Yehana menelefon nomor Berlin, namun tak kunjung ada jawaban. Panggilannya di biarkan begitu saja, tak di reject namun juga tak di angkat. Raut wajah Yehana tersulut khawatir, baginya begitu terasa aneh jika Berlin tiba-tiba pindah ke Amerika. "Aku mohon angkatlah Berlin ...." ucap Yehana, ia terus saja menempelkan ponselnya ke telinga.
Karena sama sekali tak di jawab, Yehana akhirnya menyerah. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, gadis itu menghela nafas panjang. Fikirannya sibuk memikirkan kenapa Berlin tiba-tiba mengatakan akan pindah ke Amerika,
Sebuah pesan masuk ke ponsel Yehana, setelah mengetahui kalau pesan tersebut dari Berlin, segera Yehana membukanya.
"Aku di depan, tolong buka pintunya Yehana ...."
Alis Yehana bertaut ketika membaca isi pesan Berlin. pesan tersebut sangat terasa aneh, untuk apa Berlin berada di depan kosnya tengah malam seperti ini?
Yehana di landa bimbang, entah kenapa ia punya firasat buruk. Sejenak pandangannya mengarah ke pintu kos, setelah beberapa saat ia kembali menatap layar ponselnya, mengetik balasan untuk pesan yang baru di kirimkan Berlin padanya.
"Kalau itu memang kau, silahkan ketuk pintunya lalu panggil namaku."
Lima menit setelah pesan itu terkirim, sama sekali tak ada balasan atau ketukan di pintu. Hal itu membuat Yehana berkeringat dingin, ia menelan ludah beberapa kali. Dengan perlahan ia menuju ke arah pintu dengan bantuan cahaya layar ponsel karena lampu sudah ia matikan sejak tadi.
Hening, tak terdengar suara apapun dari luar meski sekarang Yehana sedang menempelkan telinganya ke pintu. Nafas Yehana mulai memburu karena takut.
"Deru nafasmu memburu sekali..."
Terdengar desisan suara dari arah luar pintu, suara itu terdengar begitu dalam. Yehana terkejut, sontak ia memundurkan tubuhnya. Gadis itu terdiam, ia membekap mulutnya sendiri, tak mau bersuara sedikitpun.
"Ini sudah larut, tidurlah... Yehanaku ...." suara yang terdengar begitu tenang itu kembali mendengung di telinga Yehana, mata Yehana membesar. Ia yakin kalau siapapun yang berada di luar sana adalah orang yang belakangan ini mengiriminya cokelat.
Suara sepatu terdengar menjauh, dan sekarang keadaan kembali senyap, benar-benar senyap. Perlahan Yehana menurunkan tangannya, airmata gadis itu jatuh, tubuhnya bergetar karena takut.
STALKER OBJECT
"Hai Ronald!"
Seorang pria bermata cokelat terang melambaikan tangannya ke atas, dengan membawa sebuah jurnal, pria itu menghampiri seseorang yang tengah duduk di sebuah kursi taman sebuah Universitas.
"Hai Dokter Jakson..." pria bernama Ronald tersebut kembali menyapa Jakson yang kini sudah duduk di sampingnya.
Jakson tertawa, "Hei! Sudah ku katakan kalau aku ini bukan dokter 'kan?"
Ronald ikut tertawa, "Bukannya bukan, tapi belum."
"Ya, kau selalu ingin menang ...."
Ronald kembali tertawa, "Ada apa? Kenapa tiba-tiba menemuiku? Kau tidak sibuk?"
Jakson menghela nafas, melepas beban fikiran yang sejak lama ia pikul. "Aku hanya bosan, seharian di ruang praktek membuat pikiranku kacau... apalagi harus membedah dan menjahit ulang para mayat-mayat itu." Ia menoleh Ronald, "kalau di fikir-fikir, teringin menjadi dokter bedah itu adalah sebuah kesalahan." Ucapnya lalu tersenyum.
Dahi Ronald berkernyit, "Kau tidak takut atau merasa sesuatu ketika berhadapan dengan mayat?"
"Entahlah, mungkin karena mayat itu kami beli dengan uang sendiri, maka fikiran takutku tertepis. Karena yang aku fikirkan saat berada di sana hanyalah bagaimana caranya bisa lulus dengan nilai yang bagus, haha ...."
"Dasar..." gumam Ronald pelan.
Jakson kembali serius, ia membuka buku jurnal yang ia bawa.
"Ya... sebenarnya ada sesuatu Ronald, kau dari Amerika kan? Apa kau kenal atau pernah mendengar Dokter bedah bernama Damirn yang di kabarkan menghilang tahun lalu?" Jakson memperlihatkan sebuah foto seorang pria dengan masker di wajahnya. Ronald sedikit terkejut ketika mendengar pertanyaan Jakson.
