Titans masih duduk di sofa depan televisi. Layar ponselnya menyala terang di ruang tamu yang sudah gelap. Berkali-kali dia menggeser potret-potret itu ke kiri lalu ke kanan. Senyum di bibirnya tidak juga hilang.
"Sekarang kau milikku, Alexa," gumamnya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Sontak Titans pun mematikan layar ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku celana.
"Kau belum tidur, Nak?" Tanya Diva sambil mengucek matanya.
"Sebentar lagi, Mom."
"Temanmu sudah pulang?"
"Sudah, Mom. Dia di jemput kekasihnya," ucap Titans dengan penekanan di kata terakhir. Namun Diva sama sekali tidak menyadarinya.
"Ya sudah. Jangan tidur terlalu larut, besok kau ada kelas pagi."
"Iya, Mom."
Diva pun kembali naik ke lantai atas. Setelah suara langkah kaki ibunya menghilang, Titans mengeluarkan kembali ponselnya. Dia menatap satu foto itu lama sekali. Ada sesuatu di dadanya yang terasa berat, namun cepat-cepat dia menepisnya.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu dengan cara yang baik, maka aku akan mendapatkanmu dengan cara ini," batinnya.
***
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Alexa tetap masuk kuliah, tetap duduk di samping Titans, tetap tertawa mendengar lelucon Titans yang sebenarnya tidak lucu. Dia sama sekali tidak menaruh curiga. Justru Alexa merasa Titans menjadi jauh lebih perhatian dari sebelumnya. Titans selalu membawakan sarapan untuknya, menyalinkan catatan kuliah untuknya, bahkan menunggunya di parkiran setiap sore.
"Kau kenapa jadi baik sekali, Tans?" Tanya Alexa suatu siang di kantin.
"Memangnya aku pernah jahat padamu?"
"Tidak. Kau memang selalu baik." Alexa pun terkekeh.
Titans hanya tersenyum. Dia menatap Alexa lama sekali sampai Alexa merasa risih.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Tidak apa-apa." Titans pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Dua minggu berlalu. Siang itu Alexa datang ke kelas dengan wajah berseri-seri. Dia duduk di samping Titans lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
"Tans, kau tahu tidak? Tante Vanesa sudah menentukan tanggalnya. Setelah Jacob wisuda nanti keluarganya akan datang ke rumahku," ucap Alexa dengan suara pelan namun matanya berbinar.
Senyum Titans langsung hilang. Dia melirik layar ponsel Alexa yang menampilkan foto Jacob. Tangannya mengepal di bawah meja.
"Selamat ya, Xa," ucapnya datar.
"Kenapa suaramu begitu?" Tanya Alexa heran.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kurang tidur."
Alexa pun mengangguk lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Titans menatap lurus ke arah papan tulis. Rahangnya mengeras.
"Tidak akan aku biarkan," batinnya.
***
Malam harinya Titans duduk di tepi ranjangnya. Di tangannya ada sebuah kartu perdana baru yang tadi sore dia beli di pinggir jalan. Dia memasangnya ke ponsel lamanya. Perlahan dia mengetikkan nomor Jacob yang selama ini dia hafal di luar kepala. Satu per satu foto itu dia kirimkan.
Jarinya sempat berhenti di atas layar. Nafasnya naik turun. Kemudian dia menekan tombol kirim.
"Maafkan aku, Alexa," gumamnya. "Tapi kau harus tahu, aku yang lebih dulu mencintaimu."
***
Pagi harinya ponsel Alexa berdering. Alexa yang tengah menyiapkan buku-bukunya pun segera mengambil ponsel itu di atas nakas. Senyumnya langsung merekah saat melihat nama Jacob tertera di layar.
"Pagi, Sayang," sapa Alexa ceria.
"Kita bertemu di cafe. Sekarang." Suara Jacob terdengar berat dan dingin. Belum sempat Alexa menjawab, sambungan telepon sudah terputus.
Alexa pun terdiam menatap layar ponselnya. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak.
30 menit berlalu, Alexa pun sampai di cafe tengah kota. Cafe itu adalah tempat dimana Jacob dulu mengungkapkan perasaannya. Alexa berjalan masuk dan langsung melihat Jacob duduk di meja paling pojok. Di depannya ada secangkir kopi yang sama sekali belum di sentuh.
"Sayang, ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah menyuruhku kesini?"
"Duduk." Alexa pun terkejut mendengar nada suara Jacob. Perlahan dia menarik kursi lalu duduk di hadapan kekasihnya itu.
Jacob mengambil ponselnya. Dia meletakkan benda itu di atas meja lalu mendorongnya ke arah Alexa. Alexa pun menunduk menatap layar itu. Detik itu juga darah di wajahnya terasa seperti di sedot habis. Tangannya bergetar hebat. Dia melihat dirinya sendiri di dalam foto itu, tidak berpakaian, di atas sebuah ranjang yang tidak dia kenali.
"I,ini bukan aku, Jacob," ucap Alexa dengan suara bergetar. "Ini pasti editan, Sayang. Aku tidak pernah ...."
