“Lama," protes Ron, saat melihat Nic yang sudah berdiri di sampingnya.
“Maafkan aku, tadi ada insiden sedikit," balas Nic yang mengambil posisi duduk di sebelah Ron.
“Insiden apa?” tanya Yura.
“Aku tak sengaja menabrak pegawai baru kantin saat di koridor tadi.”
“Gadis berambut merah itu?” tanya Maria. Nic menganggukkan kepalanya.
“Makanya lain kali hati-hati kalau sedang berjalan,” kata Yura. Nic hanya membalas dengan anggukan saja.
“Apa kau tidak melihat di koridor tadi?” tanya Ryea.
“Tidak. Aku tidak melihatnya, memangnya kenapa?”
“Dia belum ke sini,” kata Jun yang mengaduk jus jambu dihadapannya.
“Maaf aku terlambat.” Jean pun datang dan ia duduk di sebelah Yura.
“Kenapa lama sekali?” tanya Ryea penasaran.
“Ibuku tadi menelpon dan dia bertanya bagaimana keadaanku,” jawab Jean. “Aku memesan makanan dulu ya.” Ia langsung berdiri kembali dan menuju stand kantin.
***
Hari minggu ini cuaca lumayan cerah setelah tiga hari mendung, ombakpun sudah seperti biasanya, tenang. Keempat gadis ini memutuskan untuk berolahraga dengan berlari mengitari tempat di sekitar sekolah, saat sampai di depan pantai setelah berlari satu putaran, mereka duduk beristirahat di jejeran bangku di dekat pantai dan ternyata mereka bertemu keempat lelaki itu lagi yang sedang berlari ke arah mereka.
“Di kelas bertemu, di kantin bertemu, eh di sini bertemu juga.” Ron menggelengkan kepalanya.
“Kami juga malas bertemu dengan kalian terus,” jawab Jean ketus dan memutar bola matanya. Yang lain hanya bisa tertawa.
“Ini baru pukul tujuh pagi, kenapa sudah panas seperti ini.” Maria menyeka keringat yang mengalir di lehernya dengan handuk kecil yang ia bawa.
“Namanya juga musim panas, ya pasti panas,” jawab Nic yang mengambil posisi duduk di bangku samping mereka.
“Haus, ayo kita beli minum,” ajak Ryea, kerongkongannya kering saking hausnya.
“Biar aku saja yang beli, kalian tunggu di sini saja.” Jean menawarkan dirinya.“Mau minum apa?” tanyanya.
“Air mineral saja, yang dingin,” pesan Yura. Ryea dan Maria pun mengangguk.
“Kalian?” tanyanya pada sekelompok lelaki itu.
“Sama,” jawab Jun dan Ron kompak.
“Aku ion saja,” jawab Eliot sambil meluruskan kakinya.
“Pergi denganku saja, tidak enak jika kau belanja sendirian. Apalagi membawa pesanan tiga orang ini,” sambung Nic sambil menunjuk ketiga temannya yang hanya di balas senyum mengejek oleh mereka.
“Ya sudah ayo. Ada lagi tidak? Sekalian.”
“Roti saja, Jean,” ucap Ryea.
“Setuju," kata yang lain kompak.
“Terima kasih ya, maaf merepotkan," ucap Eliot. Jean hanya melambaikan tangannya saat ia dan Nic sudah berjalan menjauh.
“Nanti sore kalian ada kegiatan?” tanya Jun pada para gadis.
“Tidak, memangnya kenapa?” jawab Maria yang sedang mengikat rambutnya.
“Nanti jam tiga sore kami mau bertanding basket dengan anak kelas sebelah,” jelas Jun sambil mengipas-ngipas lehernya dengan tangan.
“O, ya. Kenapa bisa?” Ryea dahinya berkerut.
“Ah, cuma pertandingan pertemanan saja,” jawab Ron.
“Ayo nonton, bosan jika terus-terusan di kamar?” Yura mengajak Ryea dan Maria dengan sangat antusias.
“Boleh, ayo nonton.” Ryea menyetujui ajakkan Yura dan Maria pun mengangguk.
“Jam tiga ya, jangan telat.” Eliot mengingatkan.
“Ok.”
***
Saat Jean sedang mengambil minuman yang di pesan oleh teman-temannya, ia melihat gadis berambut merah itu sedang mengambil beberapa bumbu dapur, tak lama kemudian Nic pun datang membawa beberapa kantong kripik kentang dan meletakkannya di keranjang yang di bawa Jean. Nic yang melihat Mia tak jauh darinya pun menyapanya, akhirnya mereka berdua mengobrol. Jean bisa melihat kalau Mia sepertinya menyukai Nic dari tatapan matanya dan gerak gerik tubuhnya, entah kenapa ia merasa risih melihatnya, apalagi melihat Nic yang terus tersenyum pada gadis itu.
Setelah Jean selesai mengambil minuman, ia pun beralih mengambil beberapa bungkus roti coklat, keju dan sandwich setelah itu ia berjalan menuju kasir, karena masih pagi supermarket tidak terlalu ramai dan tidak ada antrian di kasir. Jean langsung saja membayar belanjaanya dan meninggalkan supermarket. Ia meninggalkan Nic begitu saja, ia berjalan dengan perasaan kesal dan raut wajahnya masam.
