"Dah... sampai ketemu besok, Yehana." Berlin menutup kaca jendela mobilnya, Yehana tersenyum simpul, matanya menatap kepergian mobil Berlin, setelah mini Cooper itu hilang di telan gelap malam, Yehana tersadar. Ia menatap sekeliling, jalanan lengang, membuat Yehana menelan ludah sekali, segera ia masuk ke dalam kamar kosnya. Begitu menutup pintu, Yehana tampak kelupaan sesuatu. Alhasil ia pun kembali membuka pintu, menatap teras.
Kosong, tak ada apa pun.
Yehana menghela nafas lega, "syukurlah tak ada apa-apa malam ini."
STALKER OBJECT
Mobil Berlin memasuki kompleks perumahan tempat di mana keluarganya tinggal. Sejauh mata memandang, tak ada yang tampak ganjil, sampai akhirnya Ia di kejutkan dengan sebuah mobil biru malam yang terparkir tepat di depan rumahnya.
"Siapa yang bertamu di jam segini?" Berlin turun dari mobil, menatap dengan saksama mobil mahal yang terparkir tersebut. "Mungkin teman ayah," terka Berlin sembarang, ia tak mau memikirkan lebih jauh dan lebih memilih masuk ke dalam rumahnya. Namun, ketika melihat pintu rumah terkunci membuat asumsi Berlin menjadi lemah, ia mengarahkan pandangannya ke arah bagasi, yang juga tertutup rapat. "Ayah... belum pulang ya?"
Dengan ragu, Berlin membuka pintu rumahnya. Keadaan sepi, benar kalau kedua orang tuanya belum pulang. Ia menatap sekeliling, tak ada siapa pun di dalam sana. Gadis itu menghela nafas, "Karena Yehana aku jadi takut tidak jelas seperti ini..." ucap Berlin pelan.
"Kenapa menyalahkan Yehana?"
Berlin tersentak ketika mendengar suara yang terdengar dalam dari arah sampingnya. "Si, si, siapa kau?!" Berlin tergagap, pria tinggi dengan ekspresi dingin yang berada tak jauh darinya itu menatap dirinya secara lekat.
Pria dengan setelan jas biru malam itu menyeringai samar, "Hai Berlin..." Sapanya dengan nada lembut namun berhasil membuat udara menjadi dingin. "Ka, kau si,siapa?" Berlin melangkah pelan ke samping, menjauhi pria tinggi di sampingnya.
"Kenapa ketakutan? Padahal kau selalu berhasil membuat Yehana tenang saat dia merasa takut, tapi... kenapa sekarang kau seperti ini?"
Langkah Berlin terhenti, menatap wajah pria tanpa ekspresi tersebut, "Apa kau orang yang mengirimi Yehana cokelat?" tanyanya begitu saja, seringai pria itu melebar, "Bukan cuma itu Berlin, aku bahkan tidur bersamanya setiap malam."
Mata Berlin membesar, "Gi,gila... tidak waras!" Berlin membuka tasnya dengan tergesa, mengambil ponsel genggam dari dalam sana, hendak menelepon seseorang. Namun, belum sempat ia mewujudkan keinginannya, ponsel tersebut sudah berpindah tangan, Damirn merampasnya. "Jangan begitu, kan aku sudah lama menunggumu... masa iya kau mau mengundang orang lain,"
Tubuh Berlin gemetar, tatapan intimidasi dari Damirn membuat sekujur tubuhnya beku. "Tenanglah, aku hanya perlu bantuanmu..."
"Bantuan apa?"
STALKER OBJECT
Yehana tak bisa tidur malam itu, ia terus membolak-balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. "Jelas sekali kalau Danial sepertinya mengenal Damirn... tapi, kenapa mereka?" ucapan Yehana terhenti, "Ah sudahlah, kenapa aku jadi memikirkan mereka berdua..." tatapannya mengarah ke pojok kamar, menatap cokelat dan barang lain yang belakangan ini di dapatnya.
"Tubuhnya persis sepertimu, jadi aku mau kau saja yang pilihkan..."
Mata Yehana membesar ketika ucapan Damirn tempo hari terngiang di kepalanya. "Jangan-jangan..." Yehana menghampiri kantong belanja yang tergeletak di antara kotak cokelat di sana, dengan tergesa ia mengeluarkan sebuah dres yang terbungkus rapi dari dalam tas tersebut. Ketika melihat isinya Yehana menghela nafas lega. "Tentu saja bukan Damirn," ucapnya tersenyum. Tak lama setelah itu, ponselnya berdering. Tertera nama Berlin di layarnya yang menyala, "Berlin?" Alis Yehana bertaut, namun tak urung ia menjawabnya.
