Jam makan malam pun tiba. Alexa dan keluarganya sedang makan malam bersama. Alexa duduk di samping Danish. Sedangkan Sam di samping ibunya lalu ayahnya duduk di ujung meja. Mereka pun menikmati makan malamnya. Terlihat Alexa dan Danish sering curi pandang satu sama lain. Mereka menjadi gelisah. Gelagat mereka pun di sadari oleh Sam.
"Kalian kenapa berisik sendiri?" Tanya Sam. Sontak Alexa dan Danish pun langsung berhenti. Bersamaan mereka menoleh kearah Sam. Tatapan Sam pun tertuju kepada mereka berdua. "Sayang, ada apa?" Tanya Sam kembali. Danish semakin bungkam. Sedangkan Alexa beralih menatapnya. Danish berusaha menahan rasa gugupnya. Dia berusaha menatap mata suaminya.
"Emm, kami berebut ayam goreng, Sayang. Hehe," ucap Danish sambil terkekeh lalu menunduk. Sam pun mengangkat sebelah alisnya heran. Danish pun melirik kearah suaminya.
"Di nampan kan masih ada ayamnya, Sayang. Mengapa kamu harus mengambil ayam milik Alexa?"
Mendengar itu Danish langsung menunduk kembali. Lalu menoleh kearah Alexa yang justru memasang wajah tercengang. Dengan cepat Danish pun mencolek paha Alexa dari bawah meja makan. Menyadari hal itu, Alexa pun langsung menoleh kearah Danish. Terlihat Danish sedang mengedipkan-kedipkan matanya padanya. Alexa pun langsung paham.
"Tidak apa, Kak Sam. Alexa bisa ambil ayam yang lain," ujar Alexa. Sam yang mendengar itu pun menghembuskan nafasnya kasar.
"Biar Kakak ambilkan." Sam pun mengambil satu potong ayam goreng di nampan dan meletakkannya di piring Alexa.
"Makasih, Kak," ucap Alexa. Sam pun menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan sikap istrinya.
"Sayang, lain kali jangan diulangi ya," ucap Sam kepada Danish. Danish pun mengangguk.
"Sudahlah, Sam. Namanya orang lagi hamil wajar sikapnya sensitif dan kekanak-kanakan," sahut ibu mereka.
"Iya Sam ibumu benar. Jangan terlalu keras dengan istrimu. Jangan membuat dia stress. Nanti berpengaruh pada anakmu," tambah ayah mereka. Sam pun mengahbuskan nafasnya kembali. Dia menatap istrinya yang sedang menunduk ketakutan. Sam pun berdiri lalu berjalan ke tempat istrinya duduk.
"Maafkan aku, Danish. Aku tidak tahu. Lain kali kalau butuh sesuatu bilang saja padaku," ucap Sam lembut lalu mengecup kepala Danish. Mendengar itu Danish sontak menoleh kepada Sam dan mengangguk.
"Kak Sam sih, jadi orang galak banget," cibir Alexa yang notabennya hanya bercanda.
"Sudah-sudah. Ayo lanjutkan makan lagi," ujar ibu mereka.
Mereka pun kembali menikmati makan malamnya. Setelah kejadian itu Danish dan Alexa pun saling menatap. Seperti ada kabel listrik yang menghubungkan keduanya. Mereka langsung paham apa yang akan mereka lakukan setelah makan malam. Kemudian keduanya pun saling menganggukkan kepala.
Makan malam pun berlalu. Jam masih menunjukkan pukul 07.00 malam. Alexa dan Danish sedang berada di dapur. Mereka akan mengambil camilan untuk dibawa ke depan televisi. Tidak lupa Danish membuatkan secangkir kopi untuk Sam yang sudah dahulu menonton televisi.
"Kak, nanti bantuin Alexa ngomongnya ya," ucap Alexa.
"Tentu saja, Xa. Aku akan membantumu."
Mereka pun berjalan menuju ke depan televisi. Tidak disangka ayah dan ibu mereka juga tengah duduk disana. Alexa dan Danish yang baru sampai pun langsung saling berpandangan. Mereka sama-sama menelan saliva. Alexa menghembuskan nafasnya berat.
"Bawa kesini, Danish," ucap Berly.
