“Hai, Sayang. Ternyata benar kau pergi ke toilet. Apa perutmu bermasalah?”
Crystal yang baru saja melangkahkan kakinya keluar dari toilet seketika berhenti. Emosinya yang semula telah stabil berkat Alycia, tiba-tiba kembali naik. Padahal, ia tidak ingin berpapasan dengan pria ini. Namun, entah nasib buruk apa yang sedang mengikuti Crystal saat ini, ia justru bertemu dengan Rayner sekarang.
“Tutup mulutmu, b*****h!” umpat Crystal sambil membulatkan matanya.
“Hey, sebaiknya kau berhati-hati dengan kata-katamu. Kau tidak akan pernah tahu di mana para paparazi itu bersembunyi, kan?” Meskipun Crystal baru saja melontarkan umpatan tepat di depan wajahnya, tapi Rayner tak terlihat kesal. Pria itu justru menyeringai sambil memberi peringatan pada Crystal seolah ia tahu bahwa kalimatnya itu mampu menjinakkan amarah gadis itu.
“Rayner, kumohon,” ucap Alycia lirih. Gadis itu memasang wajah memelas agar Rayner mengerti dan tidak terlalu banyak bicara lagi, sebab apa pun yang dikatakan oleh pria itu saat ini hanya akan membuat amarah Crystal kian tersulut.
Rayner mengangguk mengerti. Pria itu kemudian menyingkir, bermaksud memberikan jalan bagi Crystal dan Alycia untuk pergi. “Baiklah, aku akan diam. Hati-hati selama perjalanan, Sayang.” Rayner mengusap dagu Crystal. Ia bahkan memberi penekanan pada kata terakhir yang diucapkannya.
Crystal berdecih. Gadis itu hampir saja melayangkan tamparan keras di pipi Rayner, kalau saja Alycia tidak cekatan mencegah dan menggamit tangannya. “Tenanglah, jangan dihiraukan. Ayo, kita pergi saja.”
Crystal belum mengalihkan tatapan tajamnya dari Rayner. Tatapan itu sangat liar, seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya. Namun, Alycia terus menyeret Crystal, hingga mau tak mau gadis itu mengikuti langkah cepat Alycia, meninggalkan Rayner yang masih tersenyum aneh memandangi kepergia mereka.
“Aku menyesal menyetujui kontrak itu,” ucap Crystal lirih saat mereka sudah berada dalam mobilnya.
Di dalam mobil itu saat ini hanya ada Crystal, Alycia dan Christopher, supir pribadinya. Christopher sudah belasan tahun bekerja untuknya. Crystal bisa mempercayai pria paruh baya itu seperti ia mempercayai Alycia. Oleh sebab itu, kini Crystal merasa lebih leluasa menyampaikan keluh kesah yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga.
“Cobalah untuk mengalihkan perasaanmu dengan hal lain,” saran Alycia. “Meskipun kau mengeluh, kontrak itu tak bisa dengan mudah dibatalkan. Ada banyak hal yang dipertaruhkan. Kau tidak lupa, kan?”
Crystal tidak menjawab. Gadis itu mengalihkan pandangannya keluar jendela. Tentu saja ia tidak lupa apa yang dikatakan Alycia. Semua tentang kontrak yang ditandatanganinya dua bulan lalu. Kontrak yang mulai disesalinya. Ya, kontrak kerjasama untuk menjadi pasangan kekasih palsu bersama Rayner Davis.
***
Semua itu bermula sekitar empat bulan yang lalu, ketika proses syuting filmnya sudah akan dimulai. Saat press conference, di sanalah mereka mulai memperkenalkan para aktris dan aktor yang akan memerankan tokoh dalam film drama romantis ini. Dan saat itulah rasa penasaran media dan publik yang sudah dibuat bertanya-tanya tentang siapa kiranya aktris dan aktor terpilih pun akhirnya terjawab.
