Ryea tersentak ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat ke sekeliling kamarnya, ia yakin kalau hari sudah pagi, kepalanya terasa agak pusing. Sepuluh menit kemudian setelah merasa sakit kepalanya mereda, Ryea bangun dari tempat tidurnya, ketika jam mungil berwarna perak di atas nakas berbunyi memekakkan telinga. Ia harus bergegas karena hari ini adalah hari pertama semester baru. Dengan malas ia berjalan menuju wastafel, menyikat gigi putihnya dan membasuh wajah lusuhnya yang memancarkan aura lelah. Semalam ia asyik menonton film hingga larut malam. Ya, seperti kebanyakan orang pada umumnya, suka kelepasan jika sudah asyik dengan sesuatu hingga lupa waktu.
"Seharusnya tadi malam aku tidak begadang, lihatlah muka lusuhku, seperti habis bekerja keras melakukan sesuatu." Ia bergumam sendiri. Mata lelahnya terpatri di dalam cermin. Untungnya tidak bengkak.
Lima belas menit kemudian, ia sudah berada di ruang makan untuk sarapan dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Setelah berpamitan dengan orang tuanya, Ryea berangkat ke sekolah, berjalan menyusuri jembatan menuju stasiun. Dari rumah ke stasiun memerlukan waktu sekitar lima belas menit dan dari stasiun menuju sekolah sekitar dua puluh menit, menggunakan kereta tentu saja. Sepanjang perjalanan, bunga-bunga mulai bermekaran menandakan musim semi telah datang, tapi udara musim dingin yang menusuk masih sedikit terasa.
Hari ini semua siswa datang lebih awal, karena seperti ritual sekolah pada umumnya, kegiatan penyambutan tahun ajaran baru dan akan selalu ada pidato dari kepala sekolah yang tidak penting bagi sebagian siswa, alasannya simpel yaitu, isinya hampir sama dan membuat orang menguap serta amat sangat melelahkan, karena harus berdiri lama. Ritual membosankan, tapi tak bisa dihindari, ya mau bagaimana lagi namanya juga siswa sekolah.
"Aah, pidato kepala sekolah selalu saja panjang. Aku jadi mengantuk, " kata Yura si manis berlesung pipit, teman baik Ryea. Mereka berdua berjalan pelan menuju kelas sambil mengumpulkan nyawa yang hilang selama acara pembukaan tadi.
"Ya, aku semakin mengantuk dan malas untuk menghadiri kelas hari ini, semalaman aku menonton film," ucap Ryea sambi menguap, ia menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kau ini, sudah tahu hari ini hari pertama sekolah, tapi malah begadang, " ucap Yura sambil memukul bahu Ryea pelan.
***
Hari pertama sekolahpun selesai. Selama jam pelajaran, Ryea bolak balik ke kamar mandi membasuh muka mengantuknya dan terbukti ampuh, entah mengapa ia sangat lelah dan sebenarnya tidak ingin masuk hari ini, tapi untungnya hari yang membosankan ini telah usai. Sesampainya di stasiun dekat rumahnya, Ryea menuju supermarket untuk membeli cemilan kesukaannya. Setelah selesai berbelanja dan membayarnya, ia keluar dari supermarket itu dan berjalan menuju rumahnya sambil sibuk melihat isi kantong plastik yang penuh dengan cemilan tanpa memperhatikan jalan. Tiba-tiba...
Bruuuk!
Kantong belanjaan Ryea lepas dari genggamannya dan isinya berhamburan di jalan. Ia menabrak seseorang.
"Aduuuh!"
'Pantatku,' katanya dalam hati sambil mengusap-ngusap pantatnya, ia meringis kesakitan.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya seseorang yang memiliki suara merdu, tapi dalam.
"Ya, maafkan aku. Aku tidak sengaja," balas Ryea sambil memperbaiki posisi dan menengadah melihat lawan bicaranya. Ketika mata mereka beradu, Ryea melihat mata hitam pekat dan tajam. Ia terkejut, seseorang anak lelaki seusianya berdiri dihadapannya. Anak lelaki yang tampan dan tinggi, kulitnya putih bersih untuk seukuran anak laki-laki serta pucat. Tiba-tiba ada bayang samar melintas di depan mata Ryea, entah apa. Merasa heran dengan hal yang baru saja terjadi, tanpa sadar gadis itu melamun seperti memikirkan sesuatu.
