Bus berhenti di sebuah halte, mengingat ini sudah cukup malam maka Yehana yakin itu adalah Bus terakhir untuk malam ini. Ia berjalan lemas, berulang kali gadis itu mengatur nafas karena hawa dingin yang menerobos tulangnya yang hanya memakai dres selutut malam itu. Ia menghentikan langkah begitu berada tak jauh dari letak pintu kos. Yehana menatap sekitar, keadaan sepi, tak terlihat siapa pun oleh mata cokelatnya.
Sebuah bingkisan cokelat bersama sebuket bunga mawar tergeletak tepat di depan pintu. Yehana kembali melanjutkan langkah, menatap heran sekotak cokelat tersebut, ia berjongkok, mengambil kertas dengan bentuk kelopak mawar di sana.
"Kau cantik sekali, tapi aku tidak suka pakaianmu malam ini. Terlalu sexy, dan itu membuatku kesal Yehana..."
Mata Yehana membesar ketika membaca surat tersebut. Ia mengacak buket bunga yang tergeletak bersamaan dengan cokelat. Nihil, tak ada yang lain kecuali kedua benda tersebut. Yehana menghela nafas, ini malam kedua ia mendapat kiriman cokelat. Dengan perasaan yang campur aduk, ia membawa dua benda tersebut ke dalam kamar kos, menaruhnya di pojokan bersama sekotak cokelat semalam yang tak ia sentuh sama sekali.
Yehana mengeluarkan ponselnya lalu menelefon Berlin.
"Ya, Yehana? Ada apa kenapa menelefon malam-malam?"
"Berlin, kau di mana sekarang?" Tanya Yehana.
"Di rumah, bersiap tidur. Ada apa?"
"Aku..." Yehana menatap isi ruang kamar kosnya dengan saksama, "Aku mendapat sekotak cokelat lagi, dan kali ini bersamaan dengan buket bunga Berlin, aku takut... rasanya ada seseorang yang sedang mengawasiku, tapi aku tidak bisa menemukannya, aku takut Berlin, bisa kau ke sini dan temani aku?"
Sempat senyap, "Tenanglah... kunci seluruh pintu dan segera matikan lampu. Dengan begitu orang akan mengira kau sudah tertidur, aku tidak bisa pergi ke sana, ayah dan ibuku sedang tidak ada di rumah, dan mereka memintaku untuk tetap di sini. Maafkan aku ...."
Wajah Yehana murung, "baiklah, tidak apa-apa... terima kasih atas saranmu Berlin." Setelah mendapat ucapan selamat malam dari Berlin, Yehana menutup sambungan telefon tersebut. Ia mengikuti saran Berlin, mengunci semua pintu juga jendela dan mematikan lampu. Yehana menarik nafas dalam, "Tenanglah Yehana, tak ada siapa-siapa. Kau aman di dalam sini..." ucapnya pada dirinya sendiri, ia mengganti baju lalu segera masuk ke dalam selimut tebalnya.
Tak butuh waktu lama, sekitar setengah jam kemudian Yehana sudah terlelap. Derap langkah yang begitu senyap mendekati keberadaan gadis tersebut, pria tinggi dengan jas marun itu berjongkok untuk menyamakan posisi kepalanya dengan wajah Yehana yang sedang terlelap. Ia tersenyum, sambil memegang bibir Yehana dengan pelan.
"Kenapa kau begitu membuatku tertarik sehingga aku ingin selalu bersamamu seperti ini, Yehana...?"
STALKER OBJECT
"Yehana...!"
Berlin melambaikan tangannya ke luar jendela mini Cooper, Yehana tersenyum. Segera ia menyeberang untuk menghampiri Berlin yang datang untuk menjemputnya.
"Wah, siapa ini? Aku tidak kenal." Berlin menggoda Yehana yang duduk di sampingnya, "Apa tidak kelihatan berlebihan?" tanya Yehana.