"Hampir seluruh mahasiswa di jurusanku membicarakan tentangnya, orang itu terkenal jenius dan juga misterius... jadi, semua orang penasaran kemana dia pergi sekarang. Apalagi, tak ada satupun yang pernah melihat wajahnya."
"Kenapa menanyakan Dokter ini padaku?" Tanya Ronald sambil menatap wajah Jakson, Jakson tersenyum simpul lalu balik menatap kearahnya.
"Hanya penasaran, mungkin saja kau tahu sesuatu... karena dulu kau pernah bilang kalau kau punya teman seorang Dokter bedah yang terkena insomnia akut 'kan? Kebetulan, Dokter Damirn ini juga seperti itu... barangkali---"
"Bukan dia..." Ronald menelan ludah, "orang yang pernah ku ceritakan padamu itu bukan dia." Tukas Ronald.
Jakson terdiam sejenak, matanya mengamati wajah Ronald dengan seksama. Pria itu kemudian tersenyum, "Baiklah kalau bukan, tidak perlu tegang seperti itu 'kan?"
Mendengar perkataan Jakson yang tampaknya curiga membuat Ronald tersenyum, "Tidak, aku hanya tak habis fikir kenapa kau mengira temanku itu adalah orang populer seperti Damirn."
Jakson ikut tersenyum, "Aku kan hanya berasumsi... ya sudah, aku pergi ya ...."
Ronald mengangguk, "Oke." Jawabnya singkat.
STALKER OBJECT
Instrumen musik klasik mengalun pelan di sebuah ruangan besar yang tirainya tertutup rapat meski hari sudah menjelang siang. Foto-foto Yehana dengan ukuran besar berbalut bingkai mahal berjejer di sepanjang ruangan tersebut.
Dan di tepian ranjang, duduk Damirn sambil mengamati layar laptopnya. Tepatnya mengamati hasil rekaman kamera CCTV yang di pasangnya secara diam-diam di kamar kos Yehana.
"Cantik sekali..." Damirn menyeringai, ia lalu menutup laptopnya, menaruh benda persegi tersebut di atas kasur. Sedangkan dirinya beranjak menuju lemari pakaian, tubuhnya yang tampak atletis dan punggungnya yang lebar, seolah jadi pemandangan indah untuk siapapun yang menatapnya.
Damirn menjangkau stelan jas berwarna hitam dari dalam sana. Ia berbalik, menatap potret besar Yehana sekejap, sambil tersenyum Damirn berjalan mendekat ke arah potret tersebut.
"Jangan menatapku seperti itu... aku tahu, aku salah karena tidak menemani tidur semalam, maafkan aku ...."
STALKER OBJECT
Mobil Danial berhenti tepat di depan Yehana berdiri, pria itu segera keluar ketika mesin mobilnya telah berhenti.
"Hai, lama menunggu?"
Yehana menggeleng, "tidak..." jawabnya, Yehana menatap Danial dengan tatapan tak enak. "Maaf ya Danial, aku menyusahkanmu seperti ini..." Danial tersenyum,
"It's okay, you can call me everytime you need me Yehana..." Danial mengacak pelan rambut Yehana, "seperti yang kau tahu, aku selalu senang bersamamu ...."
"Danial..." pipi Yehana bersemu merah, dan itu membuat Danial tertawa. "Ayo berangkat." Ajaknya, Yehana mengangguk lalu masuk ke dalam mobil, di susul Danial. Mereka pun menuju tempat dimana Yehana bekerja.
Yehana menatap keluar jendela, membiarkan silau matahari menyinari wajahnya. "Kau tetap tidak berubah ya, Yehana ...."
"Tentu, tak ada yang berubah dariku Danial, mau dulu, sekarang atau sepuluh tahun ke depan, aku... tetap diriku." sahut Yehana tanpa menoleh Danial, pria itu tersenyum, "ya, itu bagus. Tapi, kau salah tentang sepuluh tahun kedepan." Ucapnya,
Mendengar perkataan Danial membuat Yehana menarik kepalanya ke dalam, "maksudmu?" Tanyanya.
"Maksudku, mungkin di sepuluh tahun ke depan dalam hidupmu... kau sudah menggendong sepuluh anak dariku, hahaha~" Danial tergelak, membuat Yehana menatapnya sebal.
"Sinting! Aku tidak mau menikah denganmu." Tolaknya mantap.
"Memangnya siapa yang mengatakan kita menikah? Aku hanya bicara soal anak, 'kan?" Danial kembali tertawa.
"Ya, sayang sekali ya... padahal aku mau menikah denganmu." tutur Yehana sambil menyilangkan tangannya di d**a. Perkataannya sukses membuat Danial kembali tergelak, "Jadi, selama ini kau mencintaiku Yehana?"
Alis Yehana bertaut, ia menghela nafas, melepaskan rasa kesalnya pada Danial. "Terserah kau saja Danial." Ucapnya pelan.
STALKER OBJECT