Drrtt... Drrtt…
Ryea baru keluar dari kamar mandi dan mendapatkan layar ponselnya menyala, iapun mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur dan melihat ada sebuah pesan di sana dari orang yang ia kenal.
‘Malam ini tidak usah latihan dulu, cuacanya tidak bersahabat.’
‘Ya, sepertinya badai akan bertahan sampai pagi.’
‘Lebih baik kau istirahat saja.’
‘Maunya, tapi sepertinya belum bisa.’
‘Kenapa? Ada masalah? Apa ada yang mengintaimu lagi?’
‘Tidak. Aku sedang mengobrol dengan Jean dan yang lainnya, sepertinya akan berlangsung lama.’
‘Jangan sampai terlalu malam.’
‘Kau ini, seperti sedang menasehati kekasihnya saja.’
‘Anggap saja begitu.’
Ryea membulatkan matanya, balasan pesan Eliot yang terakhir sukses membuat Ryea salah tingkah. Pipinya memanas dan kalau saat ini tidak dalam keadaan gelap, maka bisa dipastikan pipi merahnya akan terlihat jelas. Beruntung malam ini hanya ada penerangan seadanya. Lama ia melihat pesan Eliot dan belum juga ia balas hingga beberapa menit. Hingga akhirnya Eliot mengiriminya pesan kembali.
‘Kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?’
‘Astaga! Kenapa makhluk ini menjadi seperti ini,’ batin Ryea.
Seingatnya dulu Eliot tidak seperti ini, ia lebih banyak diam dan memperhatikan saja. Pembicaraan seperti inipun tidak pernah terjadi, sekalipun tidak pernah terjadi. Lalu ini ada apa tiba-tiba saja ia seperti ini. Eliot memang sudah menyebalkan dari dulu, tapi kali ini sikap menyebalkannya agak berbeda dari yang dulu. Apa ada sifatnya yang berubah sejak reinkarnasi? Ryea bertanya-tanya soal hal itu. Menurutnya sifat Eliot kali ini sangat asing dan sukses membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ryea memejamkan matanya dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan melepaskannya, ia melakukannya berulang kali untuk menormalkan detak jantungnya, sambil menimbang-nimbang balasan apa yang akan ia berikan.
‘Apakah bisa dianggap seperti itu?’ Setelah mengirim pesan itu, iapun menyesal. Tak lama kemudian Eliot membalas pesannya.
‘Tentu saja, lagipula aku sudah mengaku waktu itu, kan. Waktu kau sakit setelah tenggelam di laut dan kau pun mengatakan, kalau kau sudah menungguku untuk mengatakan hal itu.’
‘Kepalamu tidak terbenturkan? Kau seperti bukan kau yang kukenali.’
Lagi-lagi detak jantung Ryea menggila, ia sampai tak bisa berkata-kata dan kakinya mendadak lemas. Ia akhirnya duduk di tepi rajangnya.
‘Aku baik-baik saja. Aku memang seperti ini, tidak suka basa-basi. Lagipula aku tak ingin menyesal seperti dulu. Saat aku belum sempat mengatakan isi hatiku yang sebenarnya aku malah sudah pergi dahulu dan kali ini aku tak ingin kehilangan kesempatan lagi.’
Dada Ryea mendadak berdenyut, detak jantung yang mendebarkan tadi berubah nyeri. Nyeri, itu yang ia rasa. Ratusan tahun ia memendam perasaannya sendiri, ia tak mampu untuk mengatakannya, ia tak mampu untuk berterus terang. Takut… Takut kalau ia berterus terang itu akan membuat bencana. Ia pernah mencoba untuk melupakannya, tapi ternyata itu tidak pernah bisa, sampai saat inipun masih sama. Sakit, sangat sakit rasanya. Melupakan rasa yang pernah ia lakukan hanyalah kebohongan yang ia buat. Setiap kali mereka bertemu di medan perang, ia berusaha mati-matian untuk menahannya, tapi akhirnya air matanya luluh saat perang usai, setiap kali ia menyendiri. Perasaannya tak boleh ada yang tahu, satu pun tidak boleh ada yang tahu.
Kalau memang benar perasaannya dulu sudah lama sirna, saat Eliot mengorbankan dirinya untuk menyelamatkannya dulu seharusnya ia senang, karena musuhnya tewas. Tapi tidak, ia menangis, ia tak terima, hatinya hancur dan tak mampu menahannya. Saat itu tanpa pikir panjang, ia pun menyusul Eliot pergi. Lalu sekarang bagaimana? Apa akan tetap berakhir sama. Tanpa sadar sebulir air mata turun dari matanya, hatinya sesak mengingat segala kemungkinan yang akan terjadi. Ryea menghapus air matanya dan mengetik balasan pesan Eliot tadi.
‘Aku takut. Takut kalau akan berakhir sama.’ Ryea menghembuskan nafas perlahan.
‘Sama. Tapi setidaknya aku sudah berusaha dan tidak akan menyesal seperti dulu.’
‘Apa kau yakin?’
‘Ya. Seperti kata-kataku tadi, aku tak ingin kehilangan kesempatan. Berakhir sama atau tidak, mari hadapi berdua.’