Berlin menggeleng, "Tidak sama sekali, kau cocok memakai pensil alis dan maskara, tapi... kenapa tiba-tiba memakainya hari ini? Kau mau kencan?" Mendengar perkataan Berlin yang suka seenaknya membuat Yehana menatap malas, "Ini tuntutan kerja, katanya alisku tipis jadi terlihat jelek. Benar, tidak terlihat buruk?"
"Sudah ku bilang tidak, ayo berangkat. Kelasku sebentar lagi di mulai..."
Mini Cooper Berlin mulai bergerak, musik DJ terputar pelan dari radio mobilnya. Yehana terdiam, ia menatap keluar jendela sambil memejamkan mata, kilauan matahari yang mulai merangkak naik menghangatkan wajah kecil Yehana. "Omong-omong, kau benar-benar tidak tahu siapa yang mengirim cokelat itu?"
Yehana menarik kepalanya masuk ketika mendengar perkataan Berlin, ia menggeleng. "Tidak, sudah ku tanya Jakson. Tapi katanya bukan dia, meski hanya cokelat tapi itu membuatku takut."
Berlin terlihat berpikir, "kira-kira, kau punya mantan yang masih menyayangimu atau semacamnya?"
Yehana tersenyum geli. "Kau gila? Aku mana pernah pacaran, Membayangkannya saja aku geli."
Berlin tergelak, ia lupa kalau temannya sejak kecil itu adalah gadis cupu dengan wajah yang menawan. "Kalau begitu, itu pasti dari penggemar atau pria yang menyukaimu baru-baru ini,"
"Siapa?" Dahi Yehana berkernyit.
"Entahlah, coba pikirkan... apa ada kira-kira orang yang mencurigakan mendekatimu akhir-akhir ini?" Yehana terdiam, ia terlihat berpikir. Tak ada yang spesial akhir-akhir ini, satu-satunya orang baru yang berkomunikasi dengannya adalah Damirn. Tapi cepat gadis itu menyangkal kalau tidak mungkin Damirn yang mengiriminya cokelat.
"Tidak ada, hanya segelintir pelanggan biasa di toko. Dan, tak mungkin salah satu dari mereka, orang yang mengirim cokelat itu tampaknya selalu membuntutiku. Karena ia tahu pakaian apa yang ku pakai semalam." Jelas Yehana.
"Hm, bagaimana dengan pria yang kau ajak bicara malam kemarin? Pria yang memakai mobil mahal itu..."
Yehana menatap Berlin sekilas lalu menggeleng, "Otakmu tidak bisa berpikir sedikit lebih jauh ya Ber? Tidak mungkin Damirn mengirimiku cokelat, karena semalam dia bersamaku di sebuah Restoran."
"Wah kau su--- hah! Kau bersama pria itu di sebuah Restoran?!" tanya Berlin sedikit kaget, ia menuntut jawaban dari Yehana. "Iya, paman dan bibiku mendapat undangan sebuah acara, dan kebetulan di sana juga ada dia. Makanya aku bilang kami bersama di Restoran."
"Oh, Aku kira kencan."
"Ya, bisa di bilang begitu sih..." batin Yehana.
Mereka sampai di depan Butik tempat Yehana bekerja, mobil Berlin berhenti. Segera Yehana keluar, "Oh ya, Yehana..."
"Ya?"
"Nanti malam, tampaknya aku tidak bisa menjemputmu. Aku ada latihan teater di kampus, dan kata yang lain mungkin sampai tengah malam, tidak apa-apa?" Yehana tersenyum, "tidak apa-apa... aku bisa naik Bus, sudah sana pergi. Nanti kau terlambat."
"Siap!" Berlin menutup kaca jendelanya lalu segera melenggang pergi.
STALKER OBJECT
Yehana sedang sibuk memasarkan produk pada seorang pelanggan yang tengah di temaninya.
"Yehana!"
Yehana mendongak, seorang karyawan di butik tersebut memanggilnya. "Ada apa?"
