Tiga hari sejak kejadian aneh itu tidak ada lagi yang mengalami hal yang sama dengan pegawai kantin pria tersebut. Semua berjalan dengan lancar dan aman, bahkan selama tiga hari ini para guru memutuskan untuk memperketat penjagaan malam dan semakin sulit untuk menyelinap keluar, tapi tidak berlaku untuk Ryea dan Eliot, mereka dapat menyelinap dengan mudah, tentu saja.
Lagi-lagi di sinilah mereka berada, delapan bersekawan itu berada di kantin untuk mengisi perut mereka yang kosong setelah di hajar habis-habisan oleh pak Arnold di kelas. Kuis dadakan yang dilaksanakan tadi sukses membuat seisi kelas hampir kehilangan sebagian nyawanya karena mati-matian menjawab soal matematika yang diajukan pak Arnold. Pak Arnold memang mengajar pelajaran yang tidak disukai hampir separuh siswa di sekolah manapun, matematika. Pelajaran ini seperti kata keramat yang mampu membuat siswa bergidik ngeri, ditambah pak Arnold terkenal killer dalam mengajar, dan tidak menerima alasan apapun, walau di luar jam pelajaran pak Arnold adalah sosok yang baik, ia tak segan membantu siswa yang kesulitan dalam memahami materi di luar jam mengajarnya.
Sejak bel istirahat pertama berbunyi, kedelapan siswa itu langsung mengambil langkah seribu menuju kantin. Mereka buru-buru, perut mereka benar-benar kelaparan. Untung saja gedung kantin tidak terlalu jauh dari gedung pembelajar. Gedung kantin memang letaknya terpisah, berada di tengah-tengah antara gedung pembelajaran dan asrama. Dengan langkah seribu mereka berlari ke kantin dan langsung memesan makanan, kemudian duduk di meja mereka biasanya.
“Sial apa-apaan soal tadi itu,” rutuk Ron, ia kewalahan menjawab kuis dadakan tadi.
“Soal neraka,” timpal Nic sambil tertawa sumbang.
“Kepalaku mau pecah.” Yura memijit pelipisnya dan ia mengerutkan dahinya.
“Sudahlah tak usah dipikirkan lagi. Bikin tambah menderita saja,” kata Maria malas.
Mereka sibuk menikmati makanan masing-masing sampai jus mereka di antarkan oleh seorang pegawai kantin dan itu adalah Mia. Mia membawa delapan jus sekaligus di nampannya dengan hati-hati ia letakkan satu per satu di atas meja, ia tersenyum ramah pada Nic pada saat Nic melihatnya, setelah itu Mia kembali ke stand-nya dan reaksi Jean melihat interksi itu terlihat biasa saja. Eliot akhirnya melihat wajah si gadis berambut merah itu saat ia mengantarkan jus pesanan mereka dan sepertinya memang benar ia pernah melihatnya, tapi dimananya ia lupa. Dengan susah payah ia menggali ingatannya tapi tetap saja tidak ingat.
Ryea yang duduk di depan Eliot melihat gerak gerik Eliot yang ia rasa agak aneh, Eliot seperti memikirkan sesuatu, soalnya sejak gadis yang mengantar jus mengantarkan pesanan mereka, Eliot hanya mengaduk makanan di depannya dan tatapannya kosong. Ryea menyenggol kaki Eliot di bawah meja, Eliotpun tersentak dan melihat ke arah Ryea yang memasang wajah heran. Eliot hanya menggeleng dan melanjutkan makannya.
Satu hari yang melelahkan berakhir juga, akhirnya bisa bernafas lega. Sore ini langit terlihat cerah, Ryea dan yang lainnya memutuskan untuk melepas penat di pantai, hanya sekedar duduk-duduk saja menghabiskan waktu. Ryea dan Eliot duduk di atas tangga yang menghadap ke pantai, sedangkan yang lainnya memilih duduk di hamparan pasir pantai yang selalu bersih sambil menikmati angin sore.
“Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu dari tadi.” Ryea mengawali pembicaraan.
“Gadis di kantin itu mengganggu pikiranku,” kata Eliot.
“Mia maksudmu?” Ryea sudah tahu siapa nama gadis itu, Nic yang memberitahukannya.
Eliot mengangguk “Aku seperti pernah melihatnya. Tidak salah lagi.”
“Mungkin orang yang mirip dengan yang kau kenal.”
“Bisa jadi, tapi entah kenapa ada perasaan aneh saat aku melihatnya.”
“Maksudmu?”
“Sulit mendiskripsikannnya. Seperti ada yang aneh pada gadis itu.”
“Kau terlalu berlebihan Eliot.” Ryea tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
“Mungkin.”
“Apa Amesha kembali ke Archangel?” Eliot mendadak merubah topik pembicaraan.