Danish pun langsung berjalan menuju ke tempat yang di bilang Berly. Sedangkan Alexa duduk di atas sofa di samping Sam. Lalu meletakkan camilan dan minuman dingin. Berly sedang duduk di sofa lain sambil merajut sedangkan Sean tengah membaca koran di dekat televisi. Danish pun duduk di samping Sam. Kemudian Alexa pun beralih duduk di karpet bawah dekat Sam dan Danish. Setelah itu mereka pun kembali melanjutkan menonton televisi. Di sela-sela itu Alexa dan Danish kembali curi-curi pandang.
"Kak Danish kesal aku dengan teman ku sekelas. Dia maksa aku jadi pacarnya padahal aku kan nggak mau. Terus tiba-tiba dia menarik tanganku dan mengejar ku. Kan aku takut, Kak." Alexa sedang membuka pembicaraan yang terkesan lembut namun dengan suara yang keras. Tujuannya agar ayah, ibu dan Sam mendengarnya. Mendengar itu Danish pun tersenyum, dia yakin kali ini usaha mereka akan berhasil.
"Wah itu nggak bener, Xa. Apalagi kamu diapain? Di tarik-tarik lalu sampai di kejar? Kalau nggak di hentikan bisa semakin kurang ajar temanmu itu, Xa." Danish semakin membakar suasana. Alexa pun tersenyum senang. Kemudian mereka berdua melirik kearah ayah, ibu dan Sam. Terlihat mereka sudah mulai gelisah dan ingin ikut berbicara. Melihat itu Alexa pun langsung melanjutkan aksinya.
"Iya, Kak. Alexa takut. Dan sepertinya temanku itu anaknya kasar. Alexa takut di apa-apain, Kak." Mendengar itu ayah, ibu dan Sam pun langsung menoleh kearah Alexa. Alexa pun pura-pura tidak melihat kearah mereka.
"Apa yang kau bilang, Xa?" Tanya Sam.
Alexa dan Danish pun langsung berpandangan dan saling mengedipkan mata. Mereka berhasil.
"Iya, Kak Sam. Itu temanku, Kak. Dia suka sama aku terus dia mau aku jadi kekasihnya. Tapi aku nggak mau, Kak. Eh dia emosi, Kak. Katanya aku harus jadi pacarnya. Aku berontak, Kak. Tiba-tiba dia megang tanganku lalu ditarik-tarik. Alexa takut, Kak. Takut diapa-apain. Untungnya Alexa bisa lepas, Lexa lari. Eh dia nggak berhenti justru mengejar Alexa, Kak. Sampai Alexa lapor penjaga taman dan di tolong ibu-ibu disana. Terus Alexa di antar pulang penjaga taman," jelas Alexa panjang lebar.
Seperti yang terlihat, Alexa bercerita dengan perasaan takut. Dia kembali merasakan apa yang dia rasakan tadi. Danish yang sebelumnya sudah tahu pun merasa kasihan dan khawatir. Ayah, ibu dan Sam juga sama-sama terkejut dengan cerita Alexa.
"Taman? Maksudmu kamu mau dicelakai di taman yang dekat rumah?" Tanya Sam. Alexa pun mengangguk.
"Tapi kamu nggak apa-apa kan, Sayang?" Tanya Berly.
"Nggak, Mom."
"Sean, aku khawatir laki-laki itu berbuat nekat kepada Alexa," ucap Berly.
Mendengar permintaan istrinya, Sean pun memandang putrinya itu.
"Semisal kamu bertahan sampai lulus apa tidak masalah?" Tanya Sean kepada Alexa. Mendengar pertanyaan itu Alexa pun langsung menatap ayahnya. Namun di pikirannya Alexa pun tidak tahu jawabannya.
"Entahlah, Dad," ucap Alexa dengan wajah murung.
"Tinggal berapa tahun lagi kuliahmu?"
"Satu tahun lagi."
"Sean, itu masih lama," pungkas ibu Alexa. "Sayang, kamu pindah kampus saja ya," ucap Berly kepada Alexa.
Mendengar itu Alexa pun terkejut.
"Tapi, Mom. Aku baru saja mengerjakan tugas akhir. Masak aku harus mengulanginya? Alexa nggak sanggup Mom kalau harus mengulang."
"Bagaimana kalau kuliah dari rumah saja?" Tiba-tiba Sam menengahi pembicaraan mereka. Sontak Alexa dan yang lain langsung menatap Sam. Sam yang tengah di tatap pun langsung menambah ucapannya. "Alexa bisa ambil kuliah dari rumah. Asal dia rajin absen itu tidak masalah."