"Biar kubantu berdiri," kata anak lelaki tersebut, ia mengulurkan tangannya dan Ryea pun meraih tangannya tanpa sadar.
Ryea kaget dan lamunannya buyar seketika.
'Tangannya dingin,' ucap Ryea dalam hati.
Setelah Ryea berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang roknya, anak lelaki itu beranjak dari hadapan Ryea, lalu mengumpulkan belanjaan Ryea yang berhamburan di jalan. Sekilas Ryea melihatnya tersenyum tipis. Muka Ryea pun sedikit memerah, karena ia tahu apa maksud senyuman lelaki itu.
'Sial! Mengapa aku bisa-bisanya tidak melihat jalan dan lihatlah sekarang, dia tersenyum mengejekku.' Rutuknya dalam hati.
'Kalau diperhatikan, dia tampan.'
'EH?!'
'Tunggu, tunggu dulu, kenapa dia yang membereskan belanjaanku. Bodohnya aku!' Merutuk untuk kesekian kalinya.
Ketika Ryea ingin mengambil cemilannya yang terjatuh, ternyata semuanya telah dimasukan ke dalam plastik yang di pegang anak laki-laki itu.
"Ini," kata lelaki itu sambil sambil menyodorkan kantong plastik cemilan milik Ryea.
"Te-terima kasih. Harusnya aku saja yang mengumpulkannya, lagian ini salahku," ucap Ryea tak enak dan salah tingkah.
"Ah, tak masalah. Jangan hiraukan itu," balasnya mengibaskan tangan.
"Maaf aku tidak sengaja menabrakmu." Wajahnya memerah saking malunya.
"Oh, tidak apa-apa. Jangan dipikirkan. Aku juga salah, karena tidak melihat jalan."
"Kalau begitu aku permisi dulu. Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu," ucap Ryea sambil tersenyum.
Senyum yang sangat memukau, perpaduan sempurna antara wajah dan rambutnya. Langit sore membuat rambut indah Ryea yang panjang memancarkan warna keperakan, warna rambut yang cukup jarang ditemukan.
"Ya, sama-sama. Hati-hati di jalan," jawab lelaki itu yang tertegun melihat Ryea.
"Kau juga," balas Ryea dan ia membalikan badan, lalu berjalan meninggalkan anak laki-laki itu.
Seketika ada raut wajah yang tak menentu dari wajah lelaki itu. Walaupun begitu, senyum tak pernah lepas dari wajah tampannya yang mempesona. Ia terus saja melihat Ryea sampai lenyap dari pandangannya.
***
Ceklek!
Ryea masuk ke kamarnya setelah selesai mandi malam dan bergegas untuk mengeringkan rambutnya yang basah sebelum tidur. Ia berjalan untuk mengambil hairdryer dari keranjang yang terletak di samping cermin besar dan menghidupkannya, setelah itu ia pun mengibas-ngibas rambutnya agar cepat kering.
Pikirannya menerawang, Ryea selalu terbayang wajah lelaki yang tidak sengaja ditabraknya tadi sore. Sedikit senyuman menghiasi wajahnya dan lagi-lagi bayangan tak jelas itu masuk ke dalam benaknya.
"Bayangan apa itu?" Ryea terlalu malas untuk memikirkan sekelebat bayangan yang terlintas dibenaknya dan memilih untuk tidak menghiraukannya.
Malampun semakin larut, Ryea memutuskan untuk tidur setelah mengeringkan rambutnya. Sejurus kemudian lampu kamarnya padam dan gadis itu mulai terlelap di kasur empuknya. Tanpa ia sadari ada seseorang yang memperhatikan kamarnya dari balik jendela, di atas tiang listrik seberang jalan rumahnya. Seseorang bersayap hitam berkilau, matanya tajam dan sosok itu memandang intens seolah-olah bisa menembus beranda kamar Ryea dan melihatnya terlelap, ada luka yang tersirat di mata hitamnya.