“Iya, mungkin malam ini akan kembali.” Eliot mengangguk.
Langit sore semakin tinggi, mereka memutuskan untuk kembali ke asrama sebelum menjadi target hukuman penjaga asrama. Tepat jam sembilan malam ada suara ribut-ribut dari depan pintu asrama pria, Eliot yang hendak menuju tempat latihan di tengah hutan mengurungkan niatnya, ia memilih untuk melihat apa yang terjadi. Dari atas ia bisa melihat ada dua orang dewasa sedang mengangkat seseorang da nada seorang siswa di belakangnya. Eliot yang penasaran akhirnya turun dan melihat kejadian itu.
Selang beberapa menit rombongan itu masuk, Eliot masuk mengikuti mereka. Dua orang dewasa itu yang ia kenali sebagai pak Arnold dan pak Gerry, mereka membaringkan seorang siswa yang sepertinya pingsan di atas sofa, sedangkan yang satunya sepertinya adalah teman dari siswa yang pingsan itu. Eliot menguping pembicaraan mereka dari celah pintu yang terbuka. Ia mendengar dengan jelas kalau teman siswa yang pingsan menceritakan kronologi bagaimana si siswa ini ditemukan pingsan, katanya temannya ini belum kembali sejak sore setelah kegiatan club-nya selesai. Ia sudah berusaha menghubungi ponselnya tapi tidak ada jawaban, katanya temannya ini bukan tipe yang suka pergi kemana-mana, ia akan langsung kembali ke asrama jika kegiatan club nya selesai.
Karena merasa agak khawatir, ia memutuskan untuk menyusulnya setelah ia melihat anggota se club temannya ini telah berada di asrama. Ia menyusul temannya menuju ruang club dan ternyata sepi, tidak ada orang, lampunyapun mati. Karena masih penasaran iapun menuju ke jendela yang berada di belakang ruang club untuk mengintip, siapa tahu temannya ini tertidur. Saat ia ingin mengintip, ia terkejut karena melihat temannya tergeletak di bawah pohon di belakang ruang club. Ia langsung menghapirinya dan berusaha membangunkannya tapi temannya tidak bangun juga. Akhirnya ia memapah tubuh temannya hingga tak sengaja bertemu dengan pak Arnold dan pak Gerry yang mendapat jatah patroli malam.
Pak Arnold dan pak Gerry hanya diam selama siswa itu menjelaskan kejadiannya, tak lama kemudian bu Crista datang untuk memeriksa keadaan siswa yang pingsan tersebut, ia berbicara agak jauh dari kedua siswa itu dengan pak Arnold dan pak Gerry. Dari hasil pemeriksaannya, kondisi siswa yang ditemukan pingsan sama dengan kondisi staff kantin yang ditemukan pingsan tiga hari yang lalu dan ada tanda bekas gigitan dilehernya, lalu ada sedikit bekas darah di sana. Eliot yang mendengar penuturan bu Crista kaget dan matanya membulat.
‘Apalagi ini sekarang,’ batinnya. Eliot mengusap wajahnya kasar.
Saat siswa itu sadar bu Crista berpesan agar kejadian ini tidak diceritakan kepada siapapun, takutnya akan membuat heboh se isi sekolah. Merekapun berjanji tidak akan menceritakan kejadian ini dan masalah bekas gigitan itu mereka beralasan kalau si siswa yang pingsan tidak sengaja tergores ranting pohon, lalu bekas gigitan itu ditutup dengan plaster. Kejadian malam ini diselesaikan begitu saja, tapi sepertinya tidak dengan para guru. Mereka takut aka nada korban lainnya dan sepertinya kejadian ini akan dibicarakan dengan wakil kepala sekolah.
Setelah mendengar hal itu Eliot pergi dari sana dan menuju tempat latihan, sepertinya ia sudah sangat terlambat dan pasti saat ini Ryea kesal menunggunya.
***
“Kau tahu? Aku tidak cukup dengan meminum darah saja. Setidaknya izinkan aku untuk memakan dagingnya sedikit.”
“Kau tidak bisa melakukan hal itu.”
“Aku lapar! Sudah lama sekali aku tidak memakan daging,” jawab suara mengerikan itu.
“Carilah mangsa di luar, jangan anak-anak sekolah ini,” kata makhluk bersuara berat itu.
“Cih, sampai kapan kau akan bermain-main seperti ini,” balasnya geram.
“Sedikit lagi. Aku terlalu malas untuk menyerang langsung.”
“Ini sungguh membosankan.”
“Apa dia menyadari kehadiranmu?
Sampai saat ini?"
“Tidak.”
“Baguslah. Tapi tetap berhati-hati, dia itu pintar sekali. Kita tidak tahu apa yang ada dipikirannya.”
“Baiklah.” Sosok itupun pergi entah kemana menyisakan mahkluk bersuara berat itu sendiri.