Matahari pagi sudah mencuat ke atas, Yehana memasang sepatu ketsnya, bersiap untuk berangkat kerja. Riasan tipis yang melekat di wajahnya seakan mengembalikan wajah remaja milik gadis tersebut.
"Yehanaaaa!"
Suara itu membuat Yehana mendongak, bibinya melambai-lambaikan tangan ke atas sambil tersenyum cerah, seolah mengalahkan kilau sinar matahari. "Bibi?!" Yehana sedikit terkaget, namun selebihnya gadis itu merasa senang, ia merindukan kakak dari mendiang ibunya itu. Sebuah motor tua berhenti di halaman rumah kos yang Yehana tinggali.
Grace segera turun, "Kau mau ke mana?" tanyanya.
"Aku ingin berangkat kerja Bi, bibi dan paman kenapa tidak bilang kalau mau kemari?"
Paman Yehana ikut turun, "Ini mendadak Yehana, seseorang mengirim surat hari ini, surat itu berisikan undangan makan malam untuk aku, Grace, dan kau." Jelas Reyhan, paman Yehana.
Yehana mengerutkan dahi, "makan malam? Siapa?"
"Entahlah, tak ada nama pengirimnya. Mungkin peresmian restoran..." jawab Grace, mendengar jawaban polos dari bibinya membuat Yehana menghela nafas, "Bibi, jangan terlalu mudah percaya. Jaman sekarang orang orang banyak yang jahil, kita tidak tahu siapa pengirim surat undangan itu, 'kan? Bisa saja itu penjahat." Jelas Yehana.
Reyhan menggeleng, "kalau memang surat itu di kirim oleh penjahat, memangnya mau apa dia dari orang miskin, tua dan renta seperti aku dan bibimu Yehana?" Tukas Reyhan, "kita cek dulu, lagi pula tempatnya di Restoran, pasti ramai orang di sana."
Yehana kembali menghela nafas sambil tersenyum tipis, "Baiklah, tapi aku tidak bisa ikut paman... kalau ada hal yang mencurigakan nanti, telefon saja aku atau polisi." Ucap Yehana,
"Yehana, kau harus ikut..." Grace menahan lengan Yehana yang ingin melangkah menjauh dari keberadaannya,
"Bibi... aku tidak bisa, aku baru di terima kerja kemarin dan itu pun dengan cara yang susah payah, tidak mungkin kan kalau di hari kedua saja aku sudah membolos?" Ucap Yehana lalu tersenyum, "percayalah, aku sebenarnya ingin sekali ikut. Tapi, tidak bisa... maaf."
"Ayolah Yehana... kali ini saja, bibi mohon padamu ...."
Yehana menatap bibinya yang tampak memelas, kemudian menatap jam tangan yang membalut lengan kanannya, sudah jam 10:13 a.m. Hanya tersisa 17 menit sebelum jam kerja gadis itu mulai. Ponsel Yehana berdering, ia melepaskan tangan Grace dari lengannya. "Sebentar Bi," Yehana membuka tas, mengambil benda persegi kecil yang terus berdering dari dalam sana.
"Ya, halo pak..." ucap Yehana sopan.
"Libur? Kenapa?" Tanya Yehana heran, tiba-tiba pemilik butik tempatnya bekerja menyuruh dirinya untuk libur, "Baiklah, tapi aku tidak di pecat, 'kan?" tutur Yehana waswas, beberapa saat kemudian dia tersenyum.
"Kalau begitu, terima kasih pak."
Yehana memutus sambungan telefonnya, "baiklah, aku bisa ikut paman dan bibi." Ia tersenyum.
STALKER OBJECT
Suasana ramai menyambut kedatangan Yehana bersama paman dan bibinya, mereka tiba di halaman besar sebuah restoran berbintang. "Bi, apa ini sungguhan?" tanya Yehana.
"Entahlah, setelah melihat tempatnya bibi menjadi ragu..." jawab Grace, "apa kita pulang saja?" Tambah Reyhan.
"Sebaiknya begitu... rasanya tidak mungkin undangan itu sungguhan kalau di tempat mahal seperti ini,"
Sekumpulan pria berjas melintas di hadapan Yehana, "Kita belum bisa mulai, keluarga Ardita belum datang, bahkan tak satu pun dari mereka yang datang." Ucapnya, mendengar percakapan itu membuat Yehana mengerutkan dahi, ia menghampiri lima orang pria yang tak jauh dari tempatnya berada.
"Permisi..."
Sontak perhatian tertuju padanya, "ya, ada apa?"
"Apa tadi Anda bilang keluarga Ardita?" Tanya Yehana ragu.
"Iya, apa kau salah satu anggotanya?" tanya pria itu lagi. Yehana tersenyum, "iya, namaku Yehana, dan di sana adalah Grace dan Rayhan. Paman dan bibiku,"
Pria di hadapan Yehana mengecek buku kecil di tangannya, beberapa saat kemudian dia mengangguk lalu kembali menatap Yehana, "Baiklah, mari masuk." Ucapnya, Yehana mengangguk, ia kembali menghampiri Grace dan Rayhan.