"Kesini! Pelanggan setiamu mencari..."
Yehana mengerutkan dahi, "siapa?" tanyanya. "Mana kutahu, itu pria kemarin lusa. Ayolah, cepat ke sana... ini biar aku yang gantikan."
Yehana terlihat bingung, "Apa Damirn?" gumamnya pelan. Yehana beranjak ke pintu depan, dan benar di sana berdiri Damirn dengan setelan jas abu-abu tua, ia tersenyum tipis ke arah Yehana yang menatapnya setengah canggung. "Sudah ku bilang, kalau tidak nyaman ganti saja yang lain."
Yehana mendongak, "A,aku sudah terbiasa kok dengan seragam ini..."
Damirn tertawa kecil, "kenapa kau selalu gugup setiap ku ajak bicara? Kau menyukaiku?" goda Damirn. "Tidak!" Jawab Yehana mantap.
"Jahat sekali..." Damirn memasukkan kedua lengannya ke dalam saku celana, "Ayo... temani aku, aku ingin membelikan seorang gadis dres," Damirn berjalan masuk lebih dalam.
"Baik..." setuju Yehana.
"Tubuhnya persis sepertimu, jadi aku mau kau saja yang pilihkan. Karena aku tidak tahu selera perempuan itu seperti apa." Ucap Damirn, "Baiklah... omong-omong, untuk siapa? Pacarmu?"
Damirn menghentikan langkahnya, ia menghadap Yehana yang berdiri dua langkah di belakangnya, "Untukmu..." Damirn menyeringai samar, membuat Yehana terpaku karena wajah Damirn yang begitu dekat dengannya.
"Bercanda... itu untuk kekasihku, ayo..." Damirn kembali melangkahkan kakinya, Yehana yang sempat berpikir aneh segera menghilangkan tuduhannya pada Damirn, segera ia menyusul kangkah besar pria tersebut.
"Selesai acara, semalam kau langsung pulang?" Yehana yang sebelumnya memilih-milih dres, menghentikan tindakannya. "Iya karena sudah larut malam, kau sendiri?"
Damirn tersenyum, "Aku kerumah kekasihku, menemaninya tidur." Damirn menatap lekat manik mata Yehana yang tampak terkejut.
"Bukan seperti apa yang kau pikirkan Yehana, kekasihku gadis baik-baik. Kami tak melakukan apa pun," jelas Damirn seolah mengerti, ia tersenyum.
Yehana tersenyum kikuk saat Damirn bisa membaca mimik wajahnya, "Ah, ya... tentu saja." Ucapnya kemudian.
STALKER OBJECT
Yehana berdiri di tepi jalan, sambil menunggu Bus atau taksi yang lewat. Ia bersungut karena ponselnya mati, dan karena itu ia tidak bisa memesan Go-jek atau semacamnya, "Ayolah, ini sudah semakin larut..." ucap Yehana, ia terus menatap kiri dan kanan jalan dengan gelisah. Dia di landa ketakutan karena bisa saja, orang yang mengiriminya cokelat itu datang dan menculik dirinya sekarang. Sekali lagi, mata Yehana menatap sekitar, tak ia temukan siapa pun. Butik tempatnya bekerja sudah tutup setengah jam yang lalu, semua rekan kerjanya juga sudah pulang. Hanya tersisa dirinya di sana.
Sebuah mobil melintas pelan di depan Yehana, dari ciri-ciri mobil tersebut Yehana tahu itu adalah Damirn. Kaca mobilnya perlahan turun ke bawah, seulas senyum di dapat Yehana.
"Menunggu temanmu?" Tanya Damirn ramah.
"Ah ya... maksudku, tidak juga... temanku katanya tidak bisa menjemput." Jawab Yehana begitu saja, Damirn menyeringai samar.
"Jadi?"
"Jadi, aku sedang menunggu Bus atau taksi yang lewat." Jawab Yehana langsung.