"Ide bagus, Alexa setuju," ujar Alexa mantap.
Sean dan Berly pun saling berpandangan. Mereka berpikir usul Sam jauh lebih efektif. Mereka berdua pun saling mengangguk.
"Baiklah, Dad setuju. Besok Dad ikut ke kampus mu. Kita urus kuliah rumahmu ke dosen," jelas Sean kepada Alexa. Alexa pun tersenyum. Dia senang dan merasa lega.
"Siap, Dad."
Kedua orang tua Alexa dan Sam pun kembali melanjutkan aktivitas mereka. Sedangkan Alexa terus mengumbar senyum setelah mendapat keputusan yang terbaik baginya. Alexa menoleh ke arah Danish. Dia menggerakkan bibirnya berkata berhasil. Danish pun terkekeh melihatnya. Setelah itu Alexa pun kembali menonton televisi.
***
Pagi harinya Alexa pun bersiap untuk berangkat ke kampus. Dia naik mobil bersama ayahnya. Di perjalanan Alexa tidak berhenti berpikir kebebasan dirinya dari rasa takut.
"Akhirnya aku aman setelah ini," batin Alexa senang.
Sesampainya di kampus, Alexa dan ayahnya pun langsung berjalan menuju ke ruang dosen. Disana mereka akan bertemu dengan Pak Michael, selaku dosen kemahasiswaan. Ayahnya menjelaskan alasan dan mengajukan permintaan kuliah dari rumah untuk Alexa. Setelah pembahasan panjang itu selesai, akhirnya Alexa pun mendapat ijin kuliah dari rumah. Alexa pun tersenyum senang. Setelah mendapatkan ijin, Alexa pun langsung mengurus biaya administrasi tambahan ke ruang rektorat. Setelah selesai Alexa pun segera pergi meninggalkan kampus bersama ayahnya.
"Dad, aku mau ambil beberapa buku dari perpustakaan. Dad duluan saja ke mobil," ucap Alexa.
"Ya sudah, hati-hati." Alexa pun mengangguk. Sean berjalan meninggalkannya di lorong kampus. Alexa pun berbalik dan berjalan menuju ke perpustakaan.
Sesampainya di perpustakaan, Alexa mengambil beberapa buku untuknya mengerjakan tugas kuliah.
"Wah, kamu pinjam banyak sekali," ujar penjaga perpustakaan yang tengah melihat buku-buku yang dibawa Alexa.
"Iya, Miss. Saya ikut program kuliah di rumah."
"Oh, memang jarang yang memilih program itu. Tapi tidak apa, semoga semangat belajar mu tetap naik," ucap penjaga itu.
"Terimakasih." Alexa pun tersenyum.
"Kau semester berapa?"
"6."
"Sebentar lagi lulus, kau pasti sedang tugas akhir." Alexa pun mengangguk.
"Keputusan mu bagus juga mengambil kuliah di rumah, semester 6 memang sudah jarang mata kuliahnya. Nanti aku juga mau ikut program itu deh waktu mengerjakan tugas akhir." Mendengar ucapan itu Alexa pun terkejut, dia dibuat bingung.
"Miss masih kuliah? Semester berapa?"
"Semester 4, magister."
"Oh, saya kira Miss di bawah saya. Saya terkejut mendengarnya." Mendengar itu penjaga itu pun terkekeh.
"Semangat ya buat tugas akhir," ucap penjaga itu sambil tersenyum ramah.
"Iya, Miss. Terimakasih."
Setelah selesai mendatakan buku, Alexa pun langsung pergi meninggalkan perpustakaan. Dia membawa buku-buku yang memenuhi kedua tangannya. Setengah berlari Alexa pun menuju ke mobil ayahnya. Namun ketika akan masuk parkiran, Alexa tidak sengaja melihat Titans sedang duduk di depan mobilnya. Sontak Alexa langsung menghentikan langkahnya. Dia kembali berbalik badan dan bersembunyi.
"s**t, ngapain dia disitu?" Umpatnya.
Dengan nafas menderu Alexa pun duduk berjongkok di sudut dinding. Dia melirik kearah Titans yang sedang berjalan ke samping mobil.
"Cepat pergi, Sialan!" Umpatnya kembali.