Pipi Ryea memanas dan hatinya menghangat, ia tak habis pikir, Eliot bisa mengatakan hal itu. Seutas senyum terbit di bibirnya.
‘Untuk saat ini mari bersama dan apa yang ada di depan nanti, mari kita pikirkan bersama.’
Senyum Ryea bertambar lebar membaca pesan Eliot. Ryea menyerah, ia tak mampu lagi untuk menahannya dan apa yang terjadi nanti terjadilah, ia dan Eliot akan menghadapinya.
‘Ya. Mari kita hadapi bersama dan apa yang akan terjadi nanti mari berjuang bersama. Aku sudah tak sanggup berdiri di sisi yang berlainan denganmu.’
‘Hmm… Beristirahatlah, besok jika cuaca membaik, ayo latihan.’
‘Ya.’
‘Aku menyayangimu, Seraphina.’
‘Aku juga menyayangimu, Apollyon.’
Setelah itu Ryea pun meletakkan ponselnya. Ada perasaan hangat di hatinya kini, terserah dengan apa yang akan terjadi nanti, yang jelas untuk saat ini ia bisa bersama Eliot. Itu saja sudah lebih dari cukup. Entah ekspresi apa yang akan ia tunjukan besok di depannya, memikirkannya saja cukup membuatnya malu.
‘Bisa-bisanya aku seperti ini. Ke mana hilangnya sifat tenangku dulu? Sifatku yang bisa menyembunyikan perasaan dengan baik.' Ryea membatin.
Ia pun melangkah kembali ke tempat ketiga temannya duduk, mereka mengobrol dengan heboh dan sepertinya masih akan sangat lama. Tidak ada satupun dari mereka yang memperhatikannya tadi, kini hatinya lapang. Satu beban berhasil di angkat, walau hanya untuk sementara.
***
‘Aku juga menyayangimu, Apollyon.’
Satu kalimat singkat sukses membuat Eliot mengeluarkan senyum indahnya. Ia masih tak menyangka Ryea akan mengatakan hal itu juga, betapa hangatnya hatinya kini. Sekarang ia yakin dan benar-benar siap untuk menghadapi apapun yang akan ada di depan nanti, selama dirinya masih hidup, ia akan mempertahankan Ryea. Eliot membaringkan tubuhnya di atas ranjang Jun dan tidak mengalihkan padangannya dari ponsel di genggamannya kini. Ketiga teman sekamarnya masih betah bermain kartu sedari tadi. Kamar mereka penuh bungkus plastik cemilan dan kaleng kosong soda, sekarang mereka bertiga sedang bertaruh. Siapa yang kalah dia yang akan membersihkan semua sampah-sampah ini.
Setelah puas memandang layar ponselnya, Eliot melihat ke arah teman-temannya yang masih saja heboh. Dulu saat pertama kali ia menginjakkan kaki di dunia manusia padangannya terhadap manusia adalah minus, luar biasa minus, maka dari itu ia selalu memandang manusia dengan tatapan merendahkan. Ayahnya selalu berkata jika manusia itu makhluk perusak, pembawa bencana, egois, licik, bahkan sifatnya bisa jauh lebih bengis dari pada iblis. Setelah ia melihat langsung bagaimana manusia, iapun setuju dengan ucapan ayahnya dulu, apalagi manusialah yang menyebabkan ayahnya menjadi sosok yang mengerikan sampai saat ini. Tapi semakin lama ia melihat manusia ada satu pemikiran yang terlintas di benaknya.
Manusia memang diciptakan seperti itu, bisa jadi sosok lebih kejam daripada iblis dan bisa juga menjadi sosok yang lebih baik dari malaikat. Seperti dua sisi koin, tergantung mau mengambil sisi yang mana. Tidak semua manusia buruk dan tidak semua manusia baik. Sepertinya lingkungan juga mengambil peran pembentukan sifat manusia itu sendiri. Terkadang ia sendiri heran dengan manusia yang memiliki banyak sifat dan emosi beragam bentuk. Ayahnya mungkin tidak tahu sifat manusia yang sekarang, zaman terus berubah dan manusia adalah makhluk yang mengikuti perubahan zaman itu, tidak seperti iblis, malaikat dan makhluk lainnya yang berumur panjang di mana zamannya hanya berputar di sana saja. Mungkin manusia bengis yang di kenal ayahnya sudah tidak ada lagi, ah mungkin masih ada, tapi tidak sebanyak dulu. Manusia makhluk berumur pendek, pendahulu merekapun sudah mati dan bisa saja mereka tidak mewarisi sifat pendahulunya.
Pemikirannya ini muncul seiiring lamanya ia hidup dengan manusia itu sendiri dan ketiga temannya, Eliot sama sekali tidak melihat kebengisan dari mereka, justru yang bengis dan menakutkan itu adalah dia sendiri. Apa yang akan terjadi jika ketiga temannya ini tahu siapa ia sebenarnya dan bagaimana teman-teman Ryea memandangnya nanti, jika tahu dia adalah makhluk yang berbeda. Ucapan Jun tadi sore terngiang-ngiang di kepalanya, pasti suatu hari nanti identitasnya akan ketahuan dan mari diihat bagaimana reaksi mereka, untuk saat ini biarlah seperti ini dulu. Memiliki teman manusia tidak begitu buruk menurutnya.