"Itu wajahmu, Alexa." Jacob menatap tepat ke mata Alexa. "Aku hafal wajahmu."
Air mata Alexa pun jatuh. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Aku tidak tahu, Jacob. Sungguh aku tidak tahu darimana foto itu. Aku tidak pernah melakukan itu dengan siapapun."
"Lalu siapa laki-laki yang bersamamu itu?" Suara Jacob mulai meninggi. Beberapa pengunjung cafe pun menoleh ke arah mereka. "Selama ini aku percaya padamu. Aku bela kau di depan keluargaku. Aku bilang pada Mom, Alexa itu gadis baik-baik. Dan ini yang aku dapat?"
"Jacob, dengarkan aku dulu ...."
"Aku sudah cukup mendengar." Jacob mengambil kembali ponselnya lalu berdiri. "Aku tidak menyangka kau tidak bisa menjaga harga dirimu, Alexa. Kalau kau memang sudah bosan denganku, kau tinggal bilang. Tidak perlu berselingkuh di belakangku."
Alexa pun ikut berdiri. Dia menarik lengan Jacob.
"Jacob, tolong. Aku bisa jelaskan."
Jacob menepis tangan Alexa. Untuk pertama kalinya Alexa melihat mata laki-laki itu memerah.
"Kita sampai disini saja."
Jacob pun berjalan keluar dari cafe tanpa menoleh sedikitpun. Alexa berdiri mematung di tempatnya. Kakinya terasa lemas sampai akhirnya dia kembali jatuh terduduk di kursi. Alexa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pun pecah.
Seorang pelayan cafe menghampirinya sambil membawa segelas air putih. Alexa hanya menggelengkan kepalanya. Dia mengambil tasnya lalu berjalan keluar dengan langkah yang tidak beraturan.
Di dalam mobil, berkali-kali Alexa mencoba menghubungi nomor Jacob. Namun yang terdengar hanya suara operator. Alexa pun membanting ponselnya ke bangku sebelah. Dia memukul-mukul setir mobilnya.
"Siapa yang melakukan ini padaku?" Teriaknya di dalam mobil. "Siapa!!"
Alexa terus mengingat-ingat. Dia tidak pernah pergi ke hotel, tidak pernah menginap di manapun selain di rumah temannya sendiri. Namun semakin dia mengingat, kepalanya justru semakin terasa berat. Akhirnya Alexa hanya bisa menunduk di atas setir sambil menangis sampai suara tangisnya habis.
***
Dua bulan berlalu.
Nomor Jacob sudah tidak bisa lagi di hubungi. Keluarga Jacob juga tidak pernah lagi mengirim kabar. Sekali waktu Alexa memberanikan diri menelpon Vanesa, namun panggilannya hanya berdering panjang lalu berhenti dengan sendirinya. Alexa pun tidak pernah mencoba lagi.
Hanya Danish satu-satunya orang di rumah itu yang tahu alasan sebenarnya. Malam itu Danish yang menemukan Alexa menangis sendirian di dalam mobil di halaman rumah. Danish memeluknya, dan Alexa menceritakan semuanya sambil terisak. Sejak saat itu Danish selalu menutupi Alexa dari pertanyaan Sam dan kedua orangtuanya.
Alexa berubah menjadi gadis yang pendiam. Dia hanya datang ke kampus, mengerjakan tugas akhirnya, lalu pulang. Foto itu tidak pernah tersebar ke siapapun, dan justru hal itulah yang membuat Alexa semakin takut. Ada seseorang di luar sana yang menyimpannya dan sedang menunggu sesuatu.
Sampai hari itu pun tiba. Hari wisuda angkatan Jacob.
Sejak pagi Alexa tidak keluar dari kamarnya. Dia hanya berbaring memandangi langit-langit. Seharusnya hari ini dia berdiri di samping Jacob, memakai gaun yang sudah dia siapkan sejak jauh-jauh hari. Sore harinya Alexa memutuskan untuk berjalan kaki ke taman dekat rumahnya. Dia merasa butuh udara.
Alexa duduk di bangku taman sambil memperhatikan anak-anak yang sedang bermain. Beberapa ibu-ibu duduk di bangku seberang sambil mengobrol. Alexa pun menghembuskan nafasnya panjang.
"Ternyata kau disini."
Alexa pun terkejut. Dia menoleh ke samping dan melihat Titans sudah berdiri disana.
"Titans? Kenapa kau bisa ...."
"Aku menunggumu sejak tadi di depan rumahmu." Titans pun duduk di samping Alexa. Alexa reflek menggeser duduknya. "Aku dengar kau sudah putus dengan Jacob."
"Darimana kau tahu?"
Titans tidak menjawab. Dia justru tersenyum.
"Xa, jadilah kekasihku."
Alexa pun membelalakkan matanya. Dia menatap Titans tidak percaya.
"Apa yang kau bicarakan, Tans? Kau ini temanku."