Alexa sedang susah payah berjongkok sambil menahan buku-buku bawaannya. Keringat mulai keluar dari dalam pori-pori kulitnya. Alexa menarik nafas lalu membuangnya. Berkali-kali dia melakukan itu sampai detak jantungnya kembali normal.
"Hei, Lexa kau sedang apa?"
Tiba-tiba Alexa dikejutkan dengan sapaan seseorang. Sontak Alexa langsung berhenti melakukan aktivitasnya. Jantungnya kembali berdetak dengan cepat. Terdengar jelas siapa yang memiliki suara seperti itu. Hanya satu orang yang mempunyai suara bass dan lembut itu. Alexa pun memberanikan diri menoleh kearah orang itu. Perlahan dia berbalik badan. Ketika sudah melihat orang itu Alexa pun terkekeh.
"Jacob," gumam Alexa.
Jacob pun menatapnya heran. Dia melihat keringat yang membasahi pelipis dan leher Alexa. Jacob pun menjadi khawatir.
"Kau sakit? Kenapa kau berkeringat sekali, Lexa?" Tanyanya sambil berjongkok di samping Alexa. Jacob meletakkan punggung tangannya di dahi Alexa juga lehernya. Alexa hanya menggelengkan kepalanya tanda dia tidak sedang sakit. "Lalu kau ngapain jongkok disini?"
"I,itu aku keberatan membawa buku-buku ini," ucapnya bohong.
"Aku bantu ya?"
Saat Jacob menawarkan bantuan, Alexa pun salah fokus dengan mobil Titans yang sudah berjalan keluar menuju gerbang. Sontak Alexa pun segera berdiri mengikuti arah mobil Titans pergi. Melihat itu Jacob yang tengah mengambil buku Alexa yang berada di lantai pun terkejut. Jacob langsung mengambil buku Alexa dan segera berdiri.
"Kau melihat apa? Aku bantu ya?"
Tiba-tiba kefokusan Alexa buyar ketika mendengar pertanyaan Jacob.
"Eh, tidak ada. Tidak perlu membantu aku bisa sendiri," ucap Alexa sambil mengambil buku yang tengah di pegang Jacob. Jacob hanya menatapnya diam. "Kau kenapa ke kampus lagi?" Tanya Alexa sambil merapikan buku-buku yang di bawanya.
"Aku sedang mengambil ijazah," jawab Jacob.
"Oh, ya sudah aku duluan ya. Bye Jacob." Alexa pun berlalu meninggalkan Jacob.
Alexa tidak menyadari bahwa sejak tadi Jacob terus memperhatikannya. Jacob merasa rindu padanya. Jacob mengusap-usap wajahnya. Dia berusaha kembali ke kehidupannya tanpa Alexa. Jacob pun berlalu dari tempat itu. Sedangkan Alexa, dia tengah berlari cepat menuju ke mobil ayahnya. Nafasnya kian menderu. Sesampainya di pintu mobil, Alexa langsung mengetuk jendela mobil dengan cepat.
"Dad, buka," ucapnya dari luar mobil.
Sean pun melihat putrinya tengah berdiri sambil mengetuk jendela. Segera dia membukakan pintu untuk Alexa. Setelah pintu dibuka Alexa langsung masuk ke dalam. ( Brakk) Alexa membanting pintu mobil ayahnya. Ayahnya pun terkejut.
"Pelan-pelan menutupnya, Alexa!" Ucap ayahnya dengan nada tinggi.
"Maaf, Dad."
Ayahnya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya. Dia memperhatikan Alexa dari kaca spion sambil menyalakan mobil.
"Keringatmu banyak sekali, kau habis lomba lari atau apa?" Mendengar pertanyaan itu Alexa justru terkekeh.
"Olahraga, Dad. Ini masih jam 09.00 pagi."
"Kau aneh-aneh saja." Alexa membalas dengan kekehan kembali.
Mobil pun berjalan keluar dari tempat parkir, kemudian keluar dari gerbang kampus. Alexa menatap lingkungan kampusnya dari balik jendela mobil. Dia melihat senior-seniornya yang kemarin habis wisuda. Mereka tengah berkumpul di lapangan untuk pengambilan ijazah. Tidak sengaja Alexa menangkap sosok Jacob di antara senior-senior itu. Dengan berat Alexa menelan salivanya sambil memperhatikan Jacob sampai mobil ayahnya berlalu keluar dari kampus. Alexa menghembuskan nafas panjang lalu kembali duduk menghadap ke depan. Perasaannya kini lega di tambah dirinya berhasil bersembunyi dari Titans. Alexa pun duduk diam sampai akhirnya dia tertidur.
