“Rayner, bersikap baiklah pada Crystal.”
“Hah? Memangnya kapan aku tidak bersikap baik pada gadis itu?”
Rayner menegakkan punggungnya. Ia menatap manajernya dengan tatapan tak percaya. Pria itu juga mengorek sebelah telinganya dengan jari, memastikan bahwa dirinya memang tidak salah dengar.
“Aku selalu menyanjungnya di depan banyak orang. Aku juga bersikap manis padanya. Apa menurutmu itu bukan sikap yang baik?” Rayner membuang muka. Kini ia lebih memilih melihat ke luar jendela, memperhatikan jalanan malam yang cukup ramai hari itu daripada menatap manajer yang sedang fokus mengemudi di sampingnya.
“Kau pikir aku tidak melihat apa yang kau lakukan padanya di depan toilet? Kau membuatnya sangat kesal, kan?”
Rayner tertawa. Suaranya yang dalam membuat suara tawa itu seperti menggema di dalam mobilnya. “Salahku jika dia merasa kesal? Katamu kau melihatnya. Apa kau lihat aku melakukan sesuatu yang buruk padanya? Aku hanya mencoba bicara padanya saja, kok.” Rayner terus membela diri.
“Tapi apa yang kau bicarakan itu membuat Crystal kesal. Dan bukankah kau menyentuhnya? Aku lihat kau menyentuh dagunya.” Sang manajer menoleh sebentar ke arah Rayner, ingin tahu ekspresi seperti apa yang ditunjukkan pria itu. Apakah ada sedikit perasaan bersalah dan penyesalan di wajahnya?
“Aku menyentuh kekasihku, loh. Apa salahnya?” Rayner menyeringai. Tampak jelas pria itu sama sekali tidak menunjukkan penyesalan apa pun.
Sang manager menghela napas panjang dan keras. “Ah, sudahlah. Menasehatimu rasanya hanya membuang-buang waktu saja.” Sang manajer yang tampak kesal hingga tanpa sadar menginjak pedal gas lebih dalam, membuat laju kendaraan mereka menjadi lebih cepat dari sebelumnya.
“Harusnya kau menyadari itu lebih cepat,” sahut Rayner tidak peduli.
“Satu hal lagi ... tolong kurangi kebiasaanmu menggoda wanita meskipun itu hanya candaan. Ingat, statusmu sekarang adalah sebagai kekasih seorang aktris besar bernama Crystal White. Akan merepotkan jika muncul skandalmu bersama wanita lain. Apa yang sudah kau dapatkan dengan susah payah ini bisa hancur dalam satu kedipan mata.”
“Tenang saja. Kau tidak perlu terlalu khawatir, Luke.” Rayner memundurkan sandaran kursinya, menyandarkan punggung, menyilangkan tangan di depan d**a lalu memejamkan kedua matanya.
“Seriuslah sedikit. Jika kau terlibat skandal tentang wanita lain, maka aku ... ah, tidak ... bukan aku, tapi kita. Ya, kita akan kesulitan menanganinya.” Sang manajer yang dipanggil Luke itu tampak belum berniat menghentikan ocehannya, walaupun Rayner jelas mengabaikan setiap ucapannya. “Lalu, apa kau masih berhubungan dengan nona muda itu? Siapa namanya ... Jenny? Erica?”
“Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?” tanya Rayner masih dengan kedua mata terpejam. “Sudahlah, kau tidak perlu mengurusi itu. Urus saja semua jadwal pekerjaanku dengan baik. Bukankah itu tugas utamamu?”
“Kau menyindirku sekarang? Aku tahu tugas utamaku. Tapi, sadarkah kau bahwa kehidupan pribadimu itu ....” Belum sempat Luke menyelesaikan kalimatnya, Rayner sudah mengenakan earphone dengan volume musik yang cukup keras untuk meredam suara ocehan manajernya itu.
***
Crystal meraih handuknya, lalu melilitkan benda itu untuk menutupi tubuh polosnya. Setelah tubuhnya tertutup sempurna, gadis itu meraih satu handuk lain yang berukuran lebih kecil untuk menutupi bagian rambutnya yang basah.
“Harusnya aku tidak membenamkan kepalaku dan membuatnya basah.” Crystal menyesali tindakannya. Ia baru saja selesai berendam air hangat sesuai saran Alycia. Berendam memang selalu menjadi kegiatan favoritnya untuk melepas penat dan stress yang menumpuk. Air hangat memang selalu efektif mengendurkan otot-otot tubuhnya yang menegang stelah bekerja seharian.
Jika berendam pada malam hari, biasanya Crystal hanya akan berendam sebatas leher saja. Ia sebisa mungkin akan melindungi rambutnya agar tidak basah karena pasti akan membutuhkan waktu lama untuk mengeringkannya. Namun, pikiran yang sangat kacau membuatnya lupa untuk menggunakan pelindung rambut, bahkan ia sampai membenamkan kepalanya di dalam bathtub selama beberapa saat.