"Aku sudah menunggu tiga tahun, Alexa. Tiga tahun aku menunggu sampai laki-laki itu pergi dari hidupmu." Titans menatap Alexa lekat. "Dan sekarang dia sudah pergi."
Alexa pun berdiri. Perasaannya semakin tidak enak.
"Aku pulang."
"Kau masih ingat malam itu di rumahku?" Langkah Alexa pun terhenti. Perlahan dia berbalik badan. Titans ikut berdiri sambil mengeluarkan ponselnya. "Kau ketiduran dua jam, Xa. Kau tidak penasaran apa yang terjadi selama dua jam itu?"
Detik itu juga seluruh tubuh Alexa terasa dingin.
"Kau ...." Suara Alexa tercekat. "Kau yang mengirim foto itu ke Jacob?"
Titans tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
"Jadilah kekasihku. Dan tidak akan ada satu orang pun yang melihat sisanya."
"Kau gila!!" Teriak Alexa.
Alexa pun berbalik badan dan hendak pergi. Namun tiba-tiba Titans menangkap pergelangan tangannya lalu menariknya kuat. Alexa pun memberontak.
"Lepas! Sakit, Titans!"
"Dengarkan aku dulu!"
"Lepaskan aku!!" Teriak Alexa sekuat tenaga.
Dengan sekuat tenaga Alexa berhasil melepaskan tangannya. Tanpa berpikir panjang Alexa pun berlari ke arah pintu masuk taman. Titans mengejarnya. Alexa terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang. Nafasnya tersengal-sengal. Di ujung jalan setapak Alexa melihat seorang penjaga taman berseragam sedang menyapu daun-daun kering.
"Pak! Tolong saya, Pak!" Teriak Alexa sambil bersembunyi di belakang punggung penjaga taman itu.
Penjaga taman pun terkejut. Dia langsung berdiri di depan Alexa saat melihat Titans berlari mendekat. Ibu-ibu yang tadi duduk di bangku seberang pun berdatangan.
"Ada apa ini?" Tanya penjaga taman itu.
"Dia mengejar saya, Pak," ucap Alexa sambil menangis.
"Kami ini berteman, Pak. Ini hanya salah paham," ucap Titans dengan nafas terengah.
"Teman kok sampai di kejar-kejar begitu," sahut salah satu ibu-ibu. "Anak muda jaman sekarang ini bagaimana." Ibu-ibu yang lain pun ikut menimpali. Titans yang mulai di kerubuti pun menatap Alexa tajam. Kemudian dia berbalik badan lalu pergi meninggalkan taman.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" Tanya penjaga taman itu. Alexa hanya menggelengkan kepalanya sambil terisak. "Rumahmu dimana? Biar Bapak antar."
"Di ujung jalan sana, Pak."
Penjaga taman itu pun mengantar Alexa sampai ke depan pagar rumahnya. Alexa mengucapkan terimakasih berkali-kali sebelum akhirnya masuk ke dalam.
***
Baru saja Alexa menutup pintu, Danish sudah berdiri di ruang tamu sambil memegangi perutnya.
"Xa, kamu darimana? Kenapa mukamu pucat begitu?"
Alexa pun tidak menjawab. Dia justru langsung memeluk Danish dan menangis. Danish pun terkejut. Perlahan dia mengusap punggung adik iparnya itu.
"Ada apa, Sayang? Cerita sama Kakak."
Alexa pun menceritakan semuanya. Tentang Titans yang menunggunya di taman, tentang tangannya yang di tarik, tentang laki-laki itu yang memaksanya menjadi kekasihnya, dan tentang dirinya yang di kejar sampai ke pintu masuk taman. Danish mendengarkan sambil sesekali menghela nafas. Wajahnya berubah geram.
"Ini tidak bisa di biarkan, Xa. Kamu harus bilang ke Dad dan Kak Sam."
"Jangan, Kak." Alexa pun langsung menggelengkan kepalanya. "Kalau Kak Sam tahu, dia pasti akan bertanya sampai ke akar-akarnya. Nanti soal foto itu ikut terbuka. Alexa belum sanggup, Kak."
Danish pun terdiam. Dia mengerti betul apa yang di takutkan adik iparnya itu. Danish menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan.
"Kalau begitu kita ceritakan bagian tamannya saja," ucap Danish akhirnya. "Yang penting mereka tahu ada laki-laki yang mengganggumu di luar sana. Sisanya biar jadi urusan kita berdua."
Alexa pun mengangkat wajahnya. Matanya masih basah.
"Kakak mau bantu Alexa?"
"Tentu saja. Nanti waktu makan malam kamu yang mulai bicara, Kakak yang menyambung. Jangan sampai mereka curiga kita sudah mengaturnya."
Alexa pun mengangguk. Untuk pertama kalinya hari itu ada rasa lega yang menyelinap masuk ke dadanya.
"Sekarang kamu cuci muka dulu. Sebentar lagi makan malam," ucap Danish sambil mengusap air mata di pipi Alexa.
Alexa pun tersenyum tipis lalu berjalan menuju ke kamarnya.