"Lexa, bangun!"
Alexa pun langsung berjingkat. Dia terkejut mendengar ucapan itu.
"Dad," ucap Alexa dengan nada khas bangun tidur.
"Kamu itu kok bisa tidur lagi, cepat bangun lalu masuk ke dalam. Dad mau berangkat."
"Iya, Dad."
Alexa pun turun dari mobil. Ayahnya membuka jendela mobilnya lalu memanggil Alexa yang tengah berbalik badan.
"Lexa, bukumu ketinggalan." Sontak Alexa pun langsung berbalik badan kembali.
"Eh, iya. Lexa lupa, Dad," ucap Alexa sambil terkekeh.
Ayahnya tidak habis pikir dengan Alexa pagi ini. Sean pun mengangkat buku-buku itu dari atas bangku mobil lalu memberikannya kepada Alexa. Alexa pun langsung menengadahkan kedua tangannya.
"Cepat masuk."
"Iya, Dad. Hati-hati, Dad."
"Ya."
Ayahnya pun langsung berlalu dari halaman rumah. Alexa melambaikan tangannya kearah mobil ayahnya. Kemudian mengambil buku-bukunya yang dia taruh di atas jalan.
"Hoamm," Alexa pun kembali menguap.
Kemudian Alexa berjalan masuk ke dalam rumah. Dia membuka pintu dan berjalan lurus ke kamarnya.
"Lexa, sudah selesai?" Tanya Danish yang baru saja keluar dari dapur.
"Sudah, Kak."
"Syukurlah. Sekarang kamu aman dirumah." Alexa pun terkekeh mendengar ucapan Danish. Kemudian melanjutkan perjalanan ke kamarnya. Di dalam kamar Alexa menaruh buku-bukunya di atas meja belajar. Kemudian dia berjalan menuju ranjang. Dia membanting tubuhnya ke atas ranjang. Kemudian menarik nafas dan membuangnya pelan. Dia melihat langit-langit kamarnya sambil memikirkan suatu hal.
"2 jam yang melelahkan. Tapi akhirnya selesai juga," gumamnya. "Jacob, aku merindukanmu," gumamnya lagi.
Tiba-tiba Alexa teringat dengan kenangan indah bersama Jacob. Tidak terasa air mata pun menetes dan mengalir ke pelipisnya. Hatinya tiba-tiba sakit karena momen-momen indah itu tidak akan ada lagi dalam hidupnya. (Tok-tok-tok) pintu kamarnya terdengar sedang di ketuk. Alexa pun langsung menyeka air matanya dan menggapai ponsel yang berada di nakas. Dia pun berpura-pura bermain ponsel. Terdengar ganggang pintu kamarnya sedang di pegang dan di putar. Dan pintu kamarnya pun terbuka. Alexa langsung menoleh kearah pintu kamarnya.
"Kak, Danish. Masuk, Kak," ucap Alexa.
Danish pun masuk. Dia membawa segelas jus jeruk manis kesukaan Alexa. Danish berjalan menuju ke ranjang Alexa dan dusuk di samping Alexa. Alexa pun bangkit dan duduk.
"Kau pasti haus."
"Kakak benar, aku haus, Kak." Alexa langsung mengambil jus itu dari tangan Danish. Melihat itu Danish pun terkekeh. Alexa menelan habis jus itu. Kemudian menyodorkan kembali gelas yang sudah kosong itu ke Danish.
"Eh, kamu nggak sopan ya," ucap Danish bercanda. Alexa pun terkekeh.
"Kak Danish, tadi hampir saja aku ketahuan Titans. Tidak sengaja aku melihatnya di parkiran kampus. Dia sedang berada di mobilnya. Untung mataku waktu itu awas, terus aku berhenti, Kak. Aku sembunyi sampai dia pergi. Aku masih takut, Kak."
Mendengar itu Danish merasa iba. Dia tahu bagaimana rasanya di jadikan obyek kejahatan orang-orang jahat. Danish pun langsung memeluk Alexa.
"Setelah ini kamu tidak perlu takut lagi. Itu terakhir kali kamu bertemu dengannya. Percaya padaku." Alexa pun mengangguk dalam pelukan Danish. Danish pun tersenyum merasakan Alexa yang tengah menganggukkan kepalanya.