Badai sudah reda pagi ini, hanya tersisa hujan yang tidak terlalu deras dan langit masih mendung, setidaknya tidak ada petir yang menyambar-nyambar seperti semalam. Seperti yang dikatakan Jean kemarin, efek ombak yang besar merusak beberapa bagian jalan, menumbangkan pohon dan tiang listrik, jadilah listrik padam sampai pagi ini. Bahkan ada jalan yang tertimbun tanah akibat longsor.
“Kita berangkat agak cepat, ya," ucap Maria yang sedang memakai kaos kakinya.
“Untuk apa?” tanya Yura yang masih menyisir rambunya di depan cermin.
“Ke kantin, aku lapar. Siapa tahu ada yang bisa di makan. Semalam kita hanya makan cemilan, itu tidak cukup untuk cacing di perutku.”
“Baiklah, baiklah. Kebetulan aku juga merasakan hal yang sama denganmu,” jawab Ryea yang sedang mengecek buku-buku yang ia bawa, lalu menutup tasnya.
“Ayo, kita pergi sekarang.” Ajak Jean yang sudah berada di depan pintu.
“Jangan tinggalkan aku.” Yura menyambar tasnya dan bergegas memakai sepatu.
Kelas memang masih sepi saat keempat gadis ini masuk, mereka langsung meletakkan tas dan pergi ke kantin. Pagi ini ternyata kantin cukup ramai, meja-meja sudah hampir terisi penuh, rupanya banyak yang mengalami hal yang sama dengan Maria. Untungnya mereka tidak perlu repot mencari meja, karena meja yang biasa mereka tempati itu kosong. Mereka berempat memesan menu yang sama, ada roti, krim sup, salad dan buah, lalu air putih dan teh hangat. Bibi kantin sepertinya paham dengan kondisi siswa, makanya ia membuatkan menu yang sangat cocok di makan di saat seperti ini.
Aroma krim sup menggelitik hidung mereka, memang krim sup yang paling tepat di makan di saat cuaca dingin. Sebelum makan Ryea meminum teh hangat terlebih dahulu, rasa hangat menjalar di perutnya dan itu menyenangkan. Sudut matanya menangkap Eliot dan ketiga temannya baru memasuki kantin. Tatapan mata mereka berdua bertemu dan ia mengulas senyum tipis, sekarang pipi Ryea memanas karena senyuman itu. Mereka berempat langsung memesan sarapan dan Nic yang telah membawa nampannya sibuk mencari meja kosong, Jean yang melihatnya langsung melambaikan tangan, Nic pun melangkah menuju meja yang sudah diisi keempat gadis itu. Jean sudah tak serisih sebelumnya dengan mereka, katanya sudah terbiasa.
Eliot mengambil tempat duduk tepat di sebelah Ryea, Ryea mati-matian membuat ekspresi wajah biasa saja dan Eliot sama seperti sebelum-sebelumnya, datar. Mereka semua menikmati sarapan bersama, hujan yang awalnya sudah mulai reda ternyata malah makin deras. Untunglah kantin terletak di bagian bawah yang mendapatkan banyak cahaya, jadi walau dalam keadaan seperti ini, tidak terlalu gelap.
“Sepertinya hari ini akan sama seperti kemarin,” kata Nic sambil menyesap air hangat.
“Aku kepikiran bagaimana nasib kita nanti kalau listrik masih padam. Ponselku juga sudah kehabisan batrai.” Yura menghembuskan nafas kasar.
“Mau bagaimana lagi, ada kebakaran di lokasi pembangkit listrik, travonya meledak," sambung Ron.
“Astaga.” Jean menutup matanya dramatis.
“Semoga tidak lama lagi listrik akan menyala, sunggu tidak nyaman kalau kondisi seperti ini,” balas Jun.
“Ayo cepat habiskan sarapannya, nanti terlambat.” Maria sudah selesai dengan sarapannya dan menunggu teman-temannya selesai sarapan.
“Untuk apa buru-buru? Aku dengar tadi guru sedang rapat, jadi tidak ada pelajaran di jam pertama ini,” jelas Eliot yang masih sibuk menyuap supnya sampai habis.
“Benarkah? Syukurlah. Jujur saja aku malas untuk belajar saat ini.” Jean tersenyum bahagia.
“Rapat apa?” Ryea menatap Eliot yang duduk di sampingnya.
“Entahlah, mungkin membahas kondisi saat ini.” Eliot mengangkat kedua bahunya, tangan kanannya yang telah bebas dari sendok, meraih tangan kiri Ryea yang berada di bawah meja dan meletakkannya di atas pahanya, Eliot menggenggam tangannya sangat erat. Ryea membulatkan matanya karena terkejut dan yang di tatap hanya memasang senyum kecil.
“Kau?! Lepaskan!" bisik Ryea pelan.
“Tidak akan.” Eliot menjawab dengan senyum yang masih tersungging.
“Kalau ada yang lihat bagaimana?” Wajah Ryea berubah horor seketika.