Damirn tertawa, ia menggeleng pelan. "Kau sedang menipu dirimu sendiri Yehana? bukannya kau tahu kalau Bus terkahir itu jam 10 malam? lagi pula, daerah sini jauh dari halte. Bus apa yang akan datang?" Damirn menatap Yehana, “bus hantu?"
Yehana terdiam, ucapan Damirn benar adanya.
"Jadi bagaimana?" tanya Damirn lagi, Yehana diam. Ia menggenggam erat rantai tas kecilnya, "Ba,barangkali... nanti ada Bus atau taksi yang lewat." Jawabnya ragu.
Damirn menghela nafas pelan, "Baiklah, kalau begitu aku permisi ya..." Mata Yehana membulat, ia menatap Damirn secara lekat. Membuat pria itu tersenyum tipis. "Kenapa?"
"Kau mungkin sedang sibuk, tapi... tapi apa boleh kau mengantarku pulang? A,aku... aku takut di sini sendirian." Ucap Yehana, ia menundukkan pandangannya ke bawah.
Damirn menghadapkan pandangannya ke depan, pria itu tampak berpikir. "Em... bagaimana ya, kekasihku mungkin sudah menunggu kehadiranku sekarang..." Damirn menatap jam tangannya, "Sudah jam sebelas juga, aku ta---"
"Ayolah Damirn... aku mohon, kali ini saja." rengek Yehana. Damirn terdiam, ia menatap Yehana sejenak dengan sebuah senyuman yang tak bisa Yehana artikan. "Baiklah, ayo masuk." Setujunya, Yehana tersenyum senang, segera ia membuka pintu depan mobil Damirn. Lalu duduk tanpa dosa di sana, ia membetulkan anak rambutnya sekejap lalu ikut memandang Damirn yang sedari tadi tak mengalihkan pandangannya dari Yehana.
"Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Yehana.
Damirn tersenyum, "Kalau boleh duduklah di belakang, bisa berisiko untukku kalau seseorang menemukan aku bersama wanita lain." Ucap Damirn sambil terus menatap Yehana,
Yehana terkesiap, "Be,begitu ya? Baiklah aku duduk di belakang." Segera Yehana membuka pintu lalu pindah ke kursi belakang. Damirn tertawa palan, namun segera ia menghentikan tawanya ketika Yehana sudah duduk di kursi belakang.
"Di mana rumahmu?" tanya Damirn,
"Sekitar empat kilo dari sini, kau hanya tinggal lurus. Nanti kalau sudah dekat, akan ku beritahu," jelas Yehana.
"Baiklah..."
Mobil Damirn membelah sunyi malam, karena sekarang Yehana menumpang dengan Damirn, maka dia tidak bisa seenaknya membuka kaca jendela lalu membiarkan wajahnya di sapu angin malam. Yehana menatap sekeliling, mobil Damirn begitu rapi tanpa stiker satu pun seperti mobil milik Berlin.
"Wajar saja sih, inikan mobil mahal." Batin Yehana, pandangannya lalu beralih ke kursi di sampingnya. Di sana terdapat sekotak cokelat lengkap dengan buket bunga mawar seperti yang ia temukan di depan pintu kamar kosnya semalam. Mata Yehana membesar, ia menatap ke depan tempat di mana Damirn berada.
"Dia?" batin Yehana lagi, gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. Kalau memang dugaannya benar, maka ia sudah salah besar meminta pertolongan dengan Damirn.
Keadaan senyap, Yehana tak membuka mulut sedikitpun. "Apa masih jauh?" tanya Damirn. YehanaYehana menatap keluar, "ini sudah lewat!" Jawab Yehana sedikit panik.
"Oh, baiklah, maafkan aku." Damirn memutar roda mobilnya, "Di mana?" tanya Damirn lagi.
Yehana terdiam,
"Yehana?"
