"Yehana!"
Yehana menoleh ke arah gadis yang sedang berjalan menuju dirinya, gadis itu membawa sebuket besar bunga mawar. "Ini, ada paket untukmu." Ucapnya sambil tersenyum jahil. "Dari pacar ya?"
Yehana terdiam, ia menatap lekat buket tersebut. Ia yakin kalau bunga tersebut berasal dari orang yang berada di luar kamarnya semalam.
"Yehana...?
Yehana keluar dari ruang fikirannya, ia menatap gadis dengan seragam serupa di hadapannya, "Kau tidak apa-apa?"
Yehana menggeleng pelan, "ti,tidak..." ucapnya pelan, membuat dahi gadis dengan nametag Fiola itu berkernyit, "Ya sudah kalau begitu, ini ...." Fiola memberikan buket besar itu ke Yehana, dengan ragu Yehana menyambutnya.
"Aku ke depan ya," pamit Fiola, Yehana mengangkat kepalanya, menatap Fiola.
"Ola... kau tau siapa yang mengirim bunga ini?" tanya Yehana kemudian. Dahi Fiola kembali berkerut, "Tidak tahu... seorang kurir hanya bilang ada paket untukmu, memangnya kenapa?" Tanya Fiola.
"Tidak, bukan apa-apa ...." Yehana tersenyum kecut,
"Kau yakin?"
Yehana mengangguk, "ya, sungguh."
"Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke depan. Kalau kau memang ada masalah, jangan sungkan untuk berbagi padaku ya, Hana ...."
Yehana tersenyum, ia mengangguk pelan.
"Dari siapa itu?"
Yehana terkaget saat mendengar suara dari arah belakangnya, sontak ia menoleh ke belakang. Menatap sosok pria tinggi yang berdiri begitu dekat dengan dirinya.
"Da,Damirn... sejak kapan kau di sana?"
Mata Damirn terus tertuju pada buket yang Yehana genggam, "Bunga itu dari siapa?" Tanya Damirn lagi, membuat Yehana sedikit heran, tatapan Damirn tampaknya kesal... atau cemburu, dan kalau lebih di perhatikan tampak kilatan marah di retina matanya.
"Ah... ini, aku tidak tahu ...." jawab Yehana jujur.
"Kau suka?"
"Tidak ...." jawab Yehana.
"Kalau begitu buang saja!" Damirn merampas buket yang Yehana pegang, membuat Yehana terkejut dengan sifat Damirn tersebut, tanpa bicara sepatah katapun, Damirn melangkah keluar, membuang buket bunga itu ke dalam tong sampah.
"b******n!" ucapnya pelan, setelah membuang bunga tersebut, Damirn kembali masuk. Menghampiri Yehana.
"Yehana... apa kau benar-benar tidak tahu siapa yang mengirim bunga itu?" Tanya Damirn dengan nada yang terdengar kesal, Yehana mendongak menatap wajah marah Damirn.
"Ke, kenapa kau tampak marah?" Tanya Yehana akhirnya. Damirn balik menatap Yehana, menembuskan pandangan kelamnya ke retina mata Yehana. "Menerima paket sembarangan seperti itu bahaya Yehana! Bagaimana kalau ada sesuatu di dalamnya?"
"A,aku... aku tidak bermaksud... Fiola yang membawanya masuk ...." cicit Yehana pelan, emosi Damirn surut, ia ingin sekali mengelus rambut Yehana yabg terurai indah siang itu.
"Lain kali, jangan ulangi ...." ucap Damirn dengan tenang,
"Ba,baiklah ...." gugup Yehana, membuat Damirn mendengus geli. "Mau ku ajari cara berbicara?"
Yehana mendongak ketika mendengar ucapan Damirn, "Apa?" Tanyanya heran, Damirn tersenyum tipis, "Kau selalu gugup saat ku ajak bicara, jadi... apa mau ku ajari bicara dengan benar?"
Yehana menyipitkan matanya, "Itu karena kau selalu menatapku tanpa lepas, dan itu membuatku canggung Damirn." Jawab Yehana, Damirn masih dengan senyuman kecil di bibirnya.