"Ya Berlin?"
STALKER OBJECT
Tubuh Berlin terikat di sebuah kursi, sebuah ponsel berada di depan wajahnya. Damirn memegangi ponsel tersebut, "Jangan katakan apa pun selain yang aku sebutkan tadi, kau cukup pintar untuk mengerti itu kan?" Damirn terus menatap Berlin dengan tatapan dingin.
Berlin mengangguk takut, saat ini tak ada pilihan lain selain menuruti perkataan Damirn.
"Ya Berlin?" terdengar suara Yehana dari seberang sana. Berlin menelan ludah sebelum ia mulai bicara, "Ye, Yehana..." ucapnya tergagap, dan itu membuat dahi Damirn berkerut. Ia mematikan sambungan telefon.
"Wah, tampaknya kita tak ada cara lain... bukan begitu Berlin?" Damirn membungkukkan tubuh jangkungnya, mendekatkan wajah maskulin miliknya hadapan Berlin, sangat dekat. Hingga tatapan menusuknya berhasil mencabik keberanian Berlin untuk balik menatap mata blackjetnya.
Damirn kembali ke posisi semula, ia menghela nafas panjang. "Padahal sebelumnya aku tidak berniat untuk membunuhmu..." ucapnya enteng sambil mengeluarkan sebuah magnum dari dalam saku jas.
Mata Berlin membesar, "Tu-tunggu dulu, bukannya katamu tadi ka, kau tidak akan membunuhku?”
"Iya, memang seperti itu... kalau kau mau berbicara pada Yehana, tapi kau sudah lihat sendiri kan? Kau tidak mampu melakukan itu, jadi maaf---"
"Sekali lagi! Aku mohon, biarkan aku mencoba sekali lagi... ja, jangan bunuh aku... aku mohon..." raut wajah Berlin begitu memelas, untuk sesaat Damirn terdiam sebelum dia kembali meraih ponsel milik Berlin.
"Ini terakhir kali, kalau kau tetap gugup..." Damirn menatap lekat Berlin, "...maka saat itu kepalamu akan berlubang."
Air mata Berlin mengalir, membayangkan kalau dia mati malam ini. Maka semua harapan yang sudah ia susun dengan baik di masa depan akan pupus begitu saja, dan dia tidak ingin itu terjadi. Ponsel kembali berada tepat di depan wajahnya, tak butuh waktu lama, Yehana kembali menjawab panggilan tersebut.
"Berlin! Ada apa? Sepertinya kau sedang ada masalah..."
Suara Yehana yang terdengar khawatir membuat Berlin memejamkan matanya, gadis itu menghela nafas panjang.
"Berlin..."
"Aku tidak apa-apa Yehana, maaf mengganggumu malam-malam seperti ini... tapi, rasanya hanya sekarang aku bisa memberitahumu..." Berlin menghentikan ucapannya, air mata kembali membasahi pipi putihnya, sebisa mungkin ia mencoba tetap tenang.
"Memberitahuku apa?"
"Aku... aku besok akan pindah ke Amerika. Jadi, jaga dirimu baik-baik ya... Yehana."
Damirn menarik ponsel tersebut lalu mengakhiri panggilannya begitu saja, seringai lebar terukir di wajahnya. "Harus di desak dulu ya baru mengerti..." ucap Damirn pelan, Berlin menatapnya. "A,aku sudah lakukan apa yang kau suruh, jadi tolong lepaskan aku ...."
Seringai Damirn surut, ia kembali mengeluarkan magnum dari sakunya. "Bagaimana ya, aku takut kau membongkar tentangku pada Yehana, jadi tampa---"
"Tidak! Aku tidak akan melakukannya. Aku bersumpah akan merahasiakan hari ini darinya, aku mohon jangan bunuh aku... kau sudah berjanji 'kan?" Potong Berlin panik.
"Aku tahu... tapi, bukankah lebih baik mencegah daripada menyesal nantinya?" Damirn mengacungkan moncong magnum tersebut ke hadapan wajah Berlin, Berlin berontak ingin lepas, namun percuma.
"Ku mohon jangan, jangan bunuh aku..." Damirn memiringkan kepalanya, "ayolah, jangan bergerak. Supaya kau bisa mati dengan tenang..."
"Jangan lakukan itu, aku mohon..."
"Terimakasih bantuanmu, selamat tinggal."
Dorrr!
Berlin berhenti bergerak, sebuah peluru yang mengukir lubang kecil di dahinya berhasil merenggut kehidupannya. Kepala Berlin tertunduk, darah mulai mencuat membasahi baju kaosnya.
"Dengan begini, aku bisa lebih leluasa bersama Yehana..." Damirn terkekeh.
STALKER OBJECT