“Kenapa kembali sendiri? Nic mana?” Maria keheranan melihat Jean kembali dengan membawa kantong belanjaan dan tidak ada Nic bersamanya.
“Tadi ia bertemu temannya di supermarket, mereka berbincang dengan sangat seru dan melupakan kalau ada aku, jadi aku tinggalkan di sana.” Jean mengeluarkan titipan teman-temannya.
“Benarkah? Dasar tak bertanggung jawab, tadi katanya tidak enak. Eh, saat bertemu temannya malah melupakan omongannya sendiri,” sungut Yura yang mengambil roti coklat dari plastik.
“Keterlaluan sekali.” Ryea menggelengkan kepalanya.
“Si bodoh itu.” Ron menepuk dahinya.
“Apa perlu kita pukul kepalanya?” tanya Jun yang agak kesal dengan tingkah Nic.”
“Tamatlah riwayatnya kini,” bisik Eliot. Ron pun menoleh ke arahnya.
“Tamat kenapa?” Ron mengerutkan dahinya.
“Kau tak bisa melihat? Jean sepertinya sangat kesal.” Eliot menunjuk Jean dengan kepalanya. Ron pun melirik Jean.
“Kau benar, matilah sekarang kau Nic.”
“Ini sisanya, kami kembali dulu.” Jean menyerahkan plastik yang isinya sebotol air ion dan dua potong sandwich pada Jun.
“Berapa kami harus menggantinya?” tanya Jun. Ia mengambil dompet dari dalam kantong celananya
“Astaga! Tidak usah. Ada-ada saja.” Jean menggelengkan kepalanya.
“Terima kasih. Nanti akan kuganti dengan membelikan kau makanan," ucap Ron tersenyum.
“Ais, terserah kau saja.”
“Ayo kembali. Badanku tidak nyaman,” ajak Ryea. Gadis itu mulai tidak tahan dengan bajunya yang lembab karena keringat.
“Ya sudah, kami duluan ya.” Yura melambaikan tangannya kepada tiga lelaki itu dan merekapun berjalan menuju asrama.
Nic yang tersadar kalau ia tidak sendirian melihat Jean, ia ingin memperkenalkan Mia padanya, tapi Jean yang ia cari tidak ada. Ia sudah mengitari setipa rak di supermarket itu, Jean tetap tidak ditemukan. Ia-pun baru sadar kalau sudah ditinggalkan olehnya dan pasti Jean sangat kesal mengingat sifatnya itu. Nic mengacak rambutnya kasar.
“Kau kenapa?” Mia kebingungan melihat Nic yang menyusuri setiap rak.
“Aku tadi ke sini bersama temanku, tapi sepertinya dia sudah kembali duluan.” Nic merasa bersalah dan merutuki kebodohannya.
“Cepat susul, mungkin masih tidak jauh dari sini.”
“Aku pergi dulu. Kau tidak apa-apa sendirian?”
“Tidak masalah, lagi pula aku ke sini, kan, memang sendiri. Cepat kau susul, takutnya dia marah,” kata Mia dengan ekspresi cemas.
Seketika keringat dingin keluar dari tangan Nic, iapun mengangguk dan berlari mencari Jean. Sepanjang jalan ia merutuki dirinya yang melupakan Jean tadi.
Nihil, ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Jean, sampai akhirnya ia kembali ke tempat teman-temannya menunggu tadi dan hanya menemukan ketiga teman sekamarnya di sana yang masih berbincang-bincang.
“Kemana saja kau bodoh?!” cecar Ron saat ia melihat Nic mendekat.
“A-a-apa kalian melihat Jean?” tanya Nic, nafasnya tersenggal karena lari terburu-buru.
“Apanya yang lihat? Dia sudah kembali bersama Ryea dan yang lainnya tadi.” Ron kesal melihat Nic.
“Kem-kembali? Jadi dia tadi sudah ke sini.” Nic kaget mendengar jawaban Ron.
“Ya dan kau malah asyik mengobrol dengan yang lain, sehingga melupakkannya. Pantas saja kau ditinggal, dasar!” timpal Jun kesal.
“Selamat ya, kau sukses membuatnya marah," sambung Eliot, ia berkata tanpa rasa iba. Nic memejamkan matanya.
“Memangnya kau bertemu siapa tadi?” tanya Jun penasaran.
“Aku tidak sengaja bertemu Mia di supermarket dan berbincang dengannya,” jawab Nic sambil mengatur nafasnya.
“Mia? Siapa?” Ron mengerutkan dahinya.
“Pegawai kantin yang baru itu dan orang yang kutabrak waktu aku ingin ke kantin untuk makan malam.”
“Gadis berambut merah itu?” kata Eliot dan Nic pun mengangguk.
“Kau berbincang dengannya di saat ada Jean dan lupa kalau kau bersamanya?” Jun tak percaya dengan apa yang diperbuat temannya ini.
“Wah wah hebat sekali.” Ron bertepuk tangan.
“Keterlaluan, pantas kalau dia marah,” timpal Eliot.
“Selamat, kau mati sekarang.” Jun bangkit dari tempat duduknya, memberikan bungkus plastik yang diberikan Jean tadi, lalu beranjak pergi dan di susul oleh Ron dan Eliot. Nic menendang batu yang tidak berada jauh darinya dan mengumpat kasar.
“Sialan.” Ia mengacak rambutnya frustasi.