“Tidak akan ada yang tahu, lagipula kalau ada yang tahu memangnya kenapa?” Kedua alis Eliot bertautan.
“Aku bukan mencemaskan teman-teman kita, tapi me-re-ka.” Ryea mempertegas kata ‘mereka’ kepada Eliot.
Eliot paham siapa yang dimaksud oleh Ryea
“Tidak ada mereka di sini, tenang saja.” Ryea mendengkus dan kembali diam, ia lelah jika berdebat dengan Eliot. Ia membiarkan Eliot memegang tangannya lama.
Yura yang sedang menyesap minumnya mengerutkan dahinya ketika ia melihat seorang gadis yang berada di dalam stand, tepat di depannya. Gadis itu berambut merah, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, badannya agak kurus dan kulitnya pucat. Sebelumnya ia tidak pernah melihat gadis itu.
“Itu pegawai baru, ya,” kata Yura pada teman-temannya, mereka sontak melihat ke arah yang di tuju Yura.
“Sepertinya iya, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya,” jawab Nic. Gadis itu membelakangi mereka jadi wajahnya tidak terlihat.
“Sudah selesaikan, ayo kembali ke kelas.” Ryea mengajak mereka kembali setelah melihat semua piring di mejanya kosong.
“Ayo, tapi sebelum itu, beli beberapa makanan dulu untuk nanti. Aku takut kehabisan,” ucap Maria, ia sudah berdiri dari kursi dan berjalan menuju stand kantin.
“Sepertinya kita juga harus melakukannya juga.” Ron pun mengikuti Maria dan meninggalkan yang lain di belakang. Mereka yang ditinggalkanpun akhirnya melakukan hal yang sama, membeli makanan sekalian untuk di asrama nanti.
Saat Eliot berjalan keluar kantin, ia melewati stand si gadis rambut merah itu. Gadis berambut merah itu ternyata membalikan badan dan menuju bagian belakang kantin dan Eliot melihat wajahnya sekilas. Dahi Eliot pun berkerut, ia sepertinya pernah melihat gadis itu sebelumnya, tapi ia lupa dimana. Tiba-tiba Ron menepuk bahunya, Eliot tersadar dari lamunannya, akhirnya mereka kembali ke kelas.
***
Jam menunjukkan pukul empat sore saat Ryea dan yang lainnya sampai di kamar, listrik sudah menyala sejak satu jam yang lalu, merekapun bergegas mengisi batrai ponsel dan lampu portable. Setelah itu mandi, cuaca sangat dingin walau bukan di saat musim dingin. Mereka menghangatkan tubuh dengan berendam di bathtub yang sudah di isi air panas secara bergantian. Hujan memang sudah berhenti, tapi langit masih saja mendung.
Setelah mandi mereka memilih untuk memakan makanan yang sempat mereka beli tadi pagi. Cuaca dingin memang meningkatkan nafsu makan, ini adalah hal yang tidak bisa dipungkiri. Jalan yang tertimbun tanah longsor di dekat sekolah merekapun sudah di bersihkan, termasuk pohon dan tiang listrik, semua sudah kembali normal. Mala mini mereka berempat berencana untuk makan malam di kantin saja, Maria sudah mengirimkan pesan pada Jun untuk makan bersama nanti dan Jun-pun mengiyakan ajakan Maria.
Bruuk!
Nic tidak sengaja menabrak seseorang saat ia hendak ke kantin menemui teman-temannya, ia terlambat karena mandi terlebih dahulu.
“Maaf, aku tidak memperhatikan jalan,” kata Nic pada seseorang yang ia tabrak. “Apa kau baik-baik saja?”
“A-a iya, aku baik-baik saja. Aku juga minta maaf karena telah menabrakmu,” jawab orang yang di tabrak Nic itu yang tak lain adalah pegawai baru kantin.
“Tidak, tidak aku yang salah.” Nic menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan, “Tunggu dulu, kau orang baru ya di sekolah ini.”
“Iya. Saya pegawai baru di kantin,” jawab gadis berambut merah itu, ia malu-malu menatap Nic. Gadis itu memiliki wajah yang manis dan terlihat seperti seumuran dengan Nic.
“Ah ternyata benar. Perkenalkan aku Nicolas, panggil saja Nic.” Nic menyodorkan tangannya sambil tersenyum.
“Mi-Mia. Namaku Mia. Salam kenal.” Gadis yang bernama Mia itu meraih tangan Nic malu-malu. Mereka berdua berjabat tangan.
“Kau mau kemana malam-malam seperti ini?”
“Aku mau pulang, pekerjaanku sudah selesai soalnya.”
“O begitu. Hati-hati di jalan, ya.”
“Iya, sekali lagi aku minta maaf.” Mia memasang wajah menyesal.
“Tidak apa, aku juga salah. Ya sudah, aku pergi dulu.” Nic meninggalkan gadis itu setelah mendapatkan anggukkan darinya. Ia berjalan ke kantin untuk bergabung dengan teman-temannya, tanpa ia sadari ada seseorang yang memperhatikannya sejak bertabrakan dengan Mia tadi.