Ya, media dan publik memang sudah mengira bahwa Crystal akan terpilih sebagai pemeran utama wanita dalam film ini. Gadis itu memang menjadi favorit banyak orang. Tak hanya oleh para penggemar, tapi juga favorit orang-orang di balik layar. Selain aktingnya yang mempuni dan parasnya yang cantik, Crystal juga dikenal sebagai aktris yang berkelakuan baik dan tidak merepotkan seperti kebanyakan aktris lainnya.
Keterkejutan publik justru datang dari aktor yang terpilih mendampingi Crystal sebagai pemeran utama prianya. Ya, ia adalah Rayner Davis. Rayner sebenarnya belum pernah membintangi film atau serial apa pun. Namun, tampangnya sudah tidak asing lagi bagi publik. Sebab belakangan, banyak iklan yang menggunakan jasa Rayner sebagai model ataupun ambassador produk mereka.
Memang, kemampuan akting Rayner masih dipertanyakan. Namun, publik sepertinya tidak terlalu peduli akan hal itu. Wajah tampan Rayner seolah berhasil membius banyak orang, termasuk Sutradara Iggy yang kemudian menyesali keputusannya meloloskan Rayner pada proyek film terbarunya.
“Kau kesal karena aktingnya buruk?” Pertanyaan Alycia memecah keheningan.
Mendengar pertanyaan itu, Crystal seolah tersulut. Gadis itu menegakkan tubuhnya, lalu mencondongkannya sedikit ke depan. “Apa terlihat seperti itu? Kau pasti bercanda, Alycia.” Crystal tersenyum miring.
“Bukan? Kalau begitu kenapa?”
Crystal kembali terdiam. Tentu saja ia tidak menyukai Rayner bukan sekedar karena akting pria itu yang buruk. Crystal sudah sering beradu peran dengan aktor lain dan Rayner bukanlah satu-satunya aktor yang memiliki kemampuan akting di bawah rata-rata. Apalagi, pria itu tergolong pendatang baru, Crystal bisa memakluminya.
“Aku hanya … tidak suka dengan tingkah menyebalkannya,” jawab Crystal lirih.
Alycia tidak membalas. Ia sangat mengerti apa yang dimaksud Crystal. Sesungguhnya, Alycia pun kurang menyukai perangai pria itu. Wajah tampan, nyatanya tidak menjamin perilaku seseorang menjadi sebaik rupa wajahnya. Pria itu jelas memanfaatkan ketampanannya untuk menarik perhatian banyak wanita. Ia gemar menggoda, tak terkecuali menggoda dirinya.
“Apa benar-benar tak ada cara untuk membatalkan kontrak itu?” guman Crystal pada dirinya sendiri. Sayang, gumaman itu cukup kencang hingga terdengar Alycia yang duduk di kursi depan penumpang.
“Bukankah aku sudah memperingatkanmu sebelumnya? Saat kau setuju menandatanganinya, mungkin akan sulit bagimu untuk kembali,” sahut Alycia.
Crystal mendesah. Ia menyesal tidak menghiraukan peringatan itu dengan serius sebelumnya.
***
Selama perjalanan, Crystal terus saja teringat kejadian di hari itu. Hari di mana ia setuju menandatangani kontrak kerjasama konyolnya bersama Rayner. Hari di mana ia ingin kembali dan mengubah segala keputusannya. Hari di mana ia seharusnya mendengarkan saran Alycia dengan lebih serius.
Hari itu, Crystal diminta untuk menemui kepala agensinya, Tuan Miller. Pria berusia akhir 40 tahunan itu memang biasa memanggil Crystal untuk membicarakan sesuatu. Tidak hanya tentang pekerjaan, tapi juga tentang kehidupan sehari-hari, terutama tentang putri pria itu, Lusiana, yang sangat mengidolakan sosok Crystal.
Tak ada kecurigaan. Hari itu, Crystal pikir mungkin Tuan Miller ingin membicarakan tentang Lusiana, anak bungsunya, seperti biasa. Crystal berpikir seperti itu karena Alycia pun tidak tahu apa-apa saat ia menanyakan tujuan Tuan Miller. Sebab, jika ini tentang pekerjaan, Alycia biasanya akan diberitahu terlebih dahulu.
