Seperti biasa, Berlin menjemput Yehana untuk berangkat kerja. Saat Yehana masuk ke dalam mobilnya, dahi gadis itu berkerut. "Ada apa?" tanya Berlin. Yehana menatap Berlin dengan saksama, dengan tatapan kalang. "Aku mau pindah Lin, tempat itu... tempat itu tidak aman." Lirih Yehana.
Alis Berlin bertaut, "Tunggu sebentar Yehana... kenapa tiba-tiba? Ada apa?"
"Ada orang yang masuk ke kamarku semalam." Ucapnya pelan, menambah kebingungan di raut wajah Berlin. "Orang? Siapa? Dan, kenapa? Bicara yang benar Yehana... aku tidak mengerti."
Yehana menarik nafas, "Kau ingat soal cokelat?" Berlin mengangguk, "lalu?" tanyanya.
"Kemarin malam, aku kembali mendapat sekotak cokelat. Juga sebuah tas belanja di sampingnya, dan aku tidak membawanya masuk. Aku yakin itu... tapi, ketika tadi aku terbangun, Cokelat dan tas belanja itu sudah ada dalam kamarku." Jelas Yehana, Berlin tersenyum miring, "Jadi, maksudmu kau tidak menemukan ada orang yang masuk ke dalam rumahmu semalam?" tanya Berlin.
Yehana mengangguk, "Tidak sih..." cicitnya pelan.
"Yehana, kau mungkin terlalu lelah. Kau pasti lupa kalau semalam membawa cokelat itu masuk. Jangan aneh-aneh Yehana, kau sudah membayar kamar kos itu untuk sebulan. Dan kalau kau pindah sekarang, sayang uangnya..." Berlin menghidupkan mesin mobil. "Tidak Berlin... aku ingat sekali."
"Sudahlah Yehana ...."
STALKER OBJECT
Sebuah gelas berisikan alkohol mendarat di sebuah meja bundar, seorang pria dengan pakaian kasual menatap lawan bicaranya. "Kemana saja kau belakangan ini?" tanyanya.
Pria dengan setelan jas itu menjauhkan alkohol yang di sodorkan temannya, "Jangan beri aku Alkohol Ronald, bisa bahaya nantinya." Ronald tergelak, "Apa ini Damirn? menghilang beberapa hari kau langsung menolak obat tidurmu? insomniamu sudah sembuh?" tanyanya. Damirn mendelik ke arah Ronald dengan seulas senyum di bibir. "Tentu belum, mana bisa insomnia sembuh dalam waktu sesingkat itu, tapi... aku sudah menemukan obat yang cocok, bukan alkohol lagi tapi seorang gadis yang begitu cantik, dan memesona." Jelas Damirn.
Ronald kembali tergelak, ia memegang dahi Damirn dengan telapak tangannya. "Tampaknya kau sudah jadi sinting karena halusinasi yang insomniamu ciptakan." Ronald menggeleng.
Damirn kembali tersenyum, "kau ini... kau pikir aku gila ya?"
"Tentu saja, tak ada orang yang lebih gila darimu... Hahaha!" tawa Ronald pecah, ia sampai memukul meja saking senangnya. "Dasar kau," Damirn bangkit dari duduknya. "Aku pergi dulu, senang bertemu denganmu Ronald..." ucap Damirn.
Ronald menatapnya lekat, "Mau kemana?" tanyanya,
"Pergi kencan, memberi kekasihku hadiah lalu menemaninya tidur. Aku tidak boleh terlambat, nanti dia bisa marah ...." Jawab Damirn dengan seringai samar. Ronald terdiam, ia ikut berdiri. "Kau belum periksa ya?"
"Aku baik-baik saja, Ronald... jangan khawatir."
Ronald menahan tangan Damirn, "Sudah berapa hari kau tidak tidur?" tanyanya serius. Damirn menatap mata Ronald, matanya mengukir tatapan tidak suka, "Kau pikir aku sedang berhalusinasi?” Damirn terdiam sejenak, “Ronald... dari kondisi sebelumnya, percayalah kondisiku sekarang adalah yang paling baik saat ini, aku tak pernah sakit kepala dan berhalusinasi lagi." Jelas Damirn.