“Hey, kau sudah selesai? Kenapa lama sekali? Kau baik-baik saja, kan?” Pintu kamar mandi diketuk berkali-kali, diikuti dengan pertanyaan beruntun yang diajukan Alycia sambil setengah berteriak. Crystal sempat melompat karena terkejut. Gadis itu bahkan hampir jatuh terpeleset jika saja tangannya tidak cekatan memegang pinggiran wastafel.
“Alycia, kenapa kau berteriak? Kau itu kenapa? Ingin buang air?” Crystal cepat-cepat membuka pintu kamar mandi. Ia pikir, Alycia sedang terburu-buru ingin menggunakan toilet.
“Kau baik-baik saja?” Ketika sosok Crystal keluar dan berdiri di hadapannya, Alycia langsung memeriksa kondisi gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia bahkan memutar tubuh Crysal ke kanan dan ke kiri hingga gadis itu hampir kehiangan keseimbangan. “Benar tidak apa-apa?” Wajah Alycia terlihat panik.
Berbanding terbalik dengan Alycia, Crystal justru terlihat kebingungan dengan tingkah sepupunya itu. Meskipun tidak mengerti mengapa Alycia sampai bertingkah seperti itu, tapi Crystal memilih pasrah saja saat tubuhnya yang hanya berbalut handuk itu diputar-putar.
“Apa yang kau lakukan di kamar mandi sampai menghabiskan waktu begitu lama, sih? Kupikir kau tertidur, lalu tenggelam dalam bathtub.” Alycia yang tak tahan, akhirnya melepaskan sebuah cubitan gemas di pipi Crystal yang langsung meringis kesakitan.
“Aduh, apa yang kau lakukan? Nanti bekas tanganmu merusak wajah indahku. Kau kan tahu bahwa wajah adalah bagian terpenting bagi aktrismu.” Crystal masih sempat melucu di sela rintihannya. “Lagi pula mana mungkin aku tenggelam dalam bathtub? Aku tidak sekonyol itu. Ada-ada saja.” Gadis itu berlalu, berjalan melewati Alycia untuk menuju kamar tidurnya.
Alycia mengikuti dari belakang. Ia ikut masuk ke kamar Crystal, lalu memosisikan diri duduk di tepi ranjang, sementara sang pemilik kamar menghilang ke dalam walking closet untuk berpakaian.
“Yah, itu kan bukan hal mustahil terjadi. Seseorang bisa saja tertidur dalam bathtub lalu tenggelam. Kau juga pernah memerankan adegan seperti itu dalam salah satu filmmu, kan?” Alycia menggoyang-goyankan kakinya sambil menengadahkan kepala.
Crystal tersenyum mendengarkan ocehan Alycia. Ia tentu ingat adegan itu. Adegan yang ia perankan bersama salah satu teman aktornya, Devan. Meskipun terdengar seperti adegan dalam film thriller, sesungguhnya itu adalah film drama romantis. Adegan saat sang pemeran wanita tenggelam dalam bathtub karena terlalu lama berendam, lalu sang pemeran pria datang untuk menyelamatkan gadis itu.
“Jika benar aku tenggelam seperti itu, apa yang akan kau lakukan? Kau akan mendobrak pintu lalu menggendongku keluar dari bathtub seperti yang dilakukan Dev?” sahut Crystal sambil mulai mengenakan gaun piyama favoritnya.
“Ah, benar juga. Kalau dipikir-pikir, aku sepertinya tidak akan bisa melakukannya seperti Dev.” Alycia mengambil sebuah bantal untuk diletakkan di atas pangkuannya.
“Kenapa tidak bisa? Ah, maksudmu kau tidak bisa mendobrak pintunya, kan? Pintu kamar mandi kita memang sangat kokoh.” Crystal kini sudah selesai berpakaian. Ia lalu menuju meja riasnya, mencari hair dryer untuk mengeringkan rambutnya lebih cepat.
“Pintunya bukan hal yang paling kucemaskan.” Alycia merapatkan bibirnya erat, seperti mencoba menahan tawa. “Tapi tubuhmu itu kan sangat berat. Bagaimana bisa aku mengangkatnya sendirian?”
“Hey! Kau ini!” Crystal membalikkan badannya. Gadis itu melempar perona bibirnya ke arah Alycia. “Memangnya aku seberat itu?” Tatapan tajam Crystal justru membuat Alycia tertawa puas.
“Maaf, maaf, aku hanya bercanda.” Alycia masih saja terkekh meskipun ia tahu Crystal hampir mendidih karena amarah. “Sepertinya suasana hatimu masih belum terlalu baik setelah berendam.” Alycia mulai bangkit, lalu berjalan menuju pintu, bermaksud segera meninggalkan kamar itu. “Setelah selesai mengeringkan rambutmu, cepatlah tidur.”
Alycia baru akan menutup pintu, memberikan waktu bagi Crystal untuk beristirahat. Namun, sebelum pintu itu tertutup rapat sempurna, Crystal bangkit lalu menghentikannya.
“Hey, tunggu! Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Hmm? Apa itu?” Alycia kembali menyelipkan kepalanya di sela pintu kamar yang sudah setengah tertutup.
“Syuting filmnya sudah selesai, kan? Bisakah aku meminta waktu istirahat untuk beberapa bulan?”
***
[bersambung]