Crystal dibuat terkejut ketika mendapati sosok Rayner Davis dan managernya sudah berada di ruangan Tuan Miller siang itu. Mulanya, Crystal pikir aktor baru itu akan pindah agensi atau semacamnya. Itu jawaban yang paling masuk akal bagi Crystal, karena rumor yang beredar, saat itu kontrak Rayner dengan agensinya memang belum diperpanjang.
Tanpa berpikir macam-macam, Crystal pun bergabung bersama mereka. Setelah saling menyapa dan berbasa-basi, barulah Tuan Miller menjelaskan tujuannya memanggil Crystal.
“Crystal, aku ingin kau berpacaran dengan Rayner. Kalian tentu sudah lebih dekat kan setelah proses syuting dimulai?” ujar pria paruh baya itu dengan entengnya.
Tentu saja Crystal terkejut bukan main, Alycia pun menunjukkan respons yang sama. Bahkan, Alycia yang lebih terlihat emosional kala itu. Dengan berapi-api, gadis itu menolak karena baginya ini melanggar kebebasan aktris sekaligus sepupu tersayangnya.
“Oh, bukan berpacaran seperti itu. Kita lakukan hanya untuk berpura-pura. Kau tahu? Yang seperti ini sedang populer di kalangan aktor dan aktris. Apalagi dengan banyaknya respons penggemar yang mengharapkan kalian bisa berpasangan gara-gara syuting film ini.” Cepat-cepat Tuan Miller memberi penjelasan panjang lebar. “Pikirkan keuntungannya, popularitas yang kian meningkat. Tawaran pekerjaan yang bertambah. Itu akan menguntungkan bagi Crystal sebagai aktris dan agensi ini. Apalagi, Rayner sedang berada di puncak popularitasnya sekarang. Ia juga akan bergabung di agensi ini. Wah, bayangkan keuntungannya!”
Penjelasan penuh semangat Tuan Miller itu tidak menggoyahkan pendirian Alycia. Menurutnya, hal seperti ini tidak perlu. Alycia pikir, Crystal tak perlu sensasi dengan membuat hubungan asmara yang diatur semacam itu untuk meraih popularitas. Crystal sudah cukup populer dengan caranya sendiri, mengingat prestasi dan kemampuan Crystal selama ini.
Namun, entah apa yang dipikirkan Crystal saat itu. Ia mengatakan pada Tuan Miller kalau ide itu terdengar menarik dan akan ia pertimbangkan. Saat itu, Crystal hanya penasaran, seberapa besar pengaruh sensasi mampu membuat popularitas seorang aktris meningkat. Mengapa metode ini sangat populer digunakan oleh aktris dan aktor, terutama para pendatang baru?
“Apa yang kau pikirkan?” Suara Alycia tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
Crystal menggeleng cepat, seraya menjawab, “Tidak ada.”
“Benarkah?” Alycia menelengkan kepalanya dan bertanya sekali lagi untuk sekedar memastikan.
“Oh, ya. Aku hanya lelah.” Crystal menyandarkan punggungnya dan memelesakkan diri semakin dalam pada sandaran empuk sofa beludru berwarna merah maroon miliknya.
“Pergilah ke kamarmu dan lekas tidur kalau begitu.”
Setelah memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan Crystal, Alycia pun berlalu untuk membenahi barang bawaan Crystal. Sementara Crystal justru kembali larut dalam isi kepalanya.
kontrak konyol itu dan tingkah laku Rayner benar-benar membuatku lelah. Ini seperti aku harus berakting sepanjang waktu, pikir Crystal.
“Andai aku bisa menghilang sejenak ke tempat di mana tak ada seorang pun yang mengenalku. Kurasa itu akan mengembalikan seluruh energi kehidupanku. Hanya sebentar … tak adakah tempat di mana orang-orang tak ada yang mengenaliku sebagai Crystal White?” Crystal mendesah panjang, membayangkan keinginan mustahilnya itu bisa terwujud.
***
[bersambung]