"Damirn..." Ronald menatap pria di depannya khawatir, Damirn sempat terdiam, sebelum akhirnya menghela nafas dalam. "Ronald, jangan sampai aku juga tidak menemuimu lagi... Kau tahu betul aku ini orang yang seperti apa. Jangan berlebihan mengenaiku." Damirn melenggang, meninggalkan Ronald yang mematung, Ronald menatap punggung Damirn yang semakin mengecil, ia memejamkan matanya. Mengingat kenangan di mana Damirn menusuk perutnya sendiri karena insomnia akut yang ia derita.
"Aku hanya khawatir..." suara Ronald berubah kecil,
STALKER OBJECT
Yehana terlihat murung, ia membersihkan debu dengan gerakan pelan. Seolah sedang memikirkan sesuatu. "Sedang memikirkan apa?"
Yehana terperanjat, ia mendongak untuk melihat siapa yang baru menyapanya. "Danial!" Kaget Yehana. PriaPria tinggi di sampingnya itu tersenyum, "Lama tidak bertemu Yehana, apa kabar? kau rindu padaku?" tanyanya. Mata Yehana berkaca, membuat Danial mengubah ekspresi wajahnya.
"Kau kenapa? Maaf kalau aku mengkagetkanmu."
"Bukan Danial... aku hanya terharu dan bahagia, kau pergi lama sekali." Tutur Yehana menundukkan kepala, mendengar perkataan Yehana yang tidak apa-apa, Danial tersenyum. "Maaf, aku harus mengurus pemakaman ibuku sampai selesai..." Jelasnya singkat.
Yehana mendongak, ia tampak terkejut. "Bibi meninggal?”
Danial tersenyum tipis, "iya, setelah dua tahun melawan penyakitnya ibuku meninggal." Danial menghela nafas, "Seharusnya aku tetap di sini saja 'kan? karena mau di Amerika sekalipun takkan mengubah takdir kematian seseorang." Danial menatap wajah Yehana secara lekat.
Yehana terdiam, wajahnya berubah murung, melihat hal itu, lekas Danial mengalihkan topik pembicaraan, "Kau begitu berbeda setelah dua tahun. Dulu tidak secantik ini ku rasa, hahaha..."
"Danial, kau ku pukul?" pipi Yehana bersemu merah.
"Hahaha..."
Di sudut lain, Damirn berdiri di antara gantungan baju. Memperhatikan Yehana dan Danial yang tampak begitu akrab, alis pria itu menekuk, rahangnya mengeras dan bibirnya terkatup rapat. "Tuan mau saya bungkus yang ini?" tanya gadis yang bersama Damirn.
Ia terdiam, masih menatap Yehana yang terlihat begitu senang bersama Danial.
"Tuan?"
"Bungkus saja, bungkus semuanya...." ucap Damirn dingin, ia mengepalkan tangannya.
"Baiklah..." Pelayan itu pergi, meninggalkan Damirn untuk menuju mesin kasir, Damirn ikut beranjak. Ia melintas di hadapan Yehana dan Danial, sengaja ia menyenggol bahu Yehana.
"Ah- Eh, Damirn?"
Damirn menghentikan langkah, lalu menoleh Yehana. "Oh, Yehana? maaf tadi aku tidak melihatmu..." ucapnya.
Yehana tersenyum, "tidak apa-apa..."
Damirn melirik Danial sejenak, ketika Danial ikut menatapnya Damirn menyeringai, membuat Danial mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Ya sudah, aku pergi dulu Yehana..." pamit Damirn.
"Ya, baiklah..."
Damirn melanjutkan langkah, dan sempat berhenti sejenak tepat di samping Danial. "Aku harap, kau menjaga mulutmu dengan benar. Karena kalau tidak, kejadian yang kau lihat di Rumah sakit, akan terjadi padamu..." ucap Damirn sedikit berbisik, wajah Danial menegang, sedangkan Damirn, ia melanjutkan langkahnya seolah tak terjadi apa pun.
STALKER OBJECT