"Bukannya kau sudah tahu dimana tempat tinggalku?" ucap Yehana begitu saja,
"Apa maksudmu?" Damirn mengintip Yehana dari kaca spion depan, "Oh tidak... di depan sana, belok kanan. Berhenti di depan rumah yang di depannya terdapat plang besar bertuliskan Kos Damai putri." Tutur Yehana. Ia memejamkan matanya bingung, saat ini dia benar-benar mencurigai Damirn.
Mobil Damirn menuju tempat yang di sebutkan Yehana, lalu setelah berada tepat di depan alamat tersebut. Mobilnya berhenti, dan Yehana segera keluar.
"Kau tinggal sendiri?"
"Tidak, aku bersama temanku." Bohong Yehana,
Damir
n tersenyum, "Syukurlah, aku kira kau sendirian." Yehana tak merespon.
"Ya sudah, aku pulang ya..." lanjut Damirn meminta izin. Yehana hanya mengangguk pelan, pikiran tentang cokelat dan buket bunga di dalam mobil Damirn terus saja mengganggu pikirannya, "Damirn..." panggil Yehana
saat Damirn hendak menyalakan mesin kembali.
"Ya?"
"Itu... cokelat dan buket bunga di dalam mobilmu. Untuk siapa?" tanya Yehana.
Damirn menatap kebelakang sejenak, "Untuk kekasihku, memangnya untuk siapa lagi? Hari ini kan malam Valentine, bukannya wajar kalau aku menghadiahkan buket bunga dan cokelat?"
Yehana terdiam, dahi Damirn berkernyit, "Ada apa? Kau mau?"
"Tidak!" jawab Yehana singkat, "Ya sudah, pulanglah... terimakasih sudah mengantarku Damirn ...."
"Tck, tck, kau malah mengusirku. Baiklah, aku permisi dulu ...." Mobil Damirn melenggang pergi, meninggalkan Yehana yang berdiri di tepian jalan. Gadis itu menghela nafas, "Aku ini kenapa, mana mungkin orang itu Damirn." Ucapnya lalu berjalan masuk, namun ketika sampai di depan pintu, ia di sambut dengan sekotak cokelat dan sebuah tas belanja dengan tulisan Gucci. Yehana mencengkeram ekor kardigan yang di pakainya, Menatap sekitar namun tak menemukan siapa pun.
Yehana membungkuk untuk mengambil sebuah kertas berbentuk hati di atas cokelat tersebut.
"Kenapa kau pulang lama sekali? Aku merindukanmu, Yehana..."
Yehana merobek kertas itu begitu saja. Dan tanpa membawa kedua benda tersebut masuk, ia menutup pintu, lalu mencoba menelefon Berlin tapi tak kunjung di jawab.
Tok! Tok! Tok!
Yehana terpaku kala mendengar pintunya di ketuk seseorang, dan bukannya membuka pintu. Yehana malah mematikan lampu lalu segera masuk ke dalam selimut. "Ya Tuhan, tolong aku... tolong aku..." bisiknya pelan.
STALKER OBJECT
Jam sudah menunjukkan pukul 02.56 a.m, Damirn yang masih menggunakan setelan jas masuk melalui ventilasi toilet kos Yehana, pria itu membawa sekotak cokelat dan tas belanja berisikan baju yang Yehana tinggalkan di depan kamarnya.
"Kenapa kau tinggal di luar?" ucap Damirn pelan. Ia menaruh hadiah itu di pojok dinding, tempat Yehana menaruh hadiah lain darinya. Damirn menghampiri Yehana, masuk perlahan ke dalam selimut tebal yang selalu Yehana pakai ketika tidur.
"Aromamu ini, selalu berhasil membuat mataku mengantuk. Tapi... di suatu saat, juga bisa membuatku selalu terjaga..." Damirn menutup matanya sambil memeluk Yehana dari belakang, tanpa takut kalau bisa saja Yehana membuka matanya.
"Aku mencintaimu, Yehana ...."
STALKER OBJECT