara jemarinya terlihat sibuk mengetuk-ngetuk layar. “Tidak ada. Aku sengaja mengosongkan hari ini karena Sutradara Iggy sudah memintaku seperti itu sejak jauh hari. Aku juga tahu kau selalu menginginkan hari longgar setelah menyelesaikan sebuah proyek besar seperti syuting film.”
Crystal mengangguk. Tangan kanannya terjulur, mencoba meraih gelas minumannya. “Lalu, apa yang membuatmu sibuk sekarang?” tanya Crystal.
“Ah, ini ...” Alycia mengangkat komputer genggamnya sedikit lebih tinggi. “Aku hanya sedang mencoba mengatur ulang jadwal kegiatanmu di hari-hari berikutnya.”
Crystal yang sedari tadi menyandarkan punggung, seketika duduk lebih tegak. Tubuhnya pun dicondongkan ke depan dan sorot matanya menyiratkan keingintahuan yang besar.
“Kenapa kau melakukannya? Apa ada yang salah? Apa datang sebuah tawaran pekerjaan yang bagus hingga kau harus mengutamakannya dan merombak jadwal lain?” tanya Crystal bertubi-tubi.
“Oh, tidak, bukan seperti itu,” bantah Alycia dengan cepat.
“Lantas, apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang tidak beres?” Crystal mulai terlihat cemas.
“Tidak. Aduh, kau ini jangan terlalu khawatir seperti itu. Tenanglah sedikit.” Alycia menyentuh punggung tangan Crystal sambil sedikit mengusapnya, bermaksud memberikan ketenangan bagi gadis yang duduk di hadapannya itu. “Sebenarnya, aku sedang berusaha mengabulkan keinginanmu.”
“Keinginanku?” Crystal menelengkan kepalanya, ia tampak bingung.
“Daya ingatmu kuat, tapi apa kau sudah lupa apa yang kau minta kepadaku semalam?” Alycia membulatkan matanya, memberikan tatapan tajam, setengah tidak percaya.
“Semalam? Tentu saja aku ingat. Aku hanya tidak berpikir kalau ....”
Belum selesai kalimatnya, Alycia sudah memotong kata-kata Crystal. “Kalau apa? Kau tidak berpikir kalau aku akan mengabulkannya? Aku benar, kan?”
Crystal mengangguk. Gadis itu tidak berkata apa-apa lagi, hanya menunggu kelanjutan penjelasan Alycia.
“Yah, sebenarnya aku sedikit tidak yakin tentang ini. Tapi, Kate berkata padaku bahwa kau memang perlu beristirahat dan menenangkan diri ke tempat yang tidak banyak orang mengenalmu.”
Sudut bibir Crystal seolah menjadi lebih ringan. Tanpa sadar, gadis itu tersenyum lebar. Sorot matanya pun seketika berbinar. “Apa itu artinya kau akan memberiku libur beberapa bulan untuk pergi ke luar negeri?” tanyanya bersemangat.
***
[bersambung]