STALKER OBJECT
Mata Yehana, Reyhan dan Grace tercengang melihat seluruh hidangan yang di suguhkan di atas meja panjang restoran tersebut. "Apa ini sungguhan?" Tanya Yehana,
"Tentu saja, kalian sudah terpilih menjadi salah satu tamu khusus malam ini. Silakan di makan hidangan pembukanya Tuan dan Nyonya, hidangan utama akan menyusul setengah jam ke depan." Ucap seorang pelayan dengan ramah, ia membungkuk hormat, "Ada permintaan khusus?"
"Ah, nona, apa semua ini gratis?" Tanya Reyhan. PelayanPelayan tersebut tersenyum, "Tentu saja, kalian bisa makan sepuasnya dan secara gratis. Tak ada pungutan biaya sama sekali."
"Luar biasa..." gumam Yehana pelan.
Pelayan tersebut membungkuk lalu segera berpamit untuk undur diri. Selang beberapa menit pelayan tersebut pergi, Yehana, Grace dan Reyhan mulai menyantap makanan mereka. Di tengah Yehana memakan cream soup tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bibirnya dari belakang, sontak Yehana terkejut.
"Kau makan berlepotan sekali..."
"Uhuk!" Respons Yehana saat melihat siapa yang berdiri di belakangnya, seorang pria tinggi dengan setelan jas marun tersenyum ke arahnya. "Kursi lain penuh, boleh aku duduk di sini?"
Yehana melongo menatap pria di sampingnya, "Yehana?" Panggilnya sekali lagi.
"Y,ya?" respon Yehana gugup.
"Aku tanya, apa boleh aku duduk di sini? Kursi lain penuh."
"Ya, ya silakan Damirn..."
"Terima kasih..."
Damirn menarik kursi yang terletak di samping Yehana, pria itu duduk dengan elegan. Memasang celemek di lehernya lalu mulai menyendoki cream soup yang asapnya masih mengepul. Untuk sesaat Yehana tak henti memandangi Damirn, di matanya Damirn terlihat sangat tampan malam ini, ya meskipun siang kemarin juga begitu, tapi malam ini pria jangkung di sampingnya itu terlihat sedikit berbeda.
"Ah ya, aku baru ingat. Keluargaku mendapat undangan ruang VIP. Tapi, ayah dan ibuku berhalangan hadir, jadi... apa Paman dan bibi mau menggantikannya?" Tanya Damirn sambil mengeluarkan sebuah tiket kecil berwarna emas. Grace dan Reyhan saling pandang.
"Ini hanya bisa di hadiri Anggota keluarga inti, aku tak bisa menghadirinya. Jadi, daripada hangus lebih baik kuberikan pada kalian, 'kan?" Reyhan menjangkau tiket kecil di hadapannya, "Terima kasih nak...?"
"Damirn, panggil saja begitu." Ucap Damirn.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih." Ucap Reyhan ramah. "Di mana ini?" tanyanya lagi, Yehana menatap ke arah Reyhan, "Paman!" Desisnya pelan. Reyhan hanya menoleh ke arahnya sejenak namun ia tak mengindahkan teguran Yehana barusan. "Di lantai atas, di sana ada terdapat sebuah pintu besar yang di depannya terdapat dua penjaga, kalian hanya perlu menunjukkan tiket ini pada mereka, maka kalian berdua akan di izinkan masuk." Jelas Damirn.
"Baiklah," Reyhan bangkit dari duduknya, begitu pula Grace.
"Paman..." panggil Yehana, ia tahu kalau itu tak akan berhasil mengingat paman dan bibinya adalah penggila uang dan pemburu gratisan. "Tenanglah Yehana, tunggu kami di sini. Damirn, temani Yehana untuk sebentar ya..." Grace tersenyum ramah.
"Dengan senang hati," Damirn sedikit membungkukkan tubuhnya. Grace dan Reyhan berlalu, menyisakan Damirn dan Yehana bersama musik klasik yang beradu dengan suara denting piring di Restoran tersebut. Damirn menyeringai samar, ia menatap punggung Grace dan Reyhan yang sudah menjauh.
Yehana tak melanjutkan makan, tiba-tiba saja baginya suasana berubah saat hanya tersisa Damirn dan dirinya di meja tersebut. Tujuan awal yang hanya ingin pergi memenuhi undangan makan malam, malah terasa seperti dinner yang di rencanakan.
"Yehana..." panggil Damirn.
Yehana menoleh kaku ke arahnya, "Hm?" responsnya singkat.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya Damirn sambil menatap Yehana secara lekat, mata blackjet miliknya seolah memaparkan aura misterius ketika sorotan lampu dansa yang menari mengikuti alunan pelan lagu tahun 80-han tak sengaja menyorot wajahnya.
"A, aku... aku sudah kenyang." Ucap Yehana, gadis itu mengalihkan pandangannya ke depan. Damirn tersenyum, "jangan malu, anggap saja kau sedang makan malam bersama temanmu."
"A, aku tidak malu..."
Damirn tertawa kecil, ia memegang pelipisnya sambil terus tertawa. Hal itu membuat Yehana menoleh dirinya dengan tatapan heran. "Kenapa kau tertawa?"
"Karena kau begitu lucu ...."
STALKER OBJECT