"Kau menyukaiku?"
"Ti,tidak!" Jawab Yehana, ia membuang pandangannya ke samping, dan itu membuat senyuman Damirn melebar.
"Dasar... jahat sekali," Damirn berucap pelan, "Ya sudah, ayo temani aku ...." Damirn berbalik, lalu mulai melangkah. Yehana yang melihat itupun menyusul langkah Damirn.
"Baiklah," ucapnya.
STALKER OBJECT
Jam sudah menunjukkan pukul 13.34 p.m, jam makan Yehana sudah di mulai empat menit yang lalu. Ia menatap layar ponselnya, tepatnya isi pesan yang di kirimkan Berlin kemarin malam. "Berlin... kau baik-baik saja, 'kan? Entah kenapa, sejak kau menelfonku semalam, aku selalu memikirkanmu ...." ucap Yehana pada dirinya sendiri.
"Yehana, ada yang mencarimu ...." kepala Fiola muncul dari sebalik pintu. Dahi Yehana berkernyit, "siapa?" Tanyanya.
"Itu... pria yang tadi mengantarmu." Jawab Fiola, Yehana mengangguk. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke depan. Di lobi berdiri Danial dengan pakaian kasual.
"Hai Yehana ...." ucap Danial, ia berjalan mendekat.
"Hai Danial ...." jawab Yehana,
"Ayo, pergi... waktu makanmu hanya setengah jam kan?"
Dahi Yehana mengkerut, "kemana?"
Mendengar pertanyaan Yehana membuat Danial menghilangkan senyumannya, "Kau tidak baca suratku?"
"Surat apa?" Yehana bertambah bingung. Danial menghela nafas, "Bunga yang ku kirim dua jam lalu, sampai padamu 'kan?" Tanya Danial, ia menatap Yehana yang berbadan seukuran pundaknya.
"Ah, bunga itu darimu?"
"Iya, dan di sana aku menyelipkan surat untuk mengajakmu makan siang bersama, kau belum membacanya ya?"
Yehana menggeleng, "Bunga itu... Damirn sudah membuangnya." Yehana tersenyum kikuk.
"Damirn?" Tanya Danial, Yehana mengangguk. "Kenapa bisa orang itu yang membuangnya? Dia siapamu?" Wajah Danial berubah serius, ia menatap Yehana secara lekat. Yehana terdiam, sejenak ia mengamati ekspresi yang terpasang di wajah Danial, "Bukan siapa-siapa... dia cuma kebetulan mampir, memangnya kenapa?" Yehana balik bertanya,
"Tidak, bukan apa-apa. Sebaiknya, jangan terlalu dekat dengannya Yehana... dia itu sinting!" ucap Danial begitu saja. Ucapannya berhasil membuat Yehana terdiam sejenak lalu tertawa.
"Pfffttt... hahaha~"
Dahi Danial berkernyit samar, "apanya yang lucu?"
Yehana mencoba menghentikan tawanya, "kau... kau cemburu pada Damirn ya?" Tanya Yehana kemudian. Danial terdiam, sama sekali tak menjawab, tatapannya masih serius.
"Aku sungguh-sungguh Yehana... Dia itu berbahaya."
STALKER OBJECT
Mobil Damirn membelah jalan sepi, membuat daun-daun kering yang berserakan di jalan melayang. Pandangannya fokus ke depan, namun fikirannya sibuk memikirkan siapa yang mengirimi Yehana bunga. Setelah cukup lama mengitari jalan di tengah hutan tersebut, mobil Damirn akhirnya berhenti. Pria dengan wajah yang begitu terpahat sempurna itu membuka bagasi mobilnya, mengeluarkan sebuah kantong besar dari dalam sana. Damirn menyeret kantong besar itu ke pinggir, lalu membuangnya begitu saja ke dalam jurang.
"Yehana akan ku jaga dengan baik Berlin, terimakasih sudah memberiku kesempatan ...."
STALKER OBJECT