Hah ... memangnya apa yang kuharapkan?
Crystal tanpa sadar menghela napas panjang, teringat kembali jawaban yang diberikan Alycia terhadap pertanyaan sekaligus permintaannya semalam.
Semalam, Crystal meminta waktu untuk istirahat total dari dunia hiburan selama beberapa bulan. Ia pikir, itu pantas untuknya yang telah bekerja keras selama ini. Namun, tentu saja Alycia tanpa ragu menjawab bahwa itu sesuatu yang mustahil.
Ya, mustahil. Crystal pun sebenarnya sudah tahu jawaban atas permintaannya itu. Alycia mungkin sedikit menganggap permintaannya itu suatu hal yang konyol. Meskipun pengambilan gambar proyek film terbarunya sudah selesai dan ia belum menandatangani kontrak drama atau film berikutnya, tapi kontrak lain ada beberapa yang sudah terlanjur ia tanda tangani jauh hari, semua itu tentu memiliki konsekuensi sendiri jika tiba-tiba Crystal membatalkannya secara sepihak.
“Apa kau sakit, Nona White? Kau tampak berbeda dari biasanya.” Kate, penata rias kesayangannya merasakan keanehan sikap Crystal hari ini. Apa lagi setelah gadis itu mendengar Crystal menghela napas panjang beberapa saat lalu. Wajar saja, justru akan aneh jika Kate tidak menyadarinya sama sekali.
“Ah, tidak apa-apa.” Crystal mencoba tersenyum. “Aku hanya sedikit lelah hari ini. Tidurku agak tidak tenang semalam.”
Kate mengangguk mengerti. “Oh, benar. Anda baru selesai melakukan syuting film itu, kan? Wajar jika Anda merasa sangat lelah.” Gadis penata rias itu kembali sibuk dengan peralatan make up-nya. Jemarinya yang lentik menari di atas tumpukan perona bibir koleksinya, memilih warna yang ingin ia bubuhkan di atas bibir indah Crystal. “Apa boleh kuberi warna merah cerah pada bibirmu hari ini? Warna natural sepertinya kurang cocok untukmu. Ah, maksudku ....”
Melihat tindak-tanduk Kate yang canggung, Crystal tahu kalau gadis itu takut ia merasa salah paham dan berakhir tersinggung. “Aku mengerti, kok. Aku juga merasa wajahku terlihat pucat hari ini.” Crystal tersenyum, memandang Kate yang berdiri di belakangnya melalui pantulan cermin. “Kau kan penata riasnya. Lakukanlah yang menurutmu paling baik. Jangan ragu.”
Sudut bibir Kate perlahan-lahan terangkat. Keraguan di wajahnya pun dengan cepat menghilang seiring dengan terucapnya izin dari Crystal. Sesuai dengan apa yang ingin dilakukannya, gadis itu pun menjatuhkan pilihan pada perona bibir berwarna merah cerah untuk menyamarkan wajah pucat Crystal hari ini. Hanya perlu satu lapis saja, bibir pucat Crystal seketika terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya.
“Kau selalu tampak cantik memakai style make up apa pun,” puji Kate seraya memandangi hasil karyanya hari ini.
Crystal memperhatikan pantulan wajahnya di cermin. Sesekali gadis itu menoleh sedikit ke kanan dan ke kiri untuk mengamati hasil riasan wajahnya dengan lebih teliti.
Seperti biasanya, hasil pekerjaan tangan Kate tidak pernah membuatnya kecewa. Meskipun usia Kate masih muda, harus Crystal akui gadis itu memang memiliki bakat merias wajah yang luar biasa.
“Jadi, aku hanya cantik jika memakai make up, ya?” Crystal melipat tangannya, memajukan bibir, sambil menunjukkan wajah kesalnya pada Kate.
“Eh? Tidak! Bukan itu maksudku. Aduh, aku ini bicara apa?” Kate yang memiliki pembawaan polos itu tiba-tiba kembali terlihat panik. Gadis itu mengibaskan tangannya keras-keras, khawatir kalau Crystal benar-benar merasa kesal karena ucapannya kali ini.
Crystal tertawa lepas. Ya, ia baru saja sedikit berakting kesal untuk menggoda Kate yang polos. Hal ini ternyata mampu membuat perasaannya yang sedang kacau menjadi sedikit lebih baik. Tentu saja perubahan suasana hatinya ini akan sangat membantu apa yang akan dikerjakannya kurang dari tiga puluh menit lagi dari sekarang.
***
Alycia melipat tangan di depan dadanya sambil sesekali wanita itu menggigiti ujung kuku ibu jarinya. Meskipun terlihat berdiri kokoh di belakang seorang juru kamera, tapi sesungguhnya ia sedang mencemaskan sesuatu.
Ya, tak ada hal lain yang ia cemaskan selain sepupu sekaligus aktrisnya, Crystal. Gadis itu kini sedang menjalani wawancara santai bersama salah satu pembawa acara bincang-bincang ternama, James Lambert, untuk sedikit membahas proses pengambilan gambar film yang baru saja Crystal selesaikan kemarin.
Sejauh ini, Crystal menjalani proses tanya jawabnya dengan sangat baik. Gadis itu mampu bersikap profesional seperti biasanya. Crystal terlihat sangat berbeda dengan Crystal yang terakhir kali dilihat Alycia ketika ia meninggalkannya di ruang rias tiga puluh menit yang lalu.
Apa yang terjadi dengannya? Apa Kate melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Crystal? Alycia bertanya-tanya dalam hati sambil terus memantau kondisi Crystal.
“Bukankah ini pertama kalinya kau beradu peran dengan kekasihmu, Rayner? Ah, ini bahkan pertama kalinya kau mempublikasikan hubungan percintaanmu pada khalayak, benar, kan? Apakah menyenangkan bekerja bersama kekasih?”
Pertanyaan itu akhirnya terlontar juga dari bibir James sang pembawa acara. Pertanyaan yang paling Alycia khawatir. Pertanyaan yang sukses membuat punggung Alycia mendadak kaku dan tegang. Ia bahkan sempat menelan ludah dengan keras.
Bagaimana ini? Apa saklar amarah Crystal akan tertekan lagi gara-gara mendengar nama Rayner disebut? Alycia melebarkan matanya dan bersiap akan perubahan suasana hati Crystal yang mungkin akan menimbulkan bencana nantinya.
“Oh, ya, itu pengalaman yang baru bagiku dan tentu sangat menyenangkan. Bagaimana mungkin kau tidak menyukai momen bersama seorang kekasih? Kurasa semua orang setuju denganku, ya, kan? Kudengar, banyak perusahaan yang melarang pegawainya menjalin hubungan di lingkungan kerja. Jika benar, bukankah itu artinya aku salah satu orang yang beruntung? Kekasihku bekerja bersamaku.”
Di luar dugaan, Crystal menjawab pertanyaan itu dengan sangat mulus dan lancar. Gadis itu bahkan tersenyum lebar sambil sedikit terkekeh. Ia benar-benar terlihat seperti seorang gadis kasmaran yang dengan bangganya membagi cerita hubungan percintaannya.
Dia memang luar biasa. Aktingnya berkembang pesat. Itu terlihat sangat natural. Ah, tidak! Itu bahkan lebih baik daripada aktingnya dalam film.
Alycia terdiam. Ia masih di sana menatap Crystal lekat-lekat. Namun, tatapannya kali ini sedikit berbeda. Ada kekaguman yang tak bisa ia tutupi, hingga seseorang menyadari arti tatapannya itu.
“Nona White luar biasa. Itu kan yang Anda pikirkan?” Kate mengangkat ujung bibirnya tinggi ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Alycia.
“Oh, hai, Kate. Ya, dia memang luar biasa.” Alycia mengakui, lalu mengalihkan kembali pandangannya ke arah Crystal yang masih melanjutkan sesi wawancaranya.
“Tapi kurasa Nona White bekerja terlalu keras. Hari ini dia terlihat pucat dan sangat lelah.” Kate mendesah panjang. “Kupikir ada baiknya dia beristirahat untuk beberapa waktu. Yah, tapi jadwal Nona White pasti sangat padat. Benar, kan?”
Alycia menjawab pertanyaan Kate hanya dengan sebuah anggukan. Apa yang dikatakan Kate memang benar. Crystal sebenarnya sangat lelah, bukan hanya fisik, tapi juga mentalnya. Alycia tahu itu.
Namun, istirahat bagi Crystal adalah suatu hal yang harus dibayar mahal. Bukan hanya sekedar kiasan, melainkan itulah arti sebenarnya. Mereka benar-benar harus mengeluarkan jumlah uang yang tidak sedikit jika ingin membatalkan kontrak yang terlanjur telah mereka tanda tangani. Tak hanya soal kompensasi, profesionalitas Crystal juga akan jadi taruhannya.
“Ah, Kate, apa menurutmu rasa lelah Crystal bisa hilang dengan tidur yang nyenyak seharian?”
Alycia tidak tahu mengapa ia mengajukan pertanyaan itu untuk Kate. Padahal, ia sendiri jelas-jelas sudah tahu jawabannya.
Kate menggeleng, lalu menjawab dengan sangat yakin. “Tidak. Kurasa rasa lelah Nona White ini cukup serius. Hmm, menurutku, mungkin dia harus pergi berlibur atau semacamnya. Pergi ke tempat yang tenang dan tidak ada orang yang mengenalnya.”
“Tidak ada yang mengenalnya?” Alycia menelengkan kepala ke arah Kate, ia terlihat cukup tertarik dengan jawaban gadis penata rias itu.
“Yah, di sini mungkin sulit. Rasanya tak ada yang tidak mengenali Nona Crystal White sang aktris muda ternama kesayangan banyak orang.” Kate mengucapkan kalimat itu dengan persis seperti James yang sedang memberi pujian bagi Crystal. “Luar negeri! Ya, berlibur ke luar negeri mungkin bisa membuat Nona White jadi lebih baik.”
“Oh, pergi ke luar negeri, ya?” Alycia mengerutkan keningnya dalam-dalam, terlihat berpikir keras. Apa sebaiknya aku mengambil resiko dan memberinya liburan itu? Tapi